Manifesto Tablig

Ayatullah Muhsin Qaraati adalah salah satu mubalig paling terkenal di Iran. Sejak awal revolusi Islam, setiap hari Qaraati mengisi program keagamaan di televisi nasional. Setelah 27 tahun dan ribuan episode, rating-nya tetap tinggi. Awal Juni 2007 kemarin, dia berkunjung ke Indonesia atas undangan ICC al-Huda Jakarta. Saya bersyukur diberi taufik menghadiri ceramahnya dalam dua sesi, tiap sesi berlangsung sekitar 2 jam.

Menurut saya, salah satu keunggulan Qaraati adalah kecanggihannya menampilkan ilustrasi. Hampir semua gagasan besar bisa dia ilustrasikan dengan cantik. Melalui segudang ilustrasi itu, dia mencoba menyederhanakan masalah tanpa terjebak pada pendangkalan. Kelebihan lainnya ialah kemampuannya menyisipkan beragam kisah menarik di sela-sela ceramahnya. Dan, last but not least, dia sangat lihai menggelitik selera humor hadirin. Untuk urusan ini, saya rasa dia belum bisa ditandingi oleh mubalig Iran manapun yang saya tahu.

Berikut ini saya rangkumkan isi ceramahnya awal Juni itu.

Pertama-tama beliau menyatakan bahwa perubahan besar tidak harus dimulai oleh orang besar. Pendidikan tidak harus dilaksanakan oleh tokoh terkenal. Demikian pula dalam urusan tablig. Besar atau kecil seorang mubalig tidaklah menjadi soal. Yg terpenting adalah dia tergolong orang yang mengamalkan ajaran-ajarannya.

Dia memberikan beberapa contoh. Hud-hud adalah seekor burung yang berhasil mengislamkan sebuah kerajaan, dan dengan demikian berhak menyandang gelar mubalig. Demikian pula burung pipit yang mengajarkan cara mengubur mayat pada anak Adam yang membunuh saudaranya.

Namun, seorang mubalig tetap harus memiliki beberapa syarat mutlak. (1), memiliki kasih sayang. Nabi Musa dalam al-Qur’an mendapatkan status kenabian karena sifat kasih sayangnya. Demikian pula semua nabi lainnya. Tapi, Nabi Muhammad adalah nabi paling harish (senantiasa berpikir tentang keadaan umatnya). Contoh untuk masalah ini terlalu banyak untuk disebutkan di sini.

 

(2) tanpa beban atau tidak dalam kondisi tertekan. Kalau dia merasakan tekanan psikologis, ekonomi, keluarga, politik dan sebagainya, maka dia tidak akan bisa bekerja dengan optimal. Seorang mubalig tidak boleh jaim (jaga image) atau jawa (jaga wibawa) secara berlebihan. Dia harus mau merakyat, mengajak mereka bercanda dan berinteraksi dengan leluasa.

Ayatullah Qaraati menukil kisah ini. Suatu kali seorang mullah berlayar menuju suatu pulau. Di tengah pelayaran itu, dia bertemu seseorang yang tampak terdidik. Mullah ini mencoba mengajaknya berbicara. Tapi gayung tak bersambut. Dua tiga kali dia coba tapi tetap tidak berjawab. Pada percobaan kesekian kalinya, orang itu menoleh ke arah mullah ini dengan muka masam. Dia menyatakan ketidaksenangannya dengan si mullah. “Setiap kali lihat serban itu, saya muak!” Sang mullah langsung membuang serbannya ke laut. Intelektual ini kebingungan, dan langsung menegur, “Untuk apa kau membuangnya ke laut?” “Biar aku bisa berbicara denganmu sebagai manusia biasa tanpa terhalang oleh serban ini.”

Terkesan dan tersentuh oleh perilaku mullah ini, si intelektual langsung menunjukkan rasa simpati dan persahabatan yang tinggi. Tidak cuma itu, intelektual ini memaksanya untuk mampir ke rumah. Akhirnya mullah itu sampai tinggal 2 hari di rumah intelektual. Saat hendak pulang, intelektual ini menghadiahi mullah dengan dua serban sebagai cinderamata.

 

Syarat (3), percaya pada apa yang disampaikan. Ada mubalig muda asal Iran bernama Abu Turabi. Pada zaman perang Irak-Iran, Abu Turabi tertawan oleh musuh. Tidak kurang dari 10 tahun dia mendekam di penjara Irak. Sepanjang dalam tahanan, Abu Turabi menjadi pemimpin 100.000 tawanan Iran di penjara-penjara Irak. Muhsin Qaraati juga mubalig yang sebaya dengan Abu Turabi. Qaraati ingin tahu bagaimana mubalig seperti Abu Turabi bisa menjadi pemimpin 100.000 tawanan Iran di Irak. Ternyata ada cerita menarik di balik keberhasilan ini. Kata Qaraati, cerita Abu Turabi layak diabadikan dalam buku dan film.

Suatu kali, rombongan diplomatik asing datang menjenguk para tawanan Iran di penjara-penjara Irak. Manakala menyaksikan keadaan Abu Turabi, salah seorang anggota rombongan langsung mendekat dan bertanya: “Apakah Anda telah disiksa? Apakah di sini terjadi penyiksaan, penganiayaan fisik?” Abu Turabi tidak menjawab. Pada waktu inspeksi itu, sipir penjara tidak terlihat. Dia hanya mengintai dari kejauhan. Dua tiga kali anggota rombongan menanyakan hal yang sama. Tapi tetap tidak berjawab. Setelah kehabisan cara, rombongan pergi meninggalkan lokasi.

Ketika rombongan sudah menjauh, sipir datang menemui Abu Turabi dan bertanya: “Mengapa kau tidak berkata apa-apa? Padahal aku sering menyiksa dan memukulmu. Bahkan aku pernah memaku kepalamu.”

Abu Turabi menjawab: “Kau memang telah menyiksa bahkan memaku kepalaku. Tapi kau orang Muslim, sedangkan mereka beragama lain. Kalau aku bilang bahwa di sini terjadi penyiksaan dan penganiayaan, maka orang-orang asing itu akan mencampuri urusan kita. Padahal, Allah berfirman, Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman (QS 4: 141). Jika aku katakan di sini terjadi penyiksaan, orang-orang itu akan memegang kartu kalian. Dan dengan begitu berarti aku telah melanggar ketentuan ayat tadi. Maka, demi menghormati al-Qur’an, aku tidak menyatakan apa-apa.”

Sipir itu tertunduk malu. “Aku malu pada al-Qur’an dan juga padamu. Betapa tinggi ketakwaanmu. Begitu kuat keimananmu pada al-Qur’an. Al-Qur’an sudah sedemikian melebur dalam dirimu. Nah, karena kau tidak mengatakan apa-apa pada rombongan itu, kini aku ingin membalas kebaikanmu. Aku ingin melakukan sesuatu untukmu. Aku memang telah menyiksamu, tapi aku sekarang kagum dan cinta padamu.” Abu Turabi meminta sipir itu untuk merancang program tablig akbar pada tiap lokasi penjara para tahanan Iran. “Selain itu, aku tidak minta yang lain.” Sipir ini lalu menjadi mata-mata Abu Turabi di antara pasukan Saddam.

Tak lama setelah kejadian, Abu Turabi merancang program pendidikan komprehensif untuk para tawanan perang. Mulai dari urusan mengaji sampai deklamasi puisi dan pelatihan menulis. Dalam masa 10 tahun di dalam penjara, Abu Turabi tidak sedikitpun melewatkannya tanpa aktivitas belajar mengajar yang biasa dijalankannya di luar penjara.

 

Syarat (4), menyampaikan kandungan yang tepat. Islam mempunyai daya tarik tersendiri. Imam Ali ar-Ridha berkata, “Sekiranya seluruh manusia mengerti manisnya Islam yang benar, niscaya mereka akan memeluk Islam.” Seperti halnya tenggorokan membutuhkan air yang segar, demikian pula fitrah manusia membutuhkan spiritualitas yang terkandung dalam Islam. Tapi, jika ada orang tidak mau minum air segar, kemungkinannya hanya ada dua: pertama, dalam air itu ada racun, kotoran dan sejenisnya; atau kedua, air itu di tangan orang yang tidak tepat, penguasa yang bengis, orang yang tidak pandai dan sejenisnya.

Sebagai ilustrasi, Qaraati memaparkan bahwa mubalig harus mengisi ceramahnya dengan bahan-bahan dari al-Qur’an. Tidaklah perlu mubalig memperkenalkan sejarah Islam, lantaran sejarah itu mengandung banyak kontroversi.

Saya ingin mengelaborasi lebih jauh menyangkut poin yang sangat penting ini. Banyak sekali orang yang mendasarkan pemikiran dan pandangan hidupnya pada sejarah. Mereka berpindah dari satu mazhab atau agama kepada mazhab dan agama lain berdasarkan pada data sejarah. Selain tidak ilmiah, metode ini berisiko besar. Karena, sejarah itu adalah data yang tidak pasti, bukan fakta yang pasti. Jika kita berpijak pada sesuatu yang tidak pasti, maka kesimpulan kita pasti tidak benar. Karena, dalam logika, ada prinsip yang menyatakan bahwa premis yang pasti benar belum tentu menghasilkan kesimpulan yang pasti benar, apalagi premis yang belum tentu benar.

Kalau pun mubalig harus bercerita tentang sejarah, maka dia harus mengambil dari cerita-cerita al-Qur’an yang bebas dari keraguan dan kontroversi. Ada ratusan ayat al-Qur’an yang mengandung cerita.

Misalnya, Allah memberikan beberapa karunia besar kepada Nabi Muhammad. Pertama, al-khulq al-‘azhim (akhlak yang mulia) dalam ayat 4 surah 68 (al-Qalam). Kedua, Allah memberikan al-Qur’an pada Nabi dalam surah al-Hijr ayat 87. Ketiga, Allah memberikan pada Nabi bergelombang-gelombang umat yang memeluk Islam dalam surah an-Nashr. Dan keempat, Allah memberi Nabi dengan Fathima Az-Zahra sebagaimana tercantum dlm surah al-Kautsar. Untuk karunia pertama dan kedua, Allah tidak menyuruh Rasulullah untuk melakukan apa-apa. Untuk yang ketiga, Allah meminta beliau untuk bertasbih dengan mengucapkan Subhanallah. Sedangkan untuk yang keempat, tidah hanya meminta Nabi berucap Subhanallah, tapi meminta beliau melakukan shalat dan menyembelih onta. Dalam ayat ini, Allah meminta kurban onta atau kurban besar, bukan kambing atau sapi.

 

Syarat (5), mubalig harus terus menimba ilmu. Belajar adalah proses yang tidak pernah selesai. Kalau dalam al-Qur’an saja Allah menyuruh nabi-Nya untuk berdoa “Ya Tuhanku, tambahkan pengetahuan padaku”, maka tentu saja orang biasa lebih tidak mungkin lagi selesai mencari ilmu.

 

Syarat (6), mubalig tidak boleh menjawab pertanyaan yang bisa menimbulkan fitnah. Saat Fir’aun ingin menggerakkan masyarakat untuk membenci Nabi Musa, Fir’aun bertanya kepadanya tentang keadaan nenek moyang penduduk Mesir, “Maka bagaimanakah keadaan umat-umat terdahulu?” Musa menjawab, “Pengetahuan tentang hal itu ada di sisi Tuhanku…” (QS 20: 51-52). Bila Musa menjawab bahwa nenek moyang mereka di neraka, maka Fir’aun akan menghasut masyarakat untuk membenci Musa. Karena itu, Musa tidak memberikan jawab tegas dan langsung, tapi mengembalikannya pada pengetahuan Allah yang tidak mungkin salah.

 

Berikut adalah kiat praktis untuk bertablig:

  • Jangan ceramah lebih dari 10 menit. Kalau Anda bisa membuat hadirin tertawa, tambah 10 menit lagi. Kalau Anda bisa membuat mereka kembali tertawa setelah itu, Anda boleh tambah 10 menit lagi. Dan kalau bisa setiap 5 menit orang tertawa, Anda boleh berbicara selama mungkin. Tertawa adalah bagian dari budaya Islam. Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah membuat manusia tertawa dan menangis. Tapi, dalam ayat itu, ungkapan “membuat tertawa” didahulukan daripada “membuat menangis”. Seperti sudah saya sebutkan di atas, Ayatullah Muhsin Qaraati adalah mubalig yang pandai membuat orang tertawa. Seorang produser Iran sampai ada yang mengumpulkan bagian-bagian lucu dari seri ceramah Qaraati di televisi dan mengedarkannya di VCD. Meski begitu, semua lawakannya tidak jorok, merusak, atau menyinggung perasaan. Bahkan, menurut saya, semua lawakannya sangat cerdas dan bernas.
  • Selain melawak, mubalig juga harus bisa membuat orang menangis. Kalau kita hanya bisa membuat orang tertawa, berarti kita baru bisa menyentuh limapuluh persen dari perasaan orang. Ada orang bertanya pada temannya, “Kau bisa berenang?” Temannya menjawab, “Hanya limapuluh persennya; saya bisa masuk dalam air tapi tidak bisa keluar darinya.” Buatlah hadirin meneteskan airmata duka akan derita Rasulullah dan keluarga beliau. Ingatkan mereka akan siksa Allah. Ajak mereka untuk bertaubat dan sebagainya. Jadikan ceramah itu sebagai sarana untuk mengajak perasaan manusia ingat kepada Allah.
  • Saat berbicara, upayakan untuk tidak teriak-teriak. Jangan merasa diri lebih baik dari orang lain atau dalam posisi memerintah orang lain. Imam Ja’far al-Shadiq menyatakan “Siapa yang mengira dirinya lebih baik daripada orang lain berarti dia sombong.” Salman Farisi pernah ditanya: “Mana yang lebih baik, janggutmu atau ekor anjing?” Salman menjawab, “Yang lebih baik adalah orang yang bisa melewati shirathal mustaqim.” Dia menjawab dengan jiwa yang rendah hati.
  • Jangan berbicara secara monoton. Masukkan variasi. Perhatikan bagaimana al-Qur’an berbicara tentang bukti keberadaan Allah. Al-Qur’an menggandengkan onta dengan langit (QS 88: 17-18). Dlm ayat yang berbicara tentang larangan mengurangi timbangan, al-Qur’an mengandengkan langit dengan pasar (QS 55: 8). Dalam ayat terakhir Allah ingin mengatakan bahwa sebagaimana Aku mengatur langit dengan keseimbangan, demikian pula aturlah interaksi dagang di antara kalian dengan keseimbangan (jangan berbuat curang).
  • Mubalig harus membuat ayat-ayat al-Qur’an relevan dengan kondisi masa kini. Jangan berkata bahwa dulu pernah ada Nabi Yusuf. Tapi, katakan bahwa para remaja zaman ini juga adalah nabi-nabi Yusuf modern. Jangan bilang bahwa dulu Yusuf punya saudara2 yang iri terhadapnya, tapi katakan bahwa kalian juga mungkin punya saudara-saudara yang iri pada Anda. Jelaskan al-Qur’an dalam bahasa yang seolah-olah Allah langsung berbicara kepada setiap orang.
  • Dlm al-Qur’an, Nabi Ibrahim berkata, “Patung-patung apakah ini yang kalian tekun menyembahnya?” (QS 21: 52). Apa pesan ayat ini untuk masyarakat dunia di Eropa, Jepang, Indonesia, AS dan sebagainya? Setidaknya ada lima pelajaran. Pertama, dalam mengajak kepada kebenaran dan kebaikan, umur bukanlah syarat. Ibrahim adalah pemuda yang kritis atas kepercayaan di sekitarnya. Kedua, dalam mengajak kepada kebenaran dan kebaikan, jumlah bukan syarat. Pada masa itu, Nabi Ibrahin seorang diri menghadapi sebagian besar masyarakat. Ketiga, sampaikan kebenaran pada lingkungan terdekat. Keempat, dalam berbicara tentang kemungkaran, carilah yang paling besar. Dan kemusyrikan adalah kemungkaran paling besar. Kelima, katakan sesuatu secara tidak langsung. Jangan langsung berbicara tentang kejelekan, tapi buatlah dalam pertanyaan, “Patung-patung apakah ini…?”
  • Jangan pernah membeda-bedakan satu etnis dengan etnis lain, satu suku dengan suku lain. Jangan pernah menjadi pendukung salah satu partai yang bersaing dalam memperebutkan kekuasaan. Sekali waktu, Ayatullah Muhsin Qaraati ditanya, “Ikut partai apa kau?” Dia jawab, “Saya ikut partai kucing.” Ditanya lagi, “Apa maksudmu?” Dijawab, “Kucing bisa masuk ke semua rumah, tapi tidak punya rumah sendiri.” Contoh paling jelas dalam konteks ini adalah apa yang dilakukan Nabi Muhammad saat memasuki Madinah. Beliau membiarkan ontanya berhenti di tempat mana saja yang diinginkan. Tindakan ini beliau lakukan karena di masa itu Madinah sangat terpecah-pecah secara etnis dan rasial.

 

 

 

 

6 thoughts on “Manifesto Tablig

  1. Ana jg sangat mengagumi kelihaian membuat ilustrasi2 yang tepat. Sehingga dng begitu bisa menyederhanakan masalah, dan yg penting message nya sampai ke pendengar/pembaca tulisan2nya.

    And thanks for your sharing in this nice blog.

    from Bandung with love…

  2. musakazhim says:

    Iya, keahlian itu memang luar biasa. Terima kasih atas kunjungannya. Oh ya jangan lupa share info, komentar atau apa saja yg berguna di blog ini. This is also your blog.

  3. letitia says:

    Ayatullah Muhsin Qaraati memang top, dan termasuk salah satu favorit saya.
    Alhamdulillah saya bisa tinggal di Iran sehingga bisa menikmati tablighnya melalui televisi iran setiap hari.

  4. letitia says:

    Buku-2 karya Ayatullah Muhsin Qaraati ada terjemahannya ke bahasa Indonesia? OK, Good!

    Dalam penterjemahan buku, ada proses penterjemahan, proses editing, proses quality control.

    Saya lihat ada buku-2 dari Iran yang bagus terjemahannya dalam bahasa Indonesia, tapi banyak juga buku-2 yang tidak bagus terjemahannya, sehingga malah jadi membingungkan pembacanya dan tentu jadi menyimpang dari harapan penulis aslinya untuk memberi pemahaman kepada pembaca.

    Saya harap, terjemahan buku-2 karya Ayatullah Muhsin Qaraati dalam bahasa Indonesia termasuk yang sangat baik dalam proses penterjemahan, proses editing, proses quality control.
    Saya harap pembaca terjemahan buku-2 karya Ayatullah Muhsin Qaraati dalam bahasa Indonesia mendapat pemahaman yang baik & benar.

    Kadang saya lebih ‘sreg’ baca terjemahan ke bahasa inggris daripada terjemahan ke bahasa Indonesia, karena terjemahan ke bahasa Inggris lebih terjamin quality control-nya.
    Tentu saja yang paling ‘sreg’ adalah membaca & mendengar dalam bahasa aslinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s