Cermin

//upload.wikimedia.org/wikipedia/en/6/6a/Mirror.jpeg” cannot be displayed, because it contains errors.

Begitu kontrak sewa rumah itu kuteken, aku langsung mencatat sejumlah perabot yang kuanggap perlu untuk mengisi rumah. Menjelang awal bulan Maret, kuperiksai senarai catatan yang kubuat sepanjang bulan Februari. Terkejut aku bukan main saat melihat bahwa dalam daftar perabot yang mesti kubeli sebagai pengisi rumah, cermin berada di urutan pertama. Kok cermin? Apa-apaan ini? Ada yang tidak beres ini.

Aku tanyai Alfian, “Ini tulisan ente, bukan?”

“Bukan! Tulisan ana ga sejelek cakar ayam itu?!”

Uh, menghina lagi? Belum tahu dia. Oke, berarti cakar ayam ini memang punyaku, tulisanku sendiri. Lalu, mengapa cermin jadi di urutan pertama? Apa memang begitu dekat aku dengan cermin ini? Kalau iya, sejak kapan pula kedekatan itu terjalin?

Kepalaku mulai berbalik ke belakang, ke 15 Februari 1999tanggal dan tahun yang tertera di kanan bawah daftar catatan itu. Artinya, kedekatan telah terjalin sebelum itu. Setelah agak lama kubaca, kulirip, Agustus 1998-lah saat pertama kali aku mulai menjalin hubungan erat dengan cermin. Sebabnya pun aku sudah ingat: kerontokan rambut! Ya, benar, itu memang sebab utama aku jadi suka lama kalau ber-cermin. Aku teringat kembali ketika segepok rambut terserak di atas bantal. Pagi itu, aku langsung ber-cermin. Lama sekali. Kaget campur gelisah aku ketika melihat jidat makin melebar, tak berambut. Tak sehelai rambut pun tersisa di zona jidat. Pagi itu juga aku berangkat ke apotik, membeli sampo pencegah rontok.

“Pak, ada sampo perawatan untuk mencegah rontok?”

“Banyak, Dik!” Yang ini 9000, itu 12.250, di atas itu 15.975. Yang 15.975 itu buatan Jerman. Ampuh sekali!”

Segera kutunjuk sampo yang paling ampuh dan mahal itu. Harapanku biar cepat selesai dengan urusan menggelisahkan ini. Saban mandi aku pakai sampo itu. Sepekan, tiga pekan, sebulan, dua bulan, dua bulan setengah, tetap saja barang 10-15 helai rambut rontok. Wah, ampuh gundulmu! Dan gundulku juga!

Aku kontak Bunda di rumah untuk curhat. Juga untuk menanyakan padanya ihwal cara-cara tradisional mencegah kerontokan.

“Kik-kik-kik,” Bunda menahan tawa kikiknya.

“Kenapa jadi risau? Dari dulu Ummi (panggilan untuk Bunda) juga rontok dan tidak pernah risau. Apalagi, rambut itu kan bukan mahkota. Mahkota manusia itu ada dalam kepala, bukan di luar atau di atasnya. Kan banyak sekali orang botak disebut profesor!”

Mendengar itu, cepat-cepat aku mengalihkan pembicaraan ke soal-soal lain “yang lebih serius”, meskipun dalam pikiranku sendiri rambut rontok ini sudah sangat serius. Sampai telepon kututup, tak berani lagi kuulangi pertanyaan yang “tidak serius” tadi di hadapan wanita mulia yang berkepribadian rasional dan penuh perhitungan itu.

“Alfian, bagian ini kelihatan botak nggak?” tanyaku sambil menunjuk ke daerah jidat.

“Kak-kak-kak-kak! Kelihatan sekali! Itu sudah gundul namanya. Tak apalah, jidat ente seperti profesor kok.”

Asem!” Anehnya, tak lama waktu berselang, rambut Alfian pun jadi ikut rontok dan risau dia dengannya. “Kak-kak-kak-kak! Nah, rasakan!” Sambutku.

Aku dan Alfian pun jadi sering saling bertanya tentang keaadan rambut masing-masing.

“Alfian, makin kelihatan ya?”

“Ya. Punya ana gimana?”

Aku mengangguk. Kami lantas memerankan cermin buat masing-masing. Waktu terus berjalan seiring dengan rontoknya “rambutan” di kepala. Suatu ketika aku memutuskan untuk datang ke tempat cukur rambut. Dengan suara pelan karena malu, aku bertanya, “Pak, kalau rambut rontok sebaiknya diapakan?”

“Dicukur pendek saja, Dik! Kalau dipanjangkan dan disisir ke belakang, seperti rambut Adik itu, jidat makin tampak botaknya.”

“Anjuran pakar,” kataku dalam hati, “harus kujalani.”

“Cukur pendek, Pak!”

Tampak gagah seperti tentara aku ini. Bukan main, senang hatiku dibuat oleh tukang cukur setengah baya di Dipati ukur itu. “Ai, ai, kerja prigel seorang terampil! Tampan lagi aku dibuatnya!” seru hati sambil mengelus-elus kepala botak di depan cermin. Ya, cermin!

Sejak itu, tiap pagi aku ber-cermin untuk memonitor pertumbuhan rambut. Agak memanjang, kusisir rambut ke kanan, lalu ke kiri, dan terakhir belah tengah untuk menutupi kedua sisi jidat agar tak nampak botak. Dan semua itu kulakukan di hadapan cermin!

Tambah lama tambah banyak yang harus kumonitor lewat cermin: wajah, kerut di dahi, gelembur di pipi (kanan dan kiri), keadaan mata, kelopak mata, alis, meripat, janggut, kumis, perut, dan sekali lagi, rambut. Semuanya kulakukan di hadapan cermin!

Ketika semua ini kuceritakan pada Bunda, tersenyum sebentar lalu dia berpesan, “Jangan lupa ber-cermin pada dirimu sendiri! Rambut rontok, wajah berkerut, perut buncit… masih bisa diatasi, tapi usia yang rontok takkan bisa diatasi.”

Oh Tuhan, benar sekali kata-kata perempuan junjunganku itu. Betapa banyak yang dapat kupetik kalau waktu bercermin pada kaca itu kupakai saja untuk bercermin pada diri sendiri! Sungguh banyak! Dan alangkah banyaknya, kalau aku, Alfian, dan teman-teman lain bisa berperan sebagai cermin diri bagi masing-masing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s