Nasihat Si Raja Iseng

Macam-macam teman yang aku punya. Ada yang bijak, tapi lemah-karakter; pandai, tapi licik; saleh, tapi gebleg; pemberani, tapi ceroboh; penyayang, tapi cerewet… Pokoknya macam-macam. Aku yakin, semua kita juga punya macam-macam teman seperti itu. Satu di antara teman yang bermacam-macam itu akan menjadi lakon utama dalam cerita berikut. Dan kurasa dia cukup menarik untuk “disimak.”

Nama akrabnya Wildan. Orangnya luwes, hangat dan empatik. Juga, konyol dan suka iseng. Maka itu, kusebutlah dia si Raja Iseng. Menyapa sembarang orang dengan sembarang nama adalah satu dari sekian kelakuan isengnya. Tidak tanggung-tanggung, polisi pun pernah dikerjainya.

“Mahmuuuud!” seru temanku itu suatu kali dalam perjalanan menuju Bandung. “Hoeeee!” teriak si polisi dengan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi sampai nyaris tersungkur. Aku dan seorang teman lain yang berada di dalam mobil cuma bisa terpingkal-pingkal. Sementara, dia hanya bilang, “Wah, pas betul momennya. Melamun sih polisi itu tadi, jadi kena dia.”

Bukan hanya itu: memberi bungkus permen yang sudah kosong ke Pak Ogah (yang memang suka mengganggu ketimbang menertibkan jalan); menyuruh pengamen untuk mendendangkan lagu-lagu yang dipilihnya sendiri (sehingga membuat si pengamen jadi kikuk tidak karuan); berlagak seperti orang mabuk di depan umum (sehingga membuatku jadi tertawa campur malu); menirukan gaya orang-orang tertentu yang menurutnya (dan menurutku) lucu; dan lain sebagainya. Tetapi, semua itu dilakukan dengan satu itikad; menghibur teman sendiri!

Suatu ketika, di awal Desember 1998, dia datang ke tempat tinggalku dengan penampilan yang loyo. Dan dengan suara gagap seperti menyembunyikan “sesuatu”, dia berkata, “Tolong nasihatnya, Mus!” Mulanya, karena aku tahu persis karakter kawan satu ini, permintaan itu kutangaggpi secara dingin belaka. “Ah, sudahlah… Bisa serius enggak sih?!”

Setelah sejenak berbasa-basi, kembali di mengulang permintaannya. Kali ini dengan nada yang lebih memelas: “Tolong nasihatnya, Mus. Benar-benar aku perlu nasihat!”

“Kenapa kau perlu nasihatku?”

“Ya, nasihatmu biasanya bagus-bagus.”

“Kau ada masalah apa?”

Euh, teinglah, Mus. Kenapa bisnisku gagal terus,ya?”

Akhirnya, tak tega juga aku melihatnya begitu. Segala keengganan dan keraguan kubuang jauh-jauh. Dan mulailah aku dengan hal-hal yang telah berpuluh kali kusampaikan kepadanya: “Hidup ini luas. Banyak potensi hidup kita yang belum tergali.” Dan untuk meyakinkannya, meluncurlah kutipan berikut: “’We live only a small part of the life we are given (Kita hanya hidup dengan sebagian kecil dari potensi yang diberikan kepada kita)’, kata pencetus Quantum Learning, Bobby DePorter.”

Makin lama, makin panjang-lebar, muluk-muluk, dan kesana-kemari arah pembicaraanku. Biar begitu, tetap saja Wildan menyimak segala sesuatu yang kusampaikan sambil sesekali menyemburkan asap rokok ke arahku. Setelah cukup lama tidak tentu arah, aku tersadar: Ngomong apa aku ini? Bisa-bisanya aku ini tersesat dalam hutan belantara ciptaanku sendiri?!

Kutarik napas dalam-dalam, lalu kuperhatikan mulutnya. Adakah mulut itu menyimpulkan senyum kemenangan yang sering kulihat tatkala dia berhasil “menjerat” mangsanya? Entah. Yang jelas, ada senyum di wajahnya. Dan karena melihat senyum itu juga hatiku jadi was-was. Lalu, was-was berkembang jadi geram, dan berpuncak pada hardikan, “Baru sadar an bahwa ente ini orang hebat!”

“Hebat apa?” tanyanya seraya mengulum senyum mencurigakan yang membuatku makin geram.

“Ya, sebab ente banyak mendengar omongan ana dan karenanya ente banyak belajar, sementara ana banyak bicara dan karenanya banyak salah dan banyak buang waktu!” teriakku keras.

“Ha, ha, ha … 55x”

Sekarang sudah bisa kupastikan bahwa dia memang sedang mengerjaiku. Tokek! Tengik! Sambar gledek!

Kendatipun begitu, sebuah nasihat berharga telah dia berikan padaku: perbanyaklah mendengar daripada berbicara! Dan lebih dari itu, nasihat ini disampaikannya lewat “tindakan nyata,” tidak sekedar lewat kata-kata. Walaupun, ya walupun, “tindakan” itu menyakitkan hatiku juga.

Beberapa waktu yang lalu, sebelum kutulis cerita ini, kuingatkan dia pada kejadian di atas. Tertawa kecil sejenak, lalu berkata, “Memang begitu. Karena, kalau aku pakai bahasa ilmiah untuk menegurmu, malah aku akan jadi bahan tertawaan. Ucapan-ucapanku akan kau cincang, kau goreng, lalu kau berikan ke kucing. Akibatnya, kau tidak akan sadar juga. Padahal, yang aku perlukan adalah kesadaranmu. Karena itu, aku pakai saja bahasa yang betul-betul aku kuasai untuk menyampaikan nasihat itu kepadamu.”

Tak mau kalah, aku pun menimpali begini, “Dan nasihat yang telah kau berikan kepadaku waktu itu, sungguh bermanfaat sekali.

Entahlah. Semoga memang demikian halnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s