Pola Seks Bodoh

Di zaman manakala exposure media massa dan arus informasi mengganas seperti saat ini, manusia sering disibukkan oleh hal-hal yang tidak jelas ujung pangkalnya. Banyak orang mencari objek yang tidak jelas substansinya. Orang-orang yang kebingungan ini pun mudah lelah, bosan dan jenuh. Mereka berupaya secara terus-menerus menghibur diri. Salah satu sasaran pelampiasan pencarian hiburan ini adalah seks. Manusia pun jadi kian terobsesi dengan seks, sehingga perilaku seksual mereka tidak terkendali, menyimpang dan bodoh.

Perilaku seksual yang bodoh ditandai dengan sejumlah ciri. Pertama, pelaku tidak memaknai seks lebih daripada kegiatan fisik-indrawi. Kedua, pelaku tidak menyadari keinginan pasangan seksnya. Ketiga, perilaku seks yang permisif, membolehkan semua pola dan gaya. Keempat, melakukan seks untuk sekadar mengisi kekosongan. Kelima, perilaku seks di luar konteks nikah dan pembinaan hubungan keluarga. Keenam, perilaku seks yang tidak bertujuan mempunyai anak. Ketujuh, melakukan hubungan seks tanpa tujuan di luar merasakan kenikmatan fisikal seks itu sendiri, seperti mempunyai keturunan dan sebagainya.

Tim Center of Information for Mass Media (CIMM), kira-kira 7 tahun lampau, pernah melakukan penelitian kepada sekitar 200 responden yang terdiri atas siswa-siswi SMU di kawasan Bandung. Pada salah satu kolom kuesioner, kami mengajukan pertanyaan mengenai alasan para responden melakukan hubungan seks—kalau mereka pernah melakukannya. Jawabannya, seperti halnya dengan putauw dan narkotika yang juga kita cantumkan dalam kuesioner tersebut, rasa ingin “mencari kesenangan” (36,19% atau kurang-lebih 118 orang) mendapatkan jawabat tertinggi.

“Mencari kesenangan” adalah kata-kunci semua gerak-gerik remaja perkotaan—dan sangat mungkin juga pedesaan—dewasa ini. Seolah-olah mereka tercipta dalam keadaan duka dan nestapa, sehingga setiap saat selalu ada desakan kuat untuk mencari kesenangan.   

Apa pun makna “mencari kesenangan” ini, niscaya ia didorong oleh dukana dan libido yang tinggi. Jadi, ia bukan untuk main-main belaka. Bandingkan jawaban “mencari kesenangan” ini, misalnya, dengan “sekadar asyik-asyikan” yang juga dipilih oleh 66 responden (20,24%).

Sama dengan alasan menggunakan obat terlarang, “sekadar ingin tahu” mendapat posisi kedua dengan persentase 16,56% atau sekitar 54 orang responden. Kemudian, ada juga di kalangan responden remaja itu (36 responden atau 11,4%) yang secara terus terang menjawab bahwa mereka melakukan hubungan seksual saat mereka “terangsang oleh obat-obat terlarang”. Nah, ini membuktikan adanya saling-sengkarut antara obat-obat terlarang dan seks bebas. Mungkin sekarang kita sudah beralih dari budaya mangan ora mangan kumpul menjadi rawe-rawe rantas malang-malang putung (menghalalkan segala cara).  

Yang sedikit perlu mendapat tanggapan ialah jawaban “nyobain sebelum nikah” atau yang tujuh tahun lalu tersohor dengan istilah test-drive (7,36% atau kira-kira 24 responden). Walaupun tak banyak yang memilih jawaban ini, tapi hubungan seksual menjelang nikah dengan pacar (tanpa bentuk akad apapun) memang banyak dikesankan boleh-boleh saja. Ini jelas menyesatkan.

Ada banyak kisah nyata di kalangan remaja yang menunjukkan bahwa segalanya bermula dari sang pacar. Pacar, konon, ditemukan lewat “hati” (baca: cinta monyet). Dari “hati” si perempuan turun ke “hati” si lelaki. Atau juga sebaliknya. Di masing-masing “hati”, tumbuh-mekar “si buah hati”. Bersama “si buah hati”, kedua pasangan anak-cucu Adam dan Hawa ini memakan “buah terlarang”. Ah, kalau begitu skenarionya, kerusakan memang di “ladang hati” masing-masing. “Ladang hati” yang baik tentu tidak akan menumbuhkan “buah” yang rusak. Apalagi, “buah” yang rusak ini kemudian “merusak” yang lain. Ingat, sesama “buah” yang baik tidak akan saling “merusak”. Atau, “hati” yang bersih akan memagari kehormatan diri sendiri. Sedangkan pagar yang “baik hati” tidak akan memakan “buahnya sendiri”.

Melonggarnya norma-norma perilaku seksual ABG itu bukan monopoli mereka yang tak betah di rumah. Para ABG yang dikenal sebagai anak manis dan tak suka keluyuran pun ternyata menyimpan potensi bom waktu. Penelitian Dr. Baren Ratur Sembiring terhadap 124 ABG yang berusia 14-21 tahun beberapa tahun lampai (Gatra, 02/8/97), yang datang kepadanya dalam keadaan hamil pada 1994, menunjukkan hasil mengagetkan: 70% mengakui melakukan hubungan seks “di rumah”. Itu menunjukkan bahwa “rumah” sudah menjadi “zona aman” untuk melakukan hubungan seks. “Karena pengawasan orang tua di rumah longgar sekali,” ujar dosen Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan itu. Setiap bulan, klinik Baren didatangi sedikitnya 10 ABG yang telanjur hamil.

Namun, sebenarnya seberapa banyak pelaku seks bebas di kalangan ABG ini? Jelas berat menjawabnya. Saya menanyakan perihal ini kepada para responden dengan menggunakan “orang ketiga”. Sehingga pertanyaannya berbunyi begini, “berapa banyak dari teman kamu yang melakukan hubungan seksual”. Alasan menggunakan “orang ketiga” ini sebenarnya diberikan oleh seorang kawan polisi yang sering melakukan interogasi.

Berbeda dengan soal penggunaan obat-obatan terlarang, jawaban tertinggi (44,48% atau sekitar 145) menyatakan punya 1 sampai 5 orang teman yang berhubungan secara seksual. Anehnya, pilihan tertinggi kedua (35,89% atau sekitar 117 orang) ialah “tidak menjawab”. Selayang pandang, “tidak menjawab” ini akibat ketertutupan remaja kita pada galibnya ihwal perilaku seks. Sesungguhnya, masalah ketertutupan para remaja dalam soal seks ini sudah banyak diributkan orang. Sudah banyak juga kalangan yang menyarankan dibukanya “pendidikan seks” di kalangan ABG secepat mungkin. Diskusi, usul, dan wacana mengenai “pendidikan seks” ini tidak akan disinggung di sini.  

Persoalan selanjutnya ialah, jenis hubungan seksualnya. Menarik untuk diamati, semua perilaku seks ini berawal dari “dekat-dekatan”. Mungkin itu sebabnya Alquran surah Al-Isra` (17) ayat 32, melarang manusia “mendekati” perzinahan. Perzinahan, menurut ayat tersebut, dapat melicinkan jalan ke dosa-dosa lain. Termasuk di dalamnya, seperti konteks ayat sebelum dan sesudahnya, adalah pembunuhan alias aborsi tanpa alasan yang dibenarkan.

Selanjutnya, untuk penelitian itu, saya mencoba menyusun pertanyaan dari yang paling “mendekati” hingga “paling jauh”. Teman saya, Dr. Sonny Yuliar, melihat ini seperti konsep limit (tapal-batas) dalam matematika. “Dalam matematika”, katanya kepada saya, “kita mengenal adanya barisan yang trend-nya bergerak ke suatu arah. Teknisnya, barisan yang begini ini disebut dengan ‘barisan Cauchy’ ” Bedanya, mungkin, yang dalam matematika itu sifatnya fisik, sementara ini sifatnya psikologis.

Kalau batas-akhirnya itu perzinahan, maka semuanya akan diawali dengan “pegangan tangan”. Paling tidak, menurut saya, “pegangan tangan” ini adalah start (batas-awal) dari segala perzinahan.

Ternyata “pegangan tangan” dengan pacar atau dalam berpacaran menduduki posisi paling banyak dengan persentase 59,20% atau sekitar 193 responden. Baru kemudian melangkah ke “pelukan” (41,10% atau 134 responden). “Cium pipi” yang lebih jauh lagi dipilih oleh kira-kira 124 responden atau 38,04%. Menjauh lagi ke “cium bibir” (32,52% atau 106 responden), lalu “cium leher (necking)” (19,63% atau sekitar 64 responden), “meraba bagian terlarang (buah dada)” (16,27% atau sekitar 54 responden), “meremas bagian terlarang (buah dada) atau petting” (14,42% atau sekitar 47 responden), dan akhirnya hubungan seksual yang lebih “serius” atau coitus (12,57% atau kira-kira 41 responden).

 

 

3 thoughts on “Pola Seks Bodoh

  1. TESMEI says:

    HAI AQ JUGA BIZ NLITI MASALAH INI, GILA ABIZ MANG GAYA PACARAN N SEKS REMAJA SEKARANG. AQ NLITI DI DESA MA DI KOTA, AQ BANDINGIN, E TERNYATA DI DESA MEREKA LEBIH PERMISIF, TP G TW JUGA MYBE DI KOTA PADA GA NGAKU KALI YE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s