Hari Puter

Saya yakin banyak di antara kita pernah mengalami kejadian semacam ini: tiba-tiba pikiran kita terbaca oleh orang lain, sekalipun kita tak pernah menyatakannya secara terbuka. Tanggal 20 Juli 2007, aku bertemu sepupuku, MY, di bilangan Cawang. Aku bercerita tentang keinginanku membuat sebuah buku parodi tentang Harry Potter dengan judul Hari Puter. Keinginan yang sama juga kusampaikan pada Bang Labib, dan sahabatku, Alfian. Tanggal 21 Juli 2007, aku bertemu dengan Bang Haidar Bagir, bos Grup Mizan, untuk bersilaturahmi dan berbincang-bincang soal pekerjaan. Setelah cukup lama, tiba-tiba dia menyodorkan sebuah sampul buku berjudul Happy Potter yang didesain sangat mirip Harry Potter.

“Subhanallah,” kataku dengan suara lantang, “baru tiga hari lalu ana punya pikiran membuat buku parodi tentang Harry Potter dengan judul Hari Puter.” Bang Haidar menimpali, “Lho, ana malah sebenarnya sudah minta penulis ini menamai tokoh utamanya dengan Hari Puter. Tapi yang bersangkutan tidak berkenan.”

Tak berapa lama aku pamit pulang dan meminta sejumlah buku. Salah satu buku yang kuambil adalah karya Hernowo berjudul Aku Ingin Bunuh Harry Potter. Eh, ternyata nama tokoh utama buku itu adalah Hari Puter. Bang Haidar seertinya tidak tahu menahu soal buku Mas Hernowo itu. Penulis satu ini memang sangat produktif.

 “Wah, apa yang sebenarnya terjadi,” batinku. “Apakah sekarang orang bisa saling berkomunikasi lewat alam pikiran. Apakah ini sejenis telepati, tapi dengan pola yang tak terlalu jelas.”

Aku tak bisa tahu persis apa yang terjadi. Tapi semua itu nyata adanya. Dan agaknya gejala seperti itu bukan sekali saja kualami. Ada beberapa kali dalam hidupku ketika aku mendadak menemukan apa yang kupikirkan menjadi pikiran banyak orang lain. Bahkan, dalam beberapa hal, ada pula orang yang sudah mengerjakan sesuatu yang baru saja ada dalam pikiranku.

Apakah ini pertanda bahwa manusia pada dasarnya sama? Bahwa kita sejatinya berasal dari benih yang sama, berpikir dengan cara yang sama dan menginginkan objek yang sama? Entahlah.

Tapi, boleh jadi hikmah paling penting yang dapat kuambil dari kejadian ini, dan yang saat itu langsung membuatku tertunduk malu, bahwa manusia sama sekali, apapun alasannya, tidak layak membanggakan diri. Kita dan seluruh yang kita bangga-banggakan pastilah jadi barang biasa di mata orang lain. Jangan terlalu bernafsu menunjukkan kehebatan yang kita miliki, lantaran sangat mungkin kehebatan itu juga sudah dimiliki oleh orang lain dalam tingkat yang lebih lanjut. Dan mungkin juga kehebatan yang kita banggakan itu semata-mata barang lumrah di dalam diri banyak orang.

12 thoughts on “Hari Puter

  1. ustad
    saya pikir ini bisa saja dianggap satu kebetulan belaka, tapi tentunya Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu yg kebetulan saja kan, bisa saja dia Sang Maha Tahu dan Maha Bisa itu mengilhamkan beberapa orang untuk topik yang sama pada saat yang sama, semudah Dia mencabut jiwa dari ratusan ribu orang saat gempa, tsunami ataupun perang. setuju dengan tulisan antum bahwa ……Dan mungkin juga kehebatan yang kita banggakan itu semata-mata barang lumrah di dalam diri banyak orang…..
    betul..! betul!!! amin!

  2. Afifah says:

    hehe…sayang amt keduluan, penasaran jadinya, apa sih yang mo diparodiin dr harry potter versi ust Musa? bikin parodi nya di Blog aja😀 lagian gpp,pasti kan beda sudut pandang dan gaya penulisan Mas hernowo dengan ust Musa :-p

    Oya jadi inget puisi singkat dari bocah 8 thn, Abdurrahma Faiz tu ttg Harry Potter :”Sudahkan Kau temukan ramuan paling rahasia itu agar seluruh penduduk dunia bisa saling mencintai”

    Nb : ust Musa Penggemar cerita Harry Potter ?😀

  3. musadiqmarhaban says:

    Salam Sayyid,
    Ana juga punya pengalaman spt ini kemarin di bet Eja. Sayyid Seggaf yang di L. Agency cerita bahwa ada buku yg judulnya mirip dengan judul yg pernah ada buat utk buku ana yg kedua dulu “The Thirthte…” (antum msh ingat!)… sebelum judulnya ana ganti menjadi The Hidden Prophecies…aneh yaa!!
    Dan yang lebih aneh lagi….topiknya juga sama, meski mungkin yg versi dia lebih banyak tema2 fiksinya….
    Tapi hal2 ini memang aneh Sayyid…
    Padahal buku ini dari luar negeri Sayyid…
    Ana percaya bahwa kekuataan ruh yang unik ini belum dipahami oleh manusia…
    padahal energi listrik yg ada ditubuh kita bisa menghidupkan 200jt bohlam selama sebulan…
    secara tidak disadari ana energi yang luar biasa dahsyatnya di dalam tubuh ini…

  4. musakazhim says:

    Untuk Afifah: mungkin ‘Hari Puter’ saya ga bakal menarik. Bahkan, Taufik Haddad, penggiat Penerbit Ufuk, bilang ke saya untuk tdk menyentuh “wilayah kekuasaan” Ben Sohib. Saya terima sarannya dengan penuh gembira.
    NB: saya baru-baru ini aja suka Harry Potter. Tapi, saya suka spirit dan karakterisasinya. Tadinya rencana saya sederhana saja. Sementara biar menguap dulu. Ntar ada siklus dia balik lagi, kalau memang ada manfaatnya:-)

    Untuk M3: Ya, sangat mengherankan. Mungkin besok ana akan cerita hal lain yg terjadi kemarin (10/08/2007) berkaitan dengan tema yg mirip: kekuatan pikiran. Tampaknya tema ini belum banyak dijelajahi.

  5. Ema rachman says:

    salam ustad…
    dulu saya sangat tertarik dengan tulisan2nya Deepak Chopra, ada yang menerangkan tentang hal itu di bukunya ‘ the way of the wizard’, nanti saya coba baca lagi….dia bisa kaitkan antara the mind, the universe and the present…..

  6. salam Gus Mus….
    melihat penuturan anda ttg kesamaan berpikir yang anda alami dengan beberapa orang, saya melihat bahwa itu tdk bgt aneh krn kesamaan berpikir itu terjadi di antara orang2 yg memang punya semangat yg sama dengan anda..artinya job mereka kurang lebih sama dgn anda…kan Bung Haidar dan Mas Hernowo juga anda sama2 menggeluti dunia penulisan dan penerbitan….jadi ada titik temu di antara kalian di alam dhihin…insting dan kepekaan ide brilian mempertemukan kalian di alam otak sebelum alam nyata…
    Wallahu a`lam…..

    Muhammad alcaff, Qom, Iran

  7. musakazhim says:

    Untuk Mbak Ema: Saya tertarik jika Anda berkenan menulisnya ulang:-)

    Untuk Iyek: Bisa jadi memang enta benar: kita punya kerjaan sama, sehingga dunia kita sama. Tapi, seperti sudah sama2 kita tahu, kesamaan kerjaan itu bukan “illah tammah”. Maksudnya, itu hanya salah satu faktor, bukan satu-satunya faktor. BTW, lihat cerita serupa pada “Adu Setang Valentino dan Biaggi”.

  8. sanggardewa says:

    “Jangan terlalu bernafsu menunjukkan kehebatan yang kita miliki, lantaran sangat mungkin kehebatan itu juga sudah dimiliki oleh orang lain dalam tingkat yang lebih lanjut. Dan mungkin juga kehebatan yang kita banggakan itu semata-mata barang lumrah di dalam diri banyak orang.”

    dan apa yg dialami gus mus bisa jadi karena di dunia ini g’ ada hal baru, baik itu berupa ide ataupun yg lainnya.

  9. Hernowo says:

    Salam,
    Apa kabar Musa Kazhim? Senang sekali bisa “bertemu” dengan Musa meski hanya lewat ruang maya. Sudah berapa tahun kita tak bertemu ya?
    Tokoh yang saya ciptakan bukan bernama “Hari”, tapi “Heri” Puter. Nama itu ada maknanya bagi saya, tapi saya tidak membukanya di buku saya itu. Mungkin akan saya buka lain kali di serial selanjutnya (he-he-he).
    Tapi, saya percaya bahwa kita bisa berkomunikasi lewat pikiran. Apa hal seperti ini bisa dimasukkan ke “law of attraction”, Musa? Sudah lama saya tidak Musa taburi dengan hal-hal yang mencerahkan piiran saya.
    Sudah berusia berapa putra Musa? Lucu sekali ya? Foto yang tampil di samping tulisan/komentar Musa itu putra Musa ya?

  10. musakazhim says:

    Wah, Mas Her…apa kabar? Saya kangen sekali. Untung bisa terobati dengan membaca buku2 Mas Hernowo. Terima kasih sudah sudi mampir ke gubuk maya ini. Di sinilah saya bergelut menata lintasan2 pikiran. Kata orang bijak, “dibanding ngomong sendiri lebih baik nulis sendiri.”

    Iya, Mas. Sudah lama sekali kita tidak bertemu, entah berapa tahun lalu. Tapi, masih sangat segar dalam ingatan saat kita rutin berbincang2 berdua, kadang ditemani yang lain, di kantor Mizan Yodkali. Dari waktu itu, saya melihat sudah banyak sekali gagasan2 Mas Hernowo yang teraktualisasi. Hopefully more n more 2 come!

    Betul, betul…Tokoh yang Mas Hernowo tuliskan itu bukan “Hari”, tapi “Heri”. Dan saya menduga bahwa itu adalah…dari…Mas Her sendiri. Semoga ini tdk membocorkan apa-apa ya. Lanjutan buku itu saya tunggu lho!

    Saya betul2 percaya dengan kemungkinan komunikasi lewat pikiran. Malah, komunikasi lewat pikiran jauh lebih jernih dan lebih jelas ketimbang komunikasi lewat mulut. Bukankah secara filosofis, modus eksistensi fisik jauh lebih rendah daripada modus eksistensi mental (pikiran)? Saya belum paham maksud istilah “law of attraction”.

    Mas Hernowo-lah yang saya minta menaburi saya dengan pencerahan. Dan kalau mungkin, sekali-kali, tentu rutin lebih baik, Mas Her sudi menulis di blog ini.

    Putri saya sekarang usia 15 bulan. Dari segi postur fisik dan kenakalan memang tidak kalah dengan putra, he, he, he. Tapi, kepribadiannya sangat feminin.

    Pengen sekali bisa berkunjung ke rumah Mas Her di Bandung bersama keluarga. Insya Allah setelah lebaran. Karena tiga hari mendatang saya harus mudik ke Jatim.

    Jangan lupa saran dan kritiknya untk blog ini.

  11. Hernowo says:

    Musa, lewat buku-buku karya saya, saya ingin jadi “tumbal” (saya tidak ingin mengatakan “saya ingin jadi ‘contoh/teladan'”) yang menunjukkan secara konkret bahwa menulis (juga membaca) mudah dan menyenangkan untuk kita jalani. Saya tahu (dan saya yakin Musa dan pembaca-setia blog ini juga tahu) bahwa menulis (juga membaca) bukan pekerjaan yang enteng. Seperti kata Syari`ati, racun yang disebar oleh tulisan/buku itu efek merusyaknya lebih dahsyat ketimbang racun biasa.
    Namun, betapa pentingnya membaca dan betapa pentingnya pula menulis. Saya kok begitu yakin jika kaum Muslim awal dulu tidak menjalankan secara sungguh-sungguh dan luar biasa perintah pertama Tuhan dalam Surah Al-`Alaq, Islam tak akan mewariskan peradaban-agung sebagaimana yang kita nikmati sekarang (mohon dikoreksi jika saya salah ya?).
    Di atas meja saya saat ini ada Kitab Al-Fihrist (dalam bahasa Inggris). Betapa dahsyatnya An-Nadim ya? Semangat dan gairah membaca dan menulis (menerjemahkan) yang dikandung buku itu tak bisa ditampung oleh ketebalan buku tersebut. Luar biasa! Kapan kita memiliki semangat dan gairah seperti itu saat ini Musa?
    Oh ya, saya tak akan memberi saran dan kritik atas blog ini. Saya bahkan harus segera mengganti kritik dan saran tersebut dengan rasya syukur karena, lewat blog ini, Musa telah membagikan “cahaya”—sekecil apa pun cahaya itu. Insya Allah, saya akan ikut di sini untuk memperbesar “cahaya” itu (semampua saya tentunya). Saya ingin berpayah-payah membaca dan menulis (makanya, saya ingin jadi “tumbal” saja, Musa) setiap hari untuk menunjukkan betapa mudah dan menyenangkannya menjalankan dua kegiatan—yang saya sebut “mengikat makna”—tersebut.
    Silakan mampir ke rumah saya, Musa. Ajak keluarga Musa ya? Saya dan keluarga saya tentu akan merasakan secercah kebahagiaan jika bisa dipertemukan dengan Musa dan keluarga. Mohon maaf jika ada yang saya tulis dan yang saya tulis tersebut tidak berkenan di hati yang membaca tulisan saya. Salam.

  12. musakazhim says:

    Tulisan Mas Her meringkaskan banyak pesan penting. Tapi, menurut saya, pesan terpenting Mas Her justru tersimpan dalam bentuk pertanyaan ini “Kapan kita memiliki semangat dan gairah seperti itu saat ini Musa?” Memang, seperti kata Ibn Sina, filosof dan pemikir Muslim paling dirayakan itu, semangat dan kehendak adalah esensi kemanusiaan. Bahkan, ukuran kemanusiaan itu sendiri terletak pada seberapa besar semangat dan kehendak seseorang. Orang-orang yang Mas Her sebutkan itu sebenarnya telah sampai pada pemahaman ini. Dan perlahan tapi pasti mereka mencoba untuk mewujudkan semangat mereka dalam dunia nyata.

    Semoga kita bisa menguntit mereka, demi kemuliaan bulan penuh berkah ini!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s