Agar Agama Tidak Jadi Liur di Mulut

Di Indonesia, dan di belahan mana pun dunia, kita melihat adanya gap yang amat nampak antara agama dan kaum beragama. Dengan kata lain, keadaan riil kaum Muslim sangat jauh berbeda dengan klaim-klaim Islam tentang apa yang akan terjadi pada kelompok yang mau menjalankannya. Walhasil, ada suatu jeda ayang amat jelas antara realitas keagamaan dan aktualitas keberagamaan manusia. Bahkan pada tingkat ekstrem, kita menemukan adanya pertentangan luar biasa antara agama dan orang beragama.

Untuk lebih jelasnya, kita dapat merujuk pada kasus pil, dokter, dan pasien. Kita melihat dokter menyodorkan sebuah pil untuk menyembuhkan penyakit atau khasiat tertentu. Akan tetapi, ketika diminum, kita tidak mendapatkan reaksi apa-apa pada pasien. Maka, ada beberapa sebab yang mungkin diajukan atas fenomena tersebut. Pertama, dokter salah memberi pil; kedua, pil itu memang tidak membuahkan hasil; ketiga; pil yang dimakan oleh pasien itu bukan yang diresepkan oleh dokter; keempat: pilnya memang belum diminum. Pilihan keempat ini nampaknya terasa enak, tetapi belum tentu yang terjadi: dan kelima, ada faktor-faktor yang terus menerus memperlemah pengaruh pil tersebut pada pasien.

Pada kasus antara agama, Allah dan manusia pun begitu. Tetapi, pada kasus ini alternatif pertama tidak mungkin terjadi. Karena Allah adalah Sang Maha Mengetahui Nan Bijak. Yang mungkin terjadi adalah alternatif kedua, ketiga, keempat dan kelima. Alternatif kedua menyebutkan bahwa agama itu memang tidak memberi reaksi positif apa pun juga dan tidak sebagaimana yang diklaimnya. Namun alternatif ini pun gugur karena sejarah manusia menunjukkan adanya mereka yang menjalankan dan “menelan” agama dan kemudian agama memberikan reaksi yang luar biasa, baik secara individual maupun sosial. Sekarang bagaimana dengan alternatif ketiga, yaitu bahwa agama yang kita terapkan sekarang ini bukanlah agama Allah, tetapi suatu hal yang lain?

Alternatif ketiga ini nampaknya memang paling dapat dipertahankan di meja hijau penalaran dengan berbagai alasan. Namun, mungkin pertanyaan yang lebih menggelitik adalah mengapa semua ini terjadi? Bagaimana mungkin Muslim tidak beragama Islam, melainkan sesuatu yang lain? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dan yang semisalnya, mari kita menyimak beberapa butir di bawah ini.

A. Islam ini telah disebarkan oleh orang-orang yang tidak berwawasan luas tentangnya.

Sejarah penyebaran Islam di Indonesia, sebagai contoh, menunjukkan bahwa para saudagarlah yang pertama kali menginjakkan kaki ke Indonesia dengan membawa misi penyebaran agama. Ini membuktikan bahwa sejak semula, agama memang disebarkan oleh kalangan yang tidak “kompeten”. Berbeda, misalnya, dengan kasus penyebaran agama di negeri lain yang dilakukan oleh mereka yang mempunyai akses langsung kepada agama (para imam dan alim ulama). Implikasinya, kita dapat melihat pesat dan dalamnya pengkajian agama di sana.

Oleh sebab itu, pendalaman pengetahuan keagamaan dan metode keberagamaan sangat tinggi signifikansinya. Hal itu dapat terjadi kalau kita mulai pandai-pandai menyeleksi para da’i. Lebih jauh, seperti dalam kasus metode pendidikan sains, kita memerlukan suatu kemapanan formal bagi pendidikan keagamaan kita dan meninggalkan tradisi penyebaran agama lewat mereka yang belum betul-betul menguasai masalah atau paling tidak belum memiliki akses langsung kepada sumber-sumber pokok agama. Pada kasus sains modern, spesialisasi sangat diperlukan. Spesialisasi dapat dianggap sebagai faktor pendorong atau insentif. Bahkan, tak ayal lagi, spesialisasi adalah trigger bagi kemajuan sains dan teknologi.

B. Islam telah disebarkan oleh mereka yang tidak selalu komit terhadapnya.

Maksudnya, Islam disebarkan oleh orang-orang yang menjalankan secara “setengah-tengah”, atau tidak kaffah. Mereka mengajarkan Islam dengan lidah mereka, tapi memenjarakannya dengan tangan mereka. Di genggaman mereka Islam menjadi agama yang enak didengar, tapi sulit dijalankan. Mereka menuyodorkan Islam sebagai lembaran-lembaran ajaran yang puitis, idealis, komunikatif, retoris, popular, informative, kreatif, eksotik, tapi sama sekali tidak mungkin diterapkan. Mereka bertutur begitu indah dan memukau tentang, Allah, nabi, surga-nereka, dan yang lainnya. Tetapi di lain pihak, begitu gampangnya mereka memeperkosa hak orang, berdusta, menjegal sesama, menjejak bawahan, dan yang lainnya.

C. Islam telah melalui suatu proses rekayasa yang besar

Mungkin butir yang paling banyak memenuhi data sejarah. Betapa banyak “penyebar” dan pembawa obor Islam yang memanipulir dan mengeksploitir otoritas keagamaannya untuk kepentingan profan. Anda dapat melihat fenomena tersebut serentak setelah wafatnya Baginda Nabi.

Pergumulan dan perebutan kekuasaan terjadi begitu sengit. Tentu saja, agama menjadi sumber kekuasaan yang paling omnipoten. Para aktor saling berebut kekuasaan, berupaya mendekati sumber kekuasaan yang dalam hal ini agama. Dan dalam rangka melakukan pendekatan tersebut, tak pelak lagi terjadi distorsi dan perubahan, sedemikian rupa terhadap agama yang hakiki hingga dapat mengakomodasi kepentingan-kepentingan mereka.

D. Ada faktor-faktor yang terus-menerus memperlemah pengaruh agama

Agama, seperti juga mawjud lain, memiliki aksi (pengaruh atau efek) dan reaksi ontologis. Aksi agama meliputi seluruh bidang kehidupan manusia. Agama yang mengaku sebagai sistem hidup manusia dan berperan sebagai kehidupan, tentunya mempunyai jenis aksi yang multidimensional.

Agama dapat diumpamakan dengan air. Air mampu memberikan berbagai berkah bagi manusia. Ia dapat menumbuhkan padi, tebu, jagung;, dan beragam tanaman lainnya. Namun demikian, petani mesti memepersiapkan lahan yang cocok untuk pengairan tersebut. Lahan yang tandus tidak akan mampu menumbuhkan bibit-bibit tanaman yang ditaburkan si petani. Dalam permisalan ini, kita menemukan bahwa ketandusan tanah dapat memperlemah “aksi” air bagi pertumbuhan tanaman. Misal lainnya adalah aksi obat bagi pasien. Perlu diingat bahwa kedua contoh ini hanya menjelaskan beberapa aspek dari aksi dan reaksi antara manusia dan agama.

Pada sisi aktifnya, agama memberi berbagai pengaruh pada manusia. Agama berpengaruh secara multidimensional pada diri manusia. Ia mengklaim dapat mengaktualisasikan potensi-potensi kemanusiaan secara sempurna. Agama mengaku menjadi tulang punggung evolusi manusia di alam ini. Itulah sisi aktif yang dimiliki agama. Namun demikian, manusia yang aksi bukanlah benda mati. Manusia tidak pernah secara pasif menerima aksi yang datang kepadanya. Oleh sebab itu, kita mesti mengasumsikan bahwa manusia – dengan satu dan lain cara – akan bereaksi terhadapnya. Demikian seterusnya, hingga terjadi suatu aksi dan reaksi tertentu antara keduanya. Jika aksi agama “diterima” dengan baik oleh manusia maka agama akan memberi pengaruh yang semestinya.

Akan tetapi, fakta menunjukkan bahwa banyak manusia yang tidak dapat menerima pengaruh dan aksi agama dengan baik. Sehingga, agama pun tidak akan berpengaruh sebagaimana mestinya. Persis seperti obat yang tidak mampu bereaksi menyembuhkan penyakit pasien.

Tentunya, hal tersebut terjadi akibat berbagai faktor. Pada tulisan singkat ini, saya ingin mengutarakan beberapa faktor yang seringkali memperlemah pengaruh agama dalam dimensi intelektualnya terhadap manusia.

1. Cara berpikir yang memandang agama dari kejauhan. Pola pikir ini berupaya untuk membentuk realitas keagamaan sedemikian rupa sehingga dapat mengakomodasi kepentingan, keinginan dan keenakannya sendiri atau kelompok tertentu. Ini adalah faktor perusak pengaruh agama yang paling utama. Sebagai contoh, banyak orang beranggapan bahwa agama adalah sesuatu yang jauh di atas sana: transendental, mistis, dan lain sebagainya. Dengan pandangan ini seolah-olah dia ingin mengatakan bahwa tiada manusia yang bisa menjalankannya secara sempurna. Mungkin hanya nabi dan sahabat-sahabatnya yang dapat menjalankan agama ini. Ini adalah suatu pandangan yang amat keliru.

Sejak semula, agama telah mengklaim sebagai ajaran Ilahi yang bersifat fitri. Artinya, jika ada seorang yang menoleh ke arah fitrah dan realitas dirinya, maka dia akan menemukan ajaran-ajaran agama sebagai sesuatu yang sangat sesuai dengannya. Contoh yang kurang lebih sama adalah jika Anda mengatakan bahwa ada seorang yang mempunyai semua sifat luhur dan sempurna pada manusia. Namun, di akhir pembicaraan, Anda mengatakan bahwa orang tersebut adalah malaikat. Maka, pernyataan Anda yang terakhir ini telah mementahkan semua keutamaan yang dimiliki orang tersebut.

2. Fanatisme atau menutup mata di hadapan kebenaran atau kenyataan. Fanatisme adalah sikap yang menjadi cikal-bakal perilaku agnostis, eksklusif, apatis, dan lain-lain dalam kehidupan umumnya dan agama khususnya.

3. Ekstremisme, baik ifrath (kiri) maupun tafrith (kanan) dan membuang jalan tengah. Allah berfirman, “Dan demikianlah Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) sebagai umat pertengahan, yaitu agar kalian (bisa) menjadi saksi atas manusia dan Rasulullah menjadi saksi atas kalian.” (QS. al-Baqarah 2:143). Sayidina Ali berkata, “Jalan kanan dan kiri itu menyesatkan. Jalan tengah itulah yang lurus.”

Seperti dalam kasus jihad. Satu kelompok ekstremis memandang jihad itu sedemikian lembut dan pasif sampai-sampai kehilangan makna perjuangannya. Dalam pandangan mereka, jihad tak lebih daripada upaya “bertahan hidup” di suatu masyarakat. Sebaliknya, kelompok ekstrem lain memandang jihad sebagai perjuangan yang penuh keganasan, kegarangan dan berlumuran darah. Pandangan ini pun mendangkalkan jihad sebagai suatu gerakan yang murni bersifat materialistik.

4. Sikap jumud. Biasanya, sikap jumud datang dari manifestasi sikap hati-hati yang berlebihan. Sikap ini membawa pola pikir yang diskret dn diskontimun tentang kesempurnaan agama.

5. Berwawasan sempit atau close-mindedness.

Orang yang berwawasan sempit cenderung menganggap orang lain bodoh dan tidak mengetahui apa-apa. Sebalikya, dirinya adalah orang yang pandai. Titik ekstrim dari proses ini akan menjebak seseorang pada pola berpikir absolutis dan menyalahkan – atau mengkafirkan – orang lain.

6. Menjalankan agama secara parsial atau tidak kaffah. Ini merupakan faktor utama dalam memperlemah pengaruh agama pada diri seseorang atau suatu masyarakat. Bahkan, dengan menjalankan agama secara parsial, seseorang telah memasung agama itu sama sekali. Karena, agama bersifat integral dan organistik.

7. Beragama secara emosional. Ini dapat mementahkan pengaruh agama karena emosi manusia itu berciri impulsive, cepat lenyap, labil, superficial, insidental, dan lain-lain.

8. Mengenal agama selain dari sumber-sumber utama yang telah ditetapkan agama: Al-Qur’an, sunnah yang sahih, dan akal. Banyak sekali orang beragama yang sandarannya bukan pada sumber-sumber tersebut. Seperti hadis yang tidak sahih, otoritas yang tidak berwawasan, popularitas, tendensi personal, mimpi, budaya, trend, praduga, dan lain-lain.

9. Hawa nafsu adalah musuh terbesar yang selalu akan menghilangkan pengaruh agama pada manusia. Hawa nafsu adalah desakan hasrat dalam diri manusia yang mengantarkan manusia menuju sesuatu yang menyenangkan saja. Seringkali hawa nafsu mengalihkan pandangan manusia dari realitas ke fantasi karena realitas itu tidak selalu menguntungkan dan menyenangkannya.

10. Sikap manipulatif dalam menjalankan agama. Sikap ini umumnya berlaku di kalangan orang-orang yang kenal betul dengan agama. Mereka biasanya menjustifikasi tindakan-tindakan yang mereka sadari tidak benar dengan dalil-dalil agama yang palsu.

11. Group pressure atau group-mind (desakan dan pikiran kelompok). Al-Qur’an mendorong individu untuk berpikir secara sendiri-sendiri tanpa dibayangi oleh lingkungan sekitarnya. Ini tentunya tidak berarti manusia harus bersikap egoistis secara negatif dengan tidak memeperdulikan orang lain sama sekali. Tetapi, Islam ingin mengatakan bahwa urusan Anda adalah urusan Anda, bukan orang lain, dan urusan orang lain jangan sampai membahayakan urusan Anda. Tidak ada seorang pun yang bisa menguntungkan orang lain dengan membahayakan diri sendiri. Oleh sebab itu, tidak benar bila Anda berusaha menghormati orang dengan membiarkannya sesat.

Advertisements

9 thoughts on “Agar Agama Tidak Jadi Liur di Mulut

  1. azadi says:

    Bismihitaala.
    Asalammulaikum.
    Islam ingin mengatakan bahwa urusan Anda adalah urusan Anda, bukan orang lain, dan urusan orang lain jangan sampai membahayakan urusan Anda. Tidak ada seorang pun yang bisa menguntungkan orang lain dengan membahayakan diri sendiri. Oleh sebab itu, tidak benar bila Anda berusaha menghormati orang dengan membiarkannya sesat.

    Minta penjelasan yg lebih luas lagi, syukran.

  2. Assalaamu alaikum

    Menanggapi pandangan di atas, tepatnya pd bagian, pernyataan; Beberapa faktor penyebab tidak berkhasiatnya pil bagi si pesakit yg mungkin terjadi karena lima faktor yg sudah disebutkan, menurut pandangan kami ada satu faktor lagi yg paling penting dan menjadi penentu segala-galanya, yaitu; Anugrah kemujaraban dlm pil itu belum dikehendaki lagi oleh Pemilik pertama pil itu, faktor ini memang tak kasat mata tetapi sangat menentukan bagi segala peristiwa perpautan antara aksi dan reaksi, tidak terkecuali bagi peristiwa pengiriman agama bagi umat manusia, bagaimanapun bentuk penyampaiannya relasi keterpautan aksi dan reaksinya bergantung pada iradah Allah Ta’ala, bukankah banyak peristiwa yang terjadi di luar perhitungan akal manusia,yg semestinya demikian terjadi eh malah lain ceritanya, terkadang tajamnya pisau yg sudah digorokan berkali-kali pada leher seseorang, ternyata ketajamannya tidak membekaskan luka-apa-pun, apaguna kisah ini kalau bukan intuk menunjukan kekuasaan Allah?. Kalau tidak demikian,maka apa guna makna “Fa’ufawidhu amri-ila-llah,Izda azamta-fatawakkal-ala-llah”,memang betul aksi beragam adanya dan akan menelurkan reaksinya masing-masing, tentunya kita mengerahkan daya berfikir kita untuk memunculkan sistim dan kaifiat berbobot untuk menerangkan Islam supaya dapat mencapai tujuan hakikinya,tapi kita tetap ingat bahwa sistim dan kaifiat yg berbobot dalam memberikan reaksi jitupun (yaitu mencapai tujuan hakiki Islam) tetap bergantung pada kehendak Ilahi, oleh itu ada satu sisi sprit yang harus juga diperhatikan oleh para penyebar Islam?!fikirkanlah ia!!!.

  3. Abdullah Hasan Alhabsyi says:

    Suatu pemikiran yang menarik. Tapi mungkin rumit dan njelimet dan berat. Saya curiga sekali bahwa agama yang pernah terbukti punya daya mendobrak dan membangun suatu peradaban besar jadi impoten justru karena kehilangan kesederhanaan dan keentengannya.

    Semula agama mudah diceritakan oleh sembarang orang dan dicerna oleh sembarang orang. Lama-kelamaan agama mesti diceritakan oleh orang yang khusus yang punya seratus persyaratan ( wawasan luas, komitmen, dsb., dsb.,dsb., dsb., dsb…).

    Agama yang semula adalah bahan-bakar / enerji dasar , landasan kehidupan ( La Ilaaha Illallah, Hari perhitungan, Manusia sebagai Khalifah Fil Ardh) yang membebaskan, yang memberikan ruang kreatif pada kehidupan, akhirnya menjadi tali-tali yang membelenggu tangan, kaki, dan pikiran. Menjadi seberat besi yang mengganduli kaki-kaki.

    Agama pada detailnya mesti dibiarkan bervariasi sebanyak jumlah kepala, tergantung pada hidayah Allah yang telah sampai pada kepala itu.

    Ketika Rasullullah s.a.w ditanya apa agama itu oleh seseorang, kita pernah mendengar jawaban yang amat bervariasi. Umpamanya, agama itu adalah berbuat baik terhadap anak-isteri, atau agama itu tidak berbuat bohong, dst. Enteng. Jawaban yang ada bukanlah bayangan sulitnya / banyak jilid buku fiqih, Kitab Tafsir, dsb.

    Bagaimana agama Islam bisa jadi enteng ( dan dahsyat) kembali?

    Wassalam,
    Abdullah Hasan

  4. musakazhim says:

    Salam hangat dan kangen (sdh lama sekali tdk bersua di dunia maya:-)

    “Suatu pemikiran yang menarik. Tapi mungkin rumit dan njelimet dan berat,” demikian kalimat pembuka pada komentar Saudaraku Abdullah Hasan Alhabsyi. Selain tdk tepat, dua kalimat “menarik” dan “rumit dan njelimet dan berat” tdk bertentangan. Jadi, tdk perlu ada “tapi” di awal kalimat ini. Banyak hal yang menarik, sekaligus rumit, njelimet dan berat. Misalnya, kerja otak manusia. Semua pakar tertarik oleh kerumitan kerja tersebut. Demikian pula peredaran bintang, dan sebagainya. Intinya, rumit dan njilimet bisa jadi juga menarik.
    Misal lain, kalau Anda lihat sebuah lukisan pada kanvas, mungkin Anda akan menemukan kerumitan, ketelitian, kecanggihan permainan warna, perpaduan pola dsb dsb. Dan semua itu tetap saja menarik.
    Intinya, menarik dan rumit tdk selalu bertentangan sebagaimana juga tdk selalu seiring sejalan.
    Agama bisa dicerna oleh sembarang orang, tapi jelas2 ia bukan mainan semua orang. Rasanya adil bila kita menduga bahwa penurunan dan pengutusan para nabi itu bukan pekerjaan sia-sia Tuhan. Jadi, bukan lama-kelamaan, tapi sejak semula, agama memang bukan dongeng para penghuni kedai kopi, tapi ajaran seorang nabi yang punya, paling tdk,tiga sifat: cerdas, lugas dan zuhud.
    Ungkapan “biarkan detail agama bervariasi sebanyak kepala manusia” itu sama absurdnya dengan “membiarkan siapa saja mengklaim diri jadi nabi atau rasul”.
    Lalu, bagian lain komentar itu juga bisa menyesatkan–seolah-olah agama itu hanya urusan “jangan bohong, berbaiklah pada suami-istri,” bla, bla, bla. Kalau memang begitu adanya, apa tdk cukup Allah menerangkan semua itu, paling banter, dlm dua surah? Dan apa perlu Dia mengutus Nabi sehebat Muhammad untuk menjelaskan hal2 “simpel” seperti itu.
    Dengan demikian, agama memang adalah pengetahuan dan penghayatan spiritual yang bertingkat2. Tingkat tertinggi diisi oleh para nabi, di bawahnya para imam, di bawahnya lagi para ulama…paling bawah barulah para awam kayak kita2. Jadi ini memang urusan “orang2 khusus”. Tanpa klasifikasi ini, agama menjadi barang yang sama remehnya dengan makan dan minum–jauh di bawah urusan sekolah SMA yang berjenjang.

  5. Abdullah Hasan Alhabsyi says:

    Anda betul. Kata “tapi” dalam kalimat saya adalah berarti ‘bertentangan”, tapi bukan lantas berarti tidak bisa ada bersama-sama.Keduanya bisa terjadi secara bersama. “Olahraga itu perlu, tapi memang berat”, contoh kalimat lain. Waalaupun perlu, olahraga itu tidak selalu mudah untuk dijalankan. Walaupun menarik, tulisan anda tidak harus jadi enteng dan sederhana.

    Saya juga setuju sekali kalau Allah mengutus seseorang yang mesti “istimewa” guna menjelaskan risalahNya. Yang akan disampaikan bukanlah barang remeh-remeh. Yang disampaikan tentulah pesan-pesan yang penting. Saya setuju.

    Yang jadi masalah, bagaimana menyampaikan yang penting-penting itu? Inilah yang jadi sorotan dan keprihatinan dan pertanyaan dan permenungan bertahun yang saya jalani.

    Para sarjana agama selayaknya meneliti bagaimana Rasulullah s.a.w menyampaikan risalahnya. Apakah beliau kira2 bersikap seperti profesor filsafat memberikan kuliah terhadap mahasiswa pasca sarjananya? Apakah beliau selalu memberikan impressi bahwa Ad-Din ini adalah suatu bidang studi berat semisal teori matematika-fisik-nya Hawking atau Relativitas Einstein?

    “Jangan Bohong” , “Berbuat baik terhadap Isteri” , dsb. adalah usaha saya untuk menunjukkan bahwa semua itu kemungkinan adalah metode Rasullullah s.a.w yang jauh dari membawa impressi bahwa agama itu suatu yang maha berat seperti 50 jilid bahasan fiqih atau relativitas Enstein.

    Menyampaikan sesuatu yang bukan main-main secara simple bukan masalah yang simple. Dia memerlukan kecerdasan. Disinilah masalahnya! Apakah kita bukannya dalam keadaan kehilangan kecerdasan?

    Para Ustat yang sekarang ini berperan menerangkan agama apakah masih meneladani metode Rasulullah ?
    Apakah betul Ad-Din masih tetap seperti yang diwariskan Rasulullah? Apakah Ad-Din tidak jadi menggelembung memberati kemanusiaan? Apakah memang diperlukan ratusan ribu sekolah agama seperti Al-Azhar, IAIN, atau pesantren2 itu yang tidak ada pada jaman dahulu?

    Apakah betul sikap para ustat dan ahli agama yang seringkali bersikap tahu segala sesuatu padahal tidak tahu apa-apa? Apakah bukan karena itu, para ummat yang dibelakang para ustat jadi bodoh dan ketinggalan jaman dibanding bangsa lain non-muslim?

    Tesis saya, yang kita perlukan cuma La Ilaha Illallah dan Percaya hari Kemudian. Kemudian pengetahuan basic seperti cara wudhu dan sholat. Khalas.

    Enteng.

    Wassalam,
    Abdullah Hasan.
    (kapan kita bisa ketemu darat?)

  6. 3M says:

    Saya jadi ingat kisah Nabi Musa as yang berhadapan muka dengan Allah di bukit Sinai. Dia terbenam di dalam awan keagungan selama 40 hari 40 malam.

    Lalu setelah itu, generasi demi generasi bangsa Israel pun datang silih berganti dan yang dikenang oleh yang belakangan hanya 10 Perintah Tuhan yang kelihatannya hingga saat ini, masih belum bisa dijalankan secara penuh oleh bangsa Israel…

    Kemudian saya juga ingat di zaman Isa as (Yesus) yang mana ketika itu, para pemuka agamanya sering membebani bangsa Israel dengan berbagai hukum yang sulit dipikul oleh kalangan awam, sehingga Yesus sangat marah, lantas beliau naik ke sebuah puncak bukit seraya menyampaikan khotbah yang, menurut saya, sungguh mengharukan dan memukau. Namun, mohon maaf sebelumnya, karena khotbah ini terkesan agak kasar. Injil Matius meriwayatkan:

    “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.

    Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.

    Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.

    Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.

    Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.

    Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.

    Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.

    Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.

    Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

    Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.

    (Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.)

    Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri.

    Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat.

    Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu?

    Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat.

    Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu?

    Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya.

    Dan barangsiapa bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di situ.

    Dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya.

    Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.

    Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.

    Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan.

    Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.

    Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.

    Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.

    Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu.

    Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu.

    Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu!
    Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?
    (Matius 23:2-33)

    Kemudian, saya juga ingat dengan kisah seorang pakar hukum Taurat yang soleh dan dia bertanya kepada Yesus.

    Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya:

    “Hukum manakah yang paling utama?”

    Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.

    Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

    Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”

    Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.

    Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.”

    Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”

    Kemudian dibalik itu semua, saya juga pernah membaca khotbah Imam Ali bin Abi Thalib as ketika beliau menerangkan ciri-ciri para pengikutnya bahwa tubuh-tubuh mereka kurus karena tekun beribadah, kehausan di siang hari karena puasa dan seterusnya…

    Lalu tanpa disadari airmata saya pun mengalir dan membasahi kedua pipi ini, karena menyadari bahwa pada kenyataannya, saya masih jauh sekali dari ciri-ciri yang telah disampaikan Imam as…

    Minta Maaf Sayyid Musa, komentarnya kepanjangan…
    🙂

  7. MK says:

    Nah, kini Anda lebih jelas. Tapi, masalahnya yang Anda sebut dengan “ringan” atau “enteng” bersifat relatif. Buat banyak orang syahadat, percaya akhirat, wudhu, shalat, dll. bersifat berat, njelimet, rumit, berat, terlalu serius.

    (Insya Allah mau ada milis spt yg dulu lagi).

  8. musakazhim says:

    Untuk 3M

    Mengapa selalu ada impuls dlm diri kita untuk memutarbalikkan realitas: urusan duniawi kita besar-besarkan, sedangkan urusan agama kita remehkan?! Apakah memang karena kita masih terlalu “bayi” untuk bisa mengapresiasi dunia spiritual, seperti halnya bayi sebenarnya yang tdk bisa “mengapresiasi” uang, penikahan, dan sebagainya. Sungguh Adil Allah yang telah menentukan batas tertentu untuk dimulainya pelaksanaan taklif, yakni saat manusia menjadi cukup dewasa untuk bisa memikul tanggungjawab dan mengapresiasi kewajiban. Rupanya sebagian besar manusia yang telah dewasa secara biologis belum dewasa secara spiritual untuk bisa benar-benar mengyatai agung dan indahnya semua kewajiban yang Allah syariatkan. Semoga kita termasuk orang2 yang didewasakan Allah untuk menikmati kewajiban.

  9. musadiqmarhaban says:

    Dipermulaan khutbah Yesus, ada empat pesan yang menarik, yaitu:

    1. “Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.”

    2. “Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.”

    3. “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.”

    4. “Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

    Sedangkan di bagian akhir khutbah, ada tiga pesan Yesus yang indah seputar ilmu, iman dan ihsan.

    1. Tentang ilmu.
    “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.

    2. Tentang iman.
    “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.”

    3. Tentang ihsan.
    “Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”

    Ana sepakat untuk pernyataan antum yang terakhir Sayyid, dan semoga kita termasuk orang-orang yang didewasakan Allah untuk menikmati kewajiban.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s