Eklektisisme, binatang apa ini?

Eklektisisme adalah upaya seseorang untuk membentuk suatu adonan dari berbagai unsur agama atau mazhab. Ada beberapa orang yang jelas2 bangga menyebut dirinya seorang eklektis. Namun, pertanyaannya kemudian, benarkah semua model eklektisisme itu baik atau benar?

Setidaknya ada tiga model eklektisisme:

Pertama, eklektisisme yang tak bersyarat (with no conditions), dlm artian percobaan eklektis yang terbebas dari metodologi dan keyakinan dasar tertentu. Seorang eklektis jenis ini masuk dalam kategori “eklektis murni dan tak pandang bulu.” Dalam konteks Islam, orang ini secara “kebetulan” bisa saja menemukan kebenaran. Tapi, “kebetulan” adalah keadaan yang tidak bersifat umum (la aktsariyah) dan tidak permanen (la daimiyah). Maksudnya, peluangnya menemukan kebenaran sangat kecil.

Kedua, eklektisisme yang bersyarat (bi syarti syay` atau with conditions), dalam artian

eklektisisme yang “terbatas” pada daerah yang sahih dan tepat menurut metodologi keislaman. Jelasnya, dia akan senantiasa menjadikan dasar-dasar keislaman sebagai “middle-terms” untuk menarik kesimpulan-kesimpulannya dalam berpikir. (Secara logika, “middle-terms” adalah dasar untuk menentukan sisi kualitatif dan kuantitatif kesimpulan dalam proses bernalar.) Pelaku elektisisme jenis ini, tentunya, tidak akan begitu saja menerima premis-premis dari luar Islam. Sebaliknya, dia akan menilik dan merenungi sumber-sumber Islam untuk menemukan middle-terms yang bisa mengantarkannya pd kesimpulan-kesimpulan yang “Islamically valid“.

Ketiga, eklektisisme yang syaratnya adalah tidak pakai syarat (bi syarthi la atau with condition of no conditions), dalam artian eklektisisme itu pada hakikatnya menolak Islam sebagai satu-satunya dasar dalam perumusan kesimpulan-kesimpulannya. Jelas sekali bahwa model ketiga ini tidak bisa dibenarkan, bahkan dalam bidang pengetahuan manapun.

Untuk model pertama, kita bisa mengambil contoh tafsir-tafsir al-Qur’an yang memakai temuan-temuan saintifik sebagai dasar pemahaman dan penafsiran. Memang, adakalanya penerapan jenis ini menemukan kebenaran. Tapi, karena sifatnya yang “tanpa syarat” alias tanpa metodologi tertentu, maka sebagian besar penerapan seperti itu sering rancu dan terengah-engah secara intelektual.

Untuk contoh lain, saya pernah mendengar teman saya, Sonny Yuliar PhD, pakar fisika asal ITB, uring-uringan melihat kerancuan2 berpikir seorang novelis terkenal Indonesia yang menulis novel berdasar teori-teori quantum. Saat bertemu dengan sang novelis, kawan saya ini langsung menyerang dengan berbagai pertanyaan. Eh, lucunya, sang novelis hanya menjawab “Saya kan tidak sedang menulis karya ilmiah, melainkan novel yang berisi ekspresi perasaan dan dramatisasi. Jadi, kerancuan metodologis itu wajar-wajar saja.”

“Lha, kalo memang mau bikin novel yang hanya berisi ekspresi perasaan dan dramatisasi , mengapa Anda memaksa pakai istilah-istilah fisika,” gugat sang fisikawan itu. Selebritis yang lantas jadi novelis itu tidak menjawab.

Untuk model kedua, yg lazim berlaku dalam alam pemikiran Islam, kita bisa merujuk pada pola para filosof Muslim merengkuh filsafat Yunani. Mereka tidak begitu saja menerima premis-premis dalam filsafat Yunani, melainkan melakukan pengayaan, pengolahan dan pengulasan yg sangat intensif dan ekstensif dalam koridor metodologi ilmiah yang seksama. Bahkan, seperti yang sudah umum diakui oleh para peneliti mutakhir, dalam konteks ini, filsafat Yunani tidak saja berganti baju, melainkan sudah berjiwa dan nyawa baru. Khususnya kalau kita lihat pada pembahasan seputar soal-soal ontologis dan teologis.

Dalam batas-batas tertentu, para mujtahid juga melakukan eklektisisme dalam pengertian ini. Premis-premis dari ilmu, budaya dan konvensi bisa mereka ambil, tapi dasar-dasar dan metodologi ushul tetap dipakai untuk menetapkan kesimpulan.

Untuk model ketiga, kita bisa merujuk kandungan wawancara Dr. Haidar Bagir dengan Annimarie Schimmel ihwal perkembangan sufisme di Barat tahun 2000 silam. Kata Schimmel, banyak orang Barat yg meyakini sufisme dan mengagumi Jalaluddin Rumi, tapi tidak meyakini bahkan sama sekali tidak mengenal Islam ataupun Nabi Muhammad. Sayangnya, mistisisme paling banyak menjadi korban eklektisisme model terakhir ini.

 

 

2 thoughts on “Eklektisisme, binatang apa ini?

  1. ranrose says:

    saya baru baca lagi artikel ini, karena mengutip ucapan kang jalal bahwa “kebenaran dan hikmah tercecer dimana-mana, di berbagai opini maka dari itu saya berkewajiban memungutnya” , lalu seorang teman bilang dia teringat akan istilah eklektisisme dalam blog pa ustaz😀, apa ini bisa disebut eklektisisme tapi yang bersyarat ?

    Syukron…

  2. Gemala Dewi says:

    Saya senang ada bahasan tentang eklektisisme yang kebetulan saya memang ingin tahu lebih banyak tentang hal ini. Apakah bisa dicontohkan eklektiisisme dalam bidang ilmu hukum? terima kasih. Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s