Transkripsi utuh pidato Ahmadinejad dan diskusinya dengan hadirin di Universitas Columbia.
SPEAKER: IRANIAN PRESIDENT MAHMOUD AHMADINEJAD
[*]
AHMADINEJAD (THROUGH TRANSLATOR): In the name of God, the
compassionate, the merciful…
TRANSLATOR: The president is reciting verses from the holy Koran in
Arabic.
AHMADINEJAD (THROUGH TRANSLATOR): Oh, God, hasten the arrival of Imam
al-Mahdi and grant him good health and victory and make us his
followers and those to attest to his rightfulness.
Distinguished Dean, dear professors and students, ladies and
gentlemen, at the outset I would like to extend my greetings to all of
you. I am grateful to the almighty God for providing me with the
opportunity to be in an academic environment, those seeking truth and
striving for the promotion of science and knowledge.
At the outset I want to complain a bit from the person who read this
political statement against me. In Iran tradition requires that when
we demand a person to invite to be a speaker we actually respect our
students and the professors by allowing them to make their own
judgment and we don’t think it’s necessary before this speech is even
given to come in with a series of claims…
(APPLAUSE)
… and to attempt in a so-called manner to provide vaccination of
some sort to our students and our faculty.
(more…)
Siang itu saya tak terlalu antusias ketika seorang kawan mempersilahkan naik mobil menuju Gunung Merapi. Kejenuhan segera merambati hati. Setelah menderu-deru mendaki gunung, mobil yang saya tumpangi akhirnya berhenti di pelataran luas yang menampung beberapa rumah, pendopo dan masjid. (more…)
Filed under: Filsafat & Teologi, Kasykul & Human Interest, Renungan Sederhana
Beberapa pekan lalu, saya berdebat keras dengan beberapa teman berkenaan dengan sejarah. Saya katakan bahwa kita tak bisa membangun akidah berdasarkan pada catatan para penulis sejarah. Pasalnya, sejarah adalah rekaman masa lalu yang tidak selalu ditulis oleh mereka yang punya motivasi baik. Bahkan, sejarah seringkali adalah hasil interpolasi dan pemutarbalikan fakta yang dilakukan secara canggih demi memenangkan penguasa atau melanggengkan kekuasaan atau (ini yang paling mengeringan) menutupi kebenaran. (more…)
Filed under: Jurnal Pribadi, Kasykul & Human Interest, Renungan Sederhana
By Ummu Hurairah
buat ayah kita di alam barzakh
kenangan bersamamu kasih
seumpama mimpi didalam mimpi
terasa engkau disisi
menemaniku saban hari
pabila kupejamkan mata
akan terasa hangatnya asmara
walaupun sekian lama
telah terpadam cinta kita
tangisan dalam ketawa
sedu sedan menjadi syair cinta
terasa ingin ku sentuh bayanganmu
walau hanya seketika cuma
agar hilang rindu dan dahaga
agar pulih semangat kasih dan mesra
seperti baru kenal cinta
kenangan bersamamu kasih
membakar gedung fikiranku ini
terasa hidup ku ini
umpama mimpi dalam mimpi
Filed under: Agama & Budaya, Renungan Sederhana, Sosial & Politik, Tokoh & Figur
Awal 1989 dunia terguncang oleh fatwa hukuman mati Khomeini atas penulis Satanic Verses, Salman Rushdie. Tidak hanya itu, dia menjanjikan hadiah 1 juta dolar bagi siapa saja yang bisa melaksanakan hukuman itu. (more…)
Beberapa waktu lalu, seorang aktivis Jaringan Islam Liberal bernama Guntur (Romli) menulis di Koran Kompas (1 September 2007) tentang Nabi Muhammad. Kesan saya: tulisannya terlalu serius untuk disebut sebagai kelakar, tapi terlalu menggelikan untuk disebut ilmiah. Sebagai produk (kebablasan?) dari “kebebasan berpendapat dan berekspresi”, tulisan itu berada di antara lelucon religius yang tak sukses dan renungan ilmiah yang tak berdasar. (more…)