Hasan Nashrullah

SUATU HARI, dua tahun lalu, di salah satu bagian kota Beirut, seorang laki-laki bercambang lebat, bersurban dan berjubah, duduk di hadapan sekelompok orang yang dengan antusias mengikuti audiensi dengannya. Banyak hal yang diungkap oleh laki-laki berpakaian ulama itu. Hingga ia mendapatkan informasi bahwa ada salah seorang pelajar Indonesia yang hadir dalam pertemuan audiensi tersebut. Sayid Hasan Nashrullah, ulama bersurban dan berjubah itu, segera menunjukkan perhatian khususnya. Ia segera saja mendekati pelajar muda ini dan memeluknya. Setelah tersadar dari euforianya, pelajar muda itupun segera meminta pesan-pesan khusus kepada Nashrullah. Berikut ini adalah beberapa pokok pikiran Nashrullah yang sempat tercatat oleh pelajar tersebut.

“Islam masuk ke Indonesia dengan damai,” ungkap Nashrullah. “Dan ini merupakan fakta empiris bahwa Islam bukanlah “agama pedang”. Islam merupakan agama damai (salam) yang senantiasa mengilhami hati-hati yang lembut. Apa yang dikatakan sebagian orang tentang gerakan perlawanan adalah keliru besar. Perlawanan terhadap segala bentuk penindasan, penganiayaan dan penjajahan bukanlah manifestasi keputusasaan, suka kekacauan, dan budaya kekerasan. Sebaliknya, kalau Anda melihat pemuda-pemuda yang berjuang di medan perlawanan, maka Anda akan terheran-heran oleh kelembutan, kasih sayang, cinta, ketulusan dan kemauan mereka untuk berkorban demi sesama manusia. Anda akan melihat perwujudan nilai-nilai kemanusiaan dan kemerdekaan dalam bentuknya yang paling tinggi. Semua ini tentu tidak mungkin dilakukan oleh hati manusia yang keras dan membatu,” tandas Nashrullah.

Lebih lanjut, Nashrullah meminta agar umat Islam di Indonesia bisa bersatu memerangi ekstremisme dan fanatisme yang berbusanakan agama, terutama yang berasal dari kelompok Muslim yang mengkafirkan Muslim lain. “Apabila pola pengkafiran ini menyebar dalam masyarakat Muslim,” tegas Nashrullah, “maka semua orang akan merugi.” Prioritas utama pelajar Islam ialah mencegah bergesernya keteguhan dalam beragama yang sakral menjadi fanatisme buta yang menjijikkan. “Merebaknya fanatisme semacam ini dalam suatu masyarakat justru akan membunuh ruh Islam itu sendiri, bahkan tidak akan ada nilai moral yang bisa tumbuh dalam masyarakat yang fanatik dan ekstrem.”

Sungguh berbeda dengan citra sementara orang—yang sengaja ditiup-tiupkan sebagian kelompok yang tak menyukainya—pemimpin Hizbullah ini adalah seorang tokoh muda yang lemah-lembut. Bukan hanya itu, jauh dari kesan ekstremitas, fanatisme, kekerasan, apalagi terorisme, pesan-pesannya dipenuhi dengan harapan akan kedamaian di muka bumi. Kedamaian, bukan hanya untuk umat Islam, apalagi kelompoknya, melainkan untuk semua manusia yang mendiami planet ini.

Kesalahpahaman ini—lepas dari makar musuh-musuhnya itu—antara lain disebabkan karena kemunculan Hizbullah di pentas perlawanan terhadap pendudukan Israel tidak banyak terekam oleh sorotan media massa. Sampai detik ini, banyak pengamat yang masih berpijak pada dokumen-dokumen meragukan ketimbang fakta dan data yang diakui. Apalagi, bisa dipastikan bahwa pendirian Hizbullah oleh sekelompok orang di Jabal Amil ini tidak dimulai dengan deklarasi gegap gempita. Menurut salah satu sumber otentik, sejak awal pendiriannya, Hizbullah memang sangat menjaga kerahasiaan, lantaran Lebanon adalah sarang agen intelijen dunia. Husein Fadhlallah, salah satu pemikir yang mewarnai garis perjuangan gerakan ini, pernah mengungkapkan bahwa di Haret Huraik, kawasan pusat perkantoran Hizbullah di al-Dhahia al-Janubiyyah (pinggiran selatan Beirut), “lebih banyak agen CIA dan Mossad yang hilir mudik ketimbang warga Lebanon sendiri.”

Memang, Hizbullah adalah sebuah gerakan perlawanan yang beroperasi di episentrum tarik-menarik politik kawasan Timur Tengah (Timteng) dan Barat. Inilah pusat perdagangan, perbankan, wisata, dan hiburan para raja dan milyuner Timteng. Di sini ada lebih dari seribu aliran agama yang diakui oleh pemerintah, yang masing-masingnya membangun kanal dengan dunia luar. Singkat kata, Lebanon adalah ajang beragam kepentingan, perebutan pengaruh dan sekaligus sumber daya manusia Timteng.

Pluralitas aliran keagamaan dan tendensi politik warga Lebanon menjadikannya tempat yang ideal bagi berjamurnya industri penerbitan dan media massa. Beirut sudah sejak lama menjadi oase bagi intelektual Arab yang kritis, oposisi rezim tangan besi Timteng dan pusat semburan budaya Arab. Sebagian besar orang Arab menonton televisi yang dipancarkan dari Lebanon, sebagian besar lain membaca buku atau koran yang diterbitkan di Beirut.

Tak pelak, letak geografis Lebanon di ujung timur Lautan Mediterania dan ujung barat Asia membuatnya berada di persimpangan dua arus besar: Islam dan Barat. Posisi geografis itulah yang jelas-jelas menjadikan Lebanon bukan tempat yang nyaman untuk memulai sebuah perlawanan terhadap hegemoni AS dan perpanjangan tangannya, Israel.

Tapi, siapa nyana, di sinilah Hizbullah tumbuh besar. Di sini ia membangun jejaring perlawanannya terhadap AS dan rezim zionis Israel yang selama puluhan tahun mengangkangi semua wilayah Arab. Di negeri Cedar inilah Hizbullah membangun sayap militer yang handal, mengendalikan opini Dunia Arab dan Islam sekaligus memainkan peran king maker dalam konstelasi politik Lebanon.

Tahun 2000 merupakan turning-point bagi peran Hizbullah. Pada tahun ini, Hizbullah mendulang kemenangan pertamanya atas militer Israel yang telah lama mempertahankan gelar legendaris sebagai ‘tentara yang tak terkalahkan’ di mata semua penduduk Arab. Saat begitu banyak pengamat yang meragukan klaim itu, media massa di bawah Hizbullah terus getol memproduksi serentetan tayangan audio-visual untuk membuktikan klaimnya. Dalam salah satu tayangan tampak bagaimana puluhan tentara Israel melarikan diri dari pos-pos mereka di Lebanon Selatan akibat gempuran para pejuang Perlawanan. Di situ terlihat oleh mata para penduduk Arab bahwa pasukan Israel terpaksa mundur, bukan mundur secara suka rela seperti yang dinyatakan oleh Ehud Barak.

Kesadaran baru muncul di kalangan masyarakat Timteng seiring dengan melambungnya kebanggaan dan harga diri mereka. “Hizbullah berhasil mematahkan mitos ‘tentara yang tak terkalahkan’. Kini dalih para pemimpin Arab yang menginginkan kompromi karena kita, bangsa Arab, lemah dan tak mampu merebut kembali tanah kita telah gugur dengan sendirinya,” kata Hasan Nashrullah di depan ribuan pendukungnya di Bent Jubail saat merayakan kemenangan besar ini. Lalu dia menambahkan, “Israel lebih rapuh daripada sarang laba-laba.”

Hizbullah tak menyia-nyiakan momentum besar ini. Secara rutin, Biro Media Massa Hizbullah mempublikasikan platform politik dan garis perjuangannya. Masyarakat Arab semakin haus dengan pernyataan atau pidato pemimpin Hizbullah, Sayid Hasan Nashrullah. Konferensi pers dan pidato Nashrullah yang sangat fasih berbicara dalam terminologi populer dan akademis terus dipancarkan ke seluruh Dunia Arab. Lewat panggung itulah, Nashrullah melakukan pendidikan dan pencerahan politik.

Pada Juli 2006 Hizbullah kembali terlibat adu otot dengan pasukan Israel. Perang 34 hari yang disebut-sebut oleh banyak pengamat militer sebagai “uji ketahanan fisik dan mental” ini akhirnya dimenangkan oleh Hizbullah. Inilah tahun pencapaian tertinggi Hizbullah yang berhasil menahan serangan udara terbesar sepanjang sejarah bercokolnya Israel di Palestina. Rincian peristiwa yang terjadi pun perlahan-lahan menjadi legenda.

Lagi-lagi, Hizbullah muncul dalam persepsi Arab sebagai pemenang mutlak. Hampir setiap hari, media massa Arab memperkuat “persepsi” kemenangan ini dengan serangkaian paparan fakta, data, analisis dan diskusi opini para pengamat. Tiga koran besar Israel, Haaretz, Maariv dan Yediot Ahronot, menjadi acuan utama Hizbullah untuk menunjukkan pengakuan-pengakuan kekalahan strategis dan taktis tentara Israel dalam operasi militernya di Lebanon Selatan.

Nama Hasan Nashrullah mulai berkibar sebagai pemimpin Arab sui generis, bahkan menjelma menjadi satu-satunya otoritas yang diakui oleh semua kalangan. Nashrullah memanfaatkan popularitas dan kredibilitasnya untuk menggelindingkan agenda besar Perlawanan terhadap AS dan Israel. Seluruh lapisan masyarakat Arab yang sudah sejak lama tertimpa mentalitas “bangsa kalah” ini mendadak mendapat suntikan darah segar.

Beberapa pokok pikiran Nashrullah yang selalu dia tegaskan ialah pentingnya semangat perlawanan. Baginya, persis seperti yang pernah disampaikannya kepada mahasiswa Indonesia yang mengunjunginya dua tahun lalu itu, perlawanan tidaklah sama dengan terorisme atau pemujaan kekerasan. Perlawanan terhadap penjajahan dan pendudukan asing harus berpijak pada nilai-nilai moral agama dan nilai-nilai kecintaan pada tanah air yang suci. Perlawanan tidak bisa dilakukan dengan menghalalkan segala cara, termasuk dengan bom-bom bunuh diri yang tidak jelas motif dan sasarannya.

Pesan-pesan serupa terus didengungkannya hinggi kini, terutama karena relevansinya yang semakin besar dalam konteks politik Timteng saat ini. Dalam pidato Asyura 30 Januari 2007 lalu,[1] Nashrullah menyatakan, “Amerika Serikat dan Israel sebagai agresor terbesar abad ini tidak mampu lagi menetralisasi perlawanan umat Islam secara militer. Satu-satunya taktik mereka ialah adu domba sektarian. Secara sadar atau tidak, kelompok-kelompok tertentu dalam tubuh Islam menjalankan misi berbahaya ini di negeri-negeri Muslim.”

Nashrullah tidak hanya berwacana dalam soal ini. Dia membuktikannya dengan memberikan perintah tegas kepada seluruh simpatisan Hizbullah yang melakukan protes massal di jalanan sejak Desember 2006 lampau untuk tidak membalas semua bidikan para penembak jitu yang mencoba menciptakan chaos. Dalam seruan itu, Nashrullah menyatakan, “Kita tidak akan pernah mengarahkan senjata kepada sesama warga Lebanon. Senjata Pelawanan (Hizbullah) hanyalah untuk musuh-musuh Lebanon.” Kemudian, saat salah seorang pendukungnya, Ahmad Mahmud, tewas tertembak peluru dari atas gedung di wilayah Judaydah yang berpenduduk mayoritas Sunni, Nashrullah menegaskan, “Sekiranya seribu Ahmad Mahmud terbunuh, kami tidak akan membalas dan terjerumus dalam perang saudara.”

Hal yang sama beliau katakan 25 Januari 2007 lalu saat beberapa mahasiswa pendukung Oposisi Nasional Lebanon tertembak oleh gerombolan massa pendukung Pemerintah Fuad Siniora di pelataran Univeritas Al-Arabiyah. Gerombolan massa yang diduga kuat berasal dari milisi pendukung Kelompok 14 Februari pimpinan Sa’ad Hariri, Walid Jumblatt dan Samir Geagea ini jelas tidak bisa menandingi kekuatan militer Hizbullah. Tapi, demi mencegah potensi konflik internal, Nashrullah menyerukan semua kekuatan di bawah Hizbullah untuk dengan segala cara meredam situasi.

Alhasil, kemunculan tokoh semacam Nashrullah tak syak lagi merupakan pukulan besar bagi dominasi AS dan Israel di Timteng. Dalam pidatonya di hadapan Kongres beberapa waktu lalu, George W. Bush secara tegas menyebut Hizbullah sebagai ancaman strategis bagi kepentingan AS di kawasan Timteng. Sehubungan dengan tuduhan Bush bahwa gerakan ini dapat meledakkan potensi konflik sektarian Sunni-Syi’i di kawasan ini, Nashrullah langsung menanggapinya. Pada 30 Januari silam, di depan ribuan pendukungnnya, Nashrullah menyatakan:

“Mengapa di setiap negara yang mempunyai gerakan perlawanan, yakni di Lebanon, Palestina dan Irak, selalu kalian prediksikan munculnya konflik internal. Di Lebanon, negeri yang memang ada pengikut Ahlusunah dan Syiah, kalian menyatakan tentang potensi konflik sektarian antara Sunni dan Syi’i. Demikian pula di Irak. Tapi di Palestina yang tidak ada Sunni dan Syi’i, kalian memprediksikan konflik antar-faksi dan partai. Kami tahu bahwa satu-satunya senjata yang saat ini kalian miliki untuk menghadapi kami ialah dengan menghembuskan konflik internal. Inilah satu-satunya taktik kalian, karena kalian memang sudah tidak punya apa-apa lagi… Saya katakan bahwa di Lebanon tidak akan pernah ada konflik absurd semacam itu, karena gerakan Perlawanan akan menjaga bangsa ini terjerumus ke dalamnya. Tantangan terbesar semua gerakan perlawanan saat ini ialah menghindarkan diri dari konflik internal, baik konflik sektarian maupun konflik faksional.”

Tidak berlebihan jika kita katakan bahwa “bahaya Nashrullahisme” untuk AS dan Israel di Timteng lebih daripada “bahaya Khomeinisme”. Karena, Nashrullah dan pandangan-pandangan revolusionernya kini telah muncul sebagai alternatif genuine dari Pan-Arabisme ala Gamal Abdul Nasser. Nashrullah tidak mempunyai stigma Persia yang secara instingtif dibenci oleh Arab. Tampaknya, dia bakal menjadi pemimpin yang bisa mengubah peta Timteng secara lebih efektif ketimbang Khomeini yang terlalu “asing” buat bangsa Arab. Inilah, agaknya, pemimpin “asli” Arab yang masih akan merepotkan AS dan Israel untuk waktu yang lama.


[1]Lihat, http://www.manartv.com.lb/ atau http://www.wa3ad.org.

3 thoughts on “Hasan Nashrullah

  1. Pingback: Car Dealer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s