Semakin Relevannya Fatwa Mati untuk Seluruh “Rushdie”

424px-jyllands-posten-pg3-article-in-sept-30-2005-edition-of-kulturweekend-entitled-muhammeds-ansigt.png

 

Awal 1989 dunia terguncang oleh fatwa hukuman mati Khomeini atas penulis Satanic Verses, Salman Rushdie. Tidak hanya itu, dia menjanjikan hadiah 1 juta dolar bagi siapa saja yang bisa melaksanakan hukuman itu.

Kiamat kecil terjadi di hampir seluruh dunia. Barat memberondong Khomeini dengan serentetan sumpah serapah, sementara opini dunia Islam terbelah tiga. Sebagian mendukungnya, sebagian mendukung dengan sejumlah syarat dan sebagian lain menyerangnya habis-habisan.

Khomeini tak bergeming. Fatwa ini memang bukan luapan emosi yang bisa padam oleh cuap-cuap media. Inilah ungkapan kesetiaan yang terpatri di dalam lubuk hati. Dan Khomeini bukan pemimpin yang gentar menghadapi risiko dan ancaman. Bila agama menuntutnya, asteriod sebesar pulau Borneo pun bakalan dia telan.

Tapi, apakah alasan di balik fatwa “sekejam” itu? Untuk benar-benar memahaminya, marilah kita telisik ruh zaman ini. Sejak komunikasi massa membanjiri semua ruang kehidupan, manusia terperangkap di dalam sebuah stage. Di situ mereka berpikir dan berperan sesuai arahan sutradara dan alur naskah. Barat, terutama AS, adalah tokoh protagonisnya, dunia Islam adalah antagonisnya dan selebihnya adalah pemain figuran.

Khomeini datang untuk mengakhiri aksi panggung yang tidak lucu ini. Seperti Prospero dalam The Tempest, Khomeini berseru:

Our revels now are ended. These our actors,

As I foretold you, were all spirits and

Are melted into air, into thin air;

And, like the baseless fabric of this vision,

The cloud-capped tow’rs, the gorgeous palaces,

The solemn temples, the great globe itself,

Yea all which it inherit, shall dissolve,

And, like this insubstantial pageant faded,

Leave not a rack behind.

Seruan Khomeini itu ternyata terlalu tinggi, khususnya bagi rerumputan yang hidup untuk sekadar tumbuh beberapa jengkal. Bagi mereka, kalau sarkasme atas Nabi bisa memenuhi selera humor sebagian orang, mengapa pula kita harus tersinggung. Tapi, bagi Khomeini, penghormatan pada Nabi lebih penting ketimbang segala rupa urusan dunia. Khomeini takkan enggan mengorbankan jiwa dan raga demi kehormatan Nabi, apatah lagi sekadar citra baik di depan kamera teve.

Orang Barat atau orang yang terbirit-ingin-jadi-Barat tak akan pernah bisa mengerti pola pikir seperti ini. Bagi mereka, semangkuk mie, sepotong donat atau keanggotaan di Yayasan Simon Peres lebih penting daripada membela kehormatan Nabi.

Orang-orang dari jenis kacang-kacangan ini tentu saja tak mungkin memahami Khomeini. Bagi mereka, Khomeini terlalu lurus untuk zaman yang serba bengkok ini. Pesan-pesannya terlalu tegas dan lugas. Di zaman serba gila ini, dia terlalu waras. Karena itu, jadilah dia manusia lurus, tegas dan lugas.

Coba bayangkan, di zaman ini, Khomeini masih juga yakin bahwa shalat di awal waktu lebih berguna ketimbang menghadiri konferensi pers bersama ratusan wartawan dari seluruh dunia. Coba sekali lagi bayangkan, di zaman ini, Khomeini pernah menyatakan bahwa debu yang menempel di kaki kuda Imam Husein lebih berarti dari seluruh hidupnya.

Tapi, marilah untuk sesaat kita menjadi orang merdeka. Lalu, tanyakan pada diri sendiri, apakah reaksi paling logis dan jujur bagi seorang Khomeini saat mendengar penghinaan pada Sang Nabi yang menjadi buah hati dan teladan hidupnya? Bukankah fatwa mati ialah harga paling murah yang bisa dia persembahkan untuk Sang Nabi? Bukankah buat kehilangan dunia seisinya jauh lebih enteng baginya ketimbang menyaksikan Sang Nabi terhina?

Di sisi lain, fatwa Khomeini itu sebenarnya juga merupakan tindakan penyelamatan. Jika keroco seperti Rushdie dibiarkan melenggang tanpa ancaman, bagaimanakah masa depan hubungan Barat dan Muslim selanjutnya? Tidakkah media massa Barat
bakal semakin histeris mempermainkan simbol-simbol Islam atas nama seni dan kebebasan berekspresi? Kasus Jyllands-Posten terlihat remeh bila dibandingkan dengan apa yang mungkin terjadi. Misalnya, menduduki Ka’bah atau Madinah, menghancurkan Masjid Al-Aqsa, mencetak al-Qur’an edisi Jay Leno (pembawa acara The Tonight Show), menerbitkan sejarah Nabi dalam kemasan novel grafis yang porno dan sebagainya. The sky is the limit.

Boleh-boleh saja Anda bilang bahwa semua kemungkinan itu hanya ada dalam benak orang keranjingan teori konspirasi. Tapi, melihat fakta yang berlangsung di dunia akhir-akhir ini, keadaan itu sangat mungkin terjadi. Dilihat dari sudut ini, Khomeini tentu saja telah menghindarkan umat Muslim dari konfontrasi terbuka dan berdarah. Dan untuk itu, dia patut menyandang gelar juru damai abad modern.

 

 

 

4 thoughts on “Semakin Relevannya Fatwa Mati untuk Seluruh “Rushdie”

  1. ainani yahya says:

    Salam,sebelumnya saya mau berterimakasih kpd ust.Musa karena diam2 saya sudah banyak “mencuri” ilmu dari blog antum ini, tapi semakin banyak membaca tulisan2 antum, walau belum pantas saya kok jadi sering merasa iri dengan ilmu yg antum punya untuk menulis..”orang kok idenya gak habis2″..dan tercetus dalam tulisan2 yg dikemas dengan sangat menarik..anyway..saya sering bertanya2 sendiri buku2 apa aja sih yg sudah antum baca? walaupun belum tentu kita bisa memahami buku2 itu seperti antum memahaminya atau bahkan bisa membaca semua koleksi buku antum yg pasti tak terhitung jumlahnya, cuma boleh dong paling tidak kita tau judul2nya,lihat covernya atau setidaknya baca sinopsisnya aja udah senang😀,intinya saya cuma ingin informasikan bahwa ada satu website menarik yg menampung orang2 yg senang membaca dan ingin share buku2nya dengan teman2 pembaca lainnya atau ingin mengintip buku2 yg sudah dibaca oleh para pecinta buku dari seluruh dunia atau bahkan mendiskusikannya dalam satu group pembaca buku yang sama secara online dan mendapatkan informasi ttg buku2 luar yg belum masuk ke indonesia…sangat menarik,bisa menambah banyak teman dengan interest yg sama dan pastinya menambah ilmu. Dan sejauh ini saya lihat ust.Musa termasuk orang yg senang berbagi ilmu, inshaAllah akan dengan senang hati pula berbagi judul2 buku untuk direkomendasikan kpd kita2 yg masih awam🙂.websitenya http://www.goodreads.com mungkin antum sudah pernah dengar sebelumnya, saya sendiri baru menemukan komunitas ini dan mendapatkan banyak manfaat. Thx again and welcome in goodreads inshaAllah.

  2. musakazhim says:

    Pujian Ainani terlalu jauh panggang dari api. Untung saya punya sense of humour yg aneh, sehingga pujian (apa bener pujian?) bisa terasa lucu di telinga. Anyway, saya sudah kunjungi website “goodreads”. Sangat menarik untuk menambah wawasan! Pengen juga sih bikin sejenis review untuk buku2 yg pernah saya baca, terutama sekali untk kategori “the essentials”.

  3. damartriadi says:

    Salam,
    ahsantum atas analisanya, menggigit, jernih, menohok….
    atas nama kebebasan pers, mengemukakan pendapat, atau sejenisnya, maka jadilah media-media Barat entitas-entitas “infallible”…..dan para insan pers dan sastra-nya lebih tinggi dari hukum dan etika yang wajar….
    Imam Khomeini mengemukakan penolakan atas hal ini ketika dunia Islam terkungkung kerendah-dirian dan kehinaan, dengan pesan bahwa Muslimin dunia tidak bersedia hidup dalam norma-norma “humanis” yang didiktekan bekas para penjajah mereka. Terserah Barat mau menghina atau dihina atas nama “holy grail” mereka (freedom of speech) yang tak terlalu berkilau itu, namun bersiaplah menghadapi perlawanan kalau sudah menyinggung nilai-nilai kesucian Ilahiah.

  4. ainani yahya says:

    Pujian itu tidak terlalu jauh kok, at least dari sudut pandang saya yg memang masih sangat jauh dibelakang, sehingga apa yg mungkin menurut antum biasa2 saja menurut saya sudah luar biasa, dengannya wajar kalau pujian tersebut terasa lucu di telinga antum . Anyway…alhamdulillah kalau antum juga tertarik untuk join goodreads,..dan membolehkan saya utk lihat2 koleksi buku antum apalagi lengkap dengan review-nya, inshaAllah akan sgt bermanfaat. kiranya antum tidak keberatan untuk meng-informasikan account antum.Thx a lot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s