Ruh Allah

Bukan suatu kebetulan bahwa penggerak dan pemandu revolusi Islam terbesar abad 20 ini bernama Rûhullâh, yang secara sederhana berarti Ruh Allah. Sejauh pelacakan penulis, belum ada sebelum Khomeini seseorang yang diberi nama dengan Rûhullâh, mengingat pengertiannya yang bisa menimbulkan salah pengertian fatal. Ruhullah membuktikan diri sebagai orang yang pantas menyandang gelar Ruh Allah, lantaran dia telah menjalankan syariat, berjihad melawan hawa nafsu sendiri, dan berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan.

Dalam literatur Islam, hanya Nabi Isa atau Yesus yang diberi gelar Rûhullâh. Sebagian orang menduga bahwa ayah Ruhullah, Musthafa, memberikan nama itu kepada anaknya sebagai hasil dari suatu istikharah yang meyakinkan. Dan seperti Nabi Isa, sekalipun dalam tingkat yang berbeda, Ruhullah Khomeini memang hidup dalam kebersahajaan yang mencengangkan.

Sebagai orang modern yang berpikiran materialistis, tentu sulit bagi kita untuk bisa menerima semua cerita dalam kehidupannya. Kehadirannya di dunia yang serba materialistis dalam sosok revolusioner yang asketik saja sudah cukup menimbulkan kontradiksi dalam benak kita. Apalagi kalau ditambah dengan fakta-fakta lain menyangkut keimanan, jihad, ketenunannya beribadah, keberaniannya melawan, dan ketenangannya menjalani segala risiko. Bakal selalu ada kecurigaan, minimal keraguan, tentang figur ini.

Ruhullah memang bukan Peter Pan yang hidup di negeri Never-never Land. Dia adalah figur nyata yang memimpin sebuah gerakan nyata di negeri nyata. Tiap rincian kejadian dan gagasannya akan berdampak pada pola pikir dan sikap bangsanya. Karena itu, berbeda dengan kisah fiktif, kisah nyata menimbulkan pro dan kontra, menimbulkan daya tarik dan daya tolak seperti halnya daya bakar api yang nyata.

Serban hitam yang membingkai kepalanya, janggut putihnya yang berkibar-kibar, bahunya yang lebar, tubuhnya yang tinggi menjulang, tatapannya yang senantiasa tertunduk, sungguh mengingatkan kita pada tokoh-tokoh legendaris kuno. Di wajah besarnya yang renta, di bawah alisnya yang meliuk panjang, mata Ruhullah yang gelap itu terlihat seperti arang yang sewaktu-waktu dapat membara. Terdapat kesedihan dingin di semua gurat wajah tua itu; ada kekuatan mistik yang memancarkan cahaya panas membara. (Insert foto Khomeini).

Saat melihat foto-foto Ruhullah muda, pancaran magis seperti yang tampak pada raut wajahnya setelah Revolusi 1979 memang belum terlihat. Tapi, sejarah masa remajanya sudah banyak bercerita tentang cita-cita besar, kerinduan akan Sang Mutlak yang di atas rata-rata. Sejak usia sangat dini, orang bisa melihat bahwa Ruhullah memang seperti anak yang tersambar “tangan gaib”. Banyak yang mengisahkan bahwa Ruhullah muda begitu “diberkahi”. Dia hidup mendahului zamannya, atau lebih tepatnya mendobrak ruang dan waktu yang mengurungnya.

Bayangkan saja! Belum genap 35 tahun, Ruhullah telah memberikan pelajaran mistisisme dan mengarang buku-buku berat seputar filsafat dan ‘irfan, hingga gurunya sendiri terpaksa memberikan ulasan beberapa karyanya. Meminjam ungkapan Hamid Algar, “Karya-karya Khomeini mengenai ‘irfan hanyalah ungkapan awal dan tertulis tentang suatu proses suluk, suatu gerakan maju terus-menerus menuju Sumber Keagungan, yang dengan-Nya pelaku suluk terus berhubungan.” Buku-buku yang ditulis Ruhullah pada usia itu adalah marka hidup tokoh revolusioner ini.

Setelah Revolusi Islam Iran meletus, sosok dan perilaku Ruhullah jelas menunjukkan tingkat kematangannya dalam suluk dan jihad yang dibangunnya sedari muda. Ruhullah mencapai puncak perjalanannya sebagai seorang asketik atau mistikus nomor wahid dengan keteguhan dan kesungguhan luar biasa. Semua ciri itu dengan mudah bisa kita saksikan dalam gerak-gerik, rona muka, gaya tutur, intonasi bicara dan tatapan matanya.

Tak heran bila kemudian Robin Woodsworth Carlsen memberikan deskripsi enigmatik tentang Ruhullah setelah bersua langsung dan bersentuhan tangan dengannya. Filosof dan penulis Kanada yang telah menghasilkan banyak karya seputar filsafat Barat ini begitu terkesiap merasakan kekuatan magis yang meluncur dari sekujur Ruhullah. Saya akan menukil deskripsi Carlsen ini dalam bahasa aslinya agar pembaca bisa langsung merasakan apa yang dirasakan olehnya. Sesudah itu saya akan mencoba menerjemahkannya secara bebas.

Setelah 45 menit kami di sana barulah ada tanda bahwa Imam akan memasuki ruangan. Tanda itu jelas: beberapa ulama bersurban muncul dari pintu masuk dan memberi aba-aba pada mullah yang menunggu di panggung bahwa sang pemimpin, pendeta, manusia suci, dan Imam akan memasuki gedung. Saat Khomeini tampak di pintu, semua orang seketika berdiri dan berteriak-teriak, “Khomeini!”, “Khomeini!”, “Khomeini!”, dengan penghormatan paling menggugah, lantang, riang dan militan yang pernah saya saksikan diberikan untuk seorang manusia. Semua orang tampak hanyut dalam gelombang cinta dan puja-puji. Meski demikian, tiap sel dalam jantung mereka ini ada seruan kepercayaan mutlak bahwa sosok dan orang yang mereka sanjung ini memang layak mendapat sanjungan seperti itu di mata Allah. Sesungguhnya, yang ingin saya katakan bahwa ledakan ekstase dan kekuatan yang memuja Imam itu bukanlah refleks sederhana yang didasarkan pada gagasan tertentu tentang Sang Imam; melainkan justru seperti itulah himne pemujaan alami dan hidup yang diniscayakan oleh keagungan dan karisma luarbiasa manusia ini. Begitu pintu terbuka untuknya, saya mengalami badai tenaga yang menggelora lewat pintu itu. Lewat jubah cokelat dan surban hitamnya, lewat janggut putihnya, dia menggemparkan tiap molekul di gedung ini dan memancang perhatian semua orang sehingga membuat segala sesuatu yang lain menghilang. Dia adalah massa cahaya yang menerobos kesadaran setiap orang di gedung ini. Dia merontokkan semua citra yang coba dibangun oleh orang yang hendak menyelidiknya. Saking dominannya dia dalam kehadirannya, sehingga saya terseret serangkaian sensasi yang membawa saya jauh melampaui konsep-konsep saya sendiri, melampaui cara saya memproses pengalaman.

Pada mulanya saya berharap—betapapun tampila luar orang ini—saya akan mencermati wajahnya, menggali motif-motifnya, membongkar siapa dia sebenarnya. Kekuatan, keanggunan, dan dominasi mutlak Khomeini meluruhkan semua cara penilaian saya, dan saya dientakkan untuk begitu saja mengalami energi dan perasaan yang diterbarkan oleh kehadirannya di panggung. Dia benar-benar sebuah badai, tapi orang segera dapat melihat adanya satu titik hening absolut di dalam badai itu; sekalipun garang dan memerintah, dia tetaplah tenang dan ramah. Ada sesuatu di dalam dirinya yang tak tergerakkan, tapi itulah yang menggerakkan seluruh Iran. Ini bukanlah maujud manusia biasa; sesungguhnya, bahkan seluruh orang yang disebut wali/santo yang pernah saya temui—Dalai Lama, pendeta Buddha, orang bijak Hindu—tak satu pun memiliki kualitas kehadiran yang menyemburkan arus listrik seperti Khomeini. Untuk mereka yang dapat menilai (dan merasa), tak ada keraguan tentang integritasnya maupun klaim rakyatnya—meskipun telah diredam habis-habisan oleh orang-orang semacam Ibrahim Yazdi (pimpinan oposisi Iran waktu itu—penerj.)—bahwa dia telah berada di atas jatidiri normal (atau abnormal) manusia dan telah bertengger di sesuatu yang mutlak. Kemutlakan ini dinyatakan dalam udara, dalam gerakan tubuhnya, dalam api kepribadiannya, dalam keheningan kesadarannya. Bukan rahasia lagi mengapa dia demikian dicintai oleh jutaan orang Iran dan Muslim di seluruh dunia, dan dia memperlihatkan—paling tidak untuk pengamat ini—landasan empiris bagi gagasan adanya tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Memang, kekerasan, ketiadaan canda, penilaian yang bersifat mutlak, semuanya tampak nyata; tapi mengingat segenap keadaan sekitarnya, ada pembenaran dalam setiap gerak dan perilakunya bawa sikap itulah yang paling tepat untuknya. Dia adalah orang paling luar biasa yang pernah saya lihat.

Carlsen melanjutkan:

And yet I must go further: Imam Khomeini broke into my heart and my brain with a current of emotion that I can only describe as extreme positivity, what I prefer to call ‘love’. (Dan saya masih harus lebih jauh lagi: Imam Khomeini merasuk ke dalam jantung dan otak saya dengan arus emosi yang hanya dapat saya gambarkan sebagai kepositifan ekstrem—yang lebih suka saya sebut “cinta”.

Carlsen lantas menuturkan bahwa Khomeini adalah “manusia yang telah diguncangkan Tuhan” atau “manusia yang dirasuki Tuhan”. Bagi Carlsen, orang akan mengalami, ketika menatapnya, seakan-akan sejak tarikan nafas pertamanya semasa bayi, Khomeini telah begitu serius-khusyuk menjalani hidupnya untuk suatu tujuan tertinggi dan dalam tradisi paling universal. Kemudian Carlsen menambahkan:

Petunjuk di balik ketajaman, keteguhan, rasa berkehendak yang tak tergoyahkan dan kekerasan di wajahnya adalah fakta bahwa sarana yang digunakannya untuk mencapai semua ini adalah melalui jihad terus-menerus, “yang tidak dapat dimengerti kecuali seseorang telah menyangkal hawa nafsunya sendiri dan dunia.” Khomeini mendefinisikan “dunia” dalam konteks uraian ini sebagai “sekumpulan hasrat manusia yang secara efektif membentuk alamnya, bukan alam semesta eksternal yang memiliki matahari dan bulan, yang merupakan penampakan-penampakan Tuhan. Dunia dalam arti sempit dan individual inilah yang menghalangi manusia dari mendekatkan diri kepada wilayah kekudusan dan kesempurnaan.”)

Akhirnya saya harus mengakhiri ekspresi spontan Carlsen ini dengan kutipan ini:

Sungai perasaan itu masih tetap mengalir lewat hati saya, tapi rupanya saya bisa mengekspresikan gagasan bagaimana pengalaman hari ini telah menyingkap sumber inspirasi revolusi ini. Sisi-batin revolusi ini kini berada di dalam diri saya, dan meskipun suratan takdir bukanlah bahwa saya lahir di Iran dan menjadi seorang Muslim (penulis sampai sekarang tidak pernah menyatakan masuk Islam—penerj.) yang berjuang dalam revolusi ini…saya bergabung dengan revolusi ini pada tataran hati saya; sejauh yang asal mulanya saya ketahui murni, dan bahwa dengan demikian revolusi ini membutuhkan doa sederhana saya.)

Revolusi Islam Iran tahun 1979 adalah sumber energi besar yang ditemukan oleh Ruhullah dalam dirinya sendiri dan bangsanya, setelah melampaui perjuangan dan pencarian tanpa henti. Energi spiritual sebesar ini tidak mungkin hanya dipakai untuk menggulingkan Syah. Energi ini pasti akan terus menjadi sumbu perubahan dan pembaharuan di segenap wilayah Timur Tengah untuk jangka waktu yang sangat lama.

Dalam salah satu ceramah rutinnya di awal-awal Revolusi Islam Iran, Ruhullah menegaskan bahwa semua “keajaiban” yang terjadi di Iran tak lebih daripada jelweh az qudrate Khuda (percikan kekuasaan Ilahi). Dengan ungkapan ini, Khomeini ini menegaskan kepada bangsanya untuk bersiap menyongsong perubahan-perubahan yang lebih besar, tentu dengan segala pengorbanannya diperlukan.

Ruhullah adalah ulama yang sejak awal menekankan pada pentingnya jihad dalam diri (jihad an-nafs). Baginya, inilah kata-kunci kesempurnaan manusia. Dia mengingatkan kita pada fakta bahwa kehidupan ini merupakan ajang pergulatan antara pasukan Ar-Rahman (Sang Pengasih) dan thaghut (penindas yang melampaui batas). Sedemikian pentingnya hal ini bagi Ruhullah sehingga Revolusi Islam yang digalangnya itu bisa dibilang adalah semburan alamiah dari perjalanan ini. Berbicara di hadapan pelajar-pelajar agama di Najaf beberapa tahun sebelum Revolusi, Ruhullah mengatakan:

Jika seorang manusia yakin bahwa seluruh alam penciptaan, yang terlihat maupun yang gaib, adalah suatu bentuk kehadiran Ilahi dan bahwa Tuhan Yang Mahakuasa hadir di setiap tempat dan memperhatikan segala sesuatu—jika seseorang menyadari kehadiran Tuhan ini, dan juga akan nikmatnya anugerah Tuhan, apakah mungkin dia akan melakukan dosa? Seseorang tak akan melakukan dosa atau perbuatan hina di hadapan seorang anak kecil yang melihatnya; lantas bagaimana mungkin dia sanggup melakukannya dalam kehadiran dan kesadaran akan Tuhan Yang Mahakuasa dan tak memiliki rasa takut atau ragu dalam melakukan kejahatan dalam bentukn apa saja? Itu semua bisa terjadi karena dia meyakini kehadiran si anak kecil tapi tak meyakini kehadiran Tuhan, meskipun mungkin dia memiliki pengetahuan tentang hal itu…Sesungguhnya, tak perlulah seseorang memiliki keimanan yang pasti; sudah cukup baginya untuk menganggap bahwa janji-janji dan ancaman-ancaman yang disebutkan di dalam al-Qur’an mungkin saja benar, lalu memperbaiki perilakunya sesuai dengan kadar kemungkinan itu dan menghentikan (meredakan) perbuatan dosanya yang tak berbatas itu.

Bagi Ruhullah, jihad bukanlah pilihan atau tawaran; ia merupakan suatu keharusan. Orang yang pernah melihat Ruhullah dari dekat pasti membenarkan bahwa dia punya kekuatan magis yang muncul dari disiplin spiritualnya yang panjang dan gigih sejak usia muda. Tidak perlu orang punya kepekaan spiritual untuk mengamati bobot dan aura mistis dalam sosok tokoh ini.

Ruhullah jelas bukan selebritis penganjur agama, yang perilaku dan kepribadiannya bertentangan dengan perkataannya. Dia adalah manusia dengan disiplin dan konsistensi yang sangat membelalakkan mata. Keluarga dan seluruh muridnya bersaksi bahwa hidup dan kerja Ruhullah bergerak persis mengikuti arah kompas yang tak pernah berubah. Bagi para muridnya, Ruhullah ibarat jarum jam kosmik yang tak pernah berhenti berdetak. Sangat tepat. Sangat konstan.

Dia adalah orang yang percaya pada tindakan, dan mengurangi pembicaraan. Setiap kali berbicara di depan televisi yang biasanya ditayangkan pada malam Rabu sepanjang masa hidupnya setelah revolusi, nada suaranya hampir-hampir tidak terdengar. Ada kesan kuat bahwa dia adalah orang yang tidak menikmati kegaduhan. Dan kalaupun akhirnya dia terpaksa berada di tengah kegaduhan, dirinya terlihat begitu menjaga jarak, tetap dalam keheningannya sendiri.

Ruhullah percaya bahwa pendakian menuju puncak Perjumpaan membutuhkan pengorbanan tak terkira. Pendakian ini membutuhkan penyucian, pengorbanan terus-menerus dan keteguhan tanpa henti. Tak ada yang bisa membuat kita bergerak ke arah itu selain tekad untuk berkorban. Kehidupan yang diisi dengan munajat, airmata, rintihan, kemesraan dengan Sang Pencipta—pendeknya: kehidupan abnormal untuk pandangan manusia modern. Puncaknya, manusia akan melebur menjadi satu dengan Tuhannya. Setelah semua pengorbanan dan perjuangan gigih ini, manusia akan sampai pada apa yang digambarkan oleh Ruhullah melalui hadis qudsi berikut ini:

Tidak ada sesuatu yang dilakukan oleh salah seorang di antara hamba-Ku yang mendekatkan diri kepada-Ku yang lebih Aku sukai daripada (melaksanakan) kewajiban yang telah Kutetapkan kepadanya. Setelah itu, barulah Dia mendekatkan diri kepada-Ku de­ngan melakukan ibadah nafilah (sunnah), sehingga Aku mencintainya. Dan bila Aku sudah mencintainya, maka saat itu Aku akan menjadi telinganya yang dia pakai untuk mendengar, matanya yang dia pakai untuk melihat, lidahnya yang dia pakai untuk berkata-kata, dan tangannya yang dia pakai untuk memegang. Jika dia memohon kepada-Ku pasti akan Aku kabulkan dan jika dia meminta kepada-Ku, maka pasti akan Aku beri.

8 thoughts on “Ruh Allah

  1. Ema rachman says:

    Subhanallah….walau belum pernah berjumpa dengan Ruhullah Khomeini saya dapat merasakan apa yang Carlsen rasakan dan sangat jatuh cinta kepadanya hanya dengan membaca buku tentang kehidupan pribadinya….pribadi yang tak dapat dilukiskan dan dikatakan dengan kata2. Tak dapat terbayangkan bagaimana pribadi imam Zaman nanti atau Rasulullah & AB as nya dulu….seorang imam Khomeini (salam & shalawat untuk beliau)sudah dapat membuat kita tercengang terkagum2 dan menyejukan jiwa juga menerangi hati kita serta membuat kita menangis terus karena malu akan siapa diri kita …..
    salam

  2. Frodo says:

    Dear …

    Suatu malam hening yang teramat membahagiakan, ketika banyak orang sudah terlelap, termasuk fulan bin fulan.

    Dirinya jauh terlempar disebuah universitas kuno di jantung kerajaan mesopotamia (dahulu). Dalam lorong2 yang mengikuti lekuk lorong mesjidil haram Makkah, terdengar langkah2 kedatangan sang Imam’…

    Fulan pun bergegas mencapai apa yang selama ini telah menjadi cita2-nya bila berhadapan dengan sosok mulia sang Imam. Ia menoleh kekanan dan kekiri untuk memastikan langkahnya akan semakin mendekati Imam, … sesaat setelah Ia tertegun’ … Ia memastikan langkahnya kearah suara kaki MULIA orang yang terlalu tua untuk dihitung sebagai KEKUATAN BESAR penghancur rejim negaranya.

    Sesaat … dalam sebuah lorong yang jejeran tiang2 penyangganya se-garis, Imam melangkah maju, .. dan terus mendekat …
    Inilah dia (hening nya), pemimpin yang Arif, Berwibawa, Tua, Sayyid, Guru, Ayah dst …
    Fulan memeluknya erat seraya sadar bahasanya berbeda dengan sang Imam. Ia mengatakan agar Imam bersedia masuk kedalam kamar didekatnya. Kemudian mereka masuk, Fulan memohon ijin agar dirinya yang RENDAH diperbolehkan untuk memeluk sang Imam. Imampun membiarkan dirinya dipeluk, terasa dadanya dingin dan hangat yang bercampur dengan perasaan “lena”, tenang dan ke-ikhlasan.
    Fulan mengatakan agar dirinya didoakan sang Imam agar selalu diberikan keselamatan didalam agama. Imam berdoa mengangkat tangan sementara Fulan sibuk mengangkat tangan, seraya mencuri2 pandang wajah Imam yang tenang.

    Sambil mengucap terima kasih karena telah memotong waktu Imam yang “dipikirnya” akan segera mengajar suatu kelas, dirinya (sambil membuka pintu kamar) mengatakan kepada Imam–lagi2 dengan bahasa yang berbeda dengan Imam–…”Imam, Terima kasih yaa,. maaf sudah mengganggu Imam, Imam sepertinya sibuk dan ditunggu banyak orang di kelas…”

    (Dedicated to Imam Khomeini, person who was born in the same date to Hababah Fatimah, his grand mother)
    May Us will meet him soon,…

  3. musakazhim says:

    Semua orang ruh Allah, seperti semua orang hamba Allah. Tapi sepertinya kita sepakat bahwa ga semua hamba Allah setara atau setingkat dalam memancarkan kehambaan (dan keru.

    2 Frodo
    An interesting piece of insight, i should say Mr. Frodo Baggins.

  4. Frodo says:

    Dear Ust …

    From your (most respectful-red) “ultimate” family, we are here grabbing and drinking most delicious paradigm ever.

    Thanks for being here for us … joining delight days of life !!
    Thanks for everything …

  5. Quito Riantori says:

    Wah..wah…saya gak bisa berkomentar…luar biasa…saya jd pengin menangis…rindu kepada beliau yang…sulit utk mengatakannya…mudah2an cinta saya kepada beliau bisa mengantarkan saya utk bisa dekat dengannya kelak…amiiin…terima kasih atas tulisan yang sangat bagus ini. Salam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s