EAST-LAM


Gombal (Eh, Global) Warning (Eh, Warming)

global-wa.jpg

 

Beberapa tahun terakhir ini (atau malah mungkin sudah dua dekade terakhir ini?), kita sering mendengar soal “global warming” (GE) atau pemanasan global. Tapi, sudahkah kita mengenal lebih jauh tentang monster bernama GW ini dari sudut pandang saintifik. Kalau sudah, ya syukurlah. Kalau belum, mungkin sebaiknya kita harus lebih banyak membaca, supaya tidak jadi bulan-bulanan para kapitalis dan media massa di baliknya.

 

Dr. Oleg Sorokhtin, saintis Russia, anggota Russian Academy of Natural Sciences dan peneliti pada Oceanology Institute menyatakan bahwa pemanasan global adalah trend alami yang biasa-biasa saja. “Bumi kini berada pada puncak periode panas. Tapi, trend ini telah dimulai sejak abad 17 lampau, saat tidak ada pengaruh industri terhadak cuaca dan tidak ada fenomena yang disebut dengan efek rumah kaca. Pemanasan ini sepenuhnya proses alami yang bebas dari efek rumah kaca.”

Kemudian Sorokhtin melanjutkan, “Astrofisika mengenal dua siklus akivitas matahari, yang berlangsung antara 11 sampai 200 tahun. Siklus itu dipengaruhi oleh perubahan pada radius dan area sinar matahari. Data terakhir yang didapat oleh Habibullah Abdusamatov, kepala Laboratorium Riset Ruang Angkasa Pulkovo Observatory, menyatakan bahwa bumi telah melewati masa puncak periode panas, dan masa yang lebih dingin akan segera dimulai sekitar tahun 2012. Cuaca dingin yang sebenarnya diperkirakan tiba saat aktivitas matahari mencapai titik minimum, sekitar 2041, dan akan berlangsung antara 50-60 tahun atau lebih lama lagi.”

Dr. Oleg Sorokhtin tidak sendirian dalam pendiriannya yang menggunakan argumen kuat ini. Saintis Denmark yang mengajar di University of Copenhagen, Professor Bjarne Andresen, bekerjasama dengan Professor Christopher Essex dari University of Western Ontario dan Ross McKitrick dari University of Guelph juga menemukan hal serupa. Tapi, argumen yang mereka kemukakan lebih rumit, menggunakan sudut-pandang termodinamika. “Mustahil kita menggunakan satu temperatur untuk sesuatu yang serumit cuaca bumi. Temperatur bisa didefinisikan hanya untuk suatu sistem yang homogen. Apalagi, cuaca tidak diatur oleh satu temperatur, melainkan untuk beragam temperatur yang menggerakkan berbagai proses dan menciptakan badai, currents, halilintar, dan lain-lain yang pada gilirannya menimbulkan cuaca.”

Professor Bjarne Andresen memberikan kesimpulan beraninya, “Metode yang kini dipakai untuk menentukan temperatur global—berikut semua kesimpulan yang diturunkan darinya—lebih bersifat politik ketimbang saintifik.” Para profesor Denmark ini lantas memaparkan analisis dan argumen mereka dalam Journal of Non-Equilibrium Thermodynamics.

Nah, kalau masalahnya sudah politik, bolehlah kita mencoba merumuskan sebuah teori konspirasi di balik isu GW yang digembar-gemborkan saat ini. Sederhananya begini: polusi dan ketidaknyamanan lingkungan yang kini terjadi kan biangnya negara-negara industri maju? Karena mereka tidak mau dipersalahkan, maka mereka mengajukan isu ini biar kesalahan bisa ditanggung bersama. Lalu, lewat Bank Dunia dan IMF, mereka mengucurkan hutang besar-besaran kepada negara-negara Dunia Ketiga, termasuk Indonesia, untuk menanam kembali pohon dan menyuburkan hutan. Sekian tahun kemudian, kita jelas tidak bisa bayar hutang itu. Mau bayar pakai apa? Semua hasil bumi dan eksplorasi alam dilarang. Cara satu-satunya adalah dengan kembali menyerahkan sumber-sumber alam kita kembali ke mereka. Tapi, kali ini dengan cara yang jauh lebih merendah dan mengalah, pasalnya kita sudah ketiban hutang segede 15 kali pulau Kalimantan. Saat itu, kita akan menjadi lebih hina lagi, sementara para penjajah dengan cermat telah menipu kita.

Sebagai perbandingan kecil, masih ingat soal virus Y2K yang konon akan menyerang seluruh komputer tanpa terkecuali di awal milenium lalu? Berapa duit telah kita keluarkan untuk mencegahnya? Kepada siapa duit itu kita berikan?

Eh, kalau kejauhan jadi ngeri kehilangan objektivitas dan keilmiahan nih….good luck dengan teori-teori konspirasi lainnya.

Sebagai penutup, saya ingin mengajak Anda merenungi dua ucapan Imam Ali, sang ahli hikmah Ilahi itu, “Orang yang membuatmu berhati-hati, sama seperti orang yang membawakan berita baik untukmu.” Dan yang ini: “Bila kebaikan (keadilan) meliputi suatu zaman dan meliputi orang-orang di dalamnya, lalu seseorang berburuk sangka atas orang yang belum pernah berbuat cela, maka sesungguhnya dia telah berlaku zalim. Tapi, bila kejahatan telah meliputi suatu zaman dan meliputi orang-orang di dalamnya, lalu seseorang berbaik sangka pada orang yang belum dikenalnya, maka dia akan sangat mudah tertipu.”

Nah, sekarang ketidakadilan jelas-jelas meliputi zaman kita beserta segenap orang-orang berkuasa dan berduit di dalamnya, masihkah kita bersangka baik pada mereka? Padahal, tidak seperti dalam gambaran di atas, kita sudah banyak tahu tentang cela dan arogansi mereka!!!


16 Comments so far
Leave a comment

Hmm teori pa Musa bisa juga merupakan teori konspirasi bahwa dengan begitu menyuburkan para kapitalis dan negara industri untuk terus mengepulkan asap produksi mereka, karena perubahan nyata iklim dan kenaikan level air dan bukti kerusakan bumi tidak bisa membuktikan GW.

Teori scientifik anehnya jg bisa dibeli sehingga dipelintir, sama seperti ketika teori scientifik membuktikan nikotin pada rokok membuat kecanduan, ternyata setelah itu beberapa “ilmuwan” menyatakan dalam suatu petisi atau apalah bahwa nikotin tidak membuat candu. aneh memang…

Comment by Afifah

2012 ???
jangan2 ada hubungannya dengan teori pembalikan kutub bumi seperti yang diramalkan bangsa Maya kuno dan diprediksi oleh para ahli astronomi modern…
gmana ne ustad?

Comment by savic

2012 itu kan persis bertepatan dengan Protokol Kyoto tentang GW. Jadi, memang ini softoh orang bule. Kalo kita kan softoh tapi serius, kalo mereka serius tapi hakikatnya softoh. Hehehe…

Comment by musakazhim

jadi, ‘perhitungan mayan kuno’ dan predikisi ahli astronomi modern itu = softoh?

Comment by savic

He, he, he. Kalo ilmu bukan softoh, yg softoh adalah memanfaatkan ilmu untuk menambah fulus para penguasa.

Comment by musakazhim

foucoult banget sieh :P

Comment by savic

kenapa budaya mengobati penyakit saja menjadi budaya dunia?kenapa kita melakukan seperti untuk mengatasi demam berdarah dengan 3 M, agar potensi demam bedarah juga berkurang? kenapa yang dilakukan untuk megatasi GM dengan menanam pohon saja, kenapa kita tidak mengurangi penyebab utamanya?
tolong muridmu ini diberi pelajaran.

Comment by pembelajar

Salam,
ceritanya lebih kurang gini:
akhirnya org2 pembesar itu sadar kalau mereka sudah tidak punya apa-apa lagi.
Basis industri sudah pindah ke negara2 berkembang semua, abis burunya murah sih…
Basis sumber daya alam udah 100 tahun yang lalu diabisin ama mereka sendiri, tinggal yang tersisa di negara2 berkembang.
Basis intelektual juga akhirnya kalah, tuh banyak inovasi yang malah muncul di negara2 yang dianggap miskin, India contohnya. Belum lagi berapa banyak karya intelektual yang dibajak di Asia Timur…
Mata Uang juga udah dipersepsikan negatif sekarang. Mungkin Euro aja yang bakal dijadiin cadangan devisa oleh banyak orang, meninggalkan Dollar.
Jadi tinggal kampanye dan propaganda yang mereka miliki…
Walaupun, kalau tidak serakah, apa yang ada di negeri mereka sebenarnya mencukupi kehidupan mereka sendiri.

Comment by damartriadi

Sbenernya ga ada salahnya percaya bhwa global warming itu bener tjd dn bkn gombal semata. Prejudice dn rasa takut digombali ini akan membuat kita ga peduli lingkungn dn sesama, dn jd apatis dgn gerakan spiritualitas hijau. Sy pernah bc tulisan Lovelock bhw bumi makhluk yg bs sakit dn mymbuhkn diri asal kita2nya tdk membuat smakin terpuruk. Anyway, keep positiv thinkin aja …

Comment by Vyasa

Digombali kan memang ga enak. Tapi pesan2 kepedulian lingkungannya harus tetap dijaga. Tapi kepedulian lingkungan jangan sampai juga buat kita salah ambil langkah, dikira akan global warming tapi malah global cooling. Kan bisa berabe ujung2nya.

However. i do agree on keeping the positive thinking! Hidup positive thinking! Hidup positive thinking!

Comment by musakazhim

Untuk pembelajar (ini akrom ya?)
Menurut saya, mengatasi problem lingkungan, seperti juga semua problem sosial lain, tdk bisa secara kuratif dan parsial. Hasilnya bisa memunculkan problem baru yg tidak kalah seremnya, seperti hutang yang semakin menumpuk. Itu menurut saya.

Comment by musakazhim

waah, terus mengatasinya? maksudnya gimana langkah terakhir pemerintah Indonesia (mereka memahami atau tidak, bahaya, ancaman potensi hutang yang tak terbayarkan ini?)

Comment by denjaka syiah

Dah nonton film na algore? Ato bc buku yg dia tuliz? Of course, ttg global warming

Comment by Aida Vyasa

Belum, Aida. Cuma baca beberapa artikel yang ditulisnya. Retorikanya cukup bagus, tapi argumentasi saitifknya tdk meyakinkan para ilmuwan. Bgtlah yang saya baca dari sejumlah ilmuwan alam.
Yang jelas, climate change itu valid, tapi sebabnya belum tentu global warming. Bisa juga yang seblknya: global cooling.
peace.

Comment by musakazhim

Hmm tp saintifik itu level pembenaran dn kebenarannya khan brdasarkan konsensus. Valid kah itu?

Comment by Aida Vyasa

Wah, diskusinya makin srius ya…U got me. Saintifik itu sendiri hanya konsensus, apa ga terlalu strong ya. Mungkin Aida bisa tulis khusus tngt ini.

Comment by musakazhim




Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>