Diari yang Terus Terkenang

Oleh: Suarni Juanna Arkas*

Lima tahun sudah ayah meninggalkan dunia. Bagiku ia serasa masih hidup meski hanya dalam kata-kata atau tulisan dan sejumput kenangan. Ke manapun aku pergi dia selalu ada. Senyumnya, cara tuturnya yang sopan, dan nada bicaranya kadang membuatku terkekeh-kekeh hingga keluar air mata.

“Ayah,” batinku, “kau selalu membuatku kagum. Kau sukses membimbingku menjadi sosok yang berani, disiplin—meski sekali-kali kau melibas telapak tanganku dengan rotan karena berbohong. Aku tidak pernah merasa dendam terhadap ketegasanmu. Aku malah bangga. Aku rindu libasanmu. Tapi apa boleh buat, kau pergi terlalu cepat. Kau mendahului kami semua.

Masih terngiang di telingaku, kau berkata: Mencapai cita-cita itu tidak mudah, harus sungguh-sungguh, rela letih, rela bangun pagi lebih cepat.”

Selalu terbayang di mataku saat kau membangunkan aku untuk shalat subuh. Kau selalu membawa air secangkir ke kamarku, bila aku enggan bangun, kau menarik selimutku dan mencipratkan air ke mukaku. Mau tidak mau aku harus bangun padahal aku masih mengantuk. Sekarang aku rindu pada semua itu. Biarlah itu menjadi kenangan dan pelajaran berarti untukku. Kelak bila aku punya anak, akan kubiasakan mereka untuk bangun lebih pagi.

Biasanya kau meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan kami, mengadukan masalah yang menurutku mesti kusampaikan. Kau selalu mendengarkan cerita kami, tidak peduli cerita apa. Cerita teman, cerita tentang kekalahanku bertanding di sekolah—biasanya kau sangat tertarik tentang taktikku mengalahkan lawan

waktu tanding badminton. Ah, mengenangmu seperti menulis cerita panjang bagiku. Sulit untuk dilupakan.

Mungkin kekaguman seorang anak terhadap ayah itu hal biasa, tapi yang membuatnya lebih adalah catatan hariannya. Kalau saja aku tahu dari dulu ayah suka mengurung diri di kamar untuk menulis, aku akan menemaninya sampai dia selesai menulis.

Sangat jarang orang menulis catatan harian, apalagi seorang laki-laki. Andai aku punya pendamping hidup sepertimu, mungkin akulah orang yang paling

bahagia di dunia ini. Sekarang aku hanya bisa membaca catatan harian sebagai obat rindu.

Maafkan aku telah lancang membuka buntalan arsip di meja kerja di sudut kamar itu setelah kau meninggal. Aku sangat terkejut waktu itu. Aku menemukan satu buntal buku setengah lusuh dalam laci meja.

Dulu, waktu aku mau merapikan buku-bukunya, dia selalu melarangku. Aku tidak jadi merapikannya karena aku sangat hormat pada hal-hal pribadinya.

Aku membuka buntalan yang berisi buku. Ternyata jumlah buku itu lebih dari satu; ada enam buku yang berbeda-beda. Kubuka dan kuperhatikan satu per satu.

Pertama kubuka buku yang paling lusuh, sudah berdebu dan bentuknya seperti buku tulis anak Sekolah Dasar sekarang. Di kulit buku itu tertulis lagu kebangsaan Indonesia Raya. Tebal sekitar 40 halaman. Aku menutup hidung dengan sapu tangan untuk menghindari debu. Meski buku itu belang-belang karena

lembab, tidak ada bekas gigitan rayap, mungkin ayah sangat menjaga buku itu. Meski sudah lama buku itu ditulis, masih bisa dibaca.

Aku membuka halaman pertama. Tertera tulisan dengan ejaan bahasa Indonesia yang sudah disempurnakan, tertanggal 7 Februari 1971, ketika dia berusia 20

tahun karena dia lahir pada 31 Desember 1951. Tulisan pertama itu hanya berisi empat paragraf:

Tuhan, aku tahu, dalam hidup ini semua atas izinmu. Tolong aku.

Izinkan aku sekolah. Hidup dan matiku hanya padamu.

Kau jualah yang beri aku makan dan minum, hari ini aku minta padamu beri aku kekuatan untuk mencari ilmu.

Akhiri penderitaanku.

Sekolah akan mengakhiri kesengsaraanku.

Aku ingin hidup lebih baik. Baik untuk adik-adikku. Kuucap bismillah untuk hari awalku, kuharap lindungan-Mu, Rabbi, selalu menyertaiku.

Aku ingat cerita ayah. Setamat SMP, dia langsung Sekolah Pendidikan Guru satu-satunya yang ada di Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan. Kuteruskan membuka

halaman demi halaman. Bentuk tulisannya tegak bersambung.

Catatan harian ayah ternyata berisi pelajaran hidup yang berharga. Dia menulis tentang cita-citanya yang ingin menjadi seorang guru. Guru apa saja yang penting

bisa mengajari orang mengenal huruf abjad, membaca dan menulis. Dia juga menuliskan, bila ingin berhasil menggapai cita-cita kita harus mengenal apa yang kita cita-citakan. Supaya kita tahu apa yang harus kita lakukan untuk berhasil menggapainya. Selain itu kita harus punya prinsip supaya tetap bersemangat.

Ayah juga menulis tentang cobaan yang dilaluinya. Keadaan ekonomi yang buruk. Bisa dikatakan dia memang tidak punya uang yang cukup untuk sekolah. Apalagi dia juga harus menjaga empat orang adik. Mereka dapat makan dari hasil kebun dan sawah.

Dia besar tanpa kasih sayang seorang ibu. Seperti dia ceritakan dalam catatan harian, ibunya meninggal saat ayah berusia 12 tahun. Dalam keadaan sulit dia tetap memilih untuk sekolah. Hidupnya jauh lebih sulit dibandingkan aku sekarang. Sepeninggal ayah, kami masih bisa menikmati uang pensiun. Kami dapat dengan mudah menentukan pilihan untuk sekolah di mana saja kami mau. Namun, terutama sekali aku merasa bahagia dan bangga berkat pendidikan yang ayah berikan.

“Kesabaranlah yang membuat kita berhasil,” katanya dalam catatan harian setelah ayah berhasil menjadi guru Sekolah Dasar. Dari gaji guru itu dia membiayai

sekolah adik-adiknya. Pada saat yang hampir sama, ayah juga bertemu dengan Mak. Tapi, usia perkawinan hanya 15 tahun. Aku ingat betul masih berusia 12 tahun ketika Mak meninggal. Aku juga ingat ayah sangat berduka. Kehilangan orang yang sangat dicintai.

Aku juga lebih berduka kehilangan Mak. Saat aku sedang butuhnya kasih sayang, Mak pergi untuk selamanya. Mak meninggal saat melahirkan adikku. Bagiku kesedihan semakin parah karena setelah enam tahun Mak di Kehadirat-Nya, Ayah menyusul pergi untuk selama-lamanya. Hidup tanpa Mak dan Ayah memang sepi dari kasih sayang. Tapi, tidak masalah, aku yakin Tuhan tidak pernah luput memperhatikanku.

Lebih dari itu, aku juga tetap merasa masih bersama ayah meski hanya membaca catatan hariannya. Aku tidak tahu pasti kapan Ayah menulisnya, dalam keadaan sedihkah atau senang. Dia tidak menulis setiap hari, sebagaimana tampak pada tanggal-tanggalnya yang tidak berurut.

Aku buka buku lain, yang agak lebih bersih. Tidak berdebu, tintanya basah karena lembab. Menurutku, buku ini adalah buku terakhir yang ditulis sebelum dia

meninggal. Dia menulisnya sebulan sebelum meninggal:

“Tuhan, telah selesai tugasku. Aku tinggalkan anak-anak di dunia. Mendoakanku bila kesulitan di alam barzakh. Sebelum tubuhku terbaring di bawah taburan

kamboja.”

Aku ingat, sebelum meninggal, dia sempat bicara pada kami, anak-anaknya, di meja makan. Nasehatnya masih aku ingat benar, dan ternyata dia tulis juga dalam catatan harianmu:

“Izinkan aku menyampaikan sepatah kata untuk anak-anakku di dunia.

Jagalah tiga hal yang membuatmu lupa diri.

Pertama: jika kamu berada di majelis, jagalah lidahmu.

Kedua: jika kamu berada di meja makan, jagalah perutmu.

Ketiga: jika kamu sendiri jagalah hatimu.”

Kututup buku itu dengan hati yang haru. Ayah yang baik meninggalkan pesan sebelum meninggal. Dia seperti tahu kapan meninggal. Akan kubukukan catatan harian ini sebagai hadiah ulang tahunmu di surga, pada 31 Desember 2006 ini. Kukemas kembali buku harian ayah dalam buntalan dan menyimpannya kembali dengan rapi.***

* Suarni Juanna Arkas menulis cerita ini untuk

mengenang ayahnya. Semua yang ada di tulisan ini fakta

berdasarkan pengalaman nyatanya.

 

4 thoughts on “Diari yang Terus Terkenang

  1. Salam

    Air mataku meleleh diikuti seduhan jiwa saat aku membaca deretan ceritamu wahai hamba Tuhan nan bijak lestari, entah kenapa setiap kali aku diarungi nuansa nurani insan yang menggambarkan nilai agung budi-pekerti kemanusiaan, sukmaku melang-lang menuju ekstase spiritual yang suci dan damai, terkadang ku khayalkan seandainya semua manusia di muka Bumi ini teliti dan seksama tentang nilai nurani kemanusiaannya, maka cukup dapat mengantarkan mereka untuk membenarkan kata-kata Tuhan Sang Penciptanya, dan Surga akan segera dikecapnya seketika ia di Dunia ini juga.

  2. ummuhurairah malaysia says:

    buat ayah kita dialam barzakh
    kenangan bersamamu kasih
    seumpama mimpi didalam mimpi
    terasa engkau disisi
    menemaniku saban hari

    pabila kupejamkan mata
    akan terasa hangatnya asmara
    walaupun sekian lama
    telah terpadam cinta kita

    tangisan dalam ketawa
    sedu sedan menjadi syair cinta
    terasa ingin ku sentuh bayanganmu
    walau hanya seketika cuma
    agar hilang rindu dan dahaga
    agar pulih semangat kasih dan mesra
    seperti baru kenal cinta

    kenangan bersamamu kasih
    membakar gedung fikiranku ini
    terasa hidup ku ini
    umpama mimpi dalam mimpi

    my email:darulhurairah97@yahoo.com

  3. nilam says:

    Salam kenal
    Saya sangat terharu dan larut dalam duka membaca kisah Anda di atas. Orang tua Anda sangat mulia. Semoga semakin dimuliakan oleh Allah di sisiNya.
    Wassalam
    ndyah.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s