Islam Liberal, Indomie Campur Madu

Sudah cukup lama saya berhasrat menulis tentang Islam Liberal (Islib). Tapi, apa yang mau ditulis? Setiap kali otak ini saya putar untuk mencari gagasan2 kritis, segalanya tiba2 menjadi macet. Saya nge-hang.

Lama saya memikirkan, apa sebab-musabab kemacetan ini. Baru beberapa waktu kemarin ini saya menemukan jawaban: Islam Liberal memang dua istilah yang tdk nyambung. Buat otak orang yang waras, seperti saya:-), dua kata itu hanya mengganggu mekanisme otak, dan menimbulkan hang yang menyakitkan.
Kini, seiringnya berjalannya waktu, muncul konsensus bahwa Islam dan Liberalisme itu dua bumbu yang saling mematikan. Dan jika dituangkan dalam satu mangkok, maka rasanya akan sama seperti indomie campur madu.

Mungkin saja ada yang suka makan indomie campur madu, tapi selera kebanyakan orang jelas akan menolaknya. Kalau tidak percaya, tanyakan pada orang yg benar-benar mengerti dan hidup dlm Islam, maka dia akan melompat sakit perut. Atau sebaliknya, tanyakan pada orang yang mengerti dan hidup dlm liberalisme, jawabannya akan seperti yang saya gambarkan.

Hanya saja, anehnya, atau sama sekali tdk aneh, ada begitu banyak orang pinter yang punya selera makan indomie campur madu atau nasi uduk campur susu kental manis atau es dawed campur minyak goreng atau Islam campur liberalisme.

Selera aneh tapi nyata!

36 thoughts on “Islam Liberal, Indomie Campur Madu

  1. Wah saya juga bingung dengan namanya islam liberal itu biasanya kalau sudah berbau liberal ini pikiranku tertuju pada negara-negara barat yang ujung-ujungnya sekuler, masa agama mau dibikin gado-gado gimana ya rasanya kalau gado-gado dicampur dengan madu wah bisa muntah nih ?

  2. musakazhim says:

    Iya, begitulah rasanya. Kayak makan gado2 campur madu atau indomie campur cappucino atau makanan2 jenis itu. Hanya ornag2 dengan “selera aneh” yg suka makanan begituan. Tapi kita, syukurnya, bukan termasuk yg spt itu.

  3. luthfis says:

    ya, gitu aja kok repot…
    kalo indomienya campur madu, sekalian aja tambah susu pasti rasanya super-duper aneh.

    kalo kiberal gimana di akheratnya ya???

  4. luthfis says:

    oia, an mau nanya bagaimana pendapat antm dengan pluralisme? khususnya pluralismenya ust. Jalaluddin Rakhmat.

  5. musakazhim says:

    Pertanyaan untuk Lutfis: Apa yang Anda maksud dengan pluralismenya Ust. Jalal? Saya sangat tertarik untuk memahaminya, baru mungkin ada ketertarikan untuk menanggapinya. Gmana?

  6. vampir tasya'yu says:

    islib paham terakhir islam, lebih parah dari wahabi, dan kayaknya diperuntukkan bagi persemaian Sufyani, lihat tuh di Mekkah prasarana mereka sudah timbul tanpa sadar, spt sarana hiburan, mall, pub dll, itu mah mirip jahiliyyah, sebelum ada islam, yg tawaf sambil telanjang.

  7. hindin says:

    jika otak anda hang memikirkan islam liberal, apakah posting anda ini hanya untuk melampiaskan hang-nya otak anda yang tidak mengerti Islam?

  8. musakazhim says:

    Otak saya hang karena logikanya jalan. Seperti komputer yang kena virus. Tapi, ada pula otak yang pada dasarnya sudah rusak, jadi tidak berapa terlihat pengaruh virus di dalamnya. Apa mungkin otak Anda dalam kategori kedua? Sudah terlalu rusak, jadi pengaruh kerusakan sudah tidak bisa terlihat lagi. Islam yang Anda pahami itu model apa? Coba jelaskan.

  9. wkkkkkkk bisa aja menggambarkannya….

    tapi mengkutubkan islam dan liberalisme sbg dua kutub yg bersebrangan kayaknya masuk akal juga….

    Indomi campur telur di singkat intel, enak apalagi tambah kornet jadi internet (indomi+telur+kornet) kalo indomi plus madu.. aduh…. Indo-Mad. wkkkkkk

  10. teeway says:

    Waduh… koq gitu aja repot… Islib = Islam kebablasan… kira2 begitu… hancur mina…! jika dunia ini dipenuhi oleh orang2 Islib… Iya tuh, utk Luthfis, maksudnya Pluralismenya Ust. Jalal?

  11. azzanee says:

    setahu saya, JIL menyuarakan demokrasi dan emansipasi wanita. apa salahnya dengan emansipasi? apakah emansipasi wanita bertentangan dengan ajaran Islam?

  12. musakazhim says:

    Emansipasi itu bagus, begitu juga demokrasi. Tapi, semua tujuan bagus dan baik harus dicapai dengan cara yang baik pula. Menghina suatu agama (Islam) dan Nabi demi mencapai emansipasi atau demokrasi itu sama saja dengan membunuh ayam untuk mengambil telur di dalamnya. Itulah ilustrasi berkenaan dengan perilaku komunitas JIL di tengah umat Islam.

  13. londoner says:

    Berjuang melawan kebathilan atau Islam dengan jalan menghalalkan segala cara (liberal) itu tadi sama dengan cuci baju dengan air kencingmu sendiri.

  14. azzanee says:

    hmm.. tetap tidak menjawab pertanyaan.. bentuk penghinaan seperti apa yg dilakukan oleh JIL thd nabi dan agama (Islam)?

    kapitalisme sudah masuk ke berbagai bidang. Arab Saudi pun sudah semakin kapitalis. mau diterima atau tidak, kita sudah hidup dalam liberalisme. kemudahan akses internet yg anda peroleh, juga karena liberalisme.

    sebetulnya konsep liberalisme yg anda pahami itu seperti apa? konsep liberalisme yg mana yg menurut anda bertentangan dgn Islam?

  15. musakazhim says:

    Bentuk penghinaan seperti secara tegas bilang bahwa Nabi tidak akademis, dipengaruhi oleh ilmuwan-ilmuwan Kristen sehingga mengesankan bahwa Nabi tidak transenden, al-Qur’an hanyalah teks mati yang tidak koheren dan kongruen. Dan dua penghinaan ini sudah cukup.
    Liberalisme dan kapitalisme di mana-mana bukan bukti bahwa semua orang tidak bisa menghindarinya atau bahkan melawannya. Argumen Anda ini sama invalidnya dengan orang yang mengatakan karena ketidakadilan sudah merajalela, maka tinggalkan keadilan dan berpihaklah pada kezaliman yang sudah hemegonik dan dominan. Lucu juga ya?

  16. azzanee says:

    ya lucu, karena saya bukan penganut jil, tidak pula mengerti tentang jil, makanya saya bertanya.. artikel jil yg sudah saya baca juga cuma sedikit bung.. pernyataan apa sih yg menunjukkan demikian? bisa minta artikelnya?

    dan satu lagi, jangan terlalu hiperbolis.. karena tanpa anda sadari, anda dapat ‘melawan’ “liberalisme”, justru karena adanya “liberalisme” itu sendiri.. lucu ya?

    memang pembicaraan seperti ini tidak akan pernah selesai, karena konsep liberalisme yg dipahami oleh masyarakat indonesia berbeda2.
    saya bukan pro-jil, bukan anti-jil. hanya mempertanyakan, konsep liberalisme seperti apa yg anda pahami? apakah menurut pemahaman anda, islam menentang liberalisme?

  17. musakazhim says:

    Netral itu memang posisi aman, tidak pro juga tidak anti. Saya baca sedikit saja artikel jil, terutama yang muncul di koran. Dan di situ saya menemukan beberapa pandangan yang merendahkan Nabi dan Al-Qur’an dari para aktivis jil. Kalau mau, tinggal google saja.
    Hiperbolis gmana? Saya yakin kebalikan dari pandangan Anda: tidak mungkin ‘melawan’ liberalisme dengan liberalisme, seperti tidak mungkinnya menindak korupsi dengan korupsi baru. Dan saya adalah termasuk orang yang percaya bahwa cara juga unsur tak terpisahkan dari tujuan.
    Kita ga perlu cari penyelesaian, karena ga perlu settling the score.
    Yg dimaksud di sini adalah Islam yg dipahami secara umum dan liberalisme yg dipahami secara umum, jadi tidak harus masuk dlm nitty-gritty akademis.

  18. azzanee says:

    lah berarti memang iya kan.. dunia sudah semakin liberal kok.. yg saya pertanyakan adalah argumen anda yg mengatakan :

    “Islam Liberal memang dua istilah yang tdk nyambung.”

    kalimat itu seolah2 menyatakan bahwa islam tidak mungkin liberal. ini masalah konsep lho..

    tidak nyambungnya sebelah mana? liberalisme seperti apa yang anda pahami? apakah menurut anda konsep liberalisme bertentangan dengan islam?

    pertanyaan saya sepertinya tidak bersifat akademis. pemahaman pribadi saja kok..

  19. musakazhim says:

    Apanya yang “memang iya”? Dunia sudah liberal itu dari perspektif apa? Bukankah sebagian besar manusia masih hidup di bawah kaki penindasan? Dunia mana atau dunia siapa yang Anda maksud “sudah liberal”? Dunianya orang2 berkecukupan untuk punya internet, atau dunia para korban Lapindo dan senasib mereka? Itu kalo kita mau berprasangka baik bahwa liberal bermakna bebas. Tapi, kalo yang pemahaman umum (common sense) memaknai liberal dalam “Islam liberal” itu lebih sebagai liberalisme, yang berarti ideologi atau paham yang menekankan pada kebebasan sebagai prinsip utama di atas semua prinsip lain. Dan ini jelas ga nyambung dengan Islam yang prinsip utamanya adalah tauhid, dan prinsip kebebasan tidak boleh bertentangan dengan prinsip keadilan dan kemanusiaan. Saya tunggu lanjutannya…

  20. tri santoso says:

    Salam

    Aneh ya komunitas Syiah di Indonesia ini. Mereka melabrak Wahabi, tapi pada saat bersamaan juga ingin menghabisi JIL. Padahal antara JIL dan WAHABI bagaikan langit dan bumi. Mestinya kalau anda memusuhi Wahabi anda harus berkawan dengan JIL, sebab JIL lah satu-satunya kelompok islam di Indonesia yang sangat berani menantang pengaruh Wahabi di Indonesia. Atau sebaliknya, kalau anda ingin menghabisi JIL, anda sebaiknya berkawan dengan Wahabi (yaitu kelompok-kelompok garis keras di indonesia).

    Mungkin anda juga harus tahu bahwa JIL juga selalu membela Syiah di berbagai forum. Bahkan Paramadina, yang membidani kelahiran JIL da ampai sekarang masih knsisten dengan islam liberal, menerima komunitas Syiah dengan besar hati, yaitu membuka ICAS-PARAMADINA, yang ICAS itu sendiri adalah SYIAH.

    Saudara Musa Kadzim juga menjadi dosen di ICAS (Syiah) itu. Tapi anehnya dia tidak malu-malu menghabisi Islam liberal, yang berseumber di paramadina, yang sekarang juga menjadi tempat bernaung ICAS.

    Ada apa gerangan dengan Syiah di Indonesia? kenapa mereka mendua? apakah nanti kalau sudah kuat, perilakunya sama saja dengan Wahabi?

    Wallahu’alam..

    tri santoso

  21. azzanee says:

    menurut saya, masalahnya adalah, tulisan anda terkesan rancu. anda sama sekali tidak menyebutkan kata JIL, anda hanya menyebutkan “islam liberal” (padahal mungkin yang anda maksud dalam tulisan anda adalah JIL). secara logika, dalam tulisan tersebut, anda bukan mempermasalahkan “JIL”, tapi mempermasalahkan “liberalisme”. dalam tulisan itu anda berpendapat bahwa islam tidak mungkin berdampingan dengan liberalisme.

    sebenernya sih saya hanya mempermasalahkan pernyataan anda bahwa : islam dan liberal adalah dua istilah yang tidak nyambung. apa latar belakang anda berpendapat demikian? menurut anda, liberalisme itu apa? apakah islam tidak mungkin liberal?

    setau saya liberalisme-lah yang menyuarakan demokrasi, emansipasi wanita, kebebasan berpendapat, perlindungan terhadap HAM, dll… menurut pemahaman tersebut, liberalisme tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

    menurut saya, akan lain logikanya apabila anda secara tegas menekankan bahwa yang anda maksud dalam artikel tersebut adalah JIL. jadi, sebenarnya, anda mempermasalahkan “liberalisme” atau mempermasalahkan “JIL”?. sebetulnya, ini masalah logika dan konsep penulisan. masalah akademis juga lho..

  22. MK says:

    Terkesan rancu apa rancu? Kalo terkesan rancu, berarti kesan yang sebenarnya hanya ada dalam pikiran Anda itu saja yang dihapus. Gitu aja kok repot…
    JIL itu bagian dari “Islam Liberal”. Hukum yang kita berikan untuk keseluruhan (“Islam Liberal”) bisa–secara lebih kuat–kita kenakan pada bagian. Atau jangan2 Anda tdk pernah tau prinsip akal sehat yang berbunyi, “Sebagian lebih kecil dari keseluruhan”, sehingga Anda tidak tahu bahwa JIL sebagai bagian dari gerakan Islam Liberal bisa dihukumi sesuai dengan hukum keseluruhan. Atau saya yang terlalu akademis dan teknis dan matematis dalam membahas masalah ini untuk Anda.
    Tolong jawab?

  23. tri santoso says:

    Bagi saya, Islam liberal atau JILatau Paramadina atau P3M atau LKiS atau ICIP atau Lakpesdam dll, sama saja, sebab mereka semua mengusung apa yang dikenal sebagai nilai-nilai liberal, yaitu demokrasi, penghargaan terhadap kebebasan individu, kebebasan beragama, toleransi, kesetaraan jender. Jadi secara singkatnya kalau anda menolak islam liberal artinya anda menolak semua nilai-nilai tersebut.

    Menurut saya Islam itu cocok dengan nilai-nilai liberal, dan bahkan mendukungnya. Hanya kaum fundamentalis dan puritan (terutama Wahabi) yang menolak nilai-nilai liberal, karena menurut mereka tidak ada dalam al-Quran dan hadis. Padahal masalahnya mereka hanya membaca al-Quran secara literal.

    Saya kira tokoh-tokoh bergaris Syiah di Indonesia seperti kang Jalal, Haidar Bagir, dan beberapa nama lain, sangat menjunjung tinggi nilai-nilai liberal tersebut dan mereka berkawan dengan kalangan mulism liberal. Kalau anda tidak suka dengan sebutan liberal jangan lantas mengatakan ‘liberal’ itu bertentangan dengan Islam. Nasr Hamid Abu Zaid menyatakan bahwa banyak sekali orang Islam yang bangga disebut liberal. Cak Nur bahkan pernah mengatakan bahwa al-Quran itu sangat liberal karena dalam banyak ayatnya mengakui kebenaran agama-agama lain, menjunjung tinggi kebebasan beragama: faman sya’a fal yu’min wa man sya’a fal yakfur. Itu adalah nilai-nilai lberal.

    Go to hell with Wahhabi. Hidup Islam liberal. Karena dengan nilai-nilai liberal itu banyak orang islam yang masih berpegang pada agamanya. kalau semua pandangan seperti Wahabi yang keras dan kaku, bahkan keji, maka sudah pasti byk orang yang lari dari islam. Saya mungkin yang pertama akan keluar dari Islam. hehe..

    Salam
    Tri Santoso

  24. musakazhim says:

    Mas Tri

    Terus terang, saya sepakat dengan komentar Anda, terutama yang berkaitan dengan Wahabisme. Begitu banyak saya sudah menulis tentang masalah ini, terutama berkenaan dengan pola pengkafiran mereka yang jelas2 bertentangan secara diametrikal dengan nilai2 agama dan kemanusiaan.

    Islam sangat mendukung kebebasan. Bahkan, kebebasan itu adalah kendaraan yang sine qua non. Tapi, liberalisme itu soal lain. Saya tdk perlu mereiterasi lagi soal ini, lantaran sudah saya ulang2 di beberapa komentar sebelumnya. Bisa jadi pleonasme yang membosankan jika saya mengulang-ulang lagi soal ini.

    Saya rasa, berdasarkan informasi yang saya terima, Cak Nur bukan termasuk Islam Liberal. Sebentar lagi kawan saya, Deden Ridwan, akan menulis buku dengan judul, “Cak Nur bukan IsLib”. Berbagai data dalam buku itu juga bisa kita jadikan pijakan.

    Haidar Bagir juga bukan IsLib. Bahkan, saya tahu persis dia sempat sangat gerah bila hadir di seminar yang mendatangkan pembicara dari IsLib atau membaca tulisan orang2 IsLib di media massa.

    Saya rasa problem utamanya adalah pada retorika para aktivis IsLib atau JIL yang terlalu sinis dan terkadang sarkastis saat berbicara tentang kesakralan2 Islam.

    Persis karena retorika ini pula, saya harus menegaskan perbedaan Syiah dengan IsLib atau JIL. Ekstremisme Wahabi tidak bisa dilawan dengan ekstremisme JIL. Bila itu yang terjadi, maka saya rasa ada yang mendesain konflik ini. Artinya, IsLib datang untuk memperkuat kebutuhan masyarakat akan Wahabisme, sehingga Wahabisme menjadi relevan karena adanya Islam LIberal. Satu-satunya metode untuk melawan dan menghilangkan raison d’etre Wahabisme adalah dengan rasionalisme dan realisme, dua basis Islam.

    Wahabisme tidak bisa dilawan dengan Islam Liberal, apalagi kalau di antara aktivis dan pimpinannya yang secara jelas berbangga tidak berpuasa di bulan Ramadhan dan perbuatan2 sejenisnya yang sangat destruktif.

    Umat ini sudah hipersensitif, dan sedikit provokasi sudah lebih dari cukup untuk membuat mereka terbakar api amarah yang pada akhirnya akan semakin mejauhkan mereka dari Islam yang sejati, Islam yang mengimbau fitrah dan akal sehat.

  25. tri santoso says:

    Jika benar teman anda itu menulis buku “Cak Nur bukan Islam Liberal” berarti dia tidak mengerti Cak Nur, karena Cak Nur lah orang pertama yang memperkenalkan Islam Liberal di Indonesia. Lihat sub judul makalahnya di tahun 70an tentang “Perlunya Kelompok Pembaharu yang Liberal”.

    Jika dia tidak suka dengan JIL atau islib yang ada sekarang, itu hak dia. Tapi dia tidak bisa mengelabui orang dengan mengatakan bahwa Cak Nur bukan islam liberal. Saya kira orang-orang mengagumi Cak Nur justru karena keliberalannya. Ternasuk saya.

    Saya sering bertemu orang-orang JIL di surabaya dan mereka tidak seperti yang dikesankan sebagai menghina islam atau nabi atau hal-hal yang sakral. Itu tidak benar. Dengan caranya sendiri, mereka ingin memuliakan Islam; mereka menganjurkan Islam yang damai dan toleran; kalau mereka terkadang keras dan sarkastik saya bisa memahami karena mereka adalah anak-anak muda, dan lagi “musuh” yang mereka hadapi adalah orang-orang galak yang siap berjihad.

    Masalah puasa dan tidak puasa dibulan ramadan saya kira tidak relevan untuk diangkat karena itu persoalan pribadi, bukan masalah sosial. Saya akan tersinggung kalau diperintah shalat, misalnya, karena itu soal privasi saya. Mau salat atau tidak itu urusan saya. begitu juga puasa. Saya dan teman-teman JIL juga tidak pernah mempersoalkan orang-orang Syiah itu mau salat JUmat atau tidak.

    Meski tidak setuju seluruhnya dengan pandangan JIL atau Islam lberal, tapi saya sangat menghargai mereka karena mereka tidak mengejek orang lain (kecuali terhadap kelompok radikal pembajak agama).Tapi pemikir dan filsuf sperti anda dengan mudah “mengkafirkan” kelompok liberal seperti perilaku kaum Wahabi yang anda kritikin.

  26. azzanee says:

    Ya rancu, karena dalam tulisan tersebut, anda menyalahkan “liberalisme”, bukan menyalahkan “JIL” secara spesifik, dan anda secara tegas menyatakan bahwa : Islam dan liberalisme tidak mungkin berdampingan.

    Pernyataan anda inilah yg saya pertanyakan. Apakah menurut anda islam menentang liberalisme? Ini masalah prinsip bung.. Maaf kalau pertanyaan ini saya ulang2, karena anda tidak pernah memberikan jawaban secara tegas.

    Secara pribadi, saya setuju dengan komentar bung Tri Santoso mengenai prinsip2 liberalisme yg juga terkandung dalam ajaran islam.

    dari bung Tri :

    “Meski tidak setuju seluruhnya dengan pandangan JIL atau Islam lberal, tapi saya sangat menghargai mereka karena mereka tidak mengejek orang lain (kecuali terhadap kelompok radikal pembajak agama).Tapi pemikir dan filsuf sperti anda dengan mudah “mengkafirkan” kelompok liberal seperti perilaku kaum Wahabi yang anda kritikin.”

    Setuju ….. memangnya ada apa dengan “perbedaan”? Bukankah hikmah dari perbedaan adalah agar manusia saling bertoleransi? Agar saling mengingatkan (tapi bukan dengan menghujat). Perbedaan ada dimana2 bung. Menurut saya, ketidakmampuan umat muslim dalam menerima perbedaan (dalam agamanya sendiri) adalah hambatan utama bagi bersatunya umat muslim.

    PS : Walaupun sebagian adalah lebih kecil dari keseluruhan, apakah sebagian harus dihujat? Sementara itu, keseluruhan juga belum tentu selalu menjadi pihak yang benar. Siapa yg menentukan sebagian adalah benar atau salah? Anda atau Tuhan?
    Jika merasa paling benar, anda boleh ‘mengingatkan’ bung, tapi ada cara2 lain yang lebih “santun” daripada sekedar menghakimi.

    Salam.

  27. Taufan says:

    Liberal itu apa ya? Kapitalis itu apa ya? Apakah negara yang Liberal sudah pasti Kapitalis ya? Trus Komunis itu apa ya? Apa negara Komunis sudah pasti sosialis? Trus Pancasila itu apa? Apakah negara Pancasilais ga bisa nampung orang komunis dan liberalis ya, kok dua-duanya ada? Apakah liberal itu dosa? Apakah orang komunis pasti Atheis dan berdosa? Trus di Negara kita banyak yang pake baju koko tu, trus korupsi. Dosa ga ya? Bingung ni Uztad!!!
    Apa emang hang juga ya?

  28. londoner says:

    PS : Walaupun sebagian adalah lebih kecil dari keseluruhan, apakah sebagian harus dihujat? Sementara itu, keseluruhan juga belum tentu selalu menjadi pihak yang benar. Siapa yg menentukan sebagian adalah benar atau salah? Anda atau Tuhan?
    Jika merasa paling benar, anda boleh ‘mengingatkan’ bung, tapi ada cara2 lain yang lebih “santun” daripada sekedar menghakimi

    comentar PSnya..
    yang dikatakan keseluruhan adalah tirani mayoritas, dalam istilah hukum yang kecil sebaliknya pula atau dikatakan tirani minoritas… anda setuju demokrasi? maka suara terbanyak adalah suara mayoritas… yang lebih kecil ya ikut saja…

    masalah hujat menghujat kembali kepada hukum alam yang besar selalu menindas yang lemah (banyak contonhnya), kalau saya bicara hukum alam maka anda akan sulit membantahnya. Siapa yang benar atau tidak bukanlah manusia yang menjadi “TUHAN” tapi ada pendelegasian tugas TUHAN tadi sebagai manusia yang berakal yang menentukan, tidak pula untuk menghakimi.

    Trims

  29. f.salika says:

    Kelahiran islam liberal sebenarnya adalah anti thesa dari kelahiran para “fundamentalis” yg mengaku beragama islam dan mengatasnamakan islam dalam segenap aksi penghancuran yang mereka lakukan. Saya banyak menelaah mengenai islam liberal, dan menurut saya mereka hanya ingin “memanusiakan” agama yang selama ini terlalu tinggi karena banyak bahasa dewa yang disalahartikan.

    Memang kedepannya banyak yang salah menerapkan filsafat dasarnya dengan tidak melakukan sholat, salah satunya, ini pun saya sama sekali tidak menyetujuinya karena apapun alasannya, sebelum nabi wafat pun sholat disebut 3x….

    Saya tetap mendukung adanya pemikiran ini, toh pada akhirnya cuma Allah yang bisa menilai bagaimana…

  30. denjaka syiah says:

    Antara islam liberal dan wahabi terjadi suatu hubungan simbiosis. Hubungan simbiosis itu adalah simbiosis mutualisma, atau saling menguntungkan. Karena suatu sistem membutuhkan kredibilitas untuk melegitimasi identitas sistem itu atau ideologi itu. Islib membutuhkan kejumudan wahabi, untuk menonjolkan liberalisme, pluralisme. dll. Demikian pula wahabi membutuhkan islib untuk menampilkan kezuhudan, kewaraan mereka.

  31. uanghp says:

    islam liberal, lebih tepat ibarat, racun campur madu.

    kalo indomie sih masih enak, tambah madu masih enak.

    kalo racun, ya mati, biar ditambah madu.

    Islam itu punya konsep hidup sendiri yg sangat lengkap dan beda dengan liberalisme atau komunisme.

    pendiri islib sendiri orang Barat dan mbah GusDur & Ahmad Dani ikut di dalamnya. silahkan kunjungi situs mereka:

    http://www.islamlib.com

  32. andy setyawan says:

    selama ini, kalo denger tentang islam liberal atau ikut-ikutan diskusi tentangnya, saya sering pengen ‘ngamuk/uring-uringan’. tapi kali ini salut buat yang punya blog, walau tulisannya singkat tapi bisa buat kita tersenyum. emang aneh ya… otak orang-orang islib udah error kali ya, atau emang tidak punya otak, sehingga latah dan jadi budak orang barat. duh kacian……. mau dibawa kemana agamaku?? ngeriiii dech…

  33. andy setyawan says:

    buat mbak/mas f.salika… maaf ni ya… bukannya saya ngerasa paling benar. saya pun mengakui kalo saya manusia yang punya salah. tapi saya cuma ngajak merenung… tegakah kita membiarkan orang-orang yang berani menentang Allah? kalo ditelusuri sejarahnya juga, islam liberal khan cikal bakalnya juga dari agen-agen barat yang ada di indonesia. apa kita nggak khawatir kalo islam liberal emang kaki tangan barat untuk menghancurkan islam di indonesia? kita orang islam, tegakah kita dengan hal ini??saya tak begitu suka bicara sok ilmiah, saya cuma pengen ngajak merenung dari hati yang paling dalam… bertanya kepada nurani, karena itulah fitrah kita yang suci, fitrah yang diciptakan untuk bersyahadat, mengakui kekuasaan Allah dan tunduk kepada-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s