Utilitarianisme-Penjelasan Singkat

Joseph Fletcher: “We have to ask now, ‘If the end does not justify the means, what does?’ The answer is, obviously, ‘Nothing!’

  1. Utilitarianisme adalah sebuah teori yang diusulkan oleh David Hume untuk menjawab moralitas yang saat itu mulai diterpa badai keraguan yang besar, tetapi pada saat yang sama masih tetap sangat terpaku pada aturan2 ketat moralitas yang tidak mencerminkan perubahan2 radikal di zamannya.
  2. Utilitarianisme secara utuh dirumuskan oleh Jeremy Bentham dan dikembangkan secara lebih luas oleh James Mill dan John Stuart Mill. Utilitarianisme terkadang disebut dengan Teori Kebahagiaan Terbesar yang mengajarkan tiap manusia untuk meraih kebahagiaan (kenikmatan) terbesar untuk orang terbanyak. Karena, kenikmatan adalah satu-satunya kebaikan intrinsik, dan penderitaan adalah satu-satunya kejahatan intrinsik. Bagi Bentham, moralitas bukanlah persoalan menyenangkan Tuhan atau masalah kesetiaan pada aturan-aturan abstrak, melainkan tidak lain adalah upaya untuk mewujudkan sebanyak mungkin kebahagiaan di dunia ini. Oleh karena itu, Bentham memperkenalkan prinsip moral tertinggi yang disebutnya dengan ‘Asas Kegunaan atau Manfaat’ (the principle of utility).
  3. Maksud Asas Manfaat atau Kegunaan, kata Bentham, ialah asas yang menyuruh setiap orang untuk melakukan apa yang menghasilkan kebahagiaan atau kenikmatan terbesar yang diinginkan oleh semua orang untuk sebanyak mungkin orang atau untuk masyarakat seluruhnya. Oleh karena itu, menurut pandangan utilitarian, tujuan akhir manusia, mestilah juga merupakan ukuran moralitas. Dari sini, muncul ungkapan ‘tujuan menghalalkan cara’.
  4. Bentham memperkenalkan metode untuk memilih tindakan yang disebut dengan utility calculus, hedonistic calculus, atau felicity calculus. Menurutnya, pilihan moral harus dijatuhkan pada tindakan yang lebih banyak jumlahnya dalam memberikan kenikmatan daripada penderitaan yang dihasilkan oleh tindakan tersebut. Jumlah kenikmatan ditentukan oleh intensitas, durasi, kedekatan dalam ruang, produktivitas (kemanfaatan atau kesuburan), dan kemurnian (tidak diikuti oleh perasaan yang tidak enak seperti sakit atau kebosanan dan sejenisnya).
  5. Para utilitarian menyusun argumennya dalam tiga langkah berikut berkaitan dengan pembenaran euthanasia (mercy killing):

(1). Perbuatan yang benar secara moral ialah yang paling banyak memberikan jumlah kenikmatan dan kebahagiaan pada manusia.

(2). Setidaknya dalam beberapa kesempatan, perbuatan yang paling banyak memberikan jumlah kenikmatan dan kebahagiaan pada manusia bisa dicapai melalui euthanasia.

(3). Oleh karena itu, setidaknya dalam beberapa kesempatan, euthanasia dapat dibenarkan secara moral.

Sekalipun mungkin argumen di atas tampak bertentangan dengan agama, Bentham mengesankan bahwa agama akan mendukung, bukan menolak, sudut-pandang utilitarian bilamana para pemeluknya benar-benar memegang pandangan mereka tentang Tuhan yang penuh kasih sayang.

Pada sisi lain, para utilitarian menolak eksperimen2 saintifik tertentu yang melibatkan binatang, lantaran kebahagiaan atau kenikmatan harus dipelihara terkait dengan semua makhluk yang bisa merasakannya—terlepas apakah ia mukhluk berakal atau tidak. Lagi2, buat mereka, melakukan hal yang menambah penderitaan adalah tindakan imoral.

  1. Singkatnya, Utilitarianisme Klasik yang diusung oleh Jeremy Bentham, James Mill dan, anaknya, John Stuart Mill, dapat diringkas dalam tiga proposisi berikut: Pertama, semua tindakan mesti dinilai benar/baik atau salah/jelek semata-mata berdasarkan konsekuensi2 atau akibat2nya. Kedua, dalam menilai konsekuensi2 atau akibat2 itu, satu-satunya hal yang penting adalah jumlah kebahagiaan atau penderitaan yang dihasilkannya. Jadi, tindakan2 yang benar adalah yang menghasilkan surplus kebahagiaan terbesar ketimbang penderitaan. Ketiga, dalam mengkalkulasi kebahagiaan atau penderitaan yang dihasilkan, tidak boleh kebahagiaan seseorang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan orang lain. Kesejahteraan tiap orang sama penting dalam penilaian dan kalkulasi untuk memilih tindakan.
  2. Gagasan Utilitarianisme yang menyatakan bahwa ‘kebahagiaan itu adalah hal yang diinginkan dan satu-satunya tujuan yang diinginkan, semua hal lain diinginkan demi mencapai tujuan itu’ jelas mirip dengan gagasan Hedonisme. Dan Hedonisme, seperti kita tahu, adalah keyakinan klasik bahwa kenikmatan, kebahagiaan atau kesenangan adalah kebaikan tertinggi dalam kehidupan. Istilah Hedonisme sendiri beasal dari kata Yunani yang bermakna kesenangan. Hanya saja, Epicurus, tokoh utama Hedonisme percaya bahwa manusia seharusnya mencari berbagai kesenangan, kebahagiaan dan kenikmatan pikiran ketimbang tubuh. Katanya, orang bijak harus menghindari kesenangan2 yang akhirnya akan berujung pada penderitaan.
  3. Para penggugat Utilitarianisme mengajukan sejumlah keberatan. Antara lain, Asas Kegunaan itu sering bertentangan dengan aturan2 moral yang sudah mapan, seperti Jangan Berbohong, Jangan Mencuri, Jangan Membunuh.
  4. Kedua, Utilitarianisme cenderung mengunggulkan Asas Kegunaan (the Principle of Utility) atas Asas Keadilan atau Hak-hak seseorang. Misalnya, bila ada dua pihak yag bertikai di depan hukum. Salah satunya lebih kuat dan berkuasa daripada yang lain, sehingga kekalahan pihak yang lebih berkuasa akan mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan yang lebih besar pada pihak lawan dan orang2 di sekitarnya; kaum Utilitarian akan memenangkan pihak yang lebih kuat demi mencapai sesedikit mungkin penderitaan, sekalipun untuk itu asas keadilan atau hak seseorang harus dikorbankan.
  5. Gugatan lain: karena Utilitarianisme secara eksklusif mengambil pertimbangan tentang konsekuensi yang akan terjadi, maka pandangannya selalu melupkan masa lalu. Misalnya, bila seseorang berjanji kepada adiknya untuk melakukan sesuatu, lalu mendadak dia harus mengerjakan sesuatu lain yang juga sama2 penting dengan janji tersebut, tetapi pekerjaan itu lebih menyenangkan baginya, maka kaum utilitarian akan memilih untuk melanggar janji itu. Dengan demikian, kaum utilitarian mengabaikan apa yang disebut dengan kawajiban2 moral.
  6. Untuk menjawab gugatan2 itu, kaum Utilitarian membedakan Utilitarianisme-Tindakan (Act-Utilitarianism) dengan Utilitarianisme-Kaidah (Rule-Utilitarianism). Utilitarianisme-Kaidah berpijak pada pandangan bahwa ‘Semua aturan perilaku umum yang cenderung memajukan kebahagiaan terbesar bagi orang terbanyak’ harus dikukuhkan. Jadi, dalam kasus aturan Jangan Berbohong, Utilitarianisme-Kaidah menyatakan bahwa tindakan yang berdasarkan aturan moral ini lebih sering menghasilkan konsekuensi kebahagiaan ketimbang Berbohonglah. Dengan demikian, aturan Jangan Berbohong sesuai dengan Utilitarianisme-Kaidah.
  7. Namun, para penggugat kembali menyatakan bahwa gagasan Utilitarianisme-Kaidah terbalik dalam menilai banyak hal. Misalnya, persahabatan adalah sesuatu yang baik dan benar, sekalipun seringkali ia tidak menyenangkan atau membuat kita menderita. Kita memiliki sahabat dan menghargai persahabatan karena memang itulah tindakan yang baik dan benar, sekalipun kita tidak tahu konsekuensi atau akibat dari persahabatan kita. Jadi, terbalik dengan gagasan Utilitarianisme yang mengajarkan kita untuk mencari kebahagiaan, dalam situasi ini kita pertama-tama melihat bahwa persahabatan itu baik dan kita bahagia karena mengerjakan hal yang baik, dan bukan kita mencari sahabat karena dengan persahabatan itu kita dapat mencapai kebahagiaan.
  8. Selain itu, pertanyaan yang paling sulit dijawab oleh kaum Utilitarian adalah: Apakah hakikat kebahagiaan? Apakah kebahagiaan itu hasil dari suatu tindakan, atau dirasakan saat tindakan berlangsung? Apakah kebahagiaan yang dituju di sini bersifat permanen ataukah sementara, seringkali kebahagiaan yang bersifat sementara berlawanan dengan kebahagiaan yang bersifat permanen? Bukankah moralitas Utilitarian itu berpijak pada sesuatu yang akan terjadi atau sesuatu yang belum tentu terjadi untuk memutuskan tindakan yang seharusnya segera terjadi?
  9. Gugatan lain yang ditujukan atas Utilitarianisme: bukankah utility itu merupakan sesuatu yang relatif? Dan bila relatif, dan memang demikian adanya, mungkinkah hal yang relatif menjadi ukuran baik-buruk moral bagi suatu tindakan?

 

Advertisements

13 thoughts on “Utilitarianisme-Penjelasan Singkat

  1. caung says:

    ukuran azas kemanfaatan dan kebahagiaan menurut saya adalah bersifat subjektif. dan hal2 yang bersifat subjektif juga menurut saya sangat berkaitan dengan empirisme, walau menurut catatan ustad diatas justru penganjur teori ini menentang saintifik metod, yang menggunakan binatang dalam percobaannya.
    karena azaz kemanfaatan tidak bisa dipisahkan dari pengalaman empiris yang akan membentuk pemahaman sesuatu itu dianggap bermanfaat atau tidak karena pengalaman dari percobaan yang berulang2 manusia baru bisa mengambil atau membuang suatu manfaat.
    sehingga untuk mengambil suatu pemahaman yang bersifat umum dan universal haruslah melewati jembatan pengalaman terlebih dahulu, belum lagi pemahaman terhadap kemanfaatan sesuatu sangat bergantung pada dimana seseorang tersebut berkembang dan lingkungan yang mempengaruhinya. contoh, tuak pada masyarakat dayak kalimantan. masyarakat dayak kalimantan menggunakan tuak dalam kehidupan sehari-hari mereka sehingga tuak dianggap mempunyai nilai manfaat yang lebih dibandingkan dengan mudharatnya, pada setiap aktivitas masyarakatnya bahkan pada upacara keagamaan tuak juga menjadi bagian dalam ritual.
    sehingga hal ini menurut saya sulit bagi kita mengambil kesimpulan umum yang universal terhadap kemanfaatan sesuatu, karena hal ini sangat bergantung pada kondisi masyarakat tersebut.
    pengambilan kesimpulan terhadap kemanfaatan sesuatu bersifat sangat subjektif dan tidak bisa diambil kesimpulan secara umum dan sahih.
    karena sesuatu yang bermanfaat menurut seseoranga atau kelompok masyarakat belum tentu sama kemanfaatannya pada seseorang atau suatu masyarakat tertentu,..

    minta maaf ustad, kalo pendapat ana lebih banyak salah nya dari benarnya, maklum ,…. anak kemaren sore, heheheheheheh
    wassalam

  2. Clarry Sada says:

    Saya sangat terbantu dengan tulisan singkat anda. Saya mhs S3 di UPI Bandung, jurusan Pendidikan Umum/Nilai. Ada tugas mengenai Utilitarisme dan Hedonisme.Saya sangat senang kalau masih ada artikel seperti ini. Thanks

  3. musakazhim says:

    Trm ksh atas komentarnya. Syukur kalo Anda bisa terbantu dengan semua tulisan di blog ini. Lain2 mungkin bias dicari di rubrik filsafat di blog ini juga.

  4. alexstion says:

    setelah aku membaca arti utilititarianisme di sini sy msh kurang mengerti
    apakah org yg mempunyai misi utilititarianisme dia melakukan suatu tindakan untuk membuat org lain bahagia di banding dirinya atau bisa di bilang org yang mempunyai misi utilititarianisme lbh memilih cara obyektif atau subyektif atau seimbang dalam melakukan sebuah tindakan ?

  5. terima kasih tulisannya.

    tulisan anda sangat membantu saya dalam tugas peper..

    saya mau bertanya sedikit tentang contoh lain yang bisa diambil…

    misalnya “roko”

    masukan untuk studi kasus yg d atas, mungkin bisa dikaitan dengan paham ini, tetapi harus menyertakan segala sesuatunya yang berkaitan dengan rokok itu sendiri..

  6. alexstion says:

    setelah saya pikir2 misi utilitarianisme adalah 50-50 maksudnya dalam melakukan sebuah tindakan berpikir2 dahulu apakah itu baik untuk diri sendiri atau org lain jgn sampai melakukan sebuah tindakan yg dapat mencelakakan org lain apalagi diri sendiri(tergantung situasinya),ada baiknya jika ingin melakukan sebuah tindakan pikir pahitnya dolo donk !!! jgn manisnya aja yg di utamakan.karena di dunia ini selalu ada hitam dan putih (YING&YANG)yah bisa di bilang kejahatan dan kebaikan atau jg bisa di bilang dunia ini penuh misteri yah seperti HATI MANUSIA YANG SANGAT SULIT DI TERKA ATAU TIDAK BISA DI TERKA SAMA SEKALI wlaupun diri sendiri,org lain,org tua,saudara,atau siapapun yg hidup di dunia ini. itu menurut versi saya loh ^_- tp aq yakin pasti ada org yg mengerti jika ada org yg membaca ini itu jika dia bisa mrsakan atau pernah mengalaminya dalam kehidupanya sehari2 di DUNIA FANA INI!!!

  7. Anineme says:

    Karena terdapatnya multi kultur di dunia maka dalam pengambilan aturan secara mutlak tidak akan terwujud,
    tetapi harus didasarkan pada setiap kultur yang ada, maka dalam hal ini kebijakasanaan sangat dibutuhkan,

  8. Many thanks for composing “Utilitarianisme-Penjelasan Singkat EAST-LAM”.

    I personallywill certainly end up being back for
    even more reading through and commenting here
    soon. Thanks, Julie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s