Guntur yang Tak Menggelegar

Beberapa waktu lalu, seorang aktivis Jaringan Islam Liberal bernama Guntur (Romli) menulis di Koran Kompas (1 September 2007) tentang Nabi Muhammad. Kesan saya: tulisannya terlalu serius untuk disebut sebagai kelakar, tapi terlalu menggelikan untuk disebut ilmiah. Sebagai produk (kebablasan?) dari “kebebasan berpendapat dan berekspresi”, tulisan itu berada di antara lelucon religius yang tak sukses dan renungan ilmiah yang tak berdasar.

Dilihat dari judul, cara penulisan, dan kemasan luarnya, Guntur (yang tak cukup kuat untuk menimbulkan gelegar) bermaksud memberikan komentar tentang kenabian Muhammad. Dia ingin menulis sebuah karangan ilmiah. Tapi, apa daya tangan tak sampai, dan otaknya tak cukup terlatih untuk mengerjakannya.

Marilah kita cermati dua kesesatan berpikir yang mengurung benaknya. Pada satu sisi, ada kesan bahwa tulisan Guntur mencoba mengangkat beban yang jauh lebih besar dari apa yang mampu dipikulnya. Ia mencoba menyatakan bahwa ada sejumlah cerdik pandai Kristen yang mempengaruhi Muhammad. Atau setidaknya bahwa Muhammad bukanlah Nabi yang “suci” dan bebas dari rekayasa manusia di sekitarnya. Ini jelas kesimpulan yang berbahaya dan besar. Tapi, bukti yang diberikannya sangatlah terbatas, bahkan tidak ada. Guntur mungkin tidak tahu bahwa masalah kesucian Nabi, bahkan masalah kenabian secara umum, tidak bisa diperdebatkan dalam konteks historis. Masalah ini jauh melampaui kitab-kitab sejarah yang dibacanya dan nama para sejarahwan yang diusungnya. Topik ini bersifat abstrak, dan masuk dalam wilayah teologis atau filosofis yang berpijak pada metodologi penalaran rasional. Jelasnya, kenabian Muhammad dan bukti-bukti yang terkait dengannya (baik yang mendukung maupun yang menolaknya) harus berpijak pada perangkat ilmiah yang disediakan oleh filsafat atau teologi. Nah, untuk ini sepertinya Guntur masih harus bekerja keras mendapatkan beasiswa dari AS atau belajar di salah satu universitas di Eropa. Namun, karena dia tidak melakukannya, dan membatasi metodenya pada tataran historis, maka tulisannya itu menjadi timpang, besar pasak ketimbang tiang, terlalu mengumbar asumsi tanpa bukti yang cukup. Di sini, Guntur melakukan kesesatan berpikir yang umum disebut dengan “jumping into conclusion” atau istilah Arabnya disebut dengan “mushadarah”.

Sialnya, pada sisi lain, ada juga kesan, setidaknya dari para pembelanya di belakang hari, bahwa maksud dan tujuan tulisan Guntur itu hanya untuk menarik kesimpulan tautologis dalam kemasan kata-kata puitis ini: Nabi Muhammad tidak datang dari negeri antah berantah. Kalau maksud tulisan Guntur itu hanya menegaskan kesimpulan ini, sepertinya Guntur hanya perlu mengutip ayat al-Quran bahwa Nabi bersifat ummy (mengakar dalam masyarakat sekitarnya) atau mengutip hadis bahwa beliau “berbicara dalam bahasa kaumnya”. Rasanya agak berlebihan bila Guntur harus menderetkan judul-judul buku sejarah dan nama-nama ahli sejarah Islam untuk menegaskan truisme sesederhana itu. Mungkin malah motif Guntur untuk menunjukkan bahwa dia layak meraih beasiswa S2 atau S3 di luar negeri bisa gugur akibat pola nalar yang terlampau banalistik itu.

Satu hal yang pasti, manusia normal pasti dipengaruhi oleh lingkungannya, begitu pula dengan Nabi. Hanya saja, apakah keterpengaruhan itu merenggut kesucian beliau atau malah memperteguhnya, menurunkan derajat kenabian beliau atau justru meninggikannya, menunjukkan kelokalan beliau atau menegaskan keuniversalan ajaran-ajaran beliau? Masing-masing pertanyaan ini bisa memperpanjang diskusi. Sebagai penutup, baiklah saya tegaskan bahwa kehadiran Nabi Muhammad di tengah bangsa biadab seperti Arab kala itu sesungguhnya menegaskan ketinggian kedudukan Nabi dan mencuatkan ajarannya sebagai paket paling sempurna dan universal (all size) yang bisa dipakai oleh manusia paling rendah sampai yang paling tinggi, paling biadab sampai yang paling terdidik dan beradab. Jelasnya, agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah paling dekat dengan fitrah manusia, sehingga siapa saja yang menolaknya layak mendapat gelar sebagai abnormal. Persis seperti ukuran baju yang allsize; siapa saja yang keluar dari ukuran itu termasuk orang yang terkena penyakit obesitas atau anoreksia. Guntur tinggal pilih sendiri mana yang dia suka–just joking!

Itu saja komentar saya untuk Guntur. Semoga di lain waktu, tentu setelah belajar di luar negeri, Guntur bisa menimbulkan gemuruh yang lebih besar, sehingga dia layak menyandang nama salah satu dari fenomena alam dan tanda kebesaran Allah itu.

10 thoughts on “Guntur yang Tak Menggelegar

  1. Ema rachman says:

    kasian tuh guntur. ….., banyak tapi muslimin yang seperti dia…lebih2 sekarang ini pas waktu ramadhan di TV kalo dengar ustad2nya berceramah….Masya Allah…tolonggggg, nalarnya pada kemana aja?????, kasian masyarakat awam……

  2. eagle says:

    to mas musa….tanggepin donk di kompas juga….biar…clear..
    tapi kok nggak dibahas lebih ke detail…kesannya kesel ajah…yg keluar

  3. Lanang says:

    Entah apa motif pribadi dari masing2 personil JIL -saya tidak tahu-,,
    Jika melihat karakter mereka saya rasa mereka mau jika Anda semua yang ada di sini untuk mengajak diskusi.. Klo misal Anda semua serius mau diskusi kenapa ga samperin aja ke markasnya di utan kayu? buatlah acara, sekalian siarkan di radio 68 H. Live klo perlu..
    terlepas dari itu saya rasa mereka patut diapresiasi -menurut saya- dalam masalah membela minoritas.. termasuk Antum warga Syi’ah..

    @para komentator..

    jangan hanya mencaci…..

    Lama2 saya kok mencium mental2 wahabi (baca: merasa paling benar, memandang remeh firqah lain) dari sebagian pengikut Syi’ah ini..

    Tidak semua tentu saja… Guru ngaji saya yang Syi’ah tidak seperti itu..Saya juga yakin Ustadz Musa tidak arogan begitu..

    (Tulisan Antum yang di jurnal Al-Huda th 2001 mengenai akal, hati dan eksistensi bagus banget, baru tak baca tadi malem.. hehehe_)

  4. apapun yang terjadi, ane tetep dukng guntur,mau die JIL keq,bodo amat yg coba tantang die,hadapin gw( RUDY) ,maju trus GUNTUR kami mendukung mu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s