Imamah dlm Ahlusunah dan Syiah

Dalam sejarah Islam, masalah imamah (imâmah) telah memicu konflik yang berkepanjangan. Asy-Syahrastani, pengarang al-Milal wa an-Nihal, menyatakan bahwa tidak ada faktor pertikaian di kalangan umat Islam yang lebih besar daripada masalah imamah.[1] Mazhab Syiah dan Ahlusunnah wal Jama’ah (Aswaja) berbeda pandangan dalam definisi imamah, kriteria seorang imam, metode penentuan imam, legitimasi imam, individu-individu imam, dan lain sebagainya. Secara umum, mazhab Aswaja memandang imamah identik dengan khilafah dan membatasi skopnya pada ranah politik, sementara Syiah memberikan peran yang jauh lebih besar kepada imamah.

Menurut mazhab Aswaja, seorang imam pertama-tama dan terutama adalah seorang pemimpin politik yang bertugas memerintah dan mengatur tatanan sosial-politik. Karena itu, logis kiranya bilamana pemimpin politik yang biasa disebut dengan khalîfah ini tidak perlu terlalu tinggi dalam hal keilmuan atau ketakwaan, melainkan cukup memiliki sifat adil (‘adâlah). Sebagai pemimpin politik suatu masyarakat sudah sepatutnya imam ini dipilih secara demokratis melalui musyawarah. Musyawarah menyangkut urusan “sosial-politik” ini ditegaskan dalam firman Allah yang berbunyi: “…dan urusan mereka (diputuskan) melalui musyawarah di antara mereka.” (QS 42: 38). Singkat kata, karena imam tidak lebih daripada khalifah yang dipahami sebagai “pemegang kekuasaan politik”, maka syarat “adil” dan “dipilih secara musyawarah” sudah cukup untuk membuat siapa saja mengajukan diri sebagai calon imam.

Benar saja, selain dari empat khalifah pertama yang digelari dengan al-khulafâ` ar-râsyidun, umat Islam hampir tidak pernah lagi mempunyai pemimpin atau khalifah yang adil dan bijak. Lembaran-lembaran hitam mengisi sejarah Islam justru karena kezaliman dan kekejian penguasa-penguasa yang oleh sebagian umat Islam disebut sebagai khalifah atau amîr al-mu`minîin. Yazid yang terkenal zalim dan bengis dapat berkuasa di tengah-tengah umat Islam. Pada masa kekuasaannya, bermacam-macam kejadian tragis terjadi. Puncaknya, Yazid memaksa Imam Al-Husein, cucunda Nabi Muhammad, untuk tunduk dan berbaiat kepadanya. Manakala Al-Husein menolak paksaan baiat itu, beliau dan sebagian besar anggota keluarga dan sahabatnya dibantai secara biadab oleh kaki tangan Yazid.

Berbeda dengan itu, menurut mazhab Syiah, imamah memiliki dimensi spiritual yang jauh lebih penting dibandingkan dengan dimensi politiknya. Dimensi spiritual ini adalah dasar, sedangkan dimensi politik adalah cabangnya. Dengan kata lain, seorang imam menjadi imam pertama dan terutama karena maqâm spiritualnya yang tinggi di sisi Allah dan kualitas-kualitas jiwanya yang sempurna. Karena itu, untuk mengetahui imam dalam pengertian ini, mau tidak mau, kita mesti mengacu kepada nash dan petunjuk Allah. Legitimasi seorang imam juga tidak diperoleh lewat musyawarah atau baiat. Imam dalam arti yang demikian menjadi imam bukan karena pengakuan atau kesepakatan orang, melainkan karena kedudukannya yang tinggi di sisi Allah.

Dengan demikian, persoalan ini tidak bisa dikait-kaitkan dengan musyawarah atau kesepakatan publik. Para nabi dan rasul tidak mendapatkan kedudukan mereka melalui musyawarah atau pemungutan suara, melainkan melalui penunjukan dari Allah dan ketinggian spiritualnya. Para pakar dalam bidang-bidang keilmuan juga tidak mendapatkan kepakaran mereka melalui kesepakatan dan pengakuan publik, melainkan melalui proses belajar dan penelitian. Jadi, wilayah imamah secara primer bukanlah wilayah publik dimana kesepakatan dan pengakuan memiliki peran esensial, melainkan termasuk dalam wilayah agama yang meliputi wilayah publik.

Dalam perspektif seperti ini, imam bukan hanya khalifah yang hanya berperan menggantikan tampuk kekuasaan politik setelah wafatnya Nabi Muhammad, melainkan juga¾seperti tercantum dalam pelbagai hadis Nabi¾mereka adalah para pemberi syafa’at, wasilah menuju Allah, pendamping Al-Quran, penjaga agama, pintu menuju Allah, pilar kehidupan di bumi, penopang kebenaran, dan tidak dapat dibandingkan dengan manusia biasa.[2] Mereka ini adalah wali-wali Allah yang berperan sebagai pintu-pintu dan perantara-perantara menuju Allah. Itulah sebabnya konsep tawassul dalam Syiah merupakan ajaran yang fundamental.

Menurut pandangan Syiah, hubungan antara nubuwah (nubuwwah) dan imamah bersifat irisan (intersection). Yakni, sebagian nabi sekaligus juga imam, tapi tidak semua imam menerima wahyu layaknya seorang nabi. Nubuwah berakhir dengan Baginda Muhammad saww, tetapi imamah tidak berakhir dengan beliau. Puluhan hadis yang berkaitan dengan kedudukan Ali sebagai pengganti (washy) Nabi merujuk pada fungsi imamah yang terus berlanjut meskipun nubuwah dalam pengertian turunnya wahyu berakhir dengan nabi Muhammad saaw.

Salah satu nash yang secara jelas berbicara mengenai imamah terdapat dalam surah al-Baqarah ayat 124: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menyempurnakannya. Allah berfirman: Aku akan menjadikanmu sebagai imam bagi manusia. Ibrahim berkata: (Dan aku memohon juga) dan dari keturunanku. Allah berfirman: Janji-Ku tidak mencakup orang-orang yang zalim.” Menurut para mufasir, Nabi Ibrahim ditetapkan Allah sebagai imam setelah beliau menjadi nabi, sehingga status imamah dan nubuwah bergabung pada diri Ibrahim a.s.[3]

Dalam ayat di atas, Al-Qur’an menyebutkan bahwa imamah Nabi Ibrahim as diperoleh setelah beliau melewati pelbagai cobaan dan ujian. Selain menunjukkan ketinggian status imamah, ayat 124 itu juga menunjukkan bahwa seseorang tidak menjadi imam kecuali dengan bersabar menghadapi pelbagai ujian. Dan masalah kesabaran menghadapi ujian ini ditegaskan juga dalam ayat lain: “Dan kami jadikan di antara mereka (Bani Israil) imam-imam yang memberikan petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar. Dan mereka adalah orang-orang yang meyakini ayat-ayat Kami.” (QS 32: 24).

Dalam ayat yang disebut belakangan, selain masalah kesabaran, Al-Qur’an juga menyebutkan keyakinan sebagai syarat lain seseorang mencapai maqam imamah. Masalah keyakinan ini secara khusus pernah diminta oleh Nabi Ibrahim dalam upayanya mencapai maqam imamah. Allah berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: ‘Wahai Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.’ Allah berfirman: ‘Apakah kamu belum percaya?’ Ibrahim menjawab: ‘Aku sudah percaya, namun agar semakin tentram hatiku.’…” (QS 2: 260). Keinginan mendapat ketentraman batin ini kemudian diberikan oleh Allah kepada Nabi Ibrahim. Allah berfirman: “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, agar dia termasuk dalam golongan orang-orang yang yakin.” (QS 6: 75).

Melalui kualitas kesabaran dan keyakinan itulah seorang imam memperoleh kemaksuman (’ishmah), kesucian dan penyucian dari Allah (QS 33: 33). Kemaksuman adalah keadaan terbebas dari segala dosa dan kezaliman dalam pelbagai tingkatannya seperti disiratkan dalam surah al-Baqarah ayat 124 di atas “…janji-Ku tidak mencakup orang-orang yang zalim.” Tentu saja, kemaksuman ini tidak diperoleh oleh sembarang orang lewat sembarang cara. Kemaksuman diperoleh lewat kesabaran seorang hamba dalam menyongsong pelbagai ujian dalam menuju Allah dan lewat keyakinannya yang mendalam.

Sejujurnya, apabila imam itu kita pahami hanya sebagai seorang pemimpin atau penguasa politik, maka akidah Syiah mengenai kemaksuman para imam ini jelas berlebih-lebihan. Dengan mudah orang akan menunjukkan bukti-bukti rasional maupun pragmatis bahwa seorang penguasa atau kepala pemerintahan tidak harus maksum, melainkan cukuplah baginya sifat adil. Namun, masalahnya berbeda bilamana imam ini kita pahami sebagaimana yang termuat dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi yang menuturkan mengenai imam dan imamah.

Selain soal kemaksuman, berdasarkan hadis-hadis yang sedemikian banyak, Syiah juga meyakini bahwa alam semesta tidak akan pernah kosong dari imam, baik ia tampak secara indrawi maupun gaib. Puluhan hadis seperti ini sejalan juga dengan hadis-hadis yang menyatakan bahwa para imam bagaikan perahu Nabi Nuh, bintang-bintang yang menerangi bumi, tiang-tiang alam raya dan lain sebagainya.[4] Lantaran kedudukan yang sedemikian penting itu, kita tidak bisa menganggap imamah ibarat lembaga-lembaga sosial-politik yang tercipta berdasarkan kesepakatan dan dapat berakhir juga bersadarkan kesepakatan. Berbeda dengan presiden yang bisa naik dan bisa turun, seorang imam tidak bisa turun atau diturunkan oleh masyarakat.

Dalam konteks seperti itulah kita bisa mengerti mengapa Rasulullah saw bersabda bahwa siapa yang mati tanpa (memiliki atau mengenali) imam zamannya, maka matinya bagaikan mati dalam keadaan jahiliah.[5] Dalam versi lain, Rasul bersabda: “Siapa yang mati tanpa memberikan baiat kepada imam, maka ia akan mati dalam keadaan jahiliah.” Begitu juga halnya dengan penekanan yang diberikan Rasulullah saaw untuk mecintai para imam dari Ahlul Baitnya. Diriwayatkan oleh Ibn Umar, Rasulullah saaw bersabda:

من اراد التوكّل على الله فليحبّ اهل بيتي، و من اراد أن ينجو من عذاب القبر فليحبّ اهل بيتي،

و من اراد الحكمة فليحبّ اهل بيتي، و من اراد دخول الجنّة بغير حساب فليحبّ اهل بيتي، فو الله ما احبّهم احد الاّ ربح الدنيا و الاخرة

“Barangsiapa ingin bertawakal (mewakilkan urusannya) kepada Allah, hendaklah dia mencintai Ahlul Baitku; barangsiapa ingin selamat dari siksa kubur, hendaklah dia mencintai Ahlul Baitku; barangsiapa ingin memperoleh hikmah, hendaklah dia mencintai Ahlul Baitku; dan barangsiapa ingin masuk surga tanpa hisab, hendaklah dia mencintai Ahlul Baitku. Demi Allah, tak seorangpun mencintai mereka kecuali dia beruntung di dunia dan akhirat.”[6]

Hadis-hadis seperti di atas tercantum dalam pelbagai kitab hadis secara berlimpah-ruah, sedemikian sehingga membuat kita bertanya-tanya: Gerangan apa yang mendorong Allah melalui Nabi-Nya mengulang-ulang manfaat-besar kecintaan kepada mereka? Apakah ini semacam “agenda politik” yang dirancang oleh Nabi Muhammad untuk mengangkat Ali bin Abi Thalib dan keturunannya sebagai penguasa-penguasa politik sepeninggal beliau? Ataukah penekanan itu untuk menunjukkan kepada manusia bahwa kebergantungan mereka pada imam tidak berhenti pada kehidupan fisik dan wilayah sosial politik semata-mata, melainkan terus berlanjut pada tahap-tahap kehidupan selanjutnya di alam-alam yang lain?

Jelas, bahwa kebergantungan dan kebutuhan manusia kepada para imam yang suci itu terus berlanjut secara abadi. Kecintaan kita kepada Rasul dan para imam itu menjadi ikatan yang akan terus menjaga kita walaupun tubuh kita telah hancur berkalang tanah. Ikatan inilah yang disebut oleh Rasulullah sebagai asas Islam.[7] Dalam hadis lain disebutkan bahwa kecintaan kepada mereka adalah sebaik-baik ibadah dan menyebabkan orang masuk surga.[8] Dalam kaitan dengan Imam Ali, Rasul bersabda:

يا علي ، لا يحبّك الاّ مؤمن ولايبغضك الاّ كافر او منافق

(Wahai Ali, tidak mencintaimu kecuali orang mukmin, dan tidak membencimu kecuali orang munafik.)[9]

Hanya saja, ironisnya, para imam yang suci dan ditunjuk oleh Allah untuk membimbing manusia kembali kepada-Nya tidak selalu diterima oleh masyarakat sebagai penguasa dan pemimpin politik mereka. Bahkan, sejarah menunjukkan bahwa orang-orang suci ini sering kali tersingkirkan dan dipermainkan oleh para avonturir yang dengan licik memanipulasi opini masyarakat, sehingga pada gilirannya imam-imam yang secara niscaya berkedudukan tinggi di mata Allah ini sering kali ditindas oleh Umat Muhammad persis seperti perlakuan Bani Israil terhadap nabi-nabi mereka.

Dari urain singkat di atas, kita bisa memetik beberapa kesimpulan berikut: pertama, imamah adalah kedudukan yang ditetapkan oleh Allah dengan nash dan bukan hasil pilihan suatu musyawarah, sebagaimana nubuwah juga langsung ditetapkan oleh Allah; kedua, berbeda dengan khalifah, imam harus maksum (ma‘shûm) dan suci; ketiga, imam belum tentu mendapatkan kekuasaan dan legitimasi politik. Mungkin saja ada seorang imam yang tidak “diakui” sebagai penguasa politik, meskipun status imamah tidak mungkin dicabut oleh masyarakat lantaran status itu adalah pemberian Allah dan konsekuensi dari ketinggian kedudukannya di sisi Allah; dan keempat, kebutuhan manusia kepada imamah bersifat permanen sebagaimana kebutuhan manusia kepada nubuwah. Dengan berakhir serta sempurnanya nubuwah pada diri Nabi Muhammad, maka fungsi nubuwah untuk seterusnya dilanjutkan dengan imamah.

 

Musa Kazhim

20 Shafar 1424

(Hari Arba’in Imam Al-Husein)

 

 

 

 


[1] Al-Syahrastani, al-Milal wa an-Nihal , Kairo, 1968, jilid I, hal. 99.

[2] Lebih jauh, rujuk Muhammad Ar-Raysyahri, Ahlul Bait fil al-Kitab wa as-Sunnah, Muassasah Dar Al-Hadits, tanpa tahun.

[3] Sayyid Kamal Al-Haydari, Bahtsun Haul Al-Imâmah, Dar Al-Shadiqin, Qum, 1999, hal. 93.

[4] Muhammad Ar-Raysyahri, Op.Cit, hal 140-168.

[5] Ahmad Ibn Hambal, Musnad Ahmad, Dar Al-Fikr, Beirut, 1414 H., jilid 6, hal 22.

[6] Muwaffaq Al-Khawarizmi, Maqtal Al-Husein, Maktabah Al-Mufid, Qum, t.t., jilid 1, hal. 59; Al-Juwayni, Faraid Al-Simthayn, Muassasah Al-Mahmudi, Beirut, jilid 2, hal. 294; dan Al-Qunduzi Al-Hanafi, Yanabi’ Al-Mawaddah, Dar Al-Uswah, Teheran, jilid 2, hal. 332.

[7] Alauddin Al-Hindi, Kanz Al-‘Ummal, Maktabah Al-Turats Al-Islami, Beirut, 1397 H., jilid 1, hal. 645.

[8] Muhammad Ar-Raysyahri, Op.Cit, hal. 393.

[9] Ibn Asakir Al-Damasyqi, Târîkh Damasyq, Dar Al-Ta’aruf, Beirut, 1395 H., jilid 2, berkenaan dengan “Biografi Imam Ali”.

6 thoughts on “Imamah dlm Ahlusunah dan Syiah

  1. musakazhim says:

    Terima kasih. Yg lain2 diberi komentar juga ya. Lebih kritis lebih cakep. I also read good points on your blog, keep up the good work.

  2. Mas Musa,

    Senang sekali akhirnya saya dapat “menemukan” Anda setelah lama sekali saya kehilangan Anda. Langsung saja, saya ada pertanyaan: Dalam keyakinan Anda, apakah imamah dan khilafah (kepemimpinan spiritual dan politik) harus terkumpul pada diri satu orang? Maksud saya, apakah seorang imam harus pula seorang khalifah, yang berarti bahwa sejarah Islam yang terjadi adalah sesuatu yang menyimpang dari “desain” Tuhan? Terima kasih atas bantuannya.

    Salam,

    Djoko S

  3. musakazhim says:

    Saya juga sangat senang menemukan Anda sekrang ini.

    Jawaban singkatnya: kepemimpinan spiritual (imamah) dan kepemimpinan sosial-politik secara teoritis harus berkumpul pada satu sosok. Hanya saja, secara fakta historis, dua dimensi kepemimpinan itu justru seringkali tidak berkumpul pada satu sosok. Secara simplistis ini bisa kita bilang sebagai penyimpangan dari “desain Tuhan” secara de jure. Tapi, “desain Tuhan” kan juga tidak single-purpose melainkan multi-purpose sehingga apapun yang terjadi pastilah ada baiknya dan memiliki sisi positif bagi semua manusia.
    Nah, berbeda dengan kepemimpinan spiritual yang bergantung pada legitimasi Ilahi dan berkenaan dng kualitas2 ruhani yg tidak akan diketahui oleh Allah sehingga hanya Dia yang punya hak prerogatif untuk menentukan para pemimpin jenis ini, kepemimpinan politik memiliki mekanisme lain, yakni akseptabilitas rakyat. Di sini, Allah memberikan hak kepada setiap manusia untuk memilih pemimpinnya sendiri. Di sini manusia harus memberikan baiat dan ketaatan kepada pemimpinnya. Dng demikian, seorang imam spiritual yang tidak ditaati praktis tdk menjadi khalifah atau pemimpin politik. Karena itu, Imam Ali pernah menyatakan “La Imama liman La Yutha'” (Tiada imam kalo tidak ada yang menaatinya).
    Wah, maunya singkat malah bertele-tele ya…maaf.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s