Etika Kebajikan

 

  • Etika “Kebajikan”
  • Edmund L. Pincoffs: “Some sorts of persons we prefer; others we avoid. The properties on our list (of virtues and vices) can serve for preference or avoidance.”

 

 

· Etika ini bermula dengan pertanyaan, ‘Ciri-ciri atau sifat-sifat apakah yang membuat seseorang menjadi baik?’ Sejumlah besar filosof kuno, termasuk Socrates, Plato dan terutama sekali Aristoteles, banyak meluangkan waktu untuk mendiskusikan masalah sifat-sifat manusia. Dalam Nicomachean Ethics, buku etika Aristotelian, pokok bahasannya adalah karakter manusia. Dan karakter adalah jumlah total sifat seseorang, yang mencakup prilaku, kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan, kemampuan, bakat, potensi, nilai-nilai dan pola berpikir. Oleh karena itu, untuk memahami etika, kita harus memahami apa saja yang membuat orang menjadi bajik (virtuous). Dengan tatapan tajam pada hal-hal rinci, Aristoteles banyak sekali membahas tentang keberanian, kendali diri, kemurahan dan kejujuran/kesetiaan (truthfulness).

· Seiring perjalanan waktu, cara berpikir seperti ini mulai diabaikan. Bersamaan dengan datangnya agama Kristen, sejumlah ide diperkenalkan. Bagi kaum Kristen, seperti juga bagi kaum Yahudi, Tuhan adalah Pembuat undang-undang, sehingga hidup baik dan bajik itu berarti patuh pada perintah-perintahNya. Sedangkan kaum Yunani memandang nalar sebagai sumber kebijaksanaan praktis—kehidupan yang bajik, bagi mereka, tidak bisa dipisahkan dari nalar. Tapi, Santo Agustinus, pemikir Kristen abad ke-4 yang sangat berpengaruh itu, melecehkan nalar dan mengajarkan bahwa kebajikan moral ialah penyerahan diri pada kehendak Tuhan. Karenanya, saat para filosof Abad Pertengahan berbicara tentang serangkaian sifat bajik (virtues), konteksnya adalah Hukum Ilahi. ‘Sifat-sifat bajik’ teologis—keimanan, harapan, amal saleh, dan tentu saja, ketaatan— menduduki posisi sentral. Pada zaman Renaisans, filsafat moral kembali tersekularisasi, tapi sebagian filosof tidak kembali ke cara berpikir kaum Yunani. Sebaliknya, Hukum Ilahi digantikan dengan padanan sekulernya, yakni Hukum Moral. Jadi, berbeda dengan para filosof Yunani kuno, para filosof moral Barat modern memulai pertanyaan dengan, ‘Apakah hal yang sebaiknya dilakukan?’ dan bukan ‘Ciri-ciri atau sifat-sifat apakah yang membuat seseorang menjadi baik?’

· Teori ‘Etika Kebajikan’ harus memiliki beberapa komponen. Pertama, harus ada penjelasan tentang apa itu kebajikan (virtue). Kedua, harus ada senarai yang menunjukkan mana saja ciri-ciri pembawaan (character traits) yang merupakan kebajikan. Ketiga, harus ada penjelasan tentang kebajikan2 tersebut. Keempat, harus ada penjelasan mengapa sifat-sifat ini baik untuk dimiliki oleh seseorang. Terakhir, kelima, teori itu sebaiknya menjelaskan apakah kebajikan2 ini sama untuk semua orang ataukah berbeda-beda pada masing-masing orang dan budaya.

· Apakah kebajikan itu? Aristoteles menyatakan bahwa ‘kebajikan’ adalah suatu ciri pembawaan (character trait) yang termanifestasikan dalam tindakan habitual (kebiasaan). Sifat “habitual” ini penting. Misalnya, kebajikan sifat jujur tidak dimiliki oleh seseorang yang menyatakan kebenaran hanya pada saat-saat tertentu atau yang menguntungkan dirinya sendiri. Pribadi jujur adalah yang senantiasa jujur; tindakan-tindakannya “bersumber dari karakter yang teguh dan tidak bisa diubah”. Tapi penjelasan ini belum tuntas membedakan antara kebajikan dan kekejian (vice), lantaran kekejian juga merupakan “pembawaan yang termanifestasikan dalam tindakan habitual”. Edmund L. Pincoffs, profesor di Universitas Texas, memberikan jawaban yang bisa lebih membedakan antara “kebajikan” dan “kekejian”. Katanya, “kebajikan” dan “kekejian” adalah serangkaian sifat yang kita rujuk untuk memutuskan apakah seseorang itu harus kita dekati atau kita hindari. “Sebagian jenis orang kita dekati; sebagian lain kita jauhi. Ciri2 dalam senarai kita tentang (kebajikan dan kekejian) bisa menjadi alasan2 kita untuk mendekati atau menjauhi seseorang”.

· Memang kita mendekati orang untuk sejumlah tujuan yang berbeda2, dan ini menimbulkan perbedaan kebajikan yang relevan dengan sasaran kita. Untuk ahli mekanik, kita mencari seseorang dengan pembawaan terampil, jujur, dan teliti; untuk guru, kita mencari orang yang berpengetahuan luas, pandai berbicara, dan penyabar. Jadi, sifat2 “bajik” dalam hubungannya dengan ahli mekanik berbeda dengan sifat2 “bajik” dalam hubungannya dengan guru. Meskipun demikian, kita juga menilai orang sebagai orang, dalam cara yang umum, sehingga kita memiliki konsep, bukan saja tentang mekanik atau guru yang bajik, tapi juga tentang orang yang bajik. Kebajikan2 moral adalah kebajikan2 orang sebagai orang. Berdasarkan penjelasan di atas, kita bisa mendefinisikan kebajikan moral sebagai ciri bawaan yang termanifestasikan dalam tindakan habitual, dan yang baik untuk dimiliki oleh seseorang.

· Apa saja kebajikan2 itu? Tidak ada jawaban pendek untuk pertanyaan ini. Berikut adalah sebagian sifat bajik yang baik untuk dimiliki oleh seseorang:

1. Baik hati (benevolence).

2. Tidak berpihak (fairness).

3. Berpikir masuk akal (reasonableness).

4. Beradab (civility).

5. Bersahabat (friendliness).

6. Percaya-diri (self-confidence).

7. Belas kasih (compassion).

8. Murah hati (generosity).

9. Pengendalian-diri (self-control).

10. Teliti (conscientiousness).

11. Jujur (honesty).

12. Disiplin-diri.

13. Mau dan mampu bekerjasama (cooperativeness).

14. Tekun (industriousness).

15. Mengandalkan diri sendiri (self-reliance).

16. Berani (courage).

17. Adil (justice).

18. Pandai bergaul (tactfulness).

19. Ramah (courteousness).

20. Setia (loyalty).

21. Peduli (thoughtful).

22. Dapat diandalkan (dependability).

23. Moderasi.

24. Toleransi.

· Apakah kandungan masing-masing kebajikan tersebut? Menurut Aristoteles, kebajikan adalah titik pertengahan di antara dua ekstrem; kebajikan adalah “titik tengah yang terdapat di antara dua kejahatan: satu kelebihan (ekses) dan lainnya adalah kekurangan”.

· Mengapa kebajikan-kebajikan itu demikian penting? Jawaban atas pertanyaan ini tentu saja akan beragam, sesuai dengan masing-masing kebajikan yang kita bicarakan. Misalnya, ‘keberanian itu baik karena hidup penuh dengan bahaya dan tantangan, dan tanpa keberanian maka kita tidak akan bisa mengatasi segala bahaya dan tantangan tersebut.’ ‘Kedermawanan itu baik lantaran pasti sebagian orang hidup lebih membutuhkan daripada sebagian lain, sehingga selalu perlu dibantu.’ ‘Jujur itu baik lantaran hubungan2 antar manusia mau tidak mau harus dibangun di atasnya.’

Advertisements

3 thoughts on “Etika Kebajikan

  1. Salam Ust Musa,
    Pertanyaan saya, apakah manusia dapat memahami seluruh ‘definisi” kebaikan tersebut, karena seperti disebutkan di atas, harus ada konsensus bersama tentang apa itu kebajikan ( hal ini bisa sangat berbeda di tergantung berbagai macam faktor )
    lalu, syarat keempat harus ada penjelasan mengapa sifat-sifat ini baik untuk dimiliki seseorang, apakah ini juga dapat dijelaskan dengan kaitannya dengan ibadah atau syariat.

    The bottom question 😀 Apakah ada dikotomi antara : sesuatu hal adalah baik karena datang dari Allah atau suatu hal yang dituliskan ALLAH adalah baik?

  2. musakazhim says:

    Jawaban singkatnya: semua yang datang dari Allah sebagai Tuhan yang Maha Kasih dan Bijak pastilah baik dan semua yang baik itu pasti diperintahkan oleh Allah. Hubungan Allah dan kebaikan itu hubungan yang simetris dan refleksif, semua yang datang dari Allah baik dan semua yang baik datang dari Allah. Tentu saja pandangan ini tidak menafikan peran manusia dalam memperoleh kebaikan.

  3. Syukron Ustadz :-p sebenarnya emang cuman mo tanya yg bagian terakhir cuman disisipi aja di artikel ust yang kebetulan ada sedikit hubungannya : )

    Syukron sekali lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s