Mahbub Sayang, Mahbub Malang

Mahbub adalah seorang pekerja keras. Dia bekerja untuk menghidupi satu keluarga yang terdiri atas seorang istri, anak dan pembantu rumah tangga. Penghasilan bulanannya hanya cukup untuk menutupi kebutuhan hidup sekitar dua bulan. Nah, setiap kali menjelang lebaran, Mahbub harus bekerja lebih giat lagi, banting tulang lebih keras lagi dan memutar otak lebih cepat lagi. Ada banyak alasan untuk itu.

Pertama, anggaran belanja di bulan Ramadhan meningkat. Istri yang biasanya malas-malasan memasak, sepanjang bulan ini justru terobsesi untuk membuat menu ala hotel bintang lima. Sering kali sang istri mencoba resep-resep baru khas Ramadhan. Es buah dan jajan yang biasanya hanya muncul seminggu sekali, di bulan ini muncul setiap hari.

Kedua, Mahbub harus berpikir membeli baju, celana, sepatu, jam dan segala rupa aksesoris duniawi lainnya. Malah tidak jarang dia harus merombak tampak depan, tampak luar, tampak dalam dan tampak samping rumahnya. Tetangga-tetangganya menuntut Mahbub untuk paling tidak setiap tahun memperbaharui penampilan rumahnya. Tentu mereka tidak menuntut secara langsung, tapi “tuntutan” itu terasa sekali di hati Mahbub.

Ketiga, Mahbub harus memikirkan biaya mudik lebaran. Untuk mudik, dia harus berpikir membawa oleh-oleh. Dan sudah beberapa tahun terakhir ini, orangtua dan keluarganya di kampung sangat mengharapkan “oleh-oleh kertas merah” alias uang kertas pecahan 100 ribuan. Paling sedikit Mahbub harus membawa 1 juta dalam pecahan 100 ribuan untuk dikasihkan ke ibu 300 ribu, dan sisanya dibagi rata ke semua adiknya.

Keempat, Mahbub harus memberikan tunjangan hari lebaran alias THR untuk PRT yang juga punya “tugas-tugas” serupa dengan Mahbub di atas.

Kelima, lantaran Mahbub adalah wiraswasta yang masuk dalam kategori “active income”, maka dia harus punya cukup simpanan untuk berlibur di hari lebaran selama setidak-tidaknya satu minggu penuh.

Mahbub sudah menanggung semua itu selama bertahun-tahun!

Tapi, sejak awal bulan Ramadhan tahun ini, pikirannya diberondong oleh setumpuk kegelisahan dan seabrek pertanyaan. Pertanyaan paling menggelisahkannya ialah mengapa dia harus larut dalam urusan dunia di bulan yang seharusnya lebih dia fokuskan untuk ibadah. Dia pergi menemui guru agamanya.

“Ustad, apakah memang ada dalil kita harus menambah menu makanan untuk berbuka dan sahur? Apakah memang mudik di bulan Ramadhan lebih baik dari bulan-bulan lainnya? Apakah memang ada anjuran untuk membeli barang baru untuk menyambut Idul Fitri? Atau, apakah silaturahmi hanya wajib saat setelah shalat Idul Fitri?”

Ustadnya kaget, karena tanpa sengaja sebenarnya Mahbub juga menegurnya. Di bulan ini, para ustad rupanya juga blingsatan kejar setoran yang juga lebih besar dari bulan-bulan biasanya guna menutupi pengeluaran lebih besar daripada biasanya. Di bulan ini rizki semua orang sebenarnya sudah berlipat ganda. Tapi, anehnya, hanya sedikit yang berpikir bahwa pelipatgandaan itu bertujuan agar kita lebih berkonsentrasi ibadah, bukan malah membuat kita lebih gigih menambah penghasilan.

Merasa tidak mendapatkan jawaban memuaskan, Mahbub mencari ustad lain. Ustad kedua ini antusias mendengarkan pertanyaan Mahbub. Kemudian, ustad muda yang dikenal kritis ini menjelaskan bahwa semua “tugas ekstra” di bulan Ramadhan itu sesungguhnya hanyalah tradisi yang berkmebang di masyarakat, dan bukan merupakan ajaran yang memiliki dalil tertentu dalam teks-teks agama. Ustad itu menambahkan bahwa sebagian ajaran atau kepercayaan yang berkembang di masyarakat ada yang justru ditanam oleh para penjajah. Misalnya, kepercayaan bahwa malam Jum’at itu menyeramkan, angker dan penuh hantu. Kepercayaan seperti ini, kata si ustad, bukan saja tidak ada dalam agama, tapi malah bertentangan dengan ajaran agama. Teks-teks agama menerangkan bahwa malam dan hari Jum’at itu adalah waktu paling tepat untuk menyendiri dan beribadah. “Jika semua orang sudah dibuat tercekam ketakutan, mana mungkin mereka mau beribadah seorang diri di tengah malam Jum’at. Mitos tentang keangkeran dan keseraman malam Jum’at itu sebetulnya datang dari tradisi Barat. Dulu di salah satu tv swasta ada serial namanya “Friday the 13th” yang isinya cerita-cerita hantu dan sebangsanya,” tandas ustad itu dengan mimik protes.

Ustad itu melanjutkan, “Bub, kalau kau merasa terbebani mengikuti ritual bulan Ramadhan sampai lebaran, tinggalkan saja. Muslim dituntut untuk mengerjakan yang wajib terlebih dahulu sebelum dia mendapatkan keutamaan mengerjakan sunah Nabi, apalagi sekadar mengikuti adat masyarakat. Jangan sampai tuntutan pulang kampung dan sebagainya itu mencegahmu meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadahmu di bulan Ramadhan.”

Mahbub tampak girang. Jawaban ini mengena di hati dan masuk di akalnya. Bebannya langsung lenyap. Dan yang paling penting, hasratnya untuk berkonsentrasi ibadah di bulan Ramadhan bisa terpenuhi.

Saat santap sahur, dia menceritakan hasil dialognya dengan ustad muda itu kepada istrinya. Sambil berbusa-busa, mulutnya terus meluncurkan suara lantang, seolah-olah dia ingin protes terhadap istrinya yang selama ini tidak bisa mengerti keadaan dirinya.

Sekalipun terheran-heran dan berulang kali mengajukan argumen bantahan, akhirnya Mahbub dapat meyakinkan istrinya tentang kebenaran pandangannya. Puncaknya, sang istri bersimpati kepada Mahbub. Selama ini istrinya tak pernah berpikir bahwa bulan Ramadhan dan Syawal justru membawa beban ekstra bagi sang suami. Dia tidak pernah tahu kegelisahan suaminya meninggalkan begitu banyak amalan dan doa yang mengandung pahala berlipat-lipat di bulan ini demi menyenangkan istri, anak, keluarga di kampung, dan para tetangga di kota.

Siang harinya, sang istri mengabarkan keluarga di kampung bahwa lebaran ini dia tidak akan mudik. Kasian suaminya kalau harus mencari duat tambahan yang tak mudah didapatnya untuk sekadar pulang kampung. Tapi ibu mertua marah-marah, tak mau terima dengan keadaan ini. Kepada siapa saja yang ditemuinya, dia mengomel dan mempertanyakan keputusan Mahbub untuk tidak mudik.

Ternyata belum saatnya Mahbub mengubah tradisi panjang yang telah lama mengganyangnya.

Selamat mudik dan mohon maaf lahir batin.

Advertisements

3 thoughts on “Mahbub Sayang, Mahbub Malang

  1. Ya Habib, bener juga tu kontemplasi Antum, janganlah tradisi mengalahkan substansi ibadah puasa Ramadhan. Memang berat mengubah atau memperbaiki tradisi yang sudah menyimpang atau mengaburkan makna hakiki ibadah-ibaha dalam Islam. Tapi mudah-mudahan akal kaum Muslimin masih bisa tercerahkan dengan renungan-renungan model Antum ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s