Arti Seorang Ayah

aba.jpg

Sejauh yang dapat kuingat, dia selalu tua, beruban, bercambang lebat, berkumis lumayan bapang, berwajah lancip, berhidung mancung, berbibir merah, bermata-lebar menawan, bersuara lantang, dan robek kulit belakangnya dari bahu kanan hingga ke ujung punggung. Menurut ceritanya kepadaku berulang-ulang, robekan panjang itu akibat operasi paru-paru yang musnah oleh nekotin. Ya, ne-ko-tin! Dan nekotin telah membuatnya tergeletak selama hampir dua tahun di sebuah rumah sakit di wilayah Jateng.

Tidaklah berlebihan bila kukatan bahwa sebagaian besar kepribadianku terbentuk lewat suara-suaranya. Pengetahuanku tentang Rennaissance, Kolonialisme, Kapitalisme, Komunisme, Eksistensialisme, Zionisme, Machiavelli, Marx, Nietszche, Sartre, Stalin, Semgant 1945, Soekarno, Hatta, Bung Tomo, Masyumi, M. Natsir, Konstituante, ajaran-ajaran Islam, Imam Khomaeni, dan Revolusi Islam Iran, kutangkap melalui kaca lup orang yang di mataku selalu tua ini.

Menurut bunda, sanak-saudara, teman-teman seperjuangannya dan teman-teman sepemainanku serta semua orang di sekelilingku hidupku, dia adalah orang besar. Tetapi bagiku sendiri, dia hanyalah seorang Abah (panggilan Ayahanda)! Hanya sebatas itu yang kutahu pasti. Dan hanya sebatas itu yang harus kutahu sebagai anaknya. Setiap anak, anak siapa saja, pasti pernah melihat ayahnya tersenyum senang. Naumn belum tentu setiap anak pernah menyaksikan ayahnya tersengal-sengal mencambuki anaknya sendiri yang maling. Aku pernah! Sungguh, aku pernah melihat Abah mencambukiku sampai tersengal-sengal setelah dia mengetahui aku maling sekarung mangga milik tetangga. Dan, demi Tuhan yang nyawaku berada dalam genggamannya-Nya, aku bangga! Bangga sekali! Sebab, pada saat itu, setelah tak kuasa lagi dia bernapas, terhuyung-huyung jatuh ke kursi rotannya, aku betanya, “Apa Abah cinta sama Musa? Kalau Abah memang cinta, kok tega Abah memukuli Musa sampai memar-memar begini?”

Orang tua penuh wibawa itu pun menangis terisak di hadapanku. Kemudian, dengan napas yang masih mengap-mengap, dia memangkuku lalu terbata-bata berkata, “Dalam setiap cambukan itu, terkandung doa Abah kepada Allah. Abah tahu bahwa cambukan bisa membuat Musa jadi bodoh. Tetapi, anak kecil bodoh itu wajar! Yang ndak wajar itu anak kecil mencuri, sehingga merugikan orang banyak. Coba, bagaimana Abah menghadap Allah, di hari akhirat kelak, kalau Abah tidak bisa mencegah anak sendiri menjadi maling, sementara kesana-kemari Abah mengajak orang lain kepada kebajikan!?”

Pada musim liburan tahun 1982-an, Abah mengajakku naik pesawat ke Jakarta. Bukan main girangku ketika itu. Bocah mana yang tidak girang bisa terbang bersama ayahnya?! Maka, sesampainya di Jakarta, kuucapkan terima kasih kepadanya.

“Banyak-banyak terima kasih, Bah!”sambil kuciumi tangannya yang gembur itu bolak-balik beberapa kali. Tanpa kuduga-duga, ayah menarikku ke kamar tidur dan langsung membuka tasnya. Kemudian, “Musa Mau mengembirakan Abah sekarang?”

“Ya!” jawabku spontan.

“Kalau begitu, ambil air wudhu. Sekarang!”

Bergegas aku mengambil air wudhu lalu bersila di samping sajadahnya. Setelah menyelesaikan salatnya, Abah kontan membuka tengah-tengah al-Qur’an.

“Ayo baca!”

“Ya, Bah,” kataku bersemangat. Tujuanku waktu itu Cuma satu: menggembirakan lelaki berambut putih yang telah “menerbangkanku” ini! Selain itu aku belum paham. Selanjutnya: “A’udzubillahii-minasy-syaithanir-rajm. Alladzina, alladzina, alladzina, alladzina …” Huruf-huruf Al-Qur’an itu mendadak jadi buram. Tanpa semauku, air mata telah tumpah ruah ke bawah. Oh aku telah gagal menggembirakannya!

“Ayo, baca terus!”

Dan tambah banyak saja cucuran air mata mengenai Al-Qur’an, hingga makin rabun penglihatanku dan makin jobrot pula huruf-huruf Arab yang hendak kubaca. Selang sebentar, aku pandangi raut wajah yang telah dimakan usia itu. Wajah yang lelah itu makin tampak lelah. Sekali-dua kali lagi kucoba, tetap saja gagal. Opo Tumon! Membaca saja aku tak bisa! Aku gagal! O, aku benci diriku sendiri! Kenapa membaca untuk menggembirakan ayah sepuh yang sudah demikian capek ini aku tak mampu? Kenapa? Menangislah sejadi-jadinya diri ini.

“Sudah, sudah! Abah ndak perlu mendengar tangisan seperti itu. Ini rumah orang! Malu Abah kalau kau nangis begitu. Musa, ayo baca sekali lagi!”

Perlahan-lahan, aku mendekati kembali huruf-huruf aneh itu. Sekonyong-konyong, sebuah lompatan, perubahan besar, kebangkitan, pencerahan dan entah apalagi terjadi padaku saat itu: “Alladzina im-makkannahum fil-ardhi aqamush-shalata wa atauz-zakata wa amaru bi-ma’rufi wa nahau ‘anil-munkari wa lillahi ‘aqibatul-umur (QS. 22:41). Bah, Abah, Musah sudah bisa baca!” pekikku kuat-kuat, hingga ayah yang mulai tertidur itu mendangak kembali.

“Ya, ya. Terus dulu.”

“Ya, Bah.”

Maka, kubacalah kalimat demi kalimat, dan halaman demi halaman dalam kitab suci itu. Puh, puh, lancar benar daku membacainya, seakan hanya dengan satu tarikan napas. Tak terasa, azan subuh pun terdengar di udara. Aku peluk Abah. Wajah tua itu tampak ceria sekali.

Sembari memelukku erat-erat, dia bertutur, “Abah sudah tua, Mus!” kata-kata itu menggigilkan ubun-ubunku sampai ke ujung-ujung kaki. Dan buat Abah, tidak ada yang lebih berharga sebagai warisan melebihi pengetahuan membaca Al-Qur’an. Itu harus Musa ingat senantiasa.”

Dan benar, pengetahuan itulah yang kukenang kembali pada saat Pak Jalaluddin Rakhmat menelponku pagi-pagi hari Jumat, 2 Syaban, 1414 (14 Januari ’94) dan menyatakan belasungkawanya kepadaku atas wafatnya Abah.

Sekali lagi, terima kasih pahlawanku!

image025.jpg

29 thoughts on “Arti Seorang Ayah

  1. Masya Allah, apa ada niatan untuk membuat semacam buku yg berisi kesaksian, cerita2, nasehat, dll tentang almarhum?

    Menurut ana, pasti akan sangat menarik dan bermanfaat.

  2. I was there to in your short lecture just once,But this is beyond “dahsyat” ….Semoga Allah SWT senantiasa meninggikan derajat Ayahanda dan mengumpulkan bersama para Shiddiqin dan Sholihin..

  3. musakazhim says:

    Syukran Bang Labib. Ini juga berkat dorongan dan motivasi dari Bang Labib. Untuk Afifah dan
    Undzurilaina (maaf, ini sapa ya?), semoga Allah memberi kemampuan kita untuk meniru kebaikan2 yang telah beliau contohkan, dan semoga saja ada taufik untuk membuat buku tentangnya. In fact, it’s been my true dream. Pray for us (bang labib juga invited to join in writing this book!).

  4. Afifah says:

    (maaf, ini sapa ya?)–> Just there to watch your lecture once, di ICC :) liked it..

    Maaf meninggalkan comment begitu saja tanpa kenal.
    Mudah2an berkenan..

  5. Ema rachman says:

    Subhanallah , Mahasuci Allah yang telah memberikan antum seorang ayah yang sangat mencintai putranya….Yeah you better write the book , so in this world yang udah hampir kacau balau ini, harus diceritakn bagaimana ada seorang ayah yang sangat sayang pada putranya dengan menDIDIKnya secara BENAR!!! Allah yarhamu!!
    salam

  6. Kalau ana menyebutkan nama, ana ragu antum bakalan ingat. Karena di file antum pasti akan sangat banyak nama “Umar” dan “Alhabsyi”. Memang ana sudah lama betul nggak ketemu antum, mungkin ada 10th an kali ya. Waktu itu antum suka ke Bandung dan nginep di “Villa” dipati ukur (kontrakan saleh sueb, dan juga ana). Setelah itu, ana cuman denger kabar antum lewat karya2 antum.

    Masykur dan semoga kesuksesan sll bersama Antum.

  7. musakazhim says:

    A very2 BIG thanks to all your comments. Saya sangat menghargai. Semoga cinta Abah juga bisa dirasakan oleh saudara-saudari semua.
    Untuk Umar, ana masih ingat. Pengen sekali bisa bisa reuni dengan para “alumni” kos2an Bandung dulu. Untuk Afifah, a really kingsize thanks for your comment:-) and give more (critical, maybe?) comments.

  8. musakazhim says:

    Oh ya, Mbak Ema Rachman sepertinya bukan sekali kunjungin blog saya, dan juga beberapa kali kasi comment. Makasih.

  9. Afifah says:

    Critical= ‘genting’ ? Atau kritis maksudnya :D
    Untuk cerita satu ini ga ada yg genting kayaknya dan sedikit flashback pengalaman belajar ngaji yang sama dari abah :) tapi mungkin tulisan yang lain sedikit kaget dengan gaya tulisan Ust Musa :0) tapi sangat menikmati sebagai tulisan yang kaya improvisasi ;)
    kalo boleh request,seperti tulisan Ust yang Islam-Liberal, Campuran apa yang pas untuk islam dan pluralisme :), Looking forward to your enlightment.

  10. MK says:

    Critical is something coming from one who is skilled as a critic; involving criticism. Ex. a critical judgment, a critical reading. Whereas criticism it self is deemed as analysis of merits and faults. Dan itulah persisnya yang sudah Afifah lakukan. Eh, maap kalo terlalu srius:+ Anyway, thanks for coming here. Semoga Allah menuntun kita untuk selalu berniat baik dan berbuat lebih baik.

  11. Quito Riantori says:

    Wah, saya terharu sekali…Th 1993-an, saya (Ito) dan Musa (Madura) pernah datang ke Yapi. Di sana saya bertemu antum yang masih imut. Kita bareng makan siang dengan Ustadz bersama anak2 kecil. Setelah beberapa lama berbincang dan melihat2 pesantren, saya dan Musa ijin pulang. Abah antum (Ustadz Husein Al-Habsyi) yang juga ingin ke luar dari Yapi sambil mengantar kami sampai ke depan tempat saya memarkir motor GL100 ana. Ustadz bertanya kepada saya: “Ito naik apa?”
    “Naik motor ini Ustadz!” kata saya sambil mendekati motor saya.
    Ustadz terkejut : “Ito, ban motormu ini sudah gundul. Bahaya kamu nanti di jalan.” Saya cuma tersenyum. Ustadz berhenti sebentar lalu membuka tasnya seraya mengambil uang (saya lupa berapa, pokoknya saat itu cukup untuk beli 2 ban luar motor) dan memberikannya kepada saya. sekarang saya yang terkejut. Mulanya saya menolak tapi Ustadz memaksa. Saya sangat terharu atas kebaikan dan perhatian Ustadz pada kami. Sebenarnya saya ingin menulis artikel ttg ini, tapi cukuplah di sini dulu. Sayang sampai saat ini saya belum pernah ziarah ke makam beliau. Namun saya sering berdoa untuk Ustadz, semoga Allah SWt menempatkan beliau di tempat yang mulia bersama para awliya-Nya. Semoga keluarganya termasuk antum senantiasa dalam rahmat dan lindungan-Nya. Salam.

  12. musakazhim says:

    Wah, menarik sekali Mas. Saya minat tulisan itu Mas. Ini lagi kumpul2 tenaga, bahan dan lain2 untuk tulis tentang hidup Abah. Makasih ya.

  13. ali yahya says:

    Yup,… mengharukan sekali,… pengalaman ana ketemu ustad sekitar thn 1986 di rmh ami ahmad muhajir (akhukum) yg kebetulan tetanggaan,… walidi ajakin ana untuk ketemu beliau… dan yg ana ingat perasaan yg hadir di diri ana saat itu adalah rasa malu untuk ketemu ustad yg dalam benak ana adalah seorang pejuang yang mulia… saat ini–di mana persatuan umat menjadi kebutuhan yang mendesak–kita butuh sosok2 seperti ustad. Allahyar7amuh…

  14. Zen says:

    Sayid, salam kenal. Belum lama saya buka blog antum. Barusan saya baca tulisan ‘Arti Seorang Ayah’, tulisannya menarik dan isinya indah. Saya sendiri belum pernah ketemu beliau almarhum, tapi cuma pernah dengar cerita perjuangan beliau, seperti di jaman perdebatan konstituante, surat-menyurat tentang keagamaan dengan ketua Persis (Hasan…), dan saat ada fitnah bom Borobudur. Ahsan segera wujudkan buku tentang sosok almarhum. Sahalallah.

  15. abubakr saleh says:

    luar biasa sekali, masyaallah…ana(abubakr saleh ba’syir dari lombok) banyak denger cerita2 menarik tentang ustad husein alhabsyi dari seorang muridnya hasyim alhabsyi(kami memanggilnya ustad hasyim, karena sekarang beliau banyak memberi kami ilmu tentang mazhab ahlulbait, mungkin antum kenal?….
    ana tunggu buku tentang sosok beliau

  16. nilam says:

    Luar biasa. Mengharukan. Baru pertama kali mengunjungi blog ini, mata saya langsung tertuju pada judul “Arti Seorang Ayah” karena saya mendambakan kedekatan dengan ayah saya. Tulisan ustad sangat luar biasa. Selamat karena telah memiliki seorang ayah yang hebat. Semoga Allah semakin memperindah singgahsananya di alam sana. Amien…

  17. farizhammad says:

    Assalamualaikum!
    ahlan wa’sahlan…!?, salam knal dan kiranya saya baru baca kisah anda melalui blog antum yang isinya; “ARTI SEORANG AYAH.” sungguh diri saya pribadi sangat terharu beserta kagum, dan ana ucapkan banyak2 bersyukur sekali kepada anda. karena anda dapat belajar Al’Quran bersama beliau, mudah-mudahan amalusholehnya beliau dapat diterima diSisi-Nya dan ditempatkan bersama para suhada, thabiib, alim ulama umumnya Amin Ya.. Robbal Alamiiin…!!
    Wassalamualaikum.

  18. alkaaf says:

    Bravo… Tulisannya menggigit, mengingatkan aku pada sore hari ketika kua menghadiahiku daging ayam yang engkau sembelih pagi hari. ayam yang katamu sakit-sakitan di bawah kamar Sang Abah… Dia ayahmu dan dia juga ayahku… Ingat betul aku, ketika beliau membangunkanku yang terbaring di sisi mihrab imam. Ya…Aku di sana pindah tempat tidur setelah dibangunkan dari asrama untuk solat subuh. Masih ingat aku betapa lembut suaranya membangunkan aku… Salam dari Tehran dariku.

  19. adoel says:

    Salam kenal pak ustad..
    saya dari kota yang jauh disana ….
    tulisan antum sangat mengharukan sekali..bagaimana kita mengenal lebih jauh pribadi agung ini dengan cara mengenang perjuangan ustad husein al-habsyi dengan seminar dan temu alumni di yapi nanti tanggal 24 agustus 2008 ?

  20. Badari says:

    Saya tersenyum-senyum geli dgn kisah Pak Musa sewaktu kecil. Komentar saya: anak kecil mencuri 1 mangga itu biasa; yang tidak biasa (mungkin lebih tepatnya “luar biasa”) itu: anak kecil mencuri mangga 1 karung. :-D
    Abah Pak Musa memukul Pak Musa sampai tersengal-sengal nafasnya & jatuh ke kursi. Nah, Pak Musa sendiri kondisinya gimana ketika dipukul itu? Diam saja menahan sakit atau berteriak sambil menangis, “Ampun, Abah, ampuuuun!”? :-) Dua sikap berbeda itu mungkin menggambarkan corak mental-psikologis Pak Musa sejak kecil. [Halah, pindah topik & saya jadi sok menganalisis gini; Maaf, ya]. :-)

    Dari komentar Sdr. Zen di atas, pernah ada “surat-menyurat tentang keagamaan [Abah Pak Musa] dengan ketua Persis (Hasan…)”. Apakah masih ada salinan/tulisan surat-menyurat antara Abah Pak Musa dgn A. Hasan (Persis)? Saya berharap ada yang menyimpan tulisan tsb & bersedia berbagi file-nya. Saya berminat mempelajarinya. Atau Pak Musa nanti buat juga tulisan ttg surat-menyurat antara kedua orang tsb?
    Terima kasih, & Salam ‘alaykum.

  21. dewi sorta says:

    itu juga yg kurasakan ketika aku kehilangan ayah ku.knangan manis saat bersamanya slalu ada di ingatan ku.tp tak kuasa tangisan mu menjdi obat untuk krinduan ku pada ayah ku yg bru saja meninggal dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s