Semua Agama itu Islam

Salah satu persoalan yang senantiasa menghantui pikiran dan perasaan manusia adalah tujuan penciptaan alam semesta, terutama tujuan penciptaan manusia. Ppersoalan inilah yang melahirkan filsafat dan cara berpikir filosofis dalam pentas sejarah manusia. Terhadap persoalan ini, berbagai aliran menawarkan jawaban yang berbeda-beda, sesuai dengan dasar pijakannya masing-masing.

Kaum materialis, dengan berbagai kembangan dan turunannya, merumuskan tujuan penciptaan alam dalam batasan ruang dan waktu. Bagi mereka, sebagaimana alam semesta ini terbatas pada apa yang terindra dan terukur, demikian pula dengan tujuan penciptaannya. Kebahagiaan, kesejahteraan, kekayaan, dan keberhasilan, semuanya terkait dengan konteks now-and-here. Hal-hal di luar itu dianggap nonsens, tidak bermakna atau setidaknya tidak dapat diungkapkan. Para ilmuwan dan pemikir yang menyangkal kehadiran wilayah imaterial-Ilahi di alam semesta cenderung untuk terpesona oleh gagasan penciptaan alam secara kebetulan.

Bertolak dari pandangan tersebut, sejumlah pertanyaan sulit muncul: Mengapa ada alam semesta? Mengapa alam semesta seperti ini? Mengapa benda-benda berbentuk demikian? Menghadapi berbagai pertanyaan itu, seorang materialis akan merasakan keresahan eksistensial yang mendalam. Dan pada gilirannya ia akan tergiring untuk memilih jalan hidup yang absurdis dan nihilis. Mengutip ungkapan Ian Barbour,

“Tidaklah mengejutkan bahwa beberapa saintis dan filosof yang terkesan dengan peran kebetulan (dalam penciptaan alam semesta) mengarah ke penolakan terhadap teisme (kepercayaan kepada Tuhan). Mereka memandang kehidupan sebagai hasil keebtulan, dan mereka berasumsi bahwa kebetulan dan teisme tidak dapat dipertemukan. Sementara respons terhadap desain Ilahi (dalam pandangan kaum yang bertuhan) adalah berupa syukur dan terima kasih, respons terhadap kebetulan adalah perasaan berupa kesia-siaan dan keterasingan kosmik.”[1]

Seolah membenarkan perkataan Ian Barbour, Richard Dawkins, seorang ilmuwan materialis yang mengarang buku berjudul River out of Eden, menulis, “Dalam alam semesta yang buta terhadap gaya fisika dan replikasi genetis, sebagian orang sengsara, dan sebagian lain bahagia. Anda tidak sulit menemukan irama atau nalar atas fakta ini. Tidak ada keadilan. Alam semesta yang kita amati benar-benar mempunyai sifat-sifat yang mencerminkan tanpa desain, tanpa tujuan, tanpa kejahatan, dan tanpa kebaikan. Tidak ada watak yang lain kecuali tak peduli, buta, dan tak berperasaan… DNA tidak peduli. Begitulah DNA. Dan kita menari mengikuti musiknya.”[2]

Berbeda dengan itu, kalangan bertuhan (teist) meyakini adanya tujuan umum yang terkait dengan penciptaan segala sesuatu dan tujuan khusus yang terkait dengan tiap-tiap ciptaan. Tujuan umum penciptaan ialah pemaparan dan pengungkapan faydh (pancaran sinar) Ilahi, sedangkan tujuan khususnya ialah penyempurnaan yang sesuai dengan kemampuan masing-masing.* Dalam surah Al-Imran ayat 191, orang-orang yang bertuhan menyatakan:

Segala puji bagi-Mu, wahai Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia.

Menurut pandangan kaum bertuhan, alam raya diciptakan oleh dan didasarkan pada Al-Haqq. Secara bahasa, al-haqq berarti tsabat (kekukuhan dan keteguhan). Secara istilah, pengertian al-haqq tetap mengungkapkan hakikat kekukuhan dan keteguhan. Berikut beberapa pengertian al-haqq dalam tataguna bahasa Arab: 1. dalam kaitan dengan Allah Swt., al-Haqq berarti Wujud yang Niscaya-ada; 2. dalam kaitan dengan kepercayaan, al-haqq berarti kepercayaan yang lurus dan benar, lawan dari kepercayaan yang batil dan menyimpang; 3. dalam kaitan dengan perkataan, al-haqq berarti kejujuran yang sesuai dengan kenyataan; 4. dalam kaitan dengan tindakan, al-haqq berarti tindakan yang bernilai dan bertujuan bijaksana; dan 5. adakalanya al-haqq digunakan dalam arti hak konvensional (right), seperti dalam konteks hak asasi manusia, hak milik, hak guna, hak pakai, hak rakyat atas penguasa dan sebagainya. Semua hak konvensional hanya ada dalam ruang sosial manusia.

Lawan dari kata al-haqq dalam pengertian keempat ialah ‘abats (kesia-siaan). Sehubungan dengan itu Allah berfirman:

Apakah kalian menyangka bahwa Kami menciptakan kalian secara sia-sia (‘abatsan) dan bahwa kalian tidak akan kembali kepada Kami.” (QS Al-Mu`minun: 115).

Ketika berbicara tentang penciptaan, Allah berfirman,

Dialah (Allah) yang telah menciptakan lelangit dan bumi dengan Al-Haqq.” (QS Al-An’am: 73)

Dalam ayat-ayat tersebut, Allah hendak menggugah kesadaran manusia agar merenungkan penciptaan dirinya: benarkan semua ini hanya ‘abats, tidak punya maksud tertentu? Apakah kalian menyangka bahwa kehidupan ini akan berakhir di sini, dan tidak akan “dikembalikan” ke sisi Allah? Apakah kalian menyangka bahwa penciptaan alam ini hanyalah bersifat lahiriah dan fisik semata?

Dalam ayat lain Allah berfirman,

“Dan sesungguhnya tidaklah Kami menciptakan langit-langit dan bumi dan segala apa yang ada di antaranya dengan main-main * Tidaklah kami menjadikannya kecuali dengan Al-Haqq (QS Ad-Dukhan: 38-39).

Menjawab tujuan penciptaan manusia dan jin, Allah berfirman,

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS Adz-Dzariyaat: 56).

Penyembahan dan ibadah yang tercantum dalam ayat di atas tentunya mempunyai makna yang bertingkat-tingkat, dan setiap orang boleh memaknainya sesuai dengan tingkat pengetahuan dan pengalamannya. Dalam bahasa saintis, ibadah ini berarti kegiatan berevolusi secara alamiah. Mengikuti pandangan ini, penyebahan berarti gerak evolusioner manusia dari ketakteraturan (chaos) dan potensialitas murni menuju kepada Tuhan sebagai Perancang aturan dan Penyampai informasi.[3] Neils Gregersen menunjukkan bahwa pandangan semacam ini konsisten dengan perintah Tuhan dalam Kitab Kejadian (Genesis):

“Hendaklan air mengeluarkan sekawanan makhluk hidup…Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata, dan segala jenis binatang liar…Beranak cuculah dan bertambah banyaklah.”[4]

Seperti dengan mudah dapat kita lihat, ketidakteraturan atau potensi tidak-terukur merupakan penggerak seluruh makhluk berpegang dan bergelayut kepada Sang Pencpta. Betapapun makhluk atau hamba tidak akan mampu mendekat, tetapi fitrah semua makhluk ialah untuk tergerak mendekati Allah. Segala sesuatu, dengan caranya sendiri-sendiri, akan menghampiri Pusat Wujud agar senantiasa dapat terhubungkan dengan-Nya.

Nemun demikian, hamba harus selalu sadar akan keterbatasan dirinya. Dalam menempuh lika-liku jalan menuju Pusat, hamba harus selalu menghayati sifat-hakikinya sebagai hamba, dan tidak lupa akan hakikat itu. Begitulah maksud kata-kata Imam Ali berikut:

“Siapa saja yang, dengan cara apa pun, memusatkan seluruh perhatiannya dan memutar otaknya, untuk mengetahui bagaimana cara-Mu menegakkan ‘arsy-Mu, bagaimana Kauciptakan segala ciptaan-Mu, bagaimana Kaubentangkan bumi-Mu di atas gelombang air…, siapa saja yang berusaha mengetahui itu semua, pandangannya pasti akan kembali dengan kegagalan, dalam keadaan letih lesu, akalnya tercengang terpesona, pendengarannya kebingungan dan pikirannya terheran-heran.”[5]

Kata-kata Imam Ali tentang pandangan yang kembali dalam kepayahan dan keletihan ini sesungguhnya merujuk pada ayat berikut:

Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu yang cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.” (QS Al-Mulk: 4).

Ayat di atas hendak menunjukkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu secara sedemikian teratur dan sempurnanya sehingga tampak begitu misterius, tak teratur, chaotic. Misteri dan chaos inilah yang menggetarkan hati dan meluruhkan jiwa manusia, membuatnya terdiam dan terkesima, sehingga ia menjadi tertunduk diam dan tersungkur malu di hadapan Allah. Dalam keadaan seperti itu, manusia akan terus berupaya meneguhkan jatidirinya sebagai hamba, ‘abd, yang papa, lemah, bodoh dan sebagainya.

Menurut para sufi, dalam menapaki jalan menuju Allah, manusia akan menemukan Sifat-sifat Jalaliyyah (Keagungan) dan Jamaliyyah (Keindahan) Allah. Kedua kategori Sifat Ilahi ini akan melahirkan keseimbangkan antara ketakjuban dan keakraban, ketakutan dan harapan sang hamba kepada Allah. Ini berimplikasi bahwa hamba harus selalu membangun hubungannya dengan Allah secara seimbang. Hamba harus takut kepada Allah, tetapi tidak berputus-asa kepada-Nya.

Demikianlah, puncak tasawuf sebenarnya adalah realisasi (tahaqquq) dan penghayatan terhadap kehambaan kepada Allah. Dalam mencapai kehambaan itu, sebagian sufi (seperti Al-Ghazali) menekankan ketakutan, sementara sebagian lain (seperti Jalaluddin Rumi) menekankan kecintaan. Penekanan ini, lagi-lagi, sangat terkait dengan tingkat pemahaman dan pengalaman kita menuju kepada Allah. Oleh sebab itu, tasawuf Islam mengajarkan kepasrahan (islam) kepada Allah. Dan dalam keadaan pasrah inilah hamba akan merasa damai (salam) ketika menemukan sisi menakutkan dan sisi yang melahirkan cinta kepada Allah. Kepasrahan adalah syarat mutlak bagi manusia untuk dapat mempertahankan perilaku baik di dunia dan hati damai (qalbun salim) saat berjumpa dengan Allah (QS Asy-Syu’araa: 89). Itulah sebabnya Al-Quran menyebut Islam (kepasrahan dan penyerahan) sebagai agama yang dianut semua nabi. Allah berfirman:

Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kalian sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab: ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibarhim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh (muslim) kepada-Nya.’”

Dalam ayat lain, Allah berfirman:

Sesungguhnya agama di sisi Allah (hanyalah) Islam.” (QS Ali Imran: 19)

Dalam ayat lain, Allah berfirman:

Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk ornag-orang yang merugi.” (QS Ali Imran: 85).

Islam tidak saja berarti kepasrahan (taslim), melainkan juga berarti kedamaian (salam), sebagaimana keimanan (iman) mengandung arti rasa aman dan tenteram (amn). Dengan demikian, kepasrahan dalam Islam tidak hanya akan melahirkan ketundukan dan kepasifan dalam diri seseorang, tetapi juga akan melahirkan keimanan yang menenteramkan dan menyejahterakan.[6]


[1] Ian Barbour, Juru Bicara Tuhan, Mizan, 2002, hal. 141.

[2] Richard Dawkins, River out of Eden, Basic Books, New York, 1995, hal. 133.

* Para ahli makrifat mendefinisikan Keadilan Ilahi sebagai “I’tha` kulli dzi musta’iddin bima yasta’iddu lahu (memberi sesuatu sesuai dengan kapasitas dan potensinya)”, berbeda dengan keadilan manusia yang didefinisikan sebagai: “I’tha` kulli dzi haqqin haqqahu (memberikan hak kepada yang berhak).”

[3] Lebih jauh, lihat Ian Barbour, Juru Bicara Tuhan, Mizan, 2002, Bab 6.

[4] Ibid. hal. 297.

[5] Imam Ali, Mutiara Nahjul Balaghah, Mizan, 1993, hal. 26.

[6] Untuk lebih jauh mengenai buah dan pengaruh keyakinan agama pada seseorang, lihat Murtadha Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta: Konsepsi Islam tentang Jagat Raya, (Lentera, 2002), khususnya pada Bab 3.

Advertisements

14 thoughts on “Semua Agama itu Islam

  1. Salam Kenal,

    Saya tertarik dengan artikel tulisan yang anda posting di blog pribadi anda ini.

    Saya mungkin adalah salah seorang yang masih concern menyelidiki agama-agama di dunia ini (di antara orang yang cenderung tidak peduli dengan agama).

    Saya ingin bertanya bbrp hal tentang Islam kpd anda, krn sepertinya anda adalah seorang cendikiawan Islam.

    – Anda mungkin pernah dengar bahwa ada 3 agama samawi (agama langit) yang mengklaim bhw kitab sucinya berasal dari ilham atau wahyu Tuhan Allah. Ketiga agama samawi tsb adalah: agama Judaisme/Yahudi, Nasrani/Kristen & Islam/Muslim. Nah timbul pertanyaan, dari ketiga agama samawi itu mana yang memiliki kitab suci yg benar-benar kanonik, kredible serta terilham? apa dasarnya anda memilih salah satu kitab dari ketiga agama samawi itu?

    – Saya pernah baca artikel tentang seorang pendeta kristen yang bernama Warakah Bin Naufal, yang konon katanya mengukuhkan kenabian Muhammad SAW, siapa sih sebenarnya “Waraqah Bin Naufal” itu, dan apakah ada kontribusinya dalam penulisan Al-Quran?

    – Benarkah nabi Muhammad itu buta huruf seperti yang pernah saya baca dari buku sejarah Islam? jika demikian bagaimana nabi Muhammad menuliskan ayat-ayat ke dalam Al-Quran hingga terkumpul menjadi kitab Quran seperti sekarang ini? dan bagaimana anda yakin bhw penulisan kitab tersebut kredibel hanya dengan diturunkan secara lisan oleh sang nabi?

    – AlQuran mengakui keabsahan kitab-kitab suci sebelumnya, seperti Taurat, Zabur dan Injil. Lalu mengapa harus diturunkan kitab baru lagi/Quran kalau kitab suci sebelumnya itu sah dan kredibel?

    – Apakah Hadits itu kanonik dan bisa dibuktikan kebenaran dan keasliannya, jika bisa bagaimana caranya kita membuktikan sah tidaknya sebuah hadits? hadits mana saja yang bisa dikatakan sah dan mana yang tidak?

    – Bagaimana sebenarnya persisnya sejarah upacara ibadah haji di Mekkah hingga seperti sekarang, karena saya pernah baca bhw dulu kiblat sempat arahnya ke baitul maqdis di Yerusalem sebelum akhirnya ke Mekkah.

    – Saya pernah membaca sejarah bahwa dahulu kala di sekeliling kabah ada 360 berhala yang masing2 mewakili 1 hari komariah, namun belakangan berhala tersebut dirubuhkan, namun masih tersisa satu “berhala” yaitu batu Hazar Aswad. Benarkah demikian?

    – Apa sebenarnya fungsi batu meteorit hitam (Hajar Aswad) yang terdapat di dalam Ka’bah itu, khususnya terkait dengan segi ibadah haji.
    Kalau saya tidak salah dalam hukum Islam ada istilah Musryik (atau larangan penyembahan berhala / nyembah patung-patung / animisme), bagaimana kaitannya dengan batu meteorit hitam yang dicium oleh setiap jemaah haji setelah mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali.

    Demikian pertanyaan awal dari saya, mohon maaf jika ada komentar saya yang kurang berkenan, terimakasih atas perhatiannya.

    Salam,
    Ronald T. Gultom
    —————-
    http://www.rotogu.blogspot.com

  2. musakazhim says:

    Salam kenal,

    Saya sangat bersyukur kepada Allah yang Maha Kuasa yang telah mempertemukan kita di tempat (maya) ini. Saya sangat terkesan dengan kelancaran rangkaian pertanyaan Anda. Jelas Anda bukan orang awam, tapi etrpelajar dan terdidik. Jadi saya pasti juga akan bisa banyak belajar dari Anda.
    Saya tdk akan lancang menjawab sebelum saya baca segala sesuatunya secara seksama. Ini juga sebagai apresiasi kepada Anda. Mohon kesediaan untuk bersabar beberapa waktu, agar jawaban atau tanggapan yang akan saya berikan bisa benar2 memuaskan saya dan sekaligus Anda.
    Untuk saat ini, ucapan salam kenal dahulu. Dlm waktu dekat saya akan mencoba menanggapi dan mendiskusikan tiap2 pertanyaan yang Anda ajukan.

  3. 3M says:

    (karena pertanyaannya panjang, tolong di setting ulang spasi-spasinya sebelum di approved, thanks)

    Salam kenal,

    Dua hari lalu saya baca pertanyaan ini dan kalau pemilik blog tidak keberatan saya mau ikutan sedikit. Terimas kasih sebelumnya.

    1. Anda mungkin pernah dengar bahwa ada 3 agama samawi (agama langit) yang mengklaim bhw kitab sucinya berasal dari ilham atau wahyu Tuhan Allah. Ketiga agama samawi tsb adalah: agama Judaisme/Yahudi, Nasrani/Kristen & Islam/Muslim. Nah timbul pertanyaan, dari ketiga agama samawi itu mana yang memiliki kitab suci yg benar-benar kanonik, kredible serta terilham? apa dasarnya anda memilih salah satu kitab dari ketiga agama samawi itu?

    Tanggapan saya:

    Pertama-tama, kata kitab suci berarti suci atau bersih dari segala kesalahan dan kekeliruan, sehingga kita tidak bisa menyebut suatu kitab itu suci, jika di dalamnya masih ada berbagai keterangan yang saling kontradiktif antara satu dengan lainnya atau bertentangan dengan kaidah berpikir yang logis. Suatu kitab suci yang di klaim berasal dari Tuhan seharusnya mrupakan sumber kebenaran dan pemandu kehidupan manusia. Pada dasarnya, sebelum suatu “kitab suci” bisa dinyatakan sebagai kitab ilahi, suci , terilhami dan lain sebagainya, maka secara logis ia harus berdiri di atas prinsip non-kontradiksi. Sehubungan dengan kontek ini, satu-satunya kitab suci (agama langit) yang berdiri di atas prinsip non-kontradiksi hanyalah Al-Qur’an, seperti yang ia nyatakan sendiri di salah satu ayatnya, yaitu:
    “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau sekiranya bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. 4: 82)
    Tanpa harus memasuki topik khusus seputar era pengkodefikasian Alkitab yang baru rampung di awal abad ke 4, disertai hirup-pikuk yang terjadi sejak 350 tahun sebelumnya, atau memaparkan ayat-ayatnya yang kontradiktif ataupun me-listing sedertan pengakuan cendikia mereka sendiri mengenai adanya copyist error, maka saya harap jawaban ini bisa menjadi masukan tambahan.

    2. Saya pernah baca artikel tentang seorang pendeta kristen yang bernama Warakah Bin Naufal, yang konon katanya mengukuhkan kenabian Muhammad SAW, siapa sih sebenarnya “Waraqah Bin Naufal” itu, dan apakah ada kontribusinya dalam penulisan Al-Quran?
    Tanggapan Saya:
    Kisah Waraqah bin Naufal dan keterlibatannya di dalam membenarkan kenabian Muhammad saw tidak diakui sebagai kebenaran di kalangan intelektual Muslim (secara khusus) atau umat Muslim (secara umum). Tapi kisah itu lebih diposisikan sebagai bagian dari sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw yang boleh diterima atau tidak. Artinya, kisah ini tidak mengikat dalam konteks akidah Muslim. Bahkan menurut beberapa sejarawan Muslim, kisah itu dianggap bermasalah, baik dari segi riwayat, penyampai riwayat dan juga substansi riwayatnya. Kaum Sunni-tradisionalis umumnya menerima hadis ini sebagai kisah yang benar (meski tidak semua), tapi sejauh yang saya ketahui, umat Syiah menolaknya. Untuk itu, Waraqah bin Naufal tidak memiliki kontribusi apapun terhadap Muhammad saw maupun Al-Qur’an.

    3. Benarkah nabi Muhammad itu buta huruf seperti yang pernah saya baca dari buku sejarah Islam? jika demikian bagaimana nabi Muhammad menuliskan ayat-ayat ke dalam Al-Quran hingga terkumpul menjadi kitab Quran seperti sekarang ini? dan bagaimana anda yakin bhw penulisan kitab tersebut kredibel hanya dengan diturunkan secara lisan oleh sang nabi?
    Tanggapan Saya:
    Sejauh yang saya ketahui, penggunaan kata ummiy dalam bahasa Arab bukan hanya berarti tuna aksara seperti yang awamnya dipahami dalam makna dan penggunaannya secara tekstual, karena selain Al-Qur’an mengatakan “(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi” (QS. 7: 157) atau “maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi” (QS. 7: 158), maka A-Qur’an juga mengatakan “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang ummi (buta huruf) seorang Rasul di antara mereka” (QS. 62: 2). Di sini maksudnya adalah para penduduk Mekah atau masyarakat Arab secara umum (saat itu). Tentu saja kita percaya bahwa (saat itu), tidak mungkin semua penduduk Mekah atau Arab adalah ummi (buta huruf).
    Atau dalam kasus yang berbeda “Dan diantara mereka ada yang ummi( buta huruf), tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga” (QS: 2: 78). Di sini, kata ummiy merujuk kepada orang-orang Ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani). Tentu saja kata ummiy di sini tidak mungkin ditafsirkan bahwa orang-orang Ahlul kitab tidak mampu membaca Akitab mereka sendiri.
    Lalu pada bagian lain Al-Qur’an juga menjelaskan “Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku”. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: “Apakah kamu (mau) masuk Islam”. Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. QS. 3: 20). Pada bagian ini, makna kata ummi lebih jelas terlihat, karena makna ummi yang sebenarnya dimaksudkan di dalam Al-Qur’an adalah untuk membedakan antara orang-orang yang sudah mengetahui Alkitab dan orang-orang yang tidak mengetahui Alkitab.
    Di sini, kita bisa melihat bahwa penggunaan kata ummi di dalam Al-Qur’an bukan berarti (semata-mata) tuna aksara, meskipun secara harfiyah bisa saja dimaknai seperti itu. Akan tetapi, ia merujuk kepada sisi pengetahuan seputar ilmu “kitab-kitab samawi” yang sudah ada sebelum Islam. Artinya, Nabi Muhammad saw bukanlah seseorang yang sudah mempelajari Alktab sebelumnya dan disini kita juga bisa melihat bahwa kasus historis Waraqah bin Naufal tidak sejalan dengan penjelasan Al-Qur’an sendiri.

    4. AlQuran mengakui keabsahan kitab-kitab suci sebelumnya, seperti Taurat, Zabur dan Injil. Lalu mengapa harus diturunkan kitab baru lagi/Quran kalau kitab suci sebelumnya itu sah dan kredibel?

    Tanggapan Saya:

    Apabila anda membaca Al-Qur’an secara keseluruhan, maka anda akan lihat sendiri bahwa di satu sisi, Al-Qur’an sama sekali tidak pernah menyatakan bahwa seluruh Alkitab salah 100% (semuanya). Takkan pernah anda temui ayat Al-Qur’an semacam ini.
    Akan tetapi pada sisi lain, Al-Qur’an juga tidak pernah menyatakan bahwa Alkitab benar 100% (semuanya). Sebab, posisi Al-Qur’an terhadap Alkitab adalah sebagai kitab yang mushaddiq (artinya: membenarkan).
    Dalam kaitan dengan hal ini, arti “membenarkan” sedikitnya ada tiga makna:
    1. Makna yang pertama dan paling sederhana—seperti yang paling sering dipahami Muslim awam—adalah mengakui atau mengimani Alkitab. Yakni sebatas mengakui saja. Saya melihat bahwa pemaknaan seperti ini lebih kepada pemahaman yang sangat awam terhadap Al-Qur’an (alih-alih soal Alkitab).
    2. Makna “membenarkan” yang kedua adalah seluruh Alkitab itu benar semua dan Al-Qur’an membenarkannya. Ini adalah tipe penafsiran seperti yang diadopsi oleh Pak Ronald, dan tidak aneh kalau anda bertanya seperti dalam bentuk pertanyaan anda tersebut. Namun, penafsiran seperti itu tidak tepat, karena selain Al-Qur’an mengakui Alkitab sebagai bagian dari “kitab-kitab samawi” masa lalu, maka Al-Qur’an juga menjelaskan seputar adanya interpolasi yang terjadi terhadap Alkitab seperti dalam penegasan Al-Qur’an, yaitu: “Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya” (QS. 4: 46), atau “Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya” (QS. 5: 13), atau “mereka merobah perkataan-perkataan dari tempat-tempatnya” (QS. 5: 41), atau “Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?” (QS. 2: 75). Untuk itu, Al-Qur’an memang mengakui keabsahan adanya kitab-kitab tersebut secara universal, tapi tidak secara partikular. Artinya di satu sisi, memang benar bahwa Tuhan telah menurunkan Taurat, Zabur dan Injil dan Al-Qur’an pun mengakui hal tersebut, namun di sisi lain, Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa banyak dari isi atau ayat-ayat (yakni substansi) Alkitab telah banyak mengalami interpolasi. Pembuktian seputar hal ini tentu saja harus dilakukan dalam kajian terpisah.
    3. Setelah memahmi konteks dari kata “membenarkan”, mak makna “membenarkan” yang sebenarnya dimaksudkan Al-Qur’an adalah membenarkan seluruh informasi Alkitab yang masih terpelihara atau benar. Maksudnya, kalau ayat-ayat itu benar, maka Al-Qur’an pun mengakui kebenarannya, sedangkan apabila ada ayat-ayat Alkitab yang telah mengalami interpolasi, maka AL-Qur’an akan mengoreksinya. Untuk itu, hubungan antara Al-Qur’an dan Alkitab adalah memiliki fungsi korektif. Kalau benar dibenarkan, kalau salah akan dikoreksi.
    Melalui pemahaman ini, bisa kita pahami bahwa akibat adanya beberapa kekeliruan terhadap “kitab-kitab samawi” atau Alkitab—sebelum Al-Qur’an, maka salah satu fungsi diturunkannya Al-Qur’an adalah untuk meluruskan berbagai kesalahan informasi yang ada di dalamnya, baik itu dalam konteks internal Yudaisme, Kristenitas, maupun antara Yudaisme dan Kristenitas. Intinya, Al-Qur’an diturunkan kerena Alkitab sudah tidak kredibel lagi untuk dijadikan rujukan dan panduan hidup bagi umat manusia.

    5. Apakah Hadits itu kanonik dan bisa dibuktikan kebenaran dan keasliannya, jika bisa bagaimana caranya kita membuktikan sah tidaknya sebuah hadits? hadits mana saja yang bisa dikatakan sah dan mana yang tidak?
    Tanggapan Saya:
    Hadis bisa dibuktikan keotentikannya yang berpijak kepada beberapa metode aau proses pembuktian. Dalam hal ini, Islam memiliki ilmu khusus untuk studi hadis. Mungkin kajian musthalahatul hadis (yakni kajian seputar riwayah, dirayah, sanad dan matan dari suatu hadis) akan sangat sulit untuk disederhanakan dalam komentar dan kesempatan yang ringkas ini. Hadis yang memiliki kriteria-kriteria dari 4 hal di atas. Barangkali, pemilik blog ini lebih bisa menjelaskan topik yang luas itu secara ringkas atau garis besar. Walaupun saya yakin, Saudara Musa sedang cemberut 😦  dengan pernyataan saya yang terakhir itu… … 🙂
    6. Bagaimana sebenarnya persisnya sejarah upacara ibadah haji di Mekkah hingga seperti sekarang, karena saya pernah baca bhw dulu kiblat sempat arahnya ke baitul maqdis di Yerusalem sebelum akhirnya ke Mekkah.
    7. Saya pernah membaca sejarah bahwa dahulu kala di sekeliling kabah ada 360 berhala yang masing2 mewakili 1 hari komariah, namun belakangan berhala tersebut dirubuhkan, namun masih tersisa satu “berhala” yaitu batu Hazar Aswad. Benarkah demikian?
    8. Apa sebenarnya fungsi batu meteorit hitam (Hajar Aswad) yang terdapat di dalam Ka’bah itu, khususnya terkait dengan segi ibadah haji.
    Kalau saya tidak salah dalam hukum Islam ada istilah Musryik (atau larangan penyembahan berhala / nyembah patung-patung / animisme), bagaimana kaitannya dengan batu meteorit hitam yang dicium oleh setiap jemaah haji setelah mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali.
    Tanggapan Saya:
    Mungkin ada saudara-saudara Muslim lainnya yang ingin menjawab 3 pertanyaan terakhir Pak Gultom karena jari-jari tangan saya sudah mulai letih… 🙂  Atau mungkin ada yang bisa merekomendasikan buku sederhana dan bagus soal haji dan sejarahnya yang bisa dijadikan bacaan tambahan untuk Pak Gultom. Terima kasih sebelumnya.

    Salam,
    Musadiq Marhaban

  4. Natan Budi says:

    “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat dan Injil (S.5 Al-Maaidah 68).

    Atau sebaliknya bunyi ayat tersebut mesti begini :
    “Hai Ahli Alkitab kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Al-Qur’an dari pada Taurat dan Injil (yang sudah diBETULkan itu)”.

    “Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik” (S.5 Al-Maaidah 47).

    “Dan bagaimana mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah…” (S.5 Al-Maaidah 43).

    Andaikata Allah telah mengirimkan Muhammad untuk membatalkan agama Musa dan Al-Masih, inipun tidak sesuai dengan Al-Qur’an yang berkata ;

    “Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu” (S.10 Yunus 94)

    “Dan kami tidak mengutus sebelum kamu kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (S.16 An-Nahl 43).

    Al-Jallalain menguraikan bahwasanya, “Orang yang mempunyai pengetahuan” itu adalah ahli-ahli Taurat dan Injil. Kalau ada yang tidak mengerti sesuatu, mereka pasti akan mengetahuinya (Al-Jallalain hal. 357).

    “Dan sesungguhnya wahyu ini benar-benar diturunkan oleh Allah, diturunkan oleh roh suci ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang dari antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas dan sesungguhnya ayat-ayat itu benar-benar dalam kitab-kitab orang yang terdahulu” (S.26 Asy-Syu’araa 192-196).

    Ini berarti bahwa di dalam Taurat dan Injil ada semuanya yang ada dalam Al-Qur’an tentang ajaran-ajarannya, keputusan-keputusan dan ajaran-ajaran rohani sehingga Al-Qur’an tidak dapat membatalkan Taurat dan Injil karena Taurat dan Injil adalah hukum Allah.

    Dalam kenyataannya, pembatalan itu sebenarnya tidak dapat ditujukan kepada Taurat dan Injil, tetapi justru dikenakan kepada beberapa ayat-ayat dalam Al-Qur’an sendiri. Para cendikiawan Islam tidak membantah hal ini. Ketika seseorang terkenal yang bernama Al-Souyouti berkata “Pembatalan itu hanya sesuatu yang Allah lakukan berkenan dengan bangsa ini!” Dalam kenyataannya, pembatalan di dalam Al-Qur’an disebutkan sampai dua kali.
    1. “Adapun tiap-tiap ayat yang kami batalkan atau buang kami membawa yang lebih baik. Ketahuilah Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu” (S.2 Al-Baqarah 106).
    At-Tabari menafsirkan ayat ini sebagai berikut: “Apabila kami membatalkan suatu ayat, merubah kekuatannya serta penerapannya, maka kami akan membawa ayat yang lebih baik dari sebelumnya” (H. At-Tabari1/280).

    2. “Dan kami tidak mengutus sebelum kamu seseorang rasulpun dan tidak pula seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimaksudkan oleh setan itu dan Allah menguatkan ayat-ayatnya” (S.22 Al-Hajj 52).

    Haji Rahmat Allah Al-Hindi dalam bukunya “Idhhar Al-Haqq” berkata, “Pendapat yang mengatakan bahwa Taurat telah dibatalkan oleh Zabur dan Zabur telah dibatalkan oleh Injil dan Injil oleh Al-Qur’an tidak mempunyai dasar apapun baik dalam Al-Qur’an maupun dalam Hadist.

  5. Kuru Setra says:

    Numpang comment untuk Sdr. Natan
    1.
    QS Al-Maidah turun di Madinah. Isinya sebagian besar merupakan hukum-hukum sosial kemasyarakatan. Saat itu di Madinah hidup berbagai kelompok etnis, di anataranya Muslim yang merupakan mayoritas, Yahudi dan Nashrani. Sekalipun umat Muslim merupakan kelompok mayoritas dan memegang kendali pemerintahan di bawah Nabi Muhammad SAAW, namun dalam hukum-hukum syari’at umat Yahudi dan Nasrani tidak dipaksa untuk mengikuti hukum-hukum syari’at Islam. Alih-alih memaksa untuk mengikutinya, al-Qur’an justru memberikan kebebasan kepada mereka untuk tetap mengikuti hukum-hukum Taurat dan Injil yang mereka imani.

    “Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik” (S.5 Al-Maaidah 47).

    2.
    Kalau al-Qur’an memberikan kebebasan kepada Yahudi dan Nasrani untuk berpegang kepada Taurat dan Injil, maka tidak berarti al-Qur’an mengakui (secara mutlak) kebenaran kedua kitab yang saat itu ada di tangan mereka. Taurat dan Injil itu Kitabullah, tapi persoalannya adalah apa yang mereka klaim sebagai Taurat dan Injil.

    3. Nabi Muhammad SAAW tidak ragu dan tidak pernah akan ragu terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang diturunkan kepadanya. Bagi yang mengerti bahasa Arab tentu dapat memahami bahwa QS. Yunus 10:94 sama sekali tidak menunjukkan keraguan beliau, tetapi malah sebaliknya. Dalam terjemahan al-Qur’an bahasa Inggris karya Yusuf Ali, ayat di atas diterjemahkan dalam bentuk improbable : If Thou wert in doubt ……

  6. Maaf ikutan nimbrung
    kalau soal Hajar Aswad, silakan tanya saja setiap muslim yang naik haji dan mencium Hajar Aswad adakah mereka menyembah Hajar Aswad
    jawabannya jelas tidak, mencium Hajar Aswad adalah sunnah yang ditetapkan oleh Rasulullah SAW makanya banyak umat muslim yang melakukannya
    bagi umat islam menaati dan mengikuti Rasulullah SAW adalah ketetapan dari Allah SWT.
    jadi dalam hal ini mirip sekali dengan kisah malaikat yang disuruh sujud oleh Allah SWt kepada Adam as. sujudnya malaikat bukan berarti menyembah atau musyrik, itu adalah bentuk ketaatan kepada Allah SWT
    Maaf, maaf kalau jawaban saya sederhana

    blognya bagus nih, saya dapat banyak ilmu 😀

  7. Tentang batu “Hajar Aswad”, saya ingin bertanya lagi, apakah arah kiblat umat muslim setiap kali shalat 5 waktu bertujuan utk mengarahkan shalatnya ke arah batu Hajar Aswad tersebut? atau dengan kata lain arah kiblat=menuju ke arah batu Hajar Aswad yang terdapat di dalam Ka’Bah?

    Mengapa saya tanyakan hal itu, krn tidakkah semua agama Samawi meyakini dari kitab sucinya bhw Tuhan itu berada di Surga atau di alam surgawi? Nah jika Tuhan berada di Surga, mengapa doa kepadaNya harus mengarah ke kiblat, mengapa shalat atau berdoa tidak meng-arah ke Surga juga (atau ke arah atas – seperti kebanyakan agama Samawi berdoa menegadahkan mukanya ke atas dan merentangkan kedua tangannya ke arah atas pula).

    Btw. analoginya jika seseorang naik pesawat terbang atau naik kapal laut, haruskah seorang muslim juga mengarahkan do’a nya ke arah kiblat (yang notabene posisi bisa berubah-ubah krn berada di dalam pesawat atau kapal yang berbelok-belok arah tak menentu)

    Jika jawabannya adalah setiap doa org Islam tetap harus mengarah ke kiblat (Ka’Bah yg terdapat batu Hajar Aswad-nya) tidakkah itu berarti bhw dimensi Tuhan yg berada di Surga menjadi terbatas (seolah-olah Tuhan hanya hadir di negeri Arab saja yg notabene posisi Ka’bah dan batu Hajar Azwad tadi hanya terdapat di Mekah / Arab ? atau dengan kata lain seolah-olah Tuhan dibatasi oleh dimensi arah kiblat. Bukankah berdoa kpd Allah logisnya bisa mengarah ke segala penjuru, sebab Allah yang adikodrati dan supranatural semestinya tidak hanya berada di satu tempat saja melainkan bisa berada di mana-mana (segala arah) ?

    Mohon maaf atas pertanyaan saya ini jika cukup sensitif, saya hanya ingin mengetahui lebih dalam tentang agama Islam dari orang Islam yang memiliki pengetahuan comprehensive dan tidak fanatik.

    Salam
    RTG

    http://www.rotogu.blogspot.com

  8. sejati says:

    Semua agama tidak sama, ada yang mengajarkan kasih sayang dan perdamaian, tapi ada juga agama yang mengajarkan kebencian dan permusuhah seperti yang diuraikan secara murni dan objektif di artikel ini. Ini situsnya: http://religi.wordpress.com/2007/03/16/agama-langit-dan-agama-bumi/

    AGAMA LANGIT DAN AGAMA BUMI

    Ada berbagai cara menggolongkan agama-agama dunia. Ernst Trults seorang teolog Kristen menggolongkan agama-agama secara vertikal: pada lapisan paling bawah adalah agama-agama suku, pada lapisan kedua adalah agama hukum seperti agama Yahudi dan Islam; pada lapisan ketiga, paling atas adalah agama-agama pembebasan, yaitu Hindu, Buddha dan karena Ernst Trults adalah seorang Kristen, maka agama Kristen adalah puncak dari agama-agama pembebasan ini.

    Ram Swarup, seorang intelektual Hindu dalam bukunya; “Hindu View of Christianity and Islam” menggolongkan agama menjadi agama-agama kenabian (Yahudi, Kristen dan Islam) dan agama-agama spiritualitas Yoga (Hindu dan Buddha) dan mengatakan bahwa agama-agama kenabian bersifat legal dan dogmatik dan dangkal secara spiritual, penuh klaim kebenaran dan yang membawa konflik sepanjang sejarah. Sebaliknya agama-agama Spiritualitas Yoga kaya dan dalam secara spiritualitas dan membawa kedamaian.

    Ada yang menggolongkan agama-agama berdasarkan wilayah dimana agama-agama itu lahir, seperti agama Semitik atau rumpun Yahudi sekarang disebut juga Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama-agama Timur (Hindu, Buddha, Jain, Sikh, Tao, Kong Hu Cu, Sinto).

    Ada pula yang menggolongkan agama sebagai agama langit (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama bumi (Hindu, Buddha, dll.) Penggolongan ini paling disukai oleh orang-orang Kristen dan Islam, karena secara implisit mengandung makna tinggi rendah, yang satu datang dari langit, agama wahyu, buatan Tuhan, yang lain lahir di bumi, buatan manusia. Penggolongan ini akan dibahas secara singkat di bawah ini.

    Agama bumi dan agama langit.

    Dr. H.M. Rasjidi, dalam bab Ketiga bukunya “Empat Kuliyah Agama Islam Untuk Perguruan tinggi” membagi agama-agama ke dalam dua kategori besar, yaitu agama-agama alamiah dan agama-agama samawi. Agama alamiah adalah agama budaya, agama buatan manusia. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Hindu dan Budha. Mengenai agama Hindu Rasjidi mengutip seorang teolog Kristen, Dr. Harun Hadiwiyono, Rektor Sekolah Tinggi Theologia “Duta Wacana” di Yogyakarta sebagai berikut:

    “Sebenarnya agama Hindu itu bukan agama dalam arti yang biasa. Agama Hindu sebenarnya adalah satu bidang keagamaan dan kebudayaan, yang meliputi jaman sejak kira-kira 1500 S.M hingga jaman sekarang. Dalam perjalanannya sepanjang abad-abad itu, agama Hindu berkembang sambil berobah dan terbagi-bagi, sehingga agama ini memiliki ciri yang bermacam-macam, yang oleh penganutnya kadang-kadang diutamakan, tetapi kadang-kadang tidak diindahkan sama sekali. Berhubung karena itu maka Govinda Das mengatakan bahwa agama Hindu itu sesungguhnya adalah satu proses antropologis, yang hanya karena nasib baik yang ironis saja diberi nama agama.” 1)

    Samawi artinya langit. Agama samawi adalah agama yang berasal dari Tuhan (yang duduk di kursinya di langit ketujuh, Sky god, kata Gore Vidal). Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Dalam bab Keempat dengan judul “Agama Islam adalah Agama Samawi Terakhir” Rasjidi dengan jelas menunjukkan atau menempatkan Islam sebagai puncak dari agama langit. Hal ini dapat dipahami karena Rasjidi bukan saja seorang guru besar tentang Islam, tetapi juga seorang Muslim yang saleh.

    Bahkan dengan doktrin mansukh, pembatalan, para teolog dan ahli fikih Islam mengklaim, Qur’an sebagai wahyu terakhir telah membatalkan kitab-kitab suci agama-agama sebelumnya (Torah dan Injil).

    Bila Tuhan yang diyakini oleh ketiga agama bersaudara ini adalah satu dan sama, pandangan para teolog Islam adalah logis. Tetapi disini timbul pertanyaan, apakah Tuhan menulis bukunya seperti seorang mahasiswa menulis thesis? Sedikit demi sedikit sesuai dengan informasi yang dikumpulkannya, melalui percobaan dan kesalahan, perbaikan, penambahan pengurangan, buku itu disusun dan disempurnakan secara perlahan-lahan?

    Tetapi ketiga agama ini tidak memuja Tuhan yang satu dan sama. Masing-masing Tuhan ketiga agama ini memiliki asal-usul yang berbeda dan karakter yang berbeda. Yahweh berasal dan ajudan dewa perang, yang kemungkinan berasal dari suku Midian, dan dijadikan satu-satunya Tuhan orang Israel oleh Musa. Jesus salah seorang dari Trinitas, adalah seorang pembaharu agama Yahudi yang diangkat menjadi Tuhan oleh para pendiri Kristen awal. Allah adalah dewa hujan yang setelah digabung dengan dewa-dewa lain orang Arab dijadikan satu-satunya tuhan orang Islam oleh Muhammad. Jadi Yahweh, Trinitas dan Allah adalah tuhan-tuhan yang dibuat manusia. 2) (Lihat Karen Amstrong: A History of God).

    Dan karakter dari masing-masing Tuhan itu sangat berbeda. Ketiganya memang Tuhan pencemburu, tetapi tingkat cemburu mereka berbeda. Yahweh adalah Tuhan pencemburu keras, gampang marah, dan suka menghukumi pengikutnya dengan kejam, tetapi juga suka ikut berperang bersama pengikutnya melawan orang-orang lain, seperti orang Mesir, Philistin dan Canaan. Jesus juga Tuhan pencemburu, tapi berpribadi lembut, ia memiliki banyak rasa kasih, tetapi juga mempunyai neraka yang kejam bagi orang-orang yang tidak percaya padanya. Allah lebih dekat karakternya dengan Yahweh, tetapi bila Yahweh tidak memiliki neraka yang kejam, Allah memilikinya. Di samping itu, bila Yahweh menganggap orang-orang Yahudi sebagai bangsa pilihannya, Allah menganggap orang-orang Yahudi adalah musuh yang paling dibencinya.

    Jadi jelaslah di langit-langit suci agama-agama rumpun Yahudi ini terdapat lima oknum Tuhan yang berbeda-beda, yaitu Yahweh, Trinitas (Roh Kudus, Allah Bapa dan Tuhan Anak atau Jesus) dan Allah Islam. Masing-masing dengan ribuan malaikat dan jinnya.

    Pengakuan terhadap Tuhan yang berbeda-beda tampaknya bisa menyelesaikan masalah soal pembatalan kitab-kitab atau agama-agama sebelumnya oleh agama-agama kemudian atau agama terakhir. Masing-masing Tuhan ini memang menurunkan wahyu yang berbeda, yang hanya berlaku bagi para pengikutnya saja. Satu ajaran atau satu kitab suci tidak perlu membatalkan kitab suci yang lain.

    Tetapi disini timbul masalah lagi. Bagaimana kedudukan bagian-bagian dari Perjanjian Lama yang diterima atau diambil oleh Perjanjian Baru? Bagaimana kedudukan bagian-bagian Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang terdapat di dalam Al-Qur’an? Apakah bagian-bagian itu dipinjam dari Tuhan yang satu oleh Tuhan yang lain, yang ada belakangan? Atau persamaan itu hanya kebetulan? Ataukah para penulis kitab-kitab yang belakangan meminjamnya dari penulis kitab-kitab terdahulu?

    Pembagian agama menjadi agama bumi dan agama langit, dari sudut pandang Hindu sebenarnya tidak menjadi masalah. Ini terkait dengan konsep ketuhanan dari masing-masing agama. Agama-agama Abrahamik atau Rumpun Yahudi (nama yang lebih tepat daripada “agama langit”) memandang Tuhan sebagai sosok berpribadi, seperti manusia, yang berdiam di langit (ke tujuh) duduk di atas kursinya, yang dipikul oleh para malaikat. Dari kursinya di langit itu Dia melakukan segala urusan, termasuk antara lain, tetapi tidak terbatas pada, mengatur terbit dan tenggelannya matahari, “menurunkan” wahyu dan lain sebagainya. Dari segi ini benarlah sebutan “agama langit” itu, karena ajarannya diturunkan oleh Tuhannya yang bermukim nun jauh di langit.

    Dalam pandangan agama Hindu, Tuhan bersifat panteistik, yang melingkupi ciptaan (imanen) dan sekaligus di luar ciptaannya (transenden). Menurut pandangan Hindu Tuhan tidak saja lebih besar dari ciptaannya, tetapi juga dekat dengan ciptaannya. Kalau Tuhan hanya ada di satu tempat di langit ketujuh, berarti Ia ada di satu noktah kecil di dalam ciptaannya. Oleh karena itu Dia tidak Mahabesar. Agak mirip dengan pengertian ini, di dalam agama Hindu, dikenal ajaran tentang Avatara, yaitu Tuhan yang menjelma menjadi mahluk, yang lahir dan hidup di bumi – seperti Rama dan Krishna – menyampaikan ajarannya di bumi langsung kepada manusia tanpa perantara.

    Dari segi ini, dikotomi agama langit dan agama bumi tidak ada masalah. Baru menjadi masalah ketika “truth claim” yang menyertai dikotomi ini. Bahwa agama langit lebih tinggi kedudukannya dari agama bumi; karena agama-agama langit sepenuhnya merupakan bikinan Tuhan, yang tentu saja lebih mulia, lebih benar dari agama-agama bumi yang hanya buatan manusia dan bahwa oleh karenanya kebenaran dan keselamatan hanya ada pada mereka. Sedangkan agama-agama lain di luar mereka adalah palsu dan sesat.

    Pandangan “supremasis” ini membawa serta sikap “triumpalis”, yaitu bahwa agama-agama yang memonopoli kebenaran Tuhan ini harus menjadikan setiap orang sebagai pengikutnya, menjadikan agamanya satu-satunya agama bagi seluruh umat manusia, dengan cara apapun. Di masa lalu “cara apapun” itu berarti kekerasan, perang, penaklukkan, penjarahan, pemerkosaan dan perbudakan atas nama agama.

    Masalah wahyu

    Apakah wahyu? Wahyu adalah kata-kata Tuhan yang disampaikan kepada umat manusia melalui perantara yang disebut nabi, rasul, prophet. Bagaimana proses penyampaian itu? Bisa disampaikan secara langsung, Tuhan langsung berbicara kepada para perantara itu, atau satu perantara lain, seorang malaikat menyampaikan kepada para nabi; atau melalui inspirasi kepada para penulis kitab suci. Demikian pendapat para pengikut agama-agama rumpun Yahudi.

    Benarkah kitab-kitab agama Yahudi, Kristen dan Islam, sepenuhnya merupakan wahyu Tuhan? Bila benar bahwa kitab-kitab ini sepenuhnya wahyu Tuhan, karena Tuhan Maha Tahu dan Maha Sempurna, maka kitab-kitab ini sepenuhnya sempurna bebas dari kesalahan sekecil apapun. Tetapi Studi kritis terhadap kitab-kitab suci agama-agama Abrahamik menemukan berbagai kesalahan, baik mengenai fakta yang diungkapkan, yang kemudian disebut ilmu pengetahun maupun tata bahasa. Berikut adalah beberapa contoh.

    Pertama, kesalahan mengenai fakta.

    Kitab-suci kitab-suci agama ini, menyatakan bumi ini datar seperti tikar, dan tidak stabil. Supaya bumi tidak goyang atau pergi ke sana kemari, Tuhan memasang tujuh gunung sebagai pasak. Kenyataannya bumi ini bulat seperti bola. Dan sekalipun ada banyak gunung, lebih dari tujuh, bumi tetap saja bergoyang, karena gempat.

    Kedua, kontradiksi-kontradiksi.

    Banyak terdapat kontradiksi-kontradiksi intra maupun antar kitab suci-kitab suci agama-agama ini. Satu contoh tentang anak Abraham yang dikorbankan sebagai bukti ketaatannya kepada Tuhan (Yahweh atau Allah). Bible mengatakan yang hendak dikorbankan adalah Isak, anak Abraham dengan Sarah, istrinya yang sesama Yahudi. Sedangkan Qur’an mengatakan bukan Isak, tetapi Ismail, anak Ibrahamin dengan Hagar, budak Ibrahim yang asal Mesir

    Contoh lain. Bible menganggap Jesus sebagai Tuhan (Putra), sedangkan Al-Qur’an menganggap Jesus (Isa) hanya sebagai nabi, dan bukan pula nabi terakhir yang menyempurnakan wahyu Tuhan.

    Ketiga, kesalahan struktur kalimat atau tata bahasa.

    Di dalam kitab-kitab suci ini terdapat doa-doa, kisah-kisah, berita-berita tentang kegiatan Tuhan, mirip seperti berita surat kabar, yang ditulis oleh seseorang (wartawan) atas seseorang yang lain (dari obyek berita, dalam hal ini Tuhan). Lalu ada kalimat yang merujuk Tuhan sebagai “Aku, Kami, Dia, atau nama-namanya sendiri, seperti Allah, Yahweh, dll”. Mengapa Tuhan menunjukkan diriNya dengan Dia, kata ganti ketiga? Kata-kata atau kalimat-kalimat pejoratif seperti Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui ini pastilah dibuat oleh manusia, sebab mustahil rasanya Tuhan memuji-muji dirinya sendiri.

    Keempat, ajaran tentang kekerasan dan kebencian.

    Di dalam kitab-suci kitab-suci agama-agama langit ini banyak terdapat ajaran-ajaran tentang kebencian terhadap komunitas lain, baik karena kebangsaan maupun keyakinan. Di dalam Perjanjian Lama terdapat kebencian terhadap orang Mesir, Philistin, Canaan dll. Di dalam Perjanjian Baru terdapat ajaran kebencian terhadap orang Yahudi dan Roma. Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat kebencian terhadap orang-orang Yahudi, Kristen dan pemeluk agama-agama lain yang dicap kafir secara sepihak. Pertanyaan atas soal ini, betulkah Tuhan menurunkan wahyu kebencian terhadap sekelompok orang yang memujanya dengan cara berbeda-beda, yang mungkin sama baiknya atau bahkan lebih baik secara spiritual? Bukankah akhirnya ajaran-ajaran kebencian ini menjadi sumber kekerasan sepanjang massa?

    Bagaimana mungkin Tuhan yang Maha Bijaksana, Maha Pengasih dan Penyayang menurunkan wahyu kebencian dan kekerasan semacam itu? Di dalam agama Hindu kebencian dan kekerasan adalah sifat-sifat para raksasa, asura dan daitya (demon, devil, atau syaitan).

    Di samping hal-hal tersebut di atas, agama-agama rumpun Yahudi banyak meminjam dogma dari agama-agama lain, bahkan dari komunitas yang mereka sebut penyembah berhala atau kafir. Dogma utama mereka tentang eskatologi seperti hari kiamat, kebangkitan tubuh dan pengadilan terakhir dipinjam oleh agama Yahudi dari agama Zoroaster Persia, lalu diteruskan kepada agama Kristen dan Islam. Legenda tentang penciptaan Adam dipinjam dari leganda tentang penciptaan Promotheus dalam agama Yunani kuno. Bagaimana mungkin tuhan agama langit meminjam ajaran dari agama-agama atau tradisi buatan manusia?

    Swami Dayananda Saraswati (1824-1883), pendiri Arya Samaj, sebuah gerakan pembaruan Hindu, dalam bukunya Satyarth Prakash (Cahaya Kebenaran) membahas Al Kitab dan AI-Qur’an masing-masing di dalam bab XI II dan XIV, dan sampai kepada kesimpulan yang negatif mengenai kedua kitab suci ini. Bahwa kedua kitab suci ini mengandung hal-hal yang patut dikutuk karena mengajarkan kekerasan, ketahyulan dan kesalahan. Ia meningkatkan penderitaan ras manusia dengan membuat manusia menjadi binatang buas, dan mengganggu kedamaian dunia dengan mempropagandakan perang dan dengan menanam bibit perselisihan.

    Apa yang dilakukan oleh Swami Dayananda Saraswati adalah kounter kritik terhadap agama lain atas penghinaan terhadap Hindu yang dilakukan sejak berabad-abad sebelumnya oleh para teolog dan penyebar agama lainnya.

    Kesimpulan.

    Tidak ada kriteria yang disepakati bersama di dalam penggolongan agama-agama. Setiap orang membuat kriterianya sendiri secara semena-mena untuk tujuan meninggikan agamanya dan merendahkan agama orang lain. Hal ini sangat kentara di dalam agama-agama missi yang agresif seperti Kristen dan Islam dimana segala sesuatu dimaksudkan sebagai senjata psikologis bagi upaya-upaya konversi dan proselitasi mereka.

    Di samping itu tidak ada saksi dan bukti untuk memverifikasi dan memfalsifikasi apakah isi suatu kitab suci betul-betul wahyu dari Tuhan atau bukan? Yang dapat dikaji secara obyektif adalah isi atau ajaran yang dikandung kitab suci-kitab suci itu apakah ia sesuai dengan dan mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan, seperti cinta kasih, kesetiaan, ketabahan, rajin bekerja, kejujuran, kebaikan hati atau mengajarkan kebencian dan kekerasan?

    Penggolongan agama-agama menjadi agama langit dan agama bumi, jelas menunjukkan sikap arogansi, sikap merendahkan pihak lain, dan bahkan sikap kebencian yang akhirnya menimbulkan kekerasan bagi pihak yang dipandangnya sesat, menjijikan dan tidak bernilai. Di lain pihak penggolongan ini menimbulkan rasa tersinggung, kemarahan, dan akhirnya kebencian. Bila kebencian bertemu kebencian, hasilnya adalah kekerasan.

    Melihat berbagai cacat dari kitab suci-kitab suci mereka, khususnya ajarannya yang penuh kebencian dan kekerasan, maka isi kitab suci itu tidak datang dari Tuhan, tetapi dari manusia yang belum tercerahkan, apalagi Tuhan-Tuhan mereka adalah buatan manusia.

    Berdasarkan hal-hal tersebut di atas disarankan agar dikotomi agama langit dan agama bumi ini tidak dipergunakan di dalam baik buku pelajaran, wacana keagamaan maupun ilmiah. Dianjurkan agar dipergunakan istilah yang lebih netral, yaitu agama Abrahamik dan agama Timur.

    (Ngakan Putu Putra sebagaian bahan dari SATS ; “Semua Agama Tidak Sama” ).

    Catatan kaki:
    I). Prof . DR. H.M. Rasjidi : “Empat Kuliyah Agama Islam pada Perguruan Tinggi” penerbit Bulan Bintang, Jakarta, cetakan pertama, 1974. hal 10) H.M Rasjidi hal 53
    2). Lihat Karen Amstrong : A History of God
    3). Swami Dayananda Saraswati Satyarth Prakash (Light of Truth), hal 648.
    4). Ibid hal 720.

  9. ranrose says:

    tanggapannya sangat menarik dari ust Mussaddiq,
    telat ga ya kalo saya nanya, Kenapa Tuhan tidak memberikan jaminan penjagaan Kitab2 samawi sebelumnya seperti jaminan penjagaan terhadap AlQuran..

    Afwan,

  10. ranrose says:

    btw, Judul dan isinya bertolak belakang ya…
    saya fikir tadinya akan membahas isu perennial atau pluralisme,
    tapi ini bs jadi argumen untuk posting terakhir soal Isu ahmadiyah legitimate atau tidak ga tu…

    afwan lagi,

  11. mnam says:

    Salam, boleh saudara tolong jelaskan dgn perbezaan diantara agama islam dengan agama hindu dari segi, kedamaian, keadilan, kebebasan, tolenrasi dan kasih sayang. Ianya amat beerti buat saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s