Adu Setang “Rossi” dan “Biaggi”

 251119183_0872264cb3_o.jpg

Hari Jumat tanggal 9 Agustus 2007 memang terasa sangat aneh. Sejak keluar rumah aku sudah berfirasat bahwa aku akan terlambat sampai tempat tujuan. Dan benar, pukul 3 kurang sedikit baru aku bisa keluar. Setelah berjalan cukup jauh karena tak ada angkutan yang melintas, aku sampai di pangkalan ojek yang biasa kusinggahi. Tukang ojek langgananku ternyata hanya menyapa dari kejauhan, sepertinya dia enggan (atau juga punya firasat yang sama? Entahlah) memboyongku ke Plaza Telkom Pasar Minggu, tempatku membayar tagihan internet speedy.

Pemuda tanggung berpostur “tidak meyakinkan” ini langsung memancal pedal untuk menyalakan mesin motor Yamaha buatan 80-an itu. Hatiku semakin tak enak. “Motor sebutut ini kok ya masih dipaksa melayani perjuangan manusia mencari sesuap nasi sekarung berlian,” pikirku geram, sambil terus memikirkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak enak.

Eh, ternyata motor butut itu dipacu dengan kencang, meliuk-liuk di kepadatan lalu lintas Pasar Minggu yang akhir-akhir ini sudah jadi kian macet tertimpa arus buangan dari segala penjuru. Firasatku semakin kuat, suatu peristiwa akan segera terjadi. Mula-mula, Plaza Telkom yang kutuju sudah tutup. “Wah, sudah tutup. Kita balik ke Samali lagi aja!”

Tiba-tiba, “Valentino Rossi Betawi” ini membanting setir, berbelok arah dengan tajam dan langsung tancap gas. Bagiku, pada saat itu, segalanya sudah semakin jelas tergambar di kepala. Tapi, entah apa yang mengganjal, mulutku seperti terkunci manakala kulihat motor yang datang dari lajur kiri dengan cepat menghampiri kami.

And here comes the moment of truth… sebuah tabrakan yang benar-benar berantakan terjadi. Seorang bapak yang mengbonceng istrinya terjungkal. Mulutku langsung “cipokan” dengan helm Valentino Rossi, sementara jidatnya hampir saja membentur median jalan.

Seru.

Aku sendiri hanya bisa memandangi darah di kaki dan tangan Valentino Rossi, juga darah di betis dan lutut orang yang kira-kira setua “Max Biaggi”.

Para pengguna jalan mulai berkerumun, dan kedua korban itu memperdengarkan simfoni makian dan adu mulut yang sungguh menyesakkan dada. Untung semuanya berlangsung tak terlalu lama, dan tak terlalu parah, sehingga bisa selesai dengan segera.

Subhanallah…sekiranya sedetik sebelumnya aku memberi aba-aba, mungkin semua kekisruhan ini takkan terjadi. Tapi, begitulah sejarah orang sepertiku: pengetahuan seringkali tidak berguna di saat paling diperlukan. Orang percaya pada nasib, tapi nasib itu sebenarnya adalah peristiwa yang juga ada partisipasi kita di dalamnya, betapa pun cacilnya.

Ya Allah, lindungilah kami dari pengetahuan yang tak berguna, dari diam yang berakibat pada kerugian banyak orang, dari bicara yang salah tempat, dari banyak kekeliruan yang sudah begitu rupa berjalin berkelindan dalam pikiran dan tindakan.

Ya Allah, tolonglah hamba yang bodoh, lemah, kurang, peragu dan tak bermutu ini. Ya Allah, sungguh tiada Penolong yang dapat kuharapkan selain-Mu. Kaulah Tuhanku, dan Kau pula yang paling “bertanggungjawab” menolongku.

Irham man la yamliku li nafsihi naf’an, wa la dharran, wa la mautan, wa la hayatan, wa la nusyura!!!

Maafkan kebodohan, kecerobohan, kebingungan, keraguan, kelemahan, kegugupan, kelengahan, dan segala rupa keburukan yang terus saja tumbuh subur dalam raga dan jiwa kami.

3 thoughts on “Adu Setang “Rossi” dan “Biaggi”

  1. Cerita yg menarik..!
    Setahu ana, itu memang hal yg sangat manusiawi yaitu ketika pada saat2/momen2 tertentu bicara menjadi sesuatu yg teramat sulit. Salah satu yg masih berfungsi baik ketika saat2 panik itu adalah kemampuan kita utk meniup. Itu pula salah satu yg melatar belakangi pelampung di pesawat itu difungsikan dng cara meniup. Polisi menggunakan sempritan utk memberhentikan pelanggar. Disarankan pula utk sedia sempritan di samping ranjang utk saat2 genting, krn biasanya orang nggak bisa teriak ketika ada bahaya (misal maling masuk).

    So, mestikah kita sedia sempritan juga waktu naik ojek yg dikemudikan oleh pengemudi sekelas “Valentino Rossi atau Max Biaggi” tadi?

    Hahahahaha…ide buruk! Hahaha..

  2. musakazhim says:

    He, he, hehehe. Mar, kalau bulan Ramadhan atau sedang puasa, sebaiknya solusi sempritan dihindarkan. Kalau tdk, bisa gawat:-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s