Abu Thalib, Korban Persepsi

Setelah membaca buku “Abu Thalib, Mukmin Quraisy”, pikiran saya diberondong oleh sederetan pertanyaan berikut: Mengapa orang sampai bisa mempercayai Abu Thalib as sebagai kafir? Bagaimana orang bisa mengabaikan bukti-bukti otentik mengenai keimanan Abu Thalib, dan memvonis beliau sebagai kafir? Mengapa orang tidak jujur, tidak adil dan curang dalam menilai orang lain? Apa faktor-faktor yang mendorong lahirnya ketidakjujuran, ketidakadilan dan kecurangan dalam penilaian? Mengapa terjadi manipulasi dalam sejarah? Mengapa seorang pejuang dan pahlawan bisa dicoreng hitam oleh para penulis sejarah, sedangkan penjahat dan penipu bisa dipuji-puji dan disanjung? Dan akhirnya, kalau kita langsung bertanya kepada Abu Thalib as, “Bagaimana engkau ingin ditampilkan dalam sejarah Islam?” Maka apakah kira-kira jawaban yang akan beliau kemukakan?

Sebagian besar pertanyaan di atas sejatinya lebih berkaitan dengan soal kejiwaan daripada soal kesejarahan. Hampir seluruh pertanyaan di atas bermuara pada satu pokok soal, yakni: apa faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi persepsi dan penilaian (judgment) manusia? Apakah manusia bisa mempersepsi dan menilai objek, baik objek itu berupa benda ataukah berupa manusia, secara objektif? Apa sifat hubungan antara subjek dan objek? Bagaimana satu objek bisa dipersepsi dan dinilai secara berbeda-beda oleh beberapa subjek? Apakah ada prinsip umum yang bisa menjelaskan soal persepsi dan penilaian manusia terhadap objek? Dan terakhir, apakah manusia bisa mempersepsi dan menilai objek tanpa dipengaruhi oleh keadaan-keadaan yang bergejolak di dalam jiwanya?

Beberapa pertanyaan dalam paragraf kedua ini akan membawa kita pada persoalan yang lebih jauh lagi, yaitu persoalan epistemologi. Epistemologi adalah satu cabang dalam filsafat yang berbicara mengenai pelbagai jenis, dasar, sumber dan nilai pengetahuan, serta sifat hubungan antara jiwa yang mengetahui (baca: subjek) dan objek yang diketahui. Epistemologi juga membahas apakah pengaruh subjek terhadap objek pengetahuannya, dan sebaliknya bagaimana jenis-jenis objek mempengaruhi subjek yang mengetahui dan mengubahnya?

Tentu saja saya tidak akan—lebih tepatnya: tidak mungkin—membahas atau menjawab seluruh pertanyaan di atas dalam pengantar pendek ini. Yang ingin saya kemukakan di sini adalah prinsip-prinsip umum yang telah disepakati oleh para ahli mengenai penilaian manusia terhadap semua objek di dalam maupun di luar dirinya. Menurut para filosof, manusia mula-mula mengamati objek di luar dirinya secara sederhana (simple perception), tanpa melibatkan suatu penilaian (judgment) atau penegasan (assent) mengenai objek tersebut. Setelah menggagas objek yang diamatinya, baru ia akan menilai dan menetapkan putusan dan kesimpulan mengenainya. Pada umumnya, di tahap kedua ini timbul kerumitan dan kekeliruan, mengingat keputusan ini biasanya dipengaruhi oleh suatu jaringan daya dalam dirinya.

Jaringan daya yang mempengaruhi penilaian manusia terdiri atas daya akal, daya khayal, daya syahwat dan daya amarah. Tiap-tiap daya ini bekerja dengan input internal dari fitrah, hati, emosi, ingatan, naluri, susunan hormon, jenis makanan dan lain sebagainya; dan input eksternal seperti keluarga, pendidikan, teman, kelompok, masyarakat, budaya dan lain sebagainya. Pergumulan ini dalam istilah sebuah hadis Baginda Nabi disebut dengan jihâd an-nafs (pertarungan batin). Dan pertarungan ini sebetulnya bekerja untuk mempengaruhi kehendak (iradah) dan pilihan (ikhtiyâr) akhir manusia sebagai pemegang wewenang tertinggi.

Dalam bahasa Al-Qur’an, kehendak atau kebebasan memilih ini diungkapkan dalam beberapa istilah. Di antaranya ialah dengan istilah اراد (arâda) yang berarti mencari sesuatu dengan tenang; سعى (sa’a) yang secara harfiah berarti berjalan dengan cepat dan secara istilah bermakna usaha sungguh-sungguh untuk memperoleh sesuatu; كسب (kasaba) yang bermakna hasil dari upaya; dan lain sebagainya.[1]

Dalam surah Al-Isra`, Al-Qur’an mendahulukan arâda dari sa’a untuk menunjukkan urutan kemunculannya dalam jiwa manusia; irâdah lebih lembut dan lebih dahulu ketimbang sa’y. Allah berfirman: Dan barangsiapa yang menghendaki (arâda) kehidupan akhirat dan berusaha (sa’a) menujunya dengan betul-betul dan dia dalam keadaan beriman, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya akan disyukuri (dibalas dengan baik). (QS 17: 19)

Dalam ayat lain, Allah berfirman: Dan bahwasanya tiada (hasil) bagi manusia kecuali apa yang telah dia usahakan. Dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). (QS 53: 39-40). Dalam surah Al-An`am ayat 164, Allah berfirman: Katakanlah: “Apakah aku akan mencari tuhan selain Allah, padahal Dialah Tuhan segala sesuatu. Dan setiap orang akan (merasakan) kejelekan dari apa yang diupayakannya (kasaba); dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada Tuhan dan Dia akan memberitakan semua hal yang kalian perselisihkan. (QS 6: 164).

Maksud kehendak atau upaya dalam ayat-ayat di atas gampangnya adalah kemampuan untuk bertindak sesuai dengan kehendak dan kebebasan memilih. Secara paradoksal, para filosof sering menyatakan bahwa “Tuhan telah memaksa manusia untuk berkehendak dan bebas memilih.” Mungkin saja ada orang atau kekuatan yang dapat memaksa manusia untuk melakukan sesuatu di masa tertentu. Tetapi, tanpa kehendak dan memilih untuk tunduk, pemaksaan itu tidak akan berlangsung lama. Orang yang dipaksa pasti akan mempunyai kesempatan untuk mematahkan kekuatan yang memaksanya. Dengan demikian, semua tindakan dan penilaian manusia pastilah bersumber dari kehendak dan kebebasan memilih.

Oleh karena itu, dalam segala kerumitan pertarungan batin itu, kita menemukan suatu “konsistensi” perilaku dan penilaian manusia. Allah berfirman: Sesungguhnya manusia itu mengetahui dirinya * meskipun ia mengemukakan dalih-dalih. (QS 75: 14-15). Maksudnya, ketika manusia memutuskan sesuatu, ia sepenuhnya menyadari kebaikan dan keburukan akhir dari keputusannya. Akal pasti sudah memberinya pertimbangan baik dan buruk, fitrah juga pasti telah mendorongnya kepada kebenaran dan hati telah menyuruhnya untuk jujur, tetapi kemudian daya syahwat bergandengan dengan daya khayal untuk menyimpangkan pertimbangan-lurus akal, dorongan-tulus fitrah dan kejujuran hati nurani sebagai dalih-dalih pembenaran kehendaknya.

Dalam banyak ayat Al-Qur’an kita menemukan pertanyaan-pertanyaan retoris berkenaan dengan manusia-manusia yang telah mengetahui kebenaran tetapi tidak mau menerima dan berperilaku sesuai dengannya. Di akhir ayat-ayat itu biasanya kita menyaksikan bahwa Al-Qur’an menggelari mereka sebagai orang-orang yang كافر (kâfir). Secara bahasa, kâfir diturunkan dari akar-kata كفر (kafar) yang berarti menutupi atau menyelubungi, sehingga kâfir dalam ungkapan orang Arab juga berarti malam. Jadi, semua orang yang menutupi cahaya kebenaran bisa disebut sebagai kâfir. [2]

Orang kâfir di dalam ungkapan Al-Qur’an lazim diidentifikasi sebagai orang-orang bodoh (جاهل), lantaran keduanya sama-sama muncul dari sikap menutup diri. Misalnya, dalam surah Al-A`raf ayat 138, Al-Qur’an menyebutkan Bani Israil sebagai kaum yang bodoh (qaumun tajhalûn). Dalam surah Huud ayat 29, Nabi Nuh menyebut kaumnya yang ingkar juga sebagai kaum yang bodoh (qauman tajhalûn). Nabi Luth dalam surah An-Naml ayat 55 menyebut kaumnya yang kafir sebagai bodoh. Dalam surah Al-An`am ayat 111, Allah menyebut orang-orang yang kafir terhadap Nabi Muhammad saw sebagai orang-orang bodoh dan zaman mereka hidup disebut dengan Zaman Jahiliyah (QS 3: 154 dan 5: 50) dan sebagainya.

Mengenai orang bodoh, Amirul Mukminin Ali a.s. memiliki perkataan yang menarik. Beliau menuturkan:

اثبات الحجّة على الجاهل سهل، ولكن اقرا ره بها صعب

Membuktikan kebenaran kepada orang bodoh itu mudah, tetapi membuatnya menerima kebenaran itu susah.

Konon pernah dua orang Baduwi, Amr dan Zaid, berselisih tentang sesosok benda yang mereka lihat di kejauhan. Amr memastikan bahwa sosok itu adalah kambing, sedang Zaid memastikan bahwa sosok itu adalah burung. Merasa yakin dengan pendapatnya masing-masing, kedua orang ini akhirnya bersepakat untuk mendekati benda itu. Begitu sudah cukup dekat, Amr berteriak bahwa sosok itu pasti adalah burung elang. Zaid tetap bergeming, menegaskan bahwa itu adalah kambing pandang pasir. Amr lantas mengambil batu dan melempar ke arah binatang itu, dan ternyata burung itu terbang. Melihat burung yang terbang itu, Amr menyatakan bahwa itu adalah sejenis kambing yang bisa terbang (عنز ولو طرد).

Anekdot ini sebenarnya ingin mengilustrasikan kehendak kukuh dalam diri orang yang bodoh, pendirian tegas dalam diri orang yang sesat, dan tipuan licik dari seorang yang bingung. Inilah puncak kebodohan yang melahirkan kebencian (atau kecintaan) tanpa dasar, kejumudan berpikir, penipuan sejarah dan pelbagai malapetaka lain yang menimpa umat Islam. Bilamana penilaian dan pendapat kita didasarkan pada sikap-sikap demikian, maka bisa dipastikan kita akan bergerak menjauh dari kebenaran dan kebajikan.

Ironisnya, para penulis, pengajar, pelajar dan pembaca sejarah Islam kerap berpegang pada cara-cara penilaian seperti itu. Maka, kita melihat bagaimana para pejuang dan pembela Islam sejati dikafirkan dan dicoreng hitam secara semena-mena dan demi memuaskan sekelompok orang bejat. Abu Thalib r.a. adalah salah satu korban dari cara penilaian yang demikian. Puluhan bahkan ratusan bukti otentik mengenai keislaman beliau diabaikan, sementara prasangka-prasangka seputarnya terus disebar-sebarkan.

Banyak penulis dan lebih banyak lagi pembaca sejarah Islam sekonyong-konyong memvonis paman dan pembela Baginda Nabi ini sebagai kafir, dengan tanpa sedikit pun rasa malu atau rasa bersalah terhadap Baginda Nabi. Sebagian penulis sejarah sampai ada yang berani merekayasa dalil-dalil berkenaan dengan kekafiran Abu Thalib r.a. seperti sebab turunnya ayat 56 surah Al-Qashash (28) dan sejumlah hadis palsu. Dalil-dalil palsu ini telah dibantah habis oleh penulis buku ini, Abdullah al-Khanizi, secara menyeluruh dan elaboratif.

Lebih konyol lagi, tuduhan atas Abu Thalib r.a. yang berpijak pada kebohongan ini dijadikan alasan oleh sejumlah ahli kalam untuk menarik kesimpulan rancu menyangkut hidayat dan keimanan. Kata mereka, “Manusia sangat tidak berdaya dalam masalah hidayat dan keimanan, dan Allah sangat ‘kikir’ dan ‘sempit’ dalam memberi hidayat kepada seseorang. Bagaimana tidak? Abu Thalib r.a. yang mati-matian membela Rasulullah saja mati dalam keadaan kafir?” Kesimpulan semacam ini tidak lain dari kesimpulan orang yang tidak mengenal Allah sama sekali, karena Allah sesungguhnya adalah Tuhan yang Maha Pemberi rahmat dan hidayat, Maha Pemurah, Maha Penerima taubat, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Gambaran tentang Allah yang menakutkan dan mencekam ini agaknya telah merasuki akidah dan pola beragama sebagian umat Islam. Akibatnya, mengikuti gambaran yang seperti itu, tanpa berpikir panjang, dengan gampang dan cepat mereka bisa mengkafirkan atau memusyrikkan seseorang atau sekelompok orang yang berbeda dengan mereka. Akidah dan pola keberagamaan yang kasar ini umumnya dianut oleh golongan Wahabi dalam tubuh umat Islam. Barangkali wajar saja kalau mereka berlaku seperti itu, lantaran Allah dalam bayangan mereka adalah Tuhan yang ‘kikir’ dan ‘sempit’, na’udzu billahi min dzalik!

Pengkafiran Abu Thalib r.a. adalah cermin yang memantulkan hakikat orang yang mengkafirkan beliau. Ketika kita menyaksikan orang-orang tertentu mengkafirkan pembela Baginda Nabi dan menyanjung musuh-musuh beliau, kita sejatinya telah melihat hakikat jiwa orang-orang tersebut. Sebuah kaidah dalam filsafat menyatakan bahwa hakikat kita adalah sama dengan apa yang kita kehendaki dan apa yang kita pikirkan. Kalau kita menghendaki rumah, maka hakikat kita pada saat itu berubah menjadi batu bata, pasir dan semen. Kalau kita menghendaki mobil, maka jiwa kita tak lebih dari rangkain benda mekanik. Sebaliknya, kalau kita menghendaki kebenaran, maka hakikat kita adalah kebenaran itu sendiri.

Kecintaan dan kebencian adalah perwujudan kehendak yang juga bisa menjadi ukuran untuk menilai hakikat seseorang. Kalau seseorang mencintai selebritis, maka jiwanya suka dengan ketenaran meski ia membantah secara lisan. Kalau ada orang yang begitu mencintai Al-Qur’an, maka jiwanya adalah keindahan dan keluasan yang terkandung di dalamnya. Kalau seseorang membenci zikir, maka hakikat jiwanya adalah kelalaian dan kegelisahan. Kalau hati kita dipenuhi dengan kecintaan kepada seseorang, maka nilai kita sebanding dengan orang itu.

Dalam kaitan ini, Rasulullah bersabda:

انت مع من احببت يوم القيامة

Artinya, di hari Kiamat, yakni hari ketika semua tabir fisik dan rahasil di balik kejadian diungkapkan, kita akan bersama dengan orang yang kita cintai. Mengapa? Karena orang yang kita cintai adalah cermin diri kita sendiri. Baginda Nabi juga pernah bersabda:

من جالس جانس

Kumpulan kita adalah sejenis kita. Maksudnya, teman-teman di sekeliling kita adalah pantulan dari wajah kita sendiri.

Imam Ali bin Abi Thalib a.s. berkata:

من كان همّه في بطنه كان قيمته ما خرج منه

Siapa yang pikirannya tertuju pada perutnya, maka nilainya sama dengan apa yang keluar darinya. Ucapan ini secara tegas melukiskan hubungan timbal-balik antara yang kita pikirkan dan hakikat diri kita. Dalam perkataan lain, Imam Ali bin Abi Thalib a.s. menyatakan:

انّ الطيور على اشباهها تقع

Burung hanya berkawan dengan sejenisnya. Prinsip atraksi (daya tarik) antar benda-benda yang serupa telah dibuktikan secara ilmiah dan filosofis, meskipun bukan tempatnya kita membahasnya di sini. Atraksi antar dua benda berfungsi untuk memperkukuh masing-masing menuju titik yang sama. Dalam semua bidang kehidupan, kita telah menemukan gejala-gejala yang selaras dengan prinsip atraksi ini. Karenanya, manakala Allah menyuruh kita untuk mencintai dan mengikuti Rasulullah (QS. 3: 31) dan menyucikan keluarga beliau sesuci-sucinya (QS. 42: 23), maka patutlah kita menyadari bahwa semua itu adalah cara Allah menyempurnakan seluruh manusia. Dengan semua itu, Allah mengharapkan agar hati kita terpaut dan terhiasi dengan cahaya kesucian, bukan dengan hal-hal duniawi yang serba semu.

Kecintaan kita kepada Baginda Nabi yang merupakan pelita yang terang dan menerangi (sirâjan munîran, QS. 33: 46) serta utusan yang bertugas untuk menyucikan umat manusia (QS. 2: 151) berfungsi untuk membuka hati kita terhadap segenap kesempurnaan dan cahaya kesucian yang beliau bawakan. Dengan mencintai sesuatu atau seseorang berarti kita telah menghadirkan dan menghidupkannya dalam jiwa dan perilaku kita. Allah berfirman, Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah teladan yang baik bagi kalian, (yakni) bagi orang yang mengharapkan Allah dan hari akhir dan banyak menyebut Allah. (QS. 33: 21).

Kesempurnaan Rasulullah merupakan rahmat bagi alam semesta (QS 21: 107), terutama manusia, agar setiap hati manusia terpatri dan tersangkut ke puncak-puncak kesempurnaan yang tinggi. Itulah mengapa Rasulullah saw bersabda kepada Imam Ali bin Abi Thalib a.s.:

يا علي ، لا يحبّك الاّ مؤمن ولايبغضك الاّ كافر او منافق

(Wahai Ali, tidak mencintaimu kecuali orang mukmin, dan tidak membencimu kecuali orang munafik.)[3]

Di sini Rasulullah kembali menegaskan prinsip yang telah kita uraikan di atas, bahwa apa yang kita cintai adalah cermin hakikat kita. Hati orang kafir atau munafik tidak akan pernah bisa mencintai Imam Ali bin Abi Thalib, karena hati mereka terpenjara dalam jurang kegelapan sedangkan Imam Ali berada di puncak kemuliaan. Menanggapi sabda Nabi di atas, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. berkata: “Seandainya kupukul hidung seorang mukmin dengan pedangku supaya dia membenciku, dia tidak akan membenciku; dan seandainya aku tuangkan seluruh nikmat dunia kepada seorang munafik supaya dia mencintaiku, dia tidak akan mencintaiku.[4]

Akhirnya, kalau kita bertanya kepada Abu Thalib r.a. bagaimana dia ingin ditulis dalam sejarah Islam, maka saya yakin dia akan senang bila dijadikan sebagai cemin bagi kita untuk berkaca dan melihat hakikat jiwa kita masing-masing. Kenangan kita tentang Abu Thalib r.a. tidak akan membawa kemulian baginya, melainkan lebih sebagai hiasan bagi diri kita. Mengenal dan mengagumi orang-orang besar semacam Abu Thalib r.a. bukan kultus individu, tetapi lebih sebagai luapan kecintaan pada nilai-nilai yang dia bawa dan dia peragakan.

Abu Thalib r.a. yang saat ini sudah merasakan semua nikmat yang dijanjikan oleh Allah buatnya sepertinya lebih senang kalau kita sering-sering bertanya kepada diri sendiri: Siapa yang saat ini kau pilih untuk mengisi hatimu? Untuk tujuan apa kau bersusah-susah hidup dan menanggung beban derita? Adakah semua kesusahan dan penderitaan itu akan membawaku kepada kebahagiaan atau malah menjerumuskanmu ke dalam lembah kesengsaraan? Apakah kau yakin bahwa kecintaan dan kebencianmu telah kau arahkan ke sasaran-sasaran yang tepat? Apakah kau sudah mencintai orang-orang sempurna yang akan mengobarkan kerinduanmu kepada puncak-puncak kesempurnaan dan kesucian? Apakah kau sudah cukup membenci orang-orang sesat dan bejat yang telah membuat manusia berputus asa terhadap kebenaran dan keadilan?

Dan terakhir, rasanya Abu Thalib r.a. akan senang bila kita mengikuti anjuran beliau dalam syair berikut ini:

Sabarlah, hai Abu Ya‘la, dalam membela agama Ahmad

jadilah pembela agama ini dengan kesabaran

Lindungi pembawa kebenaran dari sisi Tuhan

dengan ketulusan dan tekad bulat, jangan jadi kafir

Bahagialah aku saat kau katakan, “Kau adalah seorang Mukmin”

maka kukuhlah dalam membela Rasul Allah, di jalan Allah

Serulah Quraisy dengan apa yang kau peroleh

dan terang-terangan katakanlah, “Ahmad bukan penyihir!”

Jakarta, 18 Zulhijah 1423

(Hari Raya Al-Ghadir)


[1] Abu al-Qasim al-Raghib al-Isfahani, al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Dar Al-Ma`rifah, Beirut, t.t.

[2] Ibid.

[3] Ibn Asakir Al-Damasyqi, Târîkh Damasyq, Dar Al-Ta’aruf, Beirut, 1395 H., jilid 2, berkenaan dengan “Biografi Imam Ali”.

[4] Imam Ali, Nahj al-Balâghah, Qum 1369 h.q., kata mutiara nomor 45.

Advertisements

9 thoughts on “Abu Thalib, Korban Persepsi

  1. Menyimak kajian Abu Thalib, saya jadi teringat pada kejadian subuh tadi pagi di mushalla komplek saya. kebetulan yang jadi imamnya dari suatu aliran tertentu mengingat dari uniform yang ia pakai. dugaan saya tepat ketika habis salat subuh, ia mengundang para jamaah untuk menghadiri acara tablig. satu hal yang menarik, yang saya menyesal karena tidak urun rembug, adalah ketika ia membacakan beberapa hadis yang menyangkut ketidakberimanan Abu Thalib ra. Tadinya saya ingin bertukar pikiran dengan si imam tersebut. Tetapi waktu saya tak banyak karena harus mengejar kereta, niat tersebut saya urungkan.
    Ketika membacakan hadis-hadis tersebut, saya teringat pada buku karya Sayid Ahmad Zaini Dahlan, “Keimanan Abu Thalib” (kalo tak salah judulnya begitu). Sebagai seorang ahli hadis, beliau memaparkan bahwa hadis tentang kekafiran Abu Thalib sesungguhnya berasal kalangan pembenci Ali bin Abi Thalib. Menurut beliau, dengan melihat titimangsa sejarah perawi dan masa hidup Abu Thalib ra, dapat dibuktikan bahwa hadis tentang kekafiran Abu Thalib adalah sangat tidak sahih.
    Sementara, dari sisi lain, pembelaan Abu Thalib ra terhadap Nabi saw menunjukkan keimanan yang kuat. Jika memang kafir, tentu ia tak akan menyuruhnya anaknya, Ali, untuk shalat bersama Nabi saw.
    Rasionalitas inilah yang tidak digunakan oleh beberapa kelompok Islam. Hadis, bagi mereka, sudah mencukupi untuk menjatuhkan kafirnya seseorang.
    Saya mengurungkan niat untuk bertukar pikiran dengan mereka juga lantaran salah satu ciri mereka ialah tak mau berdiskusi.

  2. Kita telah jauh dari masa Abu thalib….
    tidak ada yg perlu di bicarakan, meski itu urusan sejarah
    Terkecuali bukti Otentik dari yang maha mengetahui yaitu Allah

    “Tidak Perlu di perdebatkan”

    Kalo pengin mengambil hikmah contoh Sejarah dari keluarga
    (seperti dekatnya Abu thalib dengan nabi muhammad)
    lihat dan baca surah At Tahrim ayat 10, 11 dan 12

    insya Allah itu cukup (atau malah mgk masih ada ayat al quran yg lain yg bisa dijadikan acuan.)

    “itu boleh diungkapkan, mengapa orang menyukai hal yg absurd/ bias ?”

    Orang lain, sikap sujud atau gerak shalat orang lain,
    Tidak ada pertanggungan jawab kita kepada mereka, biarkan
    Jangan kita hina…. (mirip jgn menentukan mereka Kafir tergesa, karena beda)

    karena telah jauh dari masa itu..
    Meski kita sudah seharusnya mencari sesuatu yg benar secara mandiri, yaitu dari Al Quran…
    tidak ada yg mengetahui kepastian sejarah kecuali Allah yg mengetahui hati..
    karena Allah menciptakan sifat dari hati

    Jangan lah takut membaca terjemahan Al Quran
    Tapi takutlah kau mengetahui hadist-hadist palsu tapi buta soal Al Quran

    semoga berguna wahai pencari ilmu….

  3. musakazhim says:

    Supaya tidak salah pengertian: dalam artikel ini saya tidak sedang bicara sejarah sebagai kumpulan cerita masa lalu, tapi lebih pada renungan tentang bagaimana sebenarnya sejarah itu kita persepsi dan hubungan persepsi itu dengan hakikat jiwa kita sendiri. Saya tidak menuliskan sejarah Abu Thalib dan apakah dia benar2 kafir menurut Allah atau semacamnya yang jelas2 berada di luar lingkup pengetahuan manusia, tapi bagaimana sebenarnya persepsi bisa mengubah jalan sejarah hidup seseorang atau sebuah masyarakat.

    Terima kasih atas kunjungannya.

  4. abu kumail says:

    Kalau anda mau lebih jelas tentang pernyataan keimanan Abu Thalib silahkan anda buka buku Musnadnya Al Imam Zeid bin Ali Zainal Abidin AS

  5. Keimanan Abu Thalib jelas dan nyata tetapi dikaburkan oleh para penguasa karena harta dan kedudukan agar masyarakat Islam awam tidak mengenal pribadi-pribadi mulia yang senantiasa memberikan insipirasi kepada setiap mukmin, “Anda dapat membohongi seluruh ummat dalam satu massa, Anda dapat membohongi ummat dalam sepanjang massa, namun Anda tidak akan pernah dapat membohongi seluruh ummat dalam seluruh massa.

  6. Pingback: Automobile
  7. ALI ALAYDRUS says:

    Salut buat antum ya Sayid..Antum jelaskan semua hingga tdk terbantahkan tp untuk ane yg Tolol ini, kita ambil tolak ukur dari manusia suci yg paling dekat dgn Almazlum Abu Tahlib yaitu Rasulullah SAAW.apa pernah kita dengar yg keluar dr lidah suci Rasul celaan, hinaan,umpatan atau segalanya yg berbau Negatif utk abu Thalib ? krn Rasulullah adalah oarng yg slalu berkata yg Haq, tdk pernah berpikir Nepotisme, KKN atau lain sebagainya.Kalau memang Abu Tahlib itu kafir tentu Rasulullah tdk mungkin membelanya,karena tentu akan mengurangi “Kesempurnan” dia sebagai Rasul.Tp yg saya dapatkan adalah pujian yg sangat dalam bagi pamannya ini, yg tentu bukan karena dia sekedar paman saja.oleh karena itu saya nukil dr tulisan antum di atas. dari ucapan Imam Ali putra Abu Thalib Alma’sumin : “Membuktikan kebenaran kepada orang bodoh itu mudah, tetapi membuatnya menerima kebenaran itu susah”..tuk mreka para pengkafir Abu Thalib, kalau saya jadi kalian Wallahi saya takut berhadapan dgn Rasulullah SAAW, Imam Ali & Ahlul baitnya nanti di akhirat

  8. Benarkah Abu Thalib itu Musyrik dan Kafir….???.

    Ibnu Sa’ad, Mengetengahkan dalam kitabnya yang berjudul “ At-Thabaqatul-Kubra “ bahwa Abu Thalib menjelang ahir hayatnya, memanggil semua orang Bani Abdul Mutthalib, kaum kerabatnya yang terdekat. Kepada mereka ia dengan tegas menganjurkan: “ Kalian akan tetap baik, bila kalian mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Muhammad dan mengikuti agamanya, karena itu hendaklah kalian mengikuti dan membantunya, kalian pasti mendapatkan petunjuk yang benar. “

    Ibnu Sa’ad , dalam –Thabaqat – Kubra , Jilid,I. halaman , 105. Mengetengahkan sebuah Hadits berasal dari ‘Ubaidillah bin Rafi’ yang menerimanya langsung dari Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhahu . Imam ‘Ali r.a. berkata: “ Wafatnya Abu Thalib kuberitahukan kepada Rasulullah saw. Beliau menangis , kemudian berkata : “ Pergilah engkau dan mandikanlah dia, lalu kafankan dan kemudian kebumikan. Allah mengampuni dia dan merahmatinya, “.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s