Bumbu Dapur, Ayam Potong dan Api Neraka

Oleh Andika Vebrina*

Ini cerita tentang sebuah kedai bumbu masak di Pasar Atjeh, Kota Banda Aceh.

Pemiliknya adalah seorang pemuda. Usianya kurang dari 30 tahun. Pagi itu, dia duduk mencangkung di tokonya, menanti calon pembeli. Setelan bajunya licin, kemeja pink kotak-kotak, rambut belah tengah dan kaki berbalut jeans.

Dia punya dua toko saling berhadapan, hanya dipisahkan oleh lorong kecil. Toko pertama, menjual bahan rempah-rempah, mulai dari lada hingga kayu manis. Toko kedua menjual bahan hiasan kue. Bahan-bahan itu ditempatkan dalam toples plastik besar, isinya antara lain ada mises coklat, mises warna-warni, buah cherry dan kolang-kaling.

Menjelang siang, tiga orang ibu mengerumuni toko rempah itu. Mereka mengincar bumbu masak.

Pemilik toko itu mengawali pembicaraan. Dia berbicara dalam logat Aceh.

“Peu mita buk (cari apa, Bu)?”

“Na Ajinomoto (ada Ajinomoto)?” Salah seorang ibu menanyakan merek penyedap rasa.

Yang lainnya menunjuk rempah ini-itu. Tawar menawar terjadi. Begitu kelar, si pemilik toko mulai menimbang sebelum akhirnya dia, dengan ligat, membungkus pesanan pembelinya. Dia menanti bayaran. Salah seorang ibu buru-buru menarik dompetnya, lalu menyerahkan sejumlah uang. Dia menerima kembaliannya sesaat kemudian. Dalam kesibukannya, penjual itu merasakan keberadaanku. Dia melihat dalam sorot keheranan. Aku meminta izin untuk duduk di bangku yang terdapat di toko kedua. Dia mempersilahkan. Abang penjual berusaha menggaet pembeli. Dia menyapa beberapa orang yang lewat.

“Peu dek (perlu apa, dek)?” Seorang ibu melintas. Dia nampak kebingungan. Penjual itu kembali bertanya: “peu mita buk?”

“Hana lon teupat lee awak lon.” Ibu itu kehilangan jejak teman-temannya. Dia diam sebentar sebelum berlalu.
Suasana kedai bumbu kembali sepi.
Penjual itu diam saja. Sekali-kali matanya melirik nakal ke arahku. Aku merasa takut. Syukur saja ada seorang penjual sayur minta segera dibawakan plastik hitam satu bungkus. Penjual bumbu langsung mengambilkan plastik dan mengantarkannya ke tempat penjual sayur, lalu kembali lagi. Tapi kali ini tidak ke tokonya. Dia justru berjalan ke toko emas di sebelah. Dari dalam toko emas terdengar lagu dangdut Terajana. Abang penjual mulai terhibur. Dia tak dapat menahan keinginannya untuk berdendang. Sambil terus berdiri dengan tangan kanan di pinggang, dia memainkan kaki kanannya, bergoyang ke kiri dan ke kanan.

Suasana semakin ramai. Lagu telah berganti irama. Kali ini lagu India. Judulnya: Kuch Kuch Hota Hai.
Penjual kembali berusaha menggaet pembeli. Dia menyapa setiap orang yang lewat.
“Kiban, mita peu dek (adek cari apa)?”
Belum ada yang mampir ke tokonya. Perhatiannya lalu beralih ke arah kakak penjual pakaian dalam wanita. Kakak itu berwajah cantik, kulitnya sawo matang, memakai kemeja putih berlengan panjang dipadu dengan celana jeans hitam. Penjual mulai menyapa dan melancarkan rayuan.
“Ada yang tampak?” kata penjual. Matanya liar menyapu tubuh indah kakak itu.
“Pakoen, peu yang deuh (kenapa, apa yang tampak)?” Kakak penjual pakaian dalam itu refleks melihat setiap bagian tubuhnya, memastikan bahwa tidak ada bagian yang tersingkap.

Tak lama kemudian, melintas seorang pengemis yang usianya kira-kira dua puluh dua tahun. Dia bertumpu pada sebuah gerobak kecil untuk membawa lari tubuhnya. Di bagian depan gerobak, ada kotak uang. Ia menyeret dan mendayung gerobak itu dua-tiga kali sebelum akhirnya hilang dari pandangan.
Suasana berganti.

Datang seorang ibu menggendong anaknya, hendak membeli Sasa penyedap rasa masakan. “Padup (berapa harganya)?”
“Seribe limong reutoh (seribu lima ratus).”
“Meuhai that lagoh, hana jadeh (mahal nian, tidak jadi deh)!” Tanpa basa-basi ibu itu angkat kaki.
Penjual jadi kesal, melemparkan Sasa yang telah diambil tadi ke tempatnya lalu menggelengkan kepala ke arahku.
Seorang penjual tas yang berada di samping kanan toko rempah-rempah memanggil, “Dek catat apa, tas nggak ditulis?”
Merasa sapaannya tak berbalas, dia datang mendekat dan berkata, “Apa itu sayang?”
Dia terus berdiri di sampingku dan mulai membaca apa yang kutulis. Lalu dia mengajakku untuk duduk di tokonya. Aku diam saja. Ketakutan. Setelah tak ada tanggapan dariku, penjual tas itu mulai bosan dan kembali ke tempatnya. “Ah, aku mau pulang saja!”

Penjual bumbu masih berdiri di samping toko emas. Setiap orang yang lewat diperhatikannya dan, yang paling mengerikan, dia suka melihat bentuk pinggul perempuan.
Lagu di toko emas berganti. Kali ini yang mengalun Bujangan. Penjual tas yang lain datang ke arahku, mulai mendekat dan menanyakan apa yang sedang kulakukan. “Peu nyan dek (apa itu, dek)?” katanya.
Aku kesal dan menjawab seadanya karena merasa terganggu dengan kehadirannya.
“Hana bang (nggak ada apa-apa, Bang).”
“Oh, abang pikir mau sensus toko. Mungkin adek ini orang benk.” Seperti orang Aceh kebanyakan, abang satu ini menyebut bank dengan benk.
“Bukan, adek ini mau jadi sutradara,” sambung penjual bumbu. Penjual tas kemudian pergi.
Penjual bumbu memanggil temannya. Beberapa laki-laki mulai berdatangan. “Duduk dekat sini aja dek,” kata penjual emas. Dia menunjukkan bangku di sebelahnya.
“Dek tuliskan abang dong. Nama abang Ma’e,” kata teman penjual lainnya.
Aku hanya diam, menunduk sambil terus menulis. Akhirnya mereka juga diam.

Ada seorang bapak lanjut usia memakai kemeja putih, dengan celana kain warna hitam. Bapak itu membeli beras ketan. Aku tidak tahu berapa kilo yang dibeli. Beras ketan ditimbang. Upsss … batu timbangannya kurang. Penjual bumbu mengambilnya di toko tukang sayur. Setelah terjadi transaksi jual beli, suasana mulai tenang kembali.
Datang lagi dua orang laki-laki yang mendekat, berdiri di sebelah kiri dan kanan, kira-kira hanya setengah meter dariku. Mereka saling bergurau satu sama lainnya. Penjual bumbu yang melihat tampak marah.
“Hei, bek kah ganggu adek nyan, gadoh inspirasi jih menyoe na awak kah ((Eh, jangan kamu ganggu adek itu, hilang inspirasinya nanti),” kata penjual bumbu.
Ada sekitar lima belas menit saling bercanda, kedua lelaki itu kembali ke tempatnya.
Beberapa mahasiswa berbusana serba putih, sepertinya dari akademi keperawatan, lewat di depan toko.
“Ayam potong!” kata orang di sekitar toko.
“Enak aja abang ini,” jawab salah seorang dari mereka.
Mereka segera berlalu.
Seorang ibu tua datang ke toko bumbu, minta dibungkuskan kacang tanah. “Kacang,” kata nenek itu.
“Oh, kacang tanoh hana lee (Oh, kacang tanah tidak ada lagi),” kata penjual.
Kios kembali sepi.
Ada dua orang perempuan berhenti tepat di depan toko.
Salah seorang sedang menggendong anak laki-laki. Perempuan satunya lagi tampak lebih tua. Mereka
membicarakan sesuatu, berencana ingin membeli sesuatu. Setelah tiga menit berada di depanku, mereka pergi begitu saja.
Penjual bumbu berjumpa dengan teman lamanya. Mereka terlibat suatu pembicaraan. Mereka saling menanyakan kabar masing-masing. Sepertinya mereka sudah lama tidak bertemu.
Seorang ibu datang ke toko bumbu.
“Kacang,” katanya.
Sambil menggelengkan kepala penjual bumbu berkata: “kacang hana lee ((kacang tidak ada lagi)!”
Pembeli pergi.
Teman penjual bumbu itu minta izin meninggalkan toko.
“Sudah, yah,” kata teman si abang penjual bumbu sambil berlalu.
“Oh get,” balas si abang sambil menganggukkan kepala.
Suasana kembali tenang.
Seorang perempuan muda datang membeli kerupuk sambil menyodorkan sejumlah uang. Penjual mengambil kerupuk di rak atas di dalam toko, mencomot uang dari tangan pembeli, lalu memberi uang kembalian. Penjual bumbu pergi dari tokonya.
Di sela-sela lagu yang terus mengalun dari toko emas, terdengar suara seseorang yang berceramah. Laki-laki itu berdiri di tengah keramaian pasar. Ia menggunakan kemeja dongker kotak-kotak dan celana hitam. Ia banyak bercerita dan mengingatkan setiap orang di pasar agar menjaga keluarganya baik-baik dari “sengatan api neraka”. Setelah selesai, laki-laki itu pergi.
Penjual bumbu terlihat lagi, tapi ia tidak menuju ke tokonya. Dia berjalan ke toko emas, berdiri dan sembari memperhatikan orang lewat. Penjual bumbu tersenyum. Tiba-tiba handphone-ku berbunyi dan aku harus kembali berkumpul dengan teman-teman. ****

* Andika Vebrina adalah mahasiswi jurusan matematika Unsyiah. Ini adalah hasil “reportase”-nya selama 1,5 jam di Pasar Atjeh. Deskripsinya “luar biasa hidup”, “seperti menonton film pendek” kata beberapa temannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s