Rindu Ali bin Abi Thalib

Imam Ja‘far bin Muhammad ash-Shadiq berkata: “Demi Allah, Ali ibn Abi Thalib as tidak pernah makan apa pun yang haram selama hidupnya. Bila ada dua pilihan yang sama-sama diridhai oleh Allah terpampang di hadapannya, maka dia akan memilih yang paling memberatkan tubuhnya (dan yang paling baik buat agamanya). Tidak pernah Rasulullah saw menghadapi kesulitan tanpa memanggil Ali as, karena tingkat kepercayaan beliau kepadanya. Tidak seorangpun dari umat ini yang lebih mampu mengikuti perilaku Rasulullah daripada Ali as. Meskipun demikian, dia beramal dengan perasaan malu (kepada Allah), sehingga wajahnya berada di antara surga dan neraka; senantiasa mengharapkan pahala dari yang satu dan takut pada siksa yang lain.

Sesungguhnya beliau telah membebaskan seribu budak dengan uang yang didapatnya dengan kerja keras tangannya dan keringat dahinya di jalan Allah demi terbebas dari siksa neraka. Makanan rumah tangganya berupa minyak, cuka dan kurma, serta pakaiannya terbuat dari katun kasar. Jika lengan bajunya yang diberkati terlalu panjang, beliau akan meminta untuk digunting dan dipendekkan.

Di antara keturunan dan keluarganya tidak ada yang lebih menyerupainya dalam ilmu dan pakaian seperti Ali bin Husain Zainal Abidin. Suatu kali Abu Ja‘far (Imam Muhammad Al-Baqir) as mendapati Ali bin Husain telah mencapai keadaan ibadah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Wajahnya memucat pasi karena tidak tidur bermalam-malam, matanya memerah karena terlalu banyak menangis, dahi dan hidungnya menghitam karena sujud yang berkepanjangan, dan kakinya serta pergelangan kakinya membengkak karena terlalu lama berdiri dalam shalat.

Abu Ja‘far as berkata: ‘Ketika aku melihatnya dalam keadaan seperti itu, aku pun serta-merta menangis. Akhirnya aku menangis sebagai ungkapan kasih sayangku padanya, sementara dia terus tenggelam dalam perenungan dan ibadah. Setelah beberapa waktu berlalu, beliau berkata padaku: ‘Putraku, berikan padaku salah satu kitab yang melukiskan ibadah Ali ibn Abi Thalib as itu.’ Lalu aku berikan sebuah kitab padanya. Beliau membacanya sebentar lalu melepaskannya dari tangan dalam keadaan lesu sambil berkata: ‘Siapa yang memiliki kekuatan untuk beribadah seperti Ali ibn Abi Thalib as!’”[1]

Padahal, semua ahli atau pengamat sejarah Islam tahu betul kedudukan dan kegigihan Ali bin Husain Zainul ‘Âbidîn (Hiasan Orang-orang Ahli Ibadah) dalam beribadah kepada Allah. Putranya, Muhammad al-Baqir, pernah menuturkan: “Ali bin Husein as biasa menunaikan seribu rakaat shalat dalam sehari semalam. Angin biasa menggoyang-goyangkannya seperti tanaman jagung.” Sekalipun begitu, Zainul ‘Âbidîn mengaku tidak sanggup mencapai tingkat ibadah dan penghambaan Imam Amirul Mukminin Ali ibn Abi Thalib as.

Menguraikan keagungan tingkat rohaniah Imam Ali as, Ayatullah Ruhullah al-Khomeini ra menuliskan: “Imam Ali as, Maulâ Al-Auliyâ` (Penghulu para Wali) pernah berkata, ‘Demi Allah, putra Abu Thalib ini lebih akrab dengan kematian daripada seorang bayi dengan susu ibunya.’6 Manusia agung ini telah memandang realitas dunia dari sudut pandang wilâyah dan telah memilih kedekatan mulia dengan Yang Mahatinggi. Dan, jika bukan demi tujuan-tujuan yang lebih tinggi, jiwa yang murni dan suci itu tidak akan tinggal lama di dalam majelis yang suram dan kelam ini, sekalipun hanya sejenak. Mendiami dunia keberagaman wujud dan merenungi urusan-urusan duniawi, walaupun dengan keuntungan-keuntungan rohaniah, merupakan siksaan dan penderitaan besar bagi mereka yang tenggelam dalam kecintaan kepada Allah, penderitaan yang bahkan tidak dapat kita bayangkan. Keluhan mereka, seperti tecermin dalam doa dan rintihan mereka, adalah karena sedihnya berpisah dengan Yang Tercinta dan kedekatannya dengan Yang Maha Agung.’”[2]

Dalam salah satu doanya, Imam Ali bin Abi Thalib merintih sebagai berikut:

Ilahi, Tuhanku, Jungjunganku, dan Pelindungku!

untuk urusan apa kiranya aku mengadu pada-Mu

mengapa pula aku mesti merintih dan menangis

apakah karena pedih dan dahsyatnya siksaan-Mu

atau karena lama dan langgengnya penderitaan (terpisah dari-Mu)

apatah Kau hendak menyiksaku beserta para musuh-Mu

lalu Kau himpunkan aku bersama para penerima petaka-Mu

dan Engkau ceraikan aku dari para kekasih dan wali-Mu

Oh…Ilahku, Jungjunganku, Pelindungku, Tuhanku!

sekiranya aku sanggup bersabar menanggung siksa-Mu

mana sanggup aku bersabar menanggung perpisahan dengan-Mu

sekiranya aku dapat bersabar menahan panasnya api-Mu

mana sanggup aku bersabar tidak melihat kemuliaan-Mu

dan mana sanggup aku tinggal di neraka padahal harapanku hanya pengampunan-Mu

Demi kemuliaan-Mu, hai Jungjungan dan Pelindungku!

aku bersumpah setulus-tulusnya

sekiranya Kau bolehkan lidahku berkata-kata

di tengah-tengah para penghuni neraka aku akan menangis dengan tangisan orang yang berpengharapan

aku akan menjerit dengan jeritan mereka yang memohon pertolongan

dan aku akan merintih dengan rintihan orang yang pupus harapan

Ketinggian tingkat rohaniah dan keterikatan penuh dengan Allah inilah yang membuat beliau memiliki daya tarik luar biasa bagi para kekasih Allah dan daya tolak besar terhadap para penyembah dunia dan budak setan. Rasulullah saw bersabda: “Wahai Ali, tidak mencintaimu kecuali orang mukmin, dan tidak membencimu kecuali orang munafik.”[3] Saat beberapa orang berkomplot untuk merebut hak kekhalifahan Imam Ali bin Abi Thalib, Sayidah Fathimah bertutur: “Cacat apa kira-kira yang mereka lihat pada Abul Hasan (panggilan akrab Imam Ali)? Demi Allah, “cacatnya” karena kedahsyatan pukulannya, kejituan tebasannya, kelihaian permainan pedangnya, ketidakpeduliannya pada kematian, kedalamannya dalam mengenal Kitab Allah dan pengorbanan-dirinya yang sangat tinggi di jalan Allah.”[4]

Ketekunan dan kekaraman Ali ibn Abi Thalib as dalam ibadah yang sedemikian luar biasa itu sesungguhnya juga tercermin secara nyata dan cemerlang dalam sisi-sisi kehidupan beliau yang lain. Oleh sebab itu, beliau tidak enggan terlibat dalam menyelesaikan beban-beban dan senantiasa tahan menanggung gangguan-gangguan manusia. Siapa saja yang membaca sejarah Islam sadar bahwa kehadiran Amirul Mukminin Ali ibn Abi Thalib as di pentas perjuangan Islam telah berjalin-berkelindan dengan kelahiran Islam sejak semula. Dialah manusia pertama yang memeluk Islam, mengakui keimanan, membela perjuangan Rasulullah saw dengan jiwa dan raga, berkorban demi kepentingan orang banyak, dan tampil paling depan dalam semua medan pertempuran.

Sebagai misal, saat menjawab surat Muawiyah yang berisi tantangan perang kepada Imam Ali, beliau menuliskan: “Adakah Anda menyerukan perang denganku?! Kalau begitu, kesampingkan orang banyak dan keluarlah untuk berhadapan-muka denganku demi menyelamatkan kedua barisan dari pertempuran…Akulah Abul Hasan, penebas kepala kakekmu (Utbah bin Rabiah), pamanmu (Walid bin Utbah) dan saudaramu (Handzalah bin Abi Sufyan), dengan pedangku pada waktu perang Badar. Dan kini pedang itu masih ada padaku, dan dengan semangat hatiku yang dulu akan kujumpai lawanku saat ini. Aku tidak pernah berpindah sari suatu agama lama (paganisme jahiliyah) kepada agama baru (Islam). Tiada pernah aku menggantikan nabi (pemimpin) yang lama dengan Nabi yang baru.”[5]

Dalam suratnya yang lain kepada Muawiyah, Imam Ali menuliskan: “Di puncak peperangan dan di saat semua orang menjadi ketakutan, Rasulullah saw biasa memerintahkan karib kerabat beliau sendiri untuk maju ke depan. Dengan begitu, beliau telah menjaga sahabat-sahabat lain agar tidak langsung terkena panasnya tombak dan pedang… Maka gugurlah Ubaidah bin Harits (saudara sepupu Nabi dan Imam Ali) di perang Badar, Hamzah (paman Nabi dan Imam Ali) di perang Uhud dan Ja’far (sepupu Nabi dan kakak Imam Ali) di perang Mu’tah. Lalu terbersitlah dalam benak seseorang¾yang tak perlu kusebutkan namanya¾(yakni Imam Ali sendiri) seandainya dia juga bisa beroleh kehormatan mati syahid seperti mereka. Akan tetapi, ajal-ajal mereka telah disegerakan, dan kematian ‘orang’ itu terus tertunda.”[6]

Namun demikian, di sisi lain, beliau juga merupakan pemimpin Islam yang selalu mendapatkan gangguan dari masyarakat yang seharusnya menaatinya. Imam Ali bertutur: “…Maka bermakarlah bangsa kita (Arab) untuk membunuh Nabi yang berasal dari kalangan kami (Bani Hasyim), dan menghancurleburkan asal-usul kami. Mereka merencanakan untuk kami seburuk-buruk rencana dan memperlakukan kami dengan sejahat-jahat perlakuan; mencegah kami dari air tawar, meliputi kami dengan segala macam ketakutan; memaksa kami menyingkir ke gunung yang terjal dan menyalakan untuk kami api peperangan yang berkobar-kobar.”[7]

Memang, Imam Ali bin Abi Thalib as mempunyai kepribadian (dan kehidupan) yang menggabungkan sisi-sisi yang tampak berlawanan, seperti kezuhudan dan kedermawanan, kerendahan hati dan keberanian, ketekunan beribadah dan kegigihan menolong orang, ketegasan sikap dan kelemah-lebutan empati, tenggang rasa dan kesigapan bertempur, dan lain sebagainya. Sifat-sifat berlawanan itulah yang menjadikannya layak menggantikan Rasulullah saw sebagai pemimpin umat. Legitimasi kepemimpinannya datang dari ketinggian karakter, kehalusan sifat dan keluhuran budinya, bukan dari persetujuan dan konsensus masyarakat di sekitarnya.

Oleh karena itu, manakala hari-hari kerasulan hampir berakhir, atas perintah Allah, Nabi Muhammad saw mempertegas status Ali bin Abi Thalib sebagai penunjuk jalan kebenaran setelah beliau saw. Nabi adalah pemberi peringatan dan Ali bin Abi Thalib adalah penunjuk jalan ―seperti dalam firman Allah (QS. 13: 7)―Di setiap kaum selalu ada seorang penunjuk jalan. Lalu beliau bersabda: “Siapa yang bersaksi dan menjadikan aku sebagai wali dan tuannya, maka Ali niscaya juga adalah wali dan tuannya. Ya Allah lindungilah orang yang berlindung kepada Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya. Ya Allah, menangkan orang yang menolong Ali dan hinakanlah orang yang menghinakannya.”[8]

Lalu Rasulullah saw membekalinya dengan ilmu, dan bersabda: “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya.” Mempertegas masalah ini, Imam Ali berkata: ““Demi Allah, tidak turun satu pun ayat kecuali aku mengetahui kepada siapa ayat itu ditujukan dan di mana diturunkan, lantaran Allah mengaruniaiku hati yang cepat menangkap (qalban ‘aqûlan) dan lidah yang suka bertanya.”[9] Di tempat terpisah, Ali berkata“Bila aku bertanya kepada Rasulullah saw, beliau pasti menjawab. Dan bila aku diam tak berbicara, beliau akan memulai pembicaraan.”[10]

Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Wahai Ali, Aku dan kau serta kedua anakmu Hasan dan Husein dan sembilan orang dari keturunan Husein adalah tiang-tiang agama dan tonggak-tonggak Islam. Siapa saja yang mengikuti kita akan selamat, dan siapa saja yang berpaling dari kita akan terseret ke neraka.”[11] Sungguh, Ali bin Abi Thalib adalah saudara, penerus dan pemegang kepemimpinan moral, spiritual dan intelektual setelah Rasulullah saw. Dagingnya adalah daging Rasulullah saw, darahnya adalah darah beliau, orang yang berdamai dengannya berarti berdamai dengan beliau dan yang berperang dengannya berarti telah menyatakan perang atas Rasulullah saw. Keimanan telah bercampur dengan darah-daging Ali bin Abi Thalib as sebagaimana juga telah mencampuri darah-daging Rasulullah.

Semua itu karena dalam kenyataannya memang tiada orang sedekat Ali bin Abi Thalib dengan Rasulullah saw dalam hal kekerabatan maupun keutamaan. Buraidah al-Aslami bertutur: “Bila kami bepergian bersama Rasulullah saw, maka Ali akan menjadi pembawa perlengkapan Nabi yang tidak pernah bergeser dari sisi beliau. Bila kita menginap di suatu tempat, Ali akan setia menjaga perlengkapan Nabi. Sewaktu-waktu dia melihat ada yang perlu dirapikan, Ali akan segera melakukannya. Sekiranya sandal Nabi tampak kusut, Ali akan langsung membenahinya.”[12]

Imam Ali berkata: “Sungguh kalian telah mengetahui kedudukanku di sisi Rasulullah saw melalui kekerabatanku yang amat dekat dan kedudukanku yang amat istimewa. Beliau meletakkanku di pangkuannya manakala aku masih seorang bocah, mendekapkanku ke dadanya, memelukku di pembaringannya, menyentuhkanku ke tubuhnya dan menciumkanku pada aroma harum keringatnya. Adakalanya beliau mengunyah sesuatu untuk disuapkan ke mulutku. Tiada pernah beliau mendapatiku berdusta dalam suatu ucapan atau gegabah mengambil tindakan.”[13]

Uraian di atas mungkin terasa agak bertele-tele. Namun, apa daya, jiwa seindah Ali bin Abi Thalib as pasti membuat manusia yang adil dan jujur untuk selalu rindu berbicara mengenainya. Tiada fitrah yang tak haus mengenang kehidupan dan keutamaan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Kerinduan yang bercampur ketakjuban ini semakin menjadi-jadi saat kita menelusuri ketekunan ibadah, ketinggian rohani, kedalaman ilmu, ketegasan sikap dan keberanian tindakan beliau yang memancar dalam segenap sisi kehidupan beliau. Kepribadian yang sedemikian sophisticated ini sesungguhnya tiada lain memperlihatkan aktualitas kesempurnaan jiwa manusia yang tidak terbayangkan. Tak ayal lagi, membaca sejarah hidup manusia semacam ini niscaya bakal melapangkan dada dan mencerahkan pikiran kita dalam mengarungi setia fase kehidupan.

Buku di hadapan Anda ini, Sejarah Imam Ali bin Abi Thalib as, merupakan khazanah klasik yang ditulis oleh seorang ahli hadis dan sejarawan kondang bernama Muhammad bin Nu’man al-Mufid yang lebih dikenal dengan julukan Syaikh al-Mufid atau Tsiqat al-Islam (Otoritas Islam). Buku ini sebenarnya merupakan bagian dari Kitâb al-Irsyâd, yang hampir 50 persen isinya berkenaan dengan sejarah Imam Ali bin Abi Thalib as. Meskipun telah banyak buku yang menguraikan sejarah hidup Ali bin Abi Thalib as, namun buku di hadapan pembaca ini memiliki berbagai kelebihan yang tidak dimiliki oleh selainnya. Di antaranya, dalam buku ini kita akan menemukan banyak sekali hadis dan riwayat hagiografis (ihwal kewalian) dan soteriologis (ihwal perantaraan) menyangkut Ali bin Abi Thalib. Salah satunya adalah riwayat yang telah kita tampilkan pada paragaf awal buku ini.

Tentu saja, bagian-bagian lain buku sejarah karya Syaikh al-Mufid ini akan segera kami terbitkan. Harapan kami agar buku ini dan bagian-bagian lanjutannya ikut memberikan nafas segar dalam kehidupan pembaca khususnya dan masyarakat Muslim Indonesia pada umumnya. Demikianlah, kiranya semua kekurangan kita dapat Allah gantikan dengan kebaikan-kebaikan abadi.

 

 


[1] Al-Irsyâd, hal. 255-256.

[2] Imam Khomeini, 40 Hadis, Mizan (2004), hal. 140-141.

[3] Ibn Asakir Al-Damasyqi, Târîkh Damasyq, Dar Al-Ta’aruf, Beirut, 1395 H., jilid 2, berkenaan dengan “Biografi Imam Ali”.

[4] Al-Ihtijâj, juz 1, hal. 147.

[5] Mutiara Nahjul Balaghah, Mizan (1991), hal 75.

[6] Ibid.

[7] Ibid. Hal. 74.

[8] Muhammad bin Abdullah Al-Hakim Al-Naisaburi, Al-Mustadrak ‘ala Al-Shahîhayn, suntingan Musthafa Abdulqadir ‘Atha, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, Beirut, cetakan I, 1411 H., juz 3, hal. 118, hadis ke-4576, 4578, dan sebagainya.

[9] Ahmad bin Yahya bin Jabir al-Baladzri, Ansâb al-Asyrâf, Dar al-Ma’arif, Beirut, cetakan ketiga, juz 2, hal. 98, hadis ke-27.

[10] Abu Bakr Abdurrazzaq bin Hammam ash-Shan’ani, Al-Mushannif, Mansyurat al-Majlis, al-‘Ilmi, Beirut, juz 6, hal. 368, hadis ke-32061.

[11] Muhammad bin Ali ath-Thabari, Bisyarah al-Mushthafa, Najaf, cetakan kedua, 1383 H., hal. 49.

[12] Bihâr al-Anwâr, juz 37, hal. 303.

[13] Op.Cit., Nahj al-Balâghah, khotbah ke-192.

7 thoughts on “Rindu Ali bin Abi Thalib

  1. ryan says:

    kalo cinta kaga kenal mazhab….
    cinta mah cinta aja atuh…

    – pencinta Rasullah SAW ( keluarga, sahabat, keturunan, dan orang2 yg cinta ama Rasullah SAW )

  2. del hakim says:

    mazhabku adalah cinta rasulullah dan keluarganya, sekiranya bermazhab demikian menjadikanku sebagai orang-orang murtad dalam agama kalian, maka anggaplah aku seorang yang murtad, namun sekali-kali aku tidak ingin murtad dari agama Nabi Muhammad dan keluarganya yang ma’shum.

  3. Ahlul Bayt Nabi Saw. adalah penuntun jalan ruhaniku menuju Sang Khalik, apapun yg trjadi aQ tetap akan menjadi salahsatu Pencinta mereka..
    Yaa Muhammad..aQ rindu padamu, aQ rindu Ahlul Baytmu, masukkanlah aQ kedalam golongan orang2 yg senantiasa mencintai kalian, aQ saaangaaattt merindukan kalian, Wahai Maula, Wahai junjunganku…
    “Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ali muhammad”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s