Subjek dan Objek

Alkisah, seekor anjing memasuki sebuah ruangan yang dipenuhi dengan cermin. Begitu melihat dirinya dalam cermin, anjing itu langsung menggonggong. Cermin pun otomatis memantulkan bayangan anjing yang juga sedang menggonggong. Melihat anjing dalam cermin yang juga ikut menggonggong, anjing ini pun makin keras menggonggong. Akhirnya, dalam keadaan lelah, anjing ini menemui ajalnya. Tak lama berselang, anjing kedua masuk. Dengan wajah tersenyum dan riang, anjing kedua ini langsung menemukan bayangannya yang juga tersenyum dan riang di dalam cermin. Dan keriang-gembiraan inipun lantas berubah menjadi persahabatan dan kemesraan hubungan.

 

Ilustrasi di atas sesungguhnya menggambarkan hubungan antara subjek dan objek yang diamati, hubungan antara keadaan subjektif dan keberadaan objektif, hubungan antara alam pikiran dan dunia luar. Satu objek yang sama, baik abstrak maupun konkret, bisa ditanggapi secara berbeda-beda oleh orang yang berbeda atau oleh orang yang sama dalam keadaan yang berbeda.

Secara psikologis kita dapat mengatakan bahwa setiap orang mempersepsi rangsangan dari luar dirinya atau gagasan tertentu sesuai dengan keadaannya masing-masing. Dan karena keadaan seseorang senantiasa berubah-ubah, maka satu orang dapat menangkap suatu pesan dan gagasan yang sama secara berbeda dalam waktu dan keadaan yang berbeda. Selain itu, secara psikologis telah terbukti bahwa manusia menerapkan perhatian yang selektif (selective attention). Seringkali apa yang menjadi perhatian kita lolos dari perhatian orang lain, atau sebaliknya. Jelas bahwa ada kecenderungan dalam diri kita untuk melihat apa yang ingin kita lihat dan mendengar apa yang ingin kita dengar. Perbedaan perhatian ini timbul dari faktor-faktor subjektif dalam diri kita.[1]

Motif, sikap, kebiasaan dan kemauan mempengaruhi apa yang kita perhatikan. Dalam perjalanan naik gunung, geolog akan memperhatikan bebatuan; ahli botani akan memperhatikan tetumbuhan, ahli zoologi akan memperhatikan binatang; ahli matematika akan memperhatikan pola dan bentuk; orang beragama akan senantiasa bertasbih menggumamkan kebesaran Allah. Jadi, objek yang kita perhatikan sebenarnya berbicara tentang siapa kita.

Dalam ilmu komunikasi dikatakan bahwa words don’t mean; people mean (kata-kata tidak mempunyai makna; oranglah yang memberikan makna padanya). Kalau Anda mengatakan kepada anak kecil “mainan”, maka yang terbayang di benaknya adalah seperangkat mobil-mobilan, boneka, dan yang semacamnya. Tetapi, kata “mainan” di benak orang dewasa bisa berarti “tipuan”. Ketika seorang pejabat militer berbicara tentang “pengamanan”, kelompok oposisi akan memaknainya sebagai “tindakan-tindakan represif”.

Riset medis dan ilmiah menunjukkan bahwa apa yang kita anggap atau kita percayai sebagai nyata lebih penting daripada benda-benda yang dapat kita sentuh, kita cicipi, dan kita ukur. Tulis Herbert Benson dan William Proctor: “Yang penting adalah bagaimana kita menafsirkan kenyataan atau bagaimana kita ‘melihat’ dunia konkret di sekeliling kita. Dengan kata lain, kekuatan dan potensi kita untuk sehat dibentuk oleh cara berpikir kita, negatif ataupun positif. Seorang filosof Roma abad pertama, Epictetus, pernah menyatakan, ‘Manusia terganggu bukan oleh benda-benda, melainkan oleh pendapatnya tentang benda-benda.’”[2]

Dalam bidang kedokteran, fenomena plasebo menunjukkan hubungan subjek-objek di atas. Plasebo adalah pil bohongan alias tepung yang dibentuk seperti pil. Ternyata, ketika diberikan kepada pasien, plasebo ini mempunyai efek menyembuhkan yang sama dengan pil sebenarnya. Dalam riset, sejumlah besar pasien bisa sembuh hanya dengan diberi plasebo. Dan lebih lanjut, plasebo ukuran besar punya efek menyembuhkan yang lebih ampuh dibandingkan dengan plasebo ukuran kecil. Warna-warna plasebo tertentu terbukti punya berpengaruh menyembuhkan penyakit secara lebih ampuh dibandingkan dengan warna-warna lain.

Dalam pandangan mekanika quantum hubungan subjek dan objek dapat dilihat sebagai penentu penting bagi apa yang diamati dan bagaimana partikel terbentuk. Partikel itu ada dan dapat diamati hanya dalam hubungan dengan sesuatu yang lain. Mereka bukanlah eksistensi yang bebas dan berdiri sendiri. Hubungan yang tidak terlihat antara segala sesuatu yang semula kita anggap saling terpisah merupakan unsur dasar dari semua maujud. Alam wujud dan segala sesuatu pada dasarnya saling terkait dan saling mempengaruhi, persis seperti hubungan antara orang yang bercermin dan bayangan yang terpantul darinya. Jadi, keadaan alam raya dan segenap isinya tak lain dari refleksi diri kita sendiri.[3]

Kesimpulan ilmiah dari pelbagai penelitian mutakhir mengenai hubungan-langsung subjek dan objek ini telah meruntuhkan paradigma positivisme yang dikotomis dan mekanis. Dalam pandangan kaum positivis, pertama, realitas objektif adalah sebuah mesin raksasa yang ‘berada di luar diri kita’. Mesin raksasa itu kita amati dengan cara mereduksinya menjadi bagian-bagian kecil yang dapat kita ukur secara kuantitatif, lalu hukum yang terdapat pada bagian-bagian kecil ini kita generalisasikan kepada keseluruhan.

Kedua, kita dapat mengukur realitas tanpa mempengaruhinya sedikitpun. Kita dapat melihat raut wajah orang tanpa mengusik orang yang bersangkutan. Kita dapat mengamati perilaku sel dan partikel tanpa mengganggu gerakannya. Pendeknya, kita dapat mengetahui objek secara apa adanya.

Ketiga, sebuah metodologi menjamin bahwa hasil-hasil penelitian tidak dipengaruhi (bias) oleh sistem subjektif. Metode dirancang untuk menghilangkan unsur-unsur subjektif dari suatu penelitian. Sebuah fakta akan tampak sama oleh siapapun yang mengamati, terlepas dari keadaan subjektif si pengamat.[4]

Ketiga asumsi dasar positivisme tersebut kini telah berguguran. Pengabaian peran subjek dan jiwa manusia tidak dapat menjelaskan begitu banyak fenomena. Antara lain, fenomena efek plasebo, psikoterapi, kemampuan psikis (psychic capability), false pregnancy, efek yoga dan meditasi, spiritual healing, dan lain sebagainya.

Reduksionisme¾yang menyatakan bahwa hukum yang mengatur materi dan energi pada skala kecil berlaku juga pada skala yang lebih besar¾ternyata tidak dapat dipertahankan. Senyawa kimia menunjukkan sifat yang berbeda dengan sifat unsur-unsurnya. Jadi, keseluruhkan ternyata berbeda secara kualitatif dengan sifat bagian-bagiannya. Selain itu, generalisasi seringkali terbentur pada suatu sesat-pikir reduksionistik (reductionist fallacy). Teorema Kurt Gödel bahkan menunjukkan bahwa dalam sistem matematika selalu saja ada kebenaran yang tidak bisa dibuktikan.

Menghadapi kebenaran yang tidak bisa dibuktikan dan ditundukkan oleh logika matematika itu, kalangan ilmuwan biasanya menggunakan apa yang disebut dengan ‘intuisi’. Dan ini, sekali lagi, memperlihatkan betapa penting peranan subjektivitas dalam menentukan proses dan hasil akhir suatu pengamatan.[5]

Dalam filsafat Islam kita mengenal kaidah yang disebut ittihâd al-‘âlim wa al-ma’lûm, yakni kesamaan subjek yang mengetahui (knower) dengan objek yang diketahui. Dalam kaitan ini, Toshihiko Izutsu menuliskan: “The problem of the unique form of subject-object relationship is discussed in Islam as the problem of ittihâd al-‘âlim wa al-ma’lûm, i.e. the ‘unification of the knower and the known.’ Whatever may happen to be the object of knowledge, the highest degree of knowledge is always achieved when the knower, the human subject, becomes completely unified and identified with the object so much so that there remains no differentiation between the two. For differentiation and distinction means distance, and distance in cognitive relationship means ignorance.”

(Masalah bentuk manunggal hubungan subjek-objek dibicarakan dalam [filsafat] Islam sebagai masalah ittihâd al-‘âlim wa al-ma’lûm, yakni ‘penyatuan pengetahu dan yang diketahui’. Apapun objek pengetahuannya, tingkat tertinggi pengetahuan dicapai manakala pengetahu, subjek manusia, menjadi benar-benar tersatukan dan teridentifikasi dengan objeknya sedemikian sehingga tidak terdapat lagi pembedaan di antara keduanya. Karena, pembedaan dan pemisahan berarti jarak, dan jarak dalam kaitannya dengan kesadaran berarti kebodohan.)[6]

Selanjutnya Izutsu menyatakan: “The correlation between the metaphysical and the epistemological means in this context the relation of ultimate identity between what is established as the objective structure of reality and what is usually thought to take place subjectively in human consciousness. It means, in brief, that there is no distance, there should be no distance between ‘subject’ and ‘object’. It is not exact enough even to say that the state of subject essentially determines the aspect in which the object perceived, or that one and the same object tends to appear quite differently in accordance with different points of view taken by the subject. Rather the state of consciousness is the state of the external world.

(Kaitan antara hal yang metafisikal dan epistemologis dalam konteks ini berarti hubungan kesamaan yang luarbiasa antar apa yang disebut sebagai struktur realitas objektif dan apa yang dianggap berlangsung secara subjektif dalam kesadaran manusia. Secara ringkas, hal ini berarti bahwa tidak ada jarak dan tidak semestinya ada jarak antara ‘subjek’ dan ‘objek’. Rasanya tidak cukup tepat untuk mengatakan bahwa keadaan subjek secara esensial menentukan sisi objek yang dipersepsi, dan bahwa satu objek yang sama cenderung tampak berbeda sesuai dengan sudut-sudut pandang yang diambil oleh subjek. Akan tetapi, lebih dari itu, keadaan kesadaran sesungguhnya adalah keadaan dunia luar itu sendiri.)[7]


 

 


[1] Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, Rosdakarya 1993, hal. 53.54.

[2] Herbert Benson & William Proctor, Dasar-dasar Respons Relaksasi, Kaifa 2000, hal. 32.

[3] Lebih jauh, lihat: Fritjof Capra, The Tao of Physics, Bantam Books 1997, dan Ian G. Barbour, Juru Bicara Tuhan: Antara Sains dan Agama, Mizan 2002.

[4] Jalaluddin Rakhmat, Catatan Kang Jalal, Rosdakarya 1997, hal. 390-91.

[5] Untuk diskusi lebih lanjut, lihat: Tim CIMM, Melaju Menuju Kurun Baru, Mizan 1998.

[6] Toshihiko Izutsu, The Concept and Reality of Existence, The Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1971, hal. 5.

[7] Ibid., hal. 10.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s