Gerak Subjek menuju Objek Gaib

Perjalanan subjek dimulai dari kegelapan dan kebodohan (jahl) menuju kepada kesempurnaan dan pengetahuan. Di dalam kekosongan terdapat kejauhan dan keraguan (syakk). Pengetahuan (‘ilm) dan kesempurnaan tingkat terendah diperoleh ketika subjek mulai mendekat dan menghampiri Pusat Kesempurnaan yang berada di kejauhan itu. Pada tahap ini ia akan memperoleh suatu gambaran kasar tentang sosok tersebut.

Dari gambaran kasar ini ia akan mempertimbangkan untuk lebih mendekati sosok itu atau tidak. Dalam mempertimbangkan hal ini, insting, nafsu, khayalan, akal, memori, perasaan, dan sebagainya bekerja mempengaruhi manusia dalam mengambil keputusan. Apabila kemudian ia memutuskan untuk lebih mendekat, gambaran yang lebih jelas tentang sosok itu akan muncul dalam pikirannya. Gagasan yang muncul dalam pikiran ini tidak lantas mati dan mandeg seperti yang sering kita bayangkan, melainkan terus tumbuh dan “mengganggu” kita. Pada prinsipnya, tidak ada sesuatu apapun yang tidak memberi pengaruh, meski pengaruh itu belum tentu tampak dan terlihat oleh kita.

Setelah itu, terjadilah interaksi. Bila ternyata hasil pertukaran informasi sekilas itu positif, maka hubungan akan berlanjut menjadi pengetahuan yang memberikan keyakinan. Keyakinan ini lalu akan membuahkan kesan mendalam pada masing-masing pihak, sedemikian sehingga masing-masing akan menjadi benar-benar tersatukan. Dalam penyatuan itu, salah satu pihak akan terserap dan menghilang ke dalam yang lain. Seorang penyair-sufi pernah berkata:

Jika engkau menatap tinta, huruf-huruf menghilang;

Jika engkau menatap huruf-huruf, tinta menghilang;

Jika engkau tutup mata, engkau menghilang dalam huruf-huruf dan tinta.

Barangkali Anda akan bertanya: Apakah proses di atas terjadi pada segala sesuatu? Ilmu pengetahuan mengajarkan bahwa alam semesta ini adalah sistem yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Tidak ada aksi yang tidak melahirkan reaksi, dan tidak ada sebab (cause) yang tidak melahirkan akibat (effect). Apapun yang terjadi di alam raya tidak lepas dari hukum sebab-akibat, walaupun kita tidak selalu mengerti sebab apa dan akibat apa. Yang jelas, segala sesuatu merupakan rangkaian sebab dan akibat, aksi dan reaksi.

Dalam kaitan ini, apa yang kita sebut sebagai ‘benda mati dan pasif’ itu sebenarnya tidak ada secara ilmiah. Semua benda, dalam tingkatannya masing-masing, melakukan aksi dan reaksi. Hanya saja, lantaran sebagian aksi dan reaksi itu tidak kita ketahui, maka kita menyebutnya sebagai tiada. Padahal, sungguh berbeda antara hal yang tidak kita ketahui dan hal yang tidak ada. Manusia memang sering mengganggap apa yang tidak diketahuinya sama dengan ketiadaan.

Aksi dan reaksi atau sebab-akibat pada benda-benda mati sangat kecil dan tidak berarti bila dibandingkan dengan aksi dan reaksi pada benda-benda hidup seperti tetumbuhan dan binatang. Demikian pula aksi dan reaksi pada tetumbuhan dan binatang tidaklah berarti bila dibandingkan dengan aksi dan reaksi manusia dan makhluk-makhluk non-material. Demikian itu karena realitas tersusun secara bertingkat-tingkat. Maujud-maujud dengan tingkat lebih besar mempengaruhi maujud-maujud dalam tingkat lebih kecil, dan yang lebih kecil menerima pengaruh itu sebagai anugerah untuk menyempurnakan dirinya. Sebaliknya, maujud-maujud berkapasitas energi rendah secara otomatis akan menuju kepada maujud yang di atasnya, dan demikian seterusnya hingga mencapai ke Pusat Wujud.

Dalam tingkatan itu, alam material memiliki energi yang paling kecil, sesuai dengan hukum materi yang terbatas oleh sekat-sekat ruang dan waktu. Sebaliknya, alam non-material adalah energi murni yang belum “terpenjara” dalam suatu bentuk dan berada dalam “kebebasan”. Para ahli fisika kuantum menyebutnya dengan chaos, para filosof menyebutnya dengan Wujud Mutlak, kaum empiris menyebutnya dengan ketiadaan, dan agama menyebutnya dengan Kegaiban (الغيب) sebagai lawan dari ketampakan (الشهادة) atau alam batin (الباطن) sebagai lawan dari alam lahiriah (الظاهر).

Realitas gaib atau alam batin berada di luar (beyond) cakrawala pengetahuan. Data-data yang ada pada ilmu pengetahuan memungkinkan cakrawala ini bergeser, hingga medan pemahaman tentangnya makin bertambah. Tetapi, seperti orang yang berada di dalam rumah, dia tidak pernah mengetahui apa yang terjadi di luar rumah. Dia hanya bisa berupaya membongkar atap dan melihat-lihat keadaan di lapisan atap kedua. Tetapi, pada lapisan atap kedua ini, ada lapisan atap ketiga dan begitulah seterusnya.

Batas itulah yang disebut dengan limit dalam bahasa metamatika. Ada barisan Cauchy yang trend-nya bergerak ke suatu arah. Tetapi, di suatu titik, akan terdapat cakrawala yang membatasi trend itu. Di luar cakrawala ini adalah lambang-lambang Ketakterbatasan. Sesuatu hanya akan bisa mendekati ambang batasnya, tetapi ia tidak akan pernah melampauinya. Begitu ia keluar dari batasnya, ia akan menghilang di telan Kekosongan Absolut (Absolut Zero). Pada saat itu, identitasnya memudar dan ia menjadi tak lagi dapat didefinisikan secara eksak.

Bahasa yang bisa digunakan untuk mengungkapkan alam gaib atau alam batin atau Wujud Mutlak adalah bahasa simbol, perumpamaan, metafora, isyarat, kinâyah, dan sebagainya yang berpijak pada keimanan, keyakinan, kecintaan, mukâsyafah, dan penyaksian-langsung. Upaya untuk mengungkapkan Realitas Gaib atau Alam Batin dengan bahasa rasional-analitik akan selalu berakhir dengan kerancuan dan kebuntuan.

Dalam kaitan ini, Sayyid Haydar Amuli, seorang sufi besar abad ke-14, pernah menyatakan: “Ketika manusia mencoba mendekati Wujud melalui akalnya yang lemah (‘aql dha’îf) dan pemikirannya yang goyah (afkâr raqîqah), kebutaan dan kebingungannya akan semakin bertambah.”[1] Dengan nada yang sama, Mahmud Syabastari mengungkapkan:

Buanglah nalar, peganglah selalu Realitas;

Karena mata seekor kelelawar takkan mampu menatap matahari.”

Dalam komentarnya atas sajak di atas, Muhammad Lahiji menyatakan bahwa penalaran yang mencoba menatap Realitas Mutlak sama seperti mata yang mencoba menatap matahari. Meskipun dari kejauhan, kilauan dahsyat cahaya matahari akan membutakan mata penalaran. Dan setiap kali mata penalaran menaiki tahap-tahap Realitas yang lebih tinggi dan pelan-pelan menghampiri wilayah metafisikal Sang Mutlak, kegelapan akan makin mengental hingga pada akhirnya segala sesuatu berubah menjadi hitam-pekat.[2]

Manusia biasa yang tidak memiliki pengalaman transendental mengenai Realitas diumpamakan seperti orang buta yang tidak bisa berjalan aman tanpa bantuan tongkat di tangannya. Tongkat yang membantu manusia ini dilambangkan sebagai daya rasional pikiran. Akan tetapi, anehnya, tongkat yang diandalkan oleh orang buta ini justru adalah penyebab kebutaannya. Karena itu, ketika Musa melemparkan tongkatnya, tirai-tirai alam fenomenal tersingkapkan dari pandangannya. Barulah kemudian, di balik tirai bentuk-bentuk fenomenal itu ia menyaksikan kemahakuasaan Realitas Mutlak. Tongkat Nabi Musa pun mampu beralih-bentuk menjadi ular dan membelah lautan.

Semua yang ada di alam material sesungguhnya berasal dari Alam Gaib, Alam Ketakterbatasan, atau Wujud Mutlak. Begitu tercipta dalam bentuk fenomenal tertentu, ia menjadi terbatasi. Sebagai permisalan, Anda bisa membayangkan sebuah rumah idaman dalam benak Anda yang sepenuhnya sempurna. Namun, begitu Anda mulai merancangnya dalam suatu sketsa, kekurangan demi kekurangan akan muncul. Bila lantas sketsa itu mulai Anda kerjakan, kekurangan yang lebih banyak lagi akan muncul dan begitu seterusnya hingga tidak berapa lama Anda akan merasakan betapa tidak sempurnanya rumah idaman Anda. Begitu pula halnya dengan proses penciptaan sesuatu yang sebelumnya berada dalam Lautan Ketakterbatasan.

Oleh sebab itu, para filosof menyatakan bahwa wujud mujarad atau alam batin lebih luas dan lebih besar daripada alam material yang tampak ini.

 


[1] Sayyid Haydar Amuli, Risâlah Naqd Al-Nuqûd, suntingan Henry Corbin dan Osman Yahya, Teheran-Paris 1969, hal. 625.

[2] Muhammad Lahiji, Syarh-e Gulsyan-e Râz, Tehran, 1337 Kalender Iran, hal. 94-97.

5 thoughts on “Gerak Subjek menuju Objek Gaib

  1. rofik suhud says:

    Salam bib. lama tak jumpa dan pagi ini saya nikmat nyasar ke blog antum. mudah2an Dia terus menguatkan antum untuk senantiasa berkarya.

  2. musadiqmarhaban says:

    Sekali lagi ana harus katakan bahwa penjelasan antum ini sungguh luar biasa…tambah lagi Sayyid. Syukran.

  3. menarik, saya terkesan paragraf terakhir. Mungkin itu sebabnya saya bikin blog rasanya ada yang kurang terus..terutama design nya. cape d…

  4. denjaka syiah says:

    Syahadat dan Sains
    Syahadat, Tiada Tuhan Selain Allah, Muhammad adalah Utusan Allah, adalah hukum bagi jiwa dan bagi raga bagi manusia dan seluruh makhluk ternyata adalah manifestasi dari dua hukum sains yang ditemukan di alam. Hukum sains itu adalah hukum fisika kuantum pada unsur-unsur mikroskopis bawah kontanta Planck dan hukum fisika klasik. Hukum fisika kuantum adalah La Ilaa Ha Ilallaah, Hukum fisika klasik adalah Muhammad Abduhu Wa Rasulillah. Hukum fisika klasik adalah berasal dari kehendak/order/utusan hukum fisika kuantum. selama ini muncul berbagai hipotesa empiris para ilmuwan untuk menghubungkan kedua hukum ini. Seperti TOE, GUT, model standar, dll. Tetapi mereka semua gagal. Karena memang di alam ini dikehendaki keberadaan dua hukum bukan satu hukum. Hanya orang islam dengan kontemplasi/makrifatnya yang akan mampu menunjukkan hubungan kedua hukum itu. Muhammad Rasulullah adalah perwujudan pelaksanaan dari kehendak Allah. Illaah = kehendak.
    Berdasarkan uraian diatas maka yang hubungan antara kedua hukum itu adalah hubungan antara Zat dan bentuk.
    Berdasarkan riwayat bahwa nabi Musa pernah meminta pada Allah supaya ditunjukkan kebesaran-Nya. Tetapi beliau kemudian pingsan setelah Allah menurunkan petir kepada beliau. Dalam hal ini nabi Musa sebagai seorang nabi pastilah tidak meminta suatu permintaan yang sia-sia/tidak masuk akal. Oleh karena itu pastilah terdapat suatu hikmah bahwa Zat dapat didekati, sedekat-dekatnya sampai seolah-olah terlihat oleh insan yg plg dekat dengan-Nya, tapi nabi Musa tdk mampu menyetarainya. Hanya Rasulullah yg mampu melihat Allah sbg Zat bukan sbg Bentuk sebagaimana makhluk pilihan Allah yg lain. Makhluk pilihan Allah yg lain akan melihat-Nya sbg Wajah. Bentuk Rasulullah yg sbg zat dasar bagi makhluk2 Allah yg lain melingkupi Zat Allah. Karena Zat Allah adalah Kekuatan Satu2-Nya, maka bentuk Rasulullah sbg zat dasar bagi makhluk lain akan mampu melingkupi-Nya/melingkupi zat-Nya hanya dg cara menunduk. Karena bentuk Rasulullah sbg zat dasar makhluk lain menunduk, maka yg terlihat oleh indera bentuk Rasulullah sbg zat dasar makhluk lain (indera bentuk Rasulullah adalah eksistensi yg terkuat dr bentuk Rasulullah sbg zat dasar makhluk lain), yg terlihat adalah sifat yg terlemah dr Zat Allah yaitu kehendak-Nya. (Allah nyaris tidak berkehendak). Sementara sifat2 Allah yg dominan spt Keberadaan, Kebesaran/Ketakterbatasan, Kekuasaan dan Keabadian terhijabi oleh kehendak-Nya. Maka dari itu Rasulullah hampir identik dg kehendak Allah. Hukum fisik klasik adalah kehendak holistik dari hukum fisika kuantum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s