Tentang Hal2 Kecil

7 Maret 1999. Aku tahu sesuatu telah (atau sedang terjadi). Tetapi, apa persisnya aku tak tahu. Yang jelas, sampai pukul 01.30 pagi, aku masih galau mencari letak yang enak untuk tidur. Sialnya, kantuk tak kunjung tiba.

Pergi aku ke toilet memenuhi panggilan alam: buang air kecil. Sekali lagi kutengok jam dinding: pukul 02.00! Jangan-jangan … ah, tidak mungkin! Mustahil! Rasanya tidak ada tindakan “luar biasa” sepanjang hari ini. Lantas, apa ya? Sama saja: tidak ada jawaban! Berarti, aku tidak tahu sebab-musabab semua ini, wasalam!

Tekad untuk bisa tidur masih ada. Dalam keadaan terbaring, aku tetapkan dalam pikiran bahwa ada kemauan, pasti ada jalan. Tiga-empat versinya dalam berbagai bahasa kuingat-ingat. Ah, kali ini pasti bisa! Mata kupejamkan dengan paksa. Eh, tetap tidak bisa. Kelopak mata malah meronta-ronta. Makin lama makin keras. Ketegangan pun menjalari sekujur tubuh. Perut, kaki, tangan, kulit kepala, kepala itu sendiri, kian tidak terkendali. Kering sekali terasa mulut ini, seperti tidak minum tiga-empat hari. Bola mata kurasai seperti dikerubungi lalat-lalat kecil. Kontan aku sadar bahwa terhadap tubuh sendiri pun aku tak kausa. Aku tidak bisa tidur! Benar-benar tidak! Padalah aku ingin, ingin sekali! Bukankah ini sebuah pengkhianatan?! Atau, sebuah peringatan: “Hai, diri! Jangan sok kuasa kau!”

Jam dinding Pak RT berdentang tiga kali. Kepala mulai terasa pusing. Mata kiri dan kanan berkelap-kelip keras beberapa kali. Tanpa setahuku, biji-bijian telah merembesi kulit, dan sedang menumbuhkan akar pada otakku untuk berkembang menjadi pepohoonan yang rimbun dalam kepala. Ada pohon kebahagiaan, keberhasilan, kesedihan, kengerian, kekhawatiran … Semua pohon tumbuh cepat, tanpa buah, dan uh, banyak benalu. Mungkin karena taman dalam kepala sudah membelantara, tubuh seakan hilang-lenyap di antaranya. Baru ketika akan bangkit, aku tahu ia masih ada. Otak mulai berputar kesana-kemari. Makin lama makin keras. Tubuh pun lama-kelamaan jadi ikut-ikutan berputar.

Nah, mulailah aku berpkir tentang apa itu tidur. Bukan cuma terpicingnya mata tentu. Santainya sekujur tubuh? Juga tiedak selalu. Menguap? Ya, satu pengantar. Datangnya kantuk dan malam adalah pengantar-pengantar yang lain.

Dan mulai aku menemukan betapa banyak yang tidak kuketahui tentang tidur: bagaimana baiknya tidur itu (telentang, tengkurap, menyamping ke kanan, menyamping ke kiri, atau bagaimana); berapa banyak mestinya seseorang tidur dalam sehari semalam (5, 6, 7, 4, 8, atau berapa jam); apa yang positif dilakukan orang sebelum dan sesudah tidur (membaca, menulis, makan, olahraga, atau apa); dan bermacam soal lain yang ternyata tidak kuketahui sama sekali jawabannya.

Tetapi kini, setelah kejadian ini, satu hal yang menjadi pasti bagiku: tidur adalah anugerah yang luar biasa. Bayangkan saja bagaimana jadinya kalau ada orang tidak tidur seharian! Bagaimana pula kalau seminggu? Sebulan? Setahu? Selama-lamanya? Bagiamana pula dengan keadaan otot-ototnya? Matanya? Saraf-sarafnya? Otaknya? Pikirannya? Tidak terbayangkan!

Syukur, ya syukur itulah jawabanku. Syukur masih pernah dan bisa tidur. Juga, masih bisa menguap, meludah, kentut, kencing, bersin … Syukur akan “hal-hal kecil” yang sering kuanggap tiada.

Tanpa semauku, butiran-butiran hangat sudah membasahi pipi. Bersamaan dengan tibanya waktu Subuh, berteriak aku: Puji syukur bagi-Mu, Wahai Pemberi tidur, kantuk, dan “hal-hal kecil” lainnya!

2 thoughts on “Tentang Hal2 Kecil

  1. Wow, this post is good, my younger sister is analyzing such things, thus
    I am going to let know her.

    for mor info please check القران الكريم

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s