Kontras Ahmadinejad – Bollinger*

ahmadinejad_new_york_2005.jpg

 

Langkah diplomatik Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, untuk mengambil inisiatif dalam konteks hubungan AS-Iran yang kian memanas telah mendulang sukses besar. Melampaui signifikansi Diplomasi Ping Pong ala Nixon di tahun 1970-an, diplomasi kampus Ahmadinejad memiliki dampak positif yang jauh lebih luas. Sekalipun mendapat caci maki kekanak-kanakan dari Presiden Universitas Columbia, Lee Bollinger, langkah berani Ahmadinejad itu sungguh telah menghunjam politik busuk AS tepat di jantungnya. Bagaimana tidak. Keberanian Ahmadinejad untuk tanding tandang, menahan segala celaan dan cemooh hadirin, sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan kepicikan sang rektor dan audiens untuk memperolok tamu yang diundangnya. Pemandangan kontras ini jelas menandakan keyakinan akan kemenangan di pihak Ahmadinejad dan semua yang dia wakili, sekaligus menandakan suasana frustrasi dan kegelisahan di pihak Bollinger dan semua yang diwakilinya.

Marilah kini kita lihat sebagian kecil kandungan ceramah kedua pihak yang mewakili dua peradaban yang berbeda; salah satunya menunjukkan masa layu dan penuaan, sedangkan lainnya menunjukkan gairah muda dan kesegaran.Bollinger memulai “ceramah penyambutannya”, antara lain, dengan menyatakan bahwa “acara ini tidak berhubungan sama sekali dengan hak pembicara (Ahmadinejad), tapi hanya berkaitan dengan hak kita untuk mendengar dan berbicara. Kami melakukan ini demi diri kami sendiri.”

Kemudian Bollinger melanjutkan, “Suatu hari pada Desember 2005 dalam sebuah acara siaran televisi negara, anda menggambarkan Holocaust sebagai sebuah ‘legenda yang dibuat-buat’. Satu tahun kemudian, anda mengadakan konferensi dua hari yang menghimpun para pengingkar Holocaust. Bagi orang awam dan bodoh sekalipun, ini adalah propaganda yang berbahaya.”Tepuk tangan memecah ketegangan.Bollinger menandaskan, “Sekarang anda datang ke tempat ini (tempat bagi banyak pengungsi Holocaust), sehingga anda tampak menggelikan. Saat ini Anda hanya menjadi orang yang secara angkuh bersifat provokatif atau secara mengejutkan tidak berpendidikan.”Lagi-lagi tepuk tangan membahana. Bollinger meneruskan, “Dua belas hari yang lalu anda berkata bahwa negara Israel tidak lagi bias hidup. Pernyataan ini menggemakan berbagai pernyataan provokatif yang anda sampaikan pada dua tahun terakhir, termasuk pada Oktober 2005, ketika anda berkata Israel itu ‘harus dihapuskan dari peta’.

Nah, di Columbia banyak mahasiswa yang tinggal di Israel atau berasal dari Israel, apakah penghapusan itu juga mencakup Columbia? (Tepuk tangan.) Kenapa anda mendukung organisasi-organisasi teroris yang senantiasa menghantam perdamaian dan demokrasi di Timur Tengah, menghancurkan hidup dan masyarakat sipil di kawasan itu?”

Tepuk tangan memuncak. Bollinger meneruskan kecamannya, “Dalam sebuah pengarahan di hadapan National Press Club, Jenderal David Petraeus melaporkan bahwa senjata-senjata yang datang dari Iran, termasuk 240 milimeter roket dan proyektil peledak, berandil pada ‘serangan-serangan canggih yang sama sekali tidak akan mungkin tanpa dukungan Iran.’ Sejumlah lulusan Columbia dan para mahasiswa ada di antara para anggota militer pemberani yang sedang bertugas di Irak dan Afghanistan. Mereka, seperti kebanyakan orang Amerika lainnya dengan putra, putri, ayah, suami, dan istri yang bertugas di medan pertempuran, benar-benar melihat pemerintahan anda sebagai musuh… Mengapa anda memilih untuk membuat orang-orang di negara anda menjadi lemah akibat sanksi-sanksi ekonomi internasional, dan mengancam untuk menelan dunia dalam pembasmian nuklir? (Tepuk tangan).

Izinkan saya menutup dengan sebuah komentar. Terus terang—saya tutup dengan komentar ini secara terus terang dan dalam semua kejujuran, Bapak Presiden, saya ragu anda akan memiliki keberanian intelektual untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Tapi, berkelitnya anda untuk menjawab semua pertanyaan itu akan dengan sendirinya berarti besar bagi kami. Saya sebenarnya menduga anda akan memperlihatkan pola pikir fanatik yang mencirikan apa yang anda katakan dan lakukan selama ini.

Setahun yang lalu, saya diberitahu oleh sumber terpercaya, bahwa pernyataan-pernyataan anda yang absurd dan menyerang negeri ini, seperti dalam pertemuan Council on Foreign Relations, sangat mempermalukan warga Iran yang rasional, sehingga semua itu mengarah pada kekalahan partai anda dalam pemilu walikota. Semoga acara ini bisa semakin memperlemah Anda dan lebih dari itu. (Tepuk tangan).Saya hanya seorang profesor, yang juga seorang presiden universitas. Dan hari ini, saya merasakan bahwa semua bobot peradaban dunia modern mengungkapkan penolakan terhadap apa yang anda yakini. Saya hanya berharap dapat menyatakannya secara lebih keras.”

Marilah kini kita simak ringkasan pernyataan Ahmadinejad di forum Universitas Columbia petang 24 September 2007 itu. Ahmadinejad mengawali ceramahnya dengan mengeluhkan sikap Lee Bollinger yang telah membacakan pernyataan politik yang melecehkan Ahmadinejad sebelum ada pernyataan dari tamu yang diundangnya. “Menurut saya, teks yang dibacakan oleh tuan di sini (Bollinger), bukan hanya menyangkut saya, melainkan ia lebih merupakan penghinaan atas informasi dan pengetahuan para pendengar yang hadir di sini. Dalam lingkungan universitas, kita harus membiarkan seseorang mengatakan pikirannya, mengizinkan setiap orang untuk berbicara sehingga kebenaran pada akhirnya bisa diungkapkan oleh semua. Sudah tentu dia (Bollinger) mengambil lebih banyak waktu ketimbang yang dialokasikan untuk saya. Tapi tak apalah. Kita biarkan semua itu sebagai tambahan dalam daftar klaim penghormatan atas “kebebasan berbicara” di negeri ini.” (Tepuk tangan).

Ahmadinejad melanjutkan ceramah singkatnya dengan memaparkan arti penting pengetahuan, informasi dan riset bagi semua orang, terutama kalangan terpelajar. “Kunci untuk memahami realitas sekitar kita ada di tangan para peneliti, yakni mereka yang mau menguak yang tersembunyi, ilmu-ilmu yang masih belum diketahui. Seluruh jendela realitas yang mungkin dibuka hanya bisa dibuka oleh para sarjana dan kaum terpelajar di dunia.” Ajaran para nabi, dari Adam sampai Muhammad, bertujuan membebaskan manusia dari kebodohan, keterbelakangan, takhayul, perilaku tidak etis dan pola berpikir yang keliru. Dan salah satu bahaya yang ditimpakan pada pengetahuan ialah pembatasannya pada bidang eksperimental dan fisik, lantaran realitas jauh lebih luas daripada yang dapat ditampung oleh ranah materi.

Di sisi lain, ilmu pengetahuan dapat disalahgunakan oleh individu atau kelompok yang korup dan egois. Akibatnya, ilmu hanya dipakai untuk melayani nafsu dan memuaskan amarah. Di dunia dewasa ini, negara-negara berkuasa hanya menyalahgunakan para ilmuwan untuk kepentingan mereka semata-mata. Negara-negara ini juga memaanfaatkan semua peluang demi kepentingan mereka saja. Misalnya, dengan menggunakan metode-metode ilmiah, kini mereka menipu masyarakat dengan menciptakan musuh-musuh yang sebenarnya tiada, dan menimbulkan atmosfer ketakutan. Semua ini agar mereka bisa mengendalikan segala sesuatu atas nama (perang) melawan terorisme. Negara-negara adikuasa ini juga melanggar privasi, menyadap telpon dan terus-menerus merekaya suasana psikologis yang tidak aman agar mereka bisa terus berkuasa atas rakyat mereka.

Misal lain, dengan menggunakan metode-metode ilmiah dan perencanaan yang matang, mereka melancarkan serangan pada budaya lokal yang meruapakan buah interaksi, kreativitas dan aktivitas kesenian ribuan tahun.

Hal yang lebih memilukan adalah upaya kekuatan-kekuatan besar untuk memonopoli sains dan mencegah negara-negara lain dalam mencapai pengembangan ilmiah yang sama. Mereka berdalih dengan ribuan alasan, melemparkan tuduhan tanpa bukti, memberlakukan sanksi-sanksi ekonomi untuk mencegah perkembangan dan percepatan. Semua itu merupakan akibat pudarnya nilai-nilai kemanusiaan, moral dan ajaran para nabi ilahi. Dengan sangat menyesal, mereka memang belum terlatih untuk melayani umat manusia.

Para ilmuwan seharusnya menjadi orang-orang yang memandu umat manusia menuju masa depan yang lebih baik. Tuhan menyadari semua realitas. Saya berharap akan datang suatu hari manakala para ilmuwan memerintah dunia dan Tuhan itu sendiri akan datang bersama Nabi Musa, Isa, dan Muhammad untuk memerintah dunia ini dan membawa kita menyongsong keadilan.

Mengacu pada dua poin yang dikatakan (Bollinger) di pengantar mengenai saya, maka saya terbuka bagi setiap pertanyaan. Tahun lalu, atau dua tahun lalu, saya mengajukan dua pertanyaan. Anda tahu bahwa pekerjaan utama saya adalah dosen. Walau menjadi presiden, saya masih mengajar di tingkat pascasarjana dan doktoral setiap minggunya. Mahasiswa saya banyak bekerja dengan saya dalam berbagai bidang ilmu. Saya percaya bahwa saya adalah seorang akademisi. Maka itu, saya berbicara dengan anda dari sudut pandang akademis.

Saya pernah mengajukan dua pertanyaan. Tapi, alih-alih mendapat tanggapan, saya malah menerima gelombang hujatan dan tuduhan. Dan sayangnya, kebanyakan penghujat dan penuduh itu datang dari kelompok yang mengklaim percaya pada kebebasan berbicara dan kebebasan mendapat informasi.

Anda pasti tahu bahwa Palestina adalah luka yang telah berusia setua 60 tahun. Selama 60 tahun, orang-orang ini diusir; terus dibantai; didera konflik dan teror; kaum wanita dan anak-anak mereka yang tidak bersalah dibinasakan, dihancurkan, dan dibunuh oleh segala rupa helikopter dan pesawat tempur (Israel) yang meluluhlantakkan rumah mereka dari atas; anak-anak (Palestina) usia sekolah banyak yang dipenjarakan dan disiksa; keamanan di Timur Tengah selalu berada dalam bahaya; dan selama 60 tahun ini kita sering mendengar slogan ekspansionisme “Dari Nil hingga Efrat”.

Dua pertanyaan yang sama akan saya ajukan lagi di sini. Dan anda dapat menilai apakah tanggapan atas pertanyaan-pertanyaan ini harus berupa hujatan dan tudingan atau mencuatkan segala propaganda negatif? Atau haruskah kita benar-benar mencoba menghadapi dua pertanyaan ini dan menjawabnya? Seperti anda, seperti umumnya para akademisi, saya akan berupaya diam sampai saya mendapat jawaban. Maka itu, saya menunggu jawaban logis dan bukannya hujatan.

Pertanyaan pertama saya adalah jika memang Holocaust itu kenyataan yang terjadi di zaman ini, mengapa tidak ada riset memadai yang dapat mendekati topik ini dari perspektif-perspektif yang berbeda? Teman kita (Bollinger) merujuk pada tahun 1930 sebagai titik awal perkembangan ini; tapi saya menduga bahwa Holocaust, dari apa yang kita baca, terjadi selama Perang Dunia II pada 1940-an. Maka, anda tahu, kita harus benar-benar mampu melacak peristiwa itu.

Pertanyaan saya sederhana.

Ada sejumlah peneliti yang ingin mendekati topik ini dari suatu perspektif yang berbeda. Lalu, mengapa mereka dijebloskan ke penjara? Sekarang ini, ada beberap akademisi Eropa yang dikurung karena mencoba menulis tentang Holocaust. Padahal mereka hanya mencoba mempertanyakan aspek-aspek tertentu berkenaan dengan Holocaust dari perspektif berbeda.

Pertanyaan saya adalah mengapa hal ini tidak terbuka bagi semua bentuk riset? Saya diberi tahu bahwa sudah terdapat cukup riset mengenai topik ini. Dan saya bertanya, bukankah topik-topik seperti kebebasan, demokrasi, konsep-konsep dan norma-norma seperti Tuhan, agama, fisika, bahkan kimia, juga sudah beroleh banyak riset? Tapi mengapa kita masih melanjutkan, bahkan mendorong, lebih banyak riset dalam topik-topik itu. Lalu, kenapa kita tidak mendorong lebih banyak riset mengenai peristiwa historis yang sudah menjadi akar dan penyebab banyak bencana besar di kawasan (Timur Tengah) pada zaman ini? Tidakkah seharusnya ada lebih banyak riset mengenai penyebab utamanya? Itulah pertanyaan pertama saya. Lagi-lagi tepuk tangan membahana.

Pertanyaan kedua, jika memang peristiwa historis ini suatu kenyataan, maka kita masih perlu mempertanyakan apakah rakyat Palestina harus menanggungnya ataukah tidak? Bagaimanapun, peristiwa itu terjadi di Eropa. Bangsa Palestina tidak punya peran di dalamnya. Jadi kenapakah orang-orang Palestina harus terus menanggung akibat peristiwa yang tidak berkaitan dengan mereka?

Dan perihal isu nuklir Iran—kami adalah negara anggota International Atomic Energy Agency (IAEA). Selama lebih daripada 33 tahun, kami adalah negara anggota IAEA. Undang-undang IAEA dengan tegas menyatakan bahwa semua negara anggota mempunyai hak atas teknologi bahan bakar nuklir yang damai. Ini adalah pernyataan tegas dan eksplisit yang dibuat di dalam hukum itu. Dan hukum itu mengatakan bahwa tidak ada alasan atau dalih, bahkan pemeriksaan yang dilakukan IAEA sendiri, yang dapat mencegah hak negara anggota untuk merealisasikan hak itu.Tetapi sayangnya, dua atau tiga kekuatan monopolistik, kekuatan-kekuatan yang egois, ingin memaksakan pendapat mereka pada bangsa Iran sembari mengingkari hak mereka.

Saya mau katakan ini pada Anda: di masa lalu, kami memiliki kontrak dengan pemerintah AS, Inggris, Prancis, Jerman, dan Kanada dalam pengembangan nuklir untuk tujuan damai. Lalu, secara sepihak, negara-negara tadi membatalkan kontrak-kontrak mereka dengan kami. Akibatnya, bangsa Iran harus membayar kerugian dalam milyaran dolar. Untuk apa kami perlu bahan bakar dari kalian? Kalian bahkan tidak memberikan sukucadang yang kami perlukan untuk maskapai penerbangan sipil selama 28 tahun, atas nama embargo dan sanksi-sanksi lain, karena kami menentang, “hak asasi manusia atau kebebasan”? Dengan dalih itu pula, kalian menolak hak kami atas teknologi? Padahal, apa yang kami inginkan ialah hak untuk menentukan nasib sendiri di masa depan. Kami ingin independen. Jangan mencampuri urusan kami. Jika kalian tidak memberikan kepada kami sukucadang pesawat terbang sipil, mengapa kami harus berharap bahwa kalian akan memberikan kepada kami bahan bakar untuk pengembangan nuklir demi tujuan damai?

Selama 30 tahun kami menghadapi problem-problem itu. Lebih dari 5 milyar dolar AS telah kami bayarkan pada Jerman dan Rusia, tapi kita tidak pernah mendapatkan apa-apa, janji-janji mereka tidak pernah dipenuhi. Padahal, semua ini adalah hak kami. Dan kami menghendaki hak kami, dan tidak menghendaki apa pun di luar hukum, termasuk hukum internasional.

Kontras antara Bollinger dan Ahmadinejad ternyata tidak berhenti di pentas Universitas Columbia. Para simpatisan keduanya juga menunjukkan perilaku yang sangat berbeda. Media massa, milis dan blogger pro-Bollinger merayakan kemenangan mereka dengan mem-blow up jawaban Ahmadinejad tentang homoseksualitas, bahwa “kita tidak memiliki homoseksualitas di Iran seperti di negeri Anda”. Hadirin pro-Bollinger langsung tertawa, memperolok apa yang mereka anggap sebagai kemunafikan. Media massa, anggota milis dan blogger yang sealiran dengannya juga meletakkan isu ini sebagai judul-judul headline dan sebagainya. Padahal, Ahmadinejad hanya ingin menyatakan bahwa homoseksualitas di Iran tidak digelar terbuka seperti di AS.

Di sisi lain, media massa, jurnalis, anggota milis dan blogger yang bersimpati pada Ahmadinejad memaparkan dan membahas isu-isu lain yang lebih vital, seperti Palestina, nuklir dan zionisme.Jelas bahwa Bollinger mewakili sebuah imperium yang mulai terduduk di atas kakinya sendiri, sementara Ahmadinejad mewakili sebuah keinginan segar dan membara untuk menuntut keadilan dan kesetaraan bagi semua. Sungguh tak bisa diperbandingkan, apalagi disandingkan.Tak bisa disangkal lagi, AS dan semua yang diwakilinya kini menghadari krisis identitas, disorientasi dan paradoks yang sangat mengerikan. Semua ini tentu akibat kekuasaan tiran, beringas dan brutal para neokon yang bercokol di Gedung Putih. Dan pada sisi lain, optimisme, rasionalitas dan kewarasan yang ditampilkan oleh Ahmadinejad sebenarnya mewakili dinamika yang kini berkembang di tengah umat Islam. Bahwa peradaban Islam baru yang lebih kosmopolit dan global bukan lagi mimpi di atas mimpi.

*Terbit di Harian Umum REPUBLIKA (29/9/2007) dengan judul “Kecantikan Diplomasi Ahmadinejad”

Advertisements

5 thoughts on “Kontras Ahmadinejad – Bollinger*

  1. RAFI says:

    “Andai bangsa indonesia memiliki pemimpin seperti beliau” tau deh……. pemimpinnya aja masih berjuang buat kepentingan sendiri….>>>…….>>>>>>>>>>

  2. Nurhakim Ahmad says:

    Konspirasi barat untuk melemahkan dunia Islam tidak akan pernah berhenti untuk membalas kekalahan mereka dalam perang salib I dan II. Dan Iran dianggap adalah benteng pertahanan akhir kekuatan Islam yang harus dimusnahkan….Jangan menyerah..Islam ditakdirkan untuk menang di akhir zaman

  3. Nurhakim Ahmad says:

    Konspirasi barat untuk melemahkan dunia Islam tidak akan pernah berhenti untuk membalas kekalahan mereka dalam perang salib I dan II. Dan Iran dianggap adalah benteng pertahanan akhir kekuatan Islam yang harus dimusnahkan….Jangan menyerah..Islam ditakdirkan untuk menang di akhir zaman.

    visit my blog : http://www.razor32.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s