Dari Kolonialisme sampai Orientalisme

Kolonial, Imperial, dan Kapital

Istilah imperialisme pertama kali dipakai di Inggris, kira-kira pada 1880. Mula-mula, kata tersebut berarti usaha untuk mengikat-eratkan hubungan daerah-daerah jajahan (koloni) dengan negeri induk (Baca: Inggris). Menariknya, mengutip pandangan Sukarno dalam Indonesia Menggugat, imperialisme kemudian berkembang menjadi usaha memperluas Kerajaan Inggris dengan jalan menaklukkan atau merampas negeri bangsa lain[1]. Oleh sebab itu, Sartono Kartodirdjo memandang imperialisme sinonim dengan kolonialisme [2].

Di tanah jajahannya, segala upaya politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan dilancarkan untuk mereguk sebesar-besar keuntungan. Penjajah mula-mula mengkaji berbagai persoalan seputar negara “sasaran”. Kajian serupa dikenal dengan orientalisme. Setelah memahami bangunan sosio-kultural negara sasaran, mereka merebut tampuk kekuasaan dengan serangan dan ekspedisi militer. Selanjutnya, sumber daya alam dan manusia yang ada mereka sedot sampai ke tulang sumsum.

“Negeri jajahan,” ungkap Schrieke, “tak lebih dari gabus tempat mengapungnya penjajah agar tetap hidup dan tidak tenggelam.” Sementara semua itu berlangsung, penjajah melakukan penetrasi kultural melalui pendidikan, bahasa, dan pandangan hidup. Semua ini, bertujuan agar bangsa terjajah dapat tuned dengan cara dan gaya hidup penjajah. Atau mungkin, seperti setan, penjajah tidak mau masuk “neraka” sendirian.

Kegiatan penjajahan sebetulnya tidak terlepas dari realitas sosial bangsa penjajah Eropa kala itu. Sejak abad ke-16, ketika gerakan Renaisans mulai unjuk gigi, tatanan sosial terjungkir balik. Dengan semangat kapitalisme, perdagangan dan industrialisasi yang semula berjalan lamban, meningkat secara mencengangkan. Benua Eropa seolah tidak lagi mampu menampung boom niaga dan perdagangan yang meledak-ledak tersebut. Sehingga, timbul nafsu dan ambisi untuk menjajah benua-benua lain, terutama Benua Timur dan Asia [3].

Fakta menunjukkan bahwa penjajahan tidak lepas dari usaha mencari keuntungan (baca: kapitalisme). Penjajahan berganti-ganti warna serentak dengan mimikri dalam tubuh kapitalisme. Sejarah memperkenalkan kita pada beragam warna kolonialisme dan kapitalisme. Kolonialisme klasik tumbuh dalam sistem kapitalisme klasik, neo-kolonialisme tumbuh dalam sistem neo-kapitalisme, globalisasi tumbuh dalam sistem kapitalisme belas kasih (campassionate capitalism) dan demikian seterusnya. Singkatnya, kolonialisme adalah instrumen politik bagi negara-negara yang mempunyai “kapitalisme yang kelewat matang,” kata Sukarno.

Contohnya, perpindahan sistem kolonial dari VOC ke Cultuurstelsel dan Politik Etis. Pada awal abad XX “ikatan” antara Nederland dan Hindia Belanda (Indonesia) semakin erat. Peralatan modern semakin mendekatkan jarak kedua negeri ini. Persyaratan kerja di Nederland pun semakin membaik dan gaji semakin tinggi. Demikian juga di Hindia Belanda. Kondisi-kondisi baru ini memaksa penjajah untuk juga menyiapkan kaum terpelajar Pribumi memasuki “zaman baru”. Uh, uh, uh, “zaman baru”. Kalau tidak, sehebat-hebatnya mesin baru yang didatangkan, tiada akan berguna kalau Pribumi tak dapat menggunakannya.

Oleh sebab itu, garis politik baru dicoba-terapkan oleh penjajah pada Pribumi. Garis politik ini disebut dengan ethische politiek yang berarti politik etis [4]. Garis politik ini banyak dipengaruhi oleh ide van Deventer melalui tulisannya yang berjudul Een Eereschuld yang artinya hutang budi.

Dalam rangka secara halus memperbesar keuntungan, ide-ide van Deventer itu kemudian dilaksanakan. Maka, irigasi perkebunan tebu pun diperluas supaya dapat lebih produktif. Demikian pula pendidikan dan pelatihan digalakkan bagi para pegawai pribumi yang diperlukan tenaganya di pabrik, sentra dagang, dan cabang perusahaan yang membengkak jumlahnya. Tenaga kerja yang murahan hanya dibutuhkan di luar Jawa¾sebagai daerah yang segera dimodernisasi.

Politik etis yang dimulai dengan penuh semangat itu, pada paro kedua dasawarsa kedua mulai kabur dan ditanggalkan. Perkembangan politik sejak Kebangunan Nasional dan pecahnya Perang Dunia I menimbulkan situasi politik yang melemahkan tujuan seperti termaktub dalam politik etis [5].

Nyatanya, perkembangan material dan spiritual penduduk tidak pernah tampak. Keadaan sosial juga tidak banyak mengalami perubahan. Kemiskinan, buta huruf dan kurangnya kesehatan masih nyata dalam kehidupan rakyat pada umumnya. Walhasil, menyitir Stokvis, “Etika melulu didengungkan. Tapi, penjajah takut akan konsekuensi ekonomisnya[6]”. Sekadar contoh, berikut ini akan saya uraikan pengaruh kultural dari Politik Etis yang diterapkan penjajah saat itu.

Pendidikan gaya Barat yang gencar dilakukan pada era politik etis, menirukan Takashi Shiraishi, bertolak-punggung dengan pendidikan gaya tradisional[7]. Pendidikan gaya Barat tidak hanya sekuler, tapi juga menyatu dengan tatanan kolonial yang berciri pembedaan rasial dan linguistik, serta pemusatan kekuasan. Dalam pendidikan gaya Barat, semakin tinggi sekolah seseorang semakin dekat ia dengan pusat (kekuasaan) dunia kolonial. Dengan demikian, kesempatan untuk mendapat pekerjaan yang “pantas” semakin terbuka. Di sisi lain, makin terisap dia ke dalam dunia Belanda, makin “modern” dan makin “maju” dia dari cara hidup yang dijalani generasi pendahulunya. Sebaliknya, pendidikan tradisional pada dasarnya bersifat religius-etis.

Dalam buku Imagined Communities, Benedict Anderson menyebutkan bahwa dalam proses metamorfosis ini ada dua unsur yang fundamental. Pertama, pendidikan Barat menyediakan kunci bagi mobilitas sosial dalam sistem “rasialis” yang diciptakan dan dipertahankan oleh penjajah. Dengan demikian, bumiputra (kata lain dari pribumi) tetaplah bumiputra, betapapun tinggi pendidikannya. Tidak peduli Jawa, Sunda, Minangkabau, atau apa pun, semuanya tetap bumiputra. Kategori rasial-etnis bumiputra yang hanya bermakna dalam konteks dominasi kolonial, menjadi dasar solidaritas mereka yang mengenyam pendidikan gaya Barat ini. Tentunya, antara identitas pelajar yang terdidik ala Barat dan identitas bumiputra yang tidak dapat sepenuhnya menjadi Barat selalu terjadi benturan. Benturan yang menimbulkan krisis identitas yang hebat.

Kedua, pengalaman yang mereka peroleh dalam sekolah dan setelah lulus, jelas berbeda dengan generasi orang tua mereka. Ironisnya, pendidikan sekolah dan status sosial sebagai kelas menengah kota (yang menerima gaji), justru menjadi dasar solidaritas generasi ini. Mereka menyebut diri dengan istilah kaum muda, yang lebih modern dan maju ketimbang orang tua mereka dan orang-orang yang tidak berpendidikan gaya Barat.

Di antara kaum muda sendiri, mereka yang masuk sekolah dasar dan menengah Belanda lebih maju dari mereka yang mengikuti sekolah bumiputra. Kuncinya tak lain daripada kemampuan berbahasa Belanda dan akses mereka pada dunia Belanda. Ini karena Belanda telah menjadi contoh ideal tentang kemajuan dan kemodernan. Dengan demikian, bahasa Belanda merupakan kunci untuk membuka dunia dan zaman modern.

Pokoknya, kaum muda adalah mereka yang suka menyisipi kata-kata Belanda dalam bahasa daerah, mengenakan pakaian dan sepatu ala Belanda, mengunjungi restoran dan meminum lemonade, menonton film, menikmati musik (selain gamelan) secara rutin dan seterusnya. Pokoknya, mereka melakukan “hal-hal” seperti yang dilakukan orang-orang Belanda.[8]

Orientalisme

Langkah kolonialisme pada galibnya didahului oleh interpolasi dan ekstrapolasi budaya lokal. Teknisnya, kegiatan serupa disebut dengan orientalisme. Mendengar kata orientalisme, pikiran kita mungkin langsung ingat pada kisah “penyusupan” Snouck Hurgronje untuk membekuk Aceh. Walaupun orientalisme sebetulnya tidak hanya itu. Orientalisme, lebih jauh, adalah segenap tindakan mempelajari sasaran penjajahan untuk merancang strategi serangan yang paling tepat. Aksi-aksi serupa itu telah berlangsung pada kurun waktu yang amat panjang. Contoh soal paling klasik ialah mitos Baron Sakender.

Begini ceritanya. Bersamaan dengan tibanya orang Belanda di Indonesia, kerajaan Mataram sedang kukuh-kukuhnya berdiri. Legitimasinya didapat dari apa yang disebut para pujangga dengan mitos Senopati. Seperti diceritakan dalam Babad Tanah Jawi, pendiri Mataram dianugerahi “kekuasaan keramat” di Gondang Lipura. Kepadanya, diwangsitkan bahwa dia akan menjadi pendiri suatu kerajaan yang gilang-gemilang.

Sementara itu, kedatangan Belanda dapat mengancam stabilitas politik pada lingkungan setempat. Lebih buruk lagi, realitas “kekuatan baru Belanda” dapat mengikis legitimasi kekuasaan Mataram. Dalam rangka itulah, mitos Baron Sakender (BS) dinarasikan. Serat BS dapatlah dipandang sebagai alat untuk mendefinisikan kembali dunia simbolik seputar kekuasaan Mataram. Dunia simbolik baru itu ialah bergabungnya Belanda sebagai realitas “kekuasaan alternatif”.

Konon, setelah turun dari tahtanya di Spanyol, BS pergi merantau ke tanah asing dengan Sembrani (kuda bersayap) dan burung Garuda. Sampailah akhirnya ia di pulau Jawa. Dengan Sembraninya, BS terbang melayang-layang di atas daerah kekuasaan Mataram di Jawa. Syahdan, dia jatuh terhuyung. Konon, karena Raja Mataram lebih kuat dan lebih sakti.

Yang menarik, sebagaimana diutarakan Sartono Kartodirdjo, mitos ini dapat digunakan untuk mengesahkan kehadiran penguasa asing di kerajaan-kerajaan Jawa. Lewat mitos ini, ditawarkan suatu situasi di mana nilai dan orang asing bisa diadaptasi oleh mental warga Jawa. Dengan mitos BS, keguncangan dan ketidakstabilan yang non-produktif bisa diatasi dan seluruh dunia simbolis-mistis-magis pulih kembali. Prinsip harmoni ditegakkan melalui “koeksistensi damai” antara orang Jawa dan Belanda.[9]

Penetrasi kultural adalah strategi penjajahan yang paling mustajab, karena ia langsung menukik ke alam pikiran manusia dan meredesainnya. Banyak contoh kasus kolonialisme kultural yang merambah alam pikiran kita sampai ke dalam-dalamnya. Di zaman sekarang, dengan kemajuan teknologi informasi, media massa adalah senjata ampuh untuk melakukan penetrasi di bidang ini.


[1] Sukarno, Indonesia Menggugat, Inti Idayu Press, 1983, hal. 19.

[2] Sartono Kartodirdjo, ‘Kolonialisme dan Nasionalisme di Indonesia Abad ix’, dalam Lembaran Sejarah No. 1, UGM, Yogyakarta, Desember 1967, hal. 5.

[3] Sukarno, Mencapai Indonesia Merdeka, Tjita Agung, tanpa tahun, hal. 10. Dikutip ulang dari karya Cahyo Budi Utomo, Dinamika Pergerakan Kebangsaan Indonesia: Dari Kebangkitan hingga Kemerdekaan, IKIP Semarang Press, 1995, hal 3.

[4] Slamet Mulyono, Nasionalisme Sebagai Modal Perjuangan Bangsa Indonesia I. Balai Pustaka, 1968, hal. 99.

[5] Lebih lanjut lihat, M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, Gadjah Mada University Press, 1991. Khususnya bab ke-3.

[6] Poesponegoro, Marwati Djoened, dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia, Balai Pustaka, 1984, hal. 77.

[7] Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, Pustaka Utama Grafiti, 1997, hal. 39.

[8] Lebih lanjut, rujuk, Ben Anderson, Imagined Communities, Verso London, 1983. Disadur-ulang dari Takashi, op cit, hal 39-40.

[9] Sartono Kartodirdjo, Respons-respons pada Penjajahan Belanda di Jawa: Mitos dan Kenyataan. Prisma edisi 11, LP3ES, 1984. Untuk lebih jauh, lihat The Baron Sakender Story: Mythical Aspects of Javanese Historiography. Makalah disampaikan pada the Dutch-Indonesian Historians Conference, Ujungpandang, Juni 1978.

4 thoughts on “Dari Kolonialisme sampai Orientalisme

  1. Adi says:

    Ass.wr.wb Ustadz, bagaimana metoda kolonialisme kultural bisa meredesain kesadaran dan pikiran masyarakat yang dijajah? Atau kalau ada rekomendasi referensinya.

    Terima kasih

    (saya pernah ikut beberapa kajian di Bandung sekitar tahun 1990-an yang salah satu pembicaranya Sayyid Musa al-Kazhim)

  2. musakazhim says:

    Untuk semua, minta maaf sebesar2nya. Saya belum bisa membuat tulisan utuh tentang kolonialisme, dampak2nya, dan relevansinya dengan apa yang terjadi di Indonesia. Mungkin lain waktu saya mau buat yang komprehensif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s