Banyak vs. Berguna

Suatu kali teman saya bertanya, “Apa yang kau mau dari hidup sesingkat ini di dunia?”

Saya jawab, “Banyak.”

Teman itu tersenyum… “Sebanyak apa?”

“Sebanyak mungkin.”

“Biasanya, orang yang memulai dengan keinginan untuk ‘berbuat banyak’ berakhir dengan ‘berbuat yang tdk berguna’,” tukasnya.

Pada titik ini saya berhenti berbicara, dan mulai berpikir.

Saya sendiri sering menemukan kesalahan ini pada orang: punya banyak keinginan, tapi tidak satu pun yang berguna, bahkan untuk dirinya sendiri. Dari sini, saya menemukan bahwa sikap hidup yang benar bukanlah ‘banyak berbuat’ tapi ‘berbuat yang berguna’.

Para ahli yoga dan pernapasan sering mengajarkan bernapas yang benar dengan cara mengaturnya, bahkan menahannya bila diperlukan. Mereka tdk mengajarkan kita untuk memperbanyak tarikan dan buangan napas, tapi mengaturnya sehingga kita mendapatkan pola napas yang benar. Banyak napas bukan pertanda ahli pernapasan, tapi malah pertanda orang yang sedang terengah-engah, kehabisan napas.

Saya punya teman yang sehari-harinya sibuk tujuh keliling. Tapi, kesibukannya tdk banyak berguna. Targetnya tdk menjadi lebih cepat tercapai dengan memperbanyak aktivitas. Karena, yang benar adalah bahwa target bisa dicapai lebih cepat dengan langkah yang tepat, berguna dan efektif. Bukan dengan memperbanyak dan mempercepat langkah.

Dunia modern terjebak pada kesalahan berpikir ini: obsesi pada kecepatan! Dromosofi. Tapi, pada saat yang sama, pola pikir filosofis, yang menjadi bahan seseorang merancang orientasi diketepikan.

Kalau para guru dan mubalig mempunyai sikap seperti ini, maka mungkin pelajaran dan pesan yang mereka kemukakan bisa lebih efektif. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya: mereka terlalu banyak berbicara dan mengajar, sehingga pelajaran dan pesan itu tidak tersampaikan secara efektif.

Advertisements

2 thoughts on “Banyak vs. Berguna

  1. Pada sisi lain, banyak kegiatan adalah pola eksistensi sebagian orang yg stres karna blom punya pendapatan rutin. Dengan cara “tebar jala”, maka diharpkan akan ada suatu usaha yg membuahkan hasil. Lebih tepatnya mungkin bukan tentang banyak atau sedikitnya kerja karna ukuran2 spt itu relatif, melainkan fokus dan konsistennya. Segala hal yg dikerjakan secara fokus dan konsisten niscaya akan membuahkan hasil. Tuhan juga gitu, lebih senang sama orang yg ibadah sedikit tp tekun daripada banyak tp langsung muntah karna kekenyangan.

  2. musakazhim says:

    Saya setuju. Kunci keberhasilan memang konsistensi, atau istiqomah dlm bahasa Islam. Katanya, istiqomah lebih utama daripada seribu kekeramatan. Nah, tulisan di atas ingin mengajak pikiran kita bertanya: Alangkah hebatnya bila kita bisa konsisten dengan perbuatan yang berguna, bukan sekadar banyak-banyakan berbuat? Gmana, adit aja?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s