Tanggapan2 untuk Natan Budi

Atas permintaan banyak teman, saya akan memuat teks lengkap komentar Romo Natan Budi di atas ini sebelum teks tanggapan dari saya. Biar lebih nyambung, dan tentu saja biar lebih adil.

“Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat dan Injil (S.5 Al-Maaidah 68).

Atau sebaliknya bunyi ayat tersebut mesti begini :
“Hai Ahli Alkitab kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Al-Qur’an dari pada Taurat dan Injil (yang sudah diBETULkan itu)”.

“Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik” (S.5 Al-Maaidah 47).

“Dan bagaimana mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah…” (S.5 Al-Maaidah 43).

Andaikata Allah telah mengirimkan Muhammad untuk membatalkan agama Musa dan Al-Masih, inipun tidak sesuai dengan Al-Qur’an yang berkata ;

“Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu” (S.10 Yunus 94)

“Dan kami tidak mengutus sebelum kamu kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (S.16 An-Nahl 43).

Al-Jallalain menguraikan bahwasanya, “Orang yang mempunyai pengetahuan” itu adalah ahli-ahli Taurat dan Injil. Kalau ada yang tidak mengerti sesuatu, mereka pasti akan mengetahuinya (Al-Jallalain hal. 357).

“Dan sesungguhnya wahyu ini benar-benar diturunkan oleh Allah, diturunkan oleh roh suci ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang dari antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas dan sesungguhnya ayat-ayat itu benar-benar dalam kitab-kitab orang yang terdahulu” (S.26 Asy-Syu’araa 192-196).

Ini berarti bahwa di dalam Taurat dan Injil ada semuanya yang ada dalam Al-Qur’an tentang ajaran-ajarannya, keputusan-keputusan dan ajaran-ajaran rohani sehingga Al-Qur’an tidak dapat membatalkan Taurat dan Injil karena Taurat dan Injil adalah hukum Allah.

Dalam kenyataannya, pembatalan itu sebenarnya tidak dapat ditujukan kepada Taurat dan Injil, tetapi justru dikenakan kepada beberapa ayat-ayat dalam Al-Qur’an sendiri. Para cendikiawan Islam tidak membantah hal ini. Ketika seseorang terkenal yang bernama Al-Souyouti berkata “Pembatalan itu hanya sesuatu yang Allah lakukan berkenan dengan bangsa ini!” Dalam kenyataannya, pembatalan di dalam Al-Qur’an disebutkan sampai dua kali.
1. “Adapun tiap-tiap ayat yang kami batalkan atau buang kami membawa yang lebih baik. Ketahuilah Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu” (S.2 Al-Baqarah 106).
At-Tabari menafsirkan ayat ini sebagai berikut: “Apabila kami membatalkan suatu ayat, merubah kekuatannya serta penerapannya, maka kami akan membawa ayat yang lebih baik dari sebelumnya” (H. At-Tabari1/280).

2. “Dan kami tidak mengutus sebelum kamu seseorang rasulpun dan tidak pula seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimaksudkan oleh setan itu dan Allah menguatkan ayat-ayatnya” (S.22 Al-Hajj 52).

Haji Rahmat Allah Al-Hindi dalam bukunya “Idhhar Al-Haqq” berkata, “Pendapat yang mengatakan bahwa Taurat telah dibatalkan oleh Zabur dan Zabur telah dibatalkan oleh Injil dan Injil oleh Al-Qur’an tidak mempunyai dasar apapun baik dalam Al-Qur’an maupun dalam Hadist.

Teks Tanggapan

Yth. Bapak Natan Budi

Salam kenal

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih atas kunjungan Anda ke blog saya. Suatu kehormatan bagi saya untuk menerima tanggapan dan komentar Anda atas tulisan saya berjudul “Semua Agama itu Islam”. Namun, tampaknya saya harus memperjelas konteks tulisan itu agar diskusi kita pada tahap selanjutnya tidak melebar seluas Samudera Hindia, dan ujung-ujungnya kita ditelan oleh gelombang laut yang mengerikan.<!–[if gte vml 1]> <![endif]–><!–[if !vml]–><!–[endif]–>

Coba Anda perhatikan sekali lagi konteks tulisan “Semua Agama itu Islam”. Apakah tulisan itu bertujuan menunjukkan bahwa semua aturan agama selain Syariat Islam itu terhapuskan? Ataukah tulisan itu berdiri di atas asumsi dan premis bahwa ajaran-ajaran Taurat dan Injil tidak berlaku lagi? Jika Anda perhatikan dengan seksama, maka Anda akan menemukan bahwa tulisan saya tidak berangkat dari soal-soal dan pertanyaan-pertanyaan di atas.

Tentu, sebagai Muslim, saya percaya bahwa Al-Qur’an dan Syariat Islam adalah penyempurnaan dari semua agama dan wahyu sebelumnya. Dan ini adalah keniscayaan alamiah dari evolusi spiritual manusia yang menangkap wahyu. Atau, katakanlah, kesempurnaan Islam merupakan konsekuensi langsung dari perkembangan misi kenabian.

Tapi ingat, konteks tulisan saya bukan berbicara tentang hal itu.

Secara sederhana, tulisan “Semua Agama itu Islam” mencoba menjelaskan bahwa “Islam” sebagai kesadaran spiritual pastilah ada pada semua agama. Para nabi sebelum Nabi Muhammad mengimani Islam sebagai kepasrahan dan penyerahan kepada Allah. Bahkan, semua orang yang bertuhan dan beragama, pada tingkat yang berbeda-beda, merasakan penghayatan keislaman dalam arti penyerahan dan kepasrahan yang melahirkan kedamaian kepada Allah. Istilah “Islam” dalam Al-Qur’an juga dipakai untuk konteks ini. Sekalipun tidak terbatas pada makna di atas, tapi pernyataan Al-Qur’an bahwa para nabi sebelum Muhammad adalah orang-orang “Islam” bertumpu pada makna “Islam” seperti ini.

Sayangnya Anda menerabas konteks di atas dan menyeret tulisan saya ke wilayah pembahasan yang berbeda. Akibatnya, tulisan saya yang semula bertujuan menggali rahasia makna “Islam” secara esoterik Anda bingkai dalam konteks perdebatan teologis apologetik. Kalau ini yang Anda maukan, maka Anda telah membuka khazanah sangat kaya yang di masa-masa lampau kaum Yahudi, Kristen dan penganut agama-agama lain tak pernah berhasil menggungguli para teolog Muslim dalam bidang ini. Cukuplah Anda ingat bahwa Thomas Aquinas yang berkibar-kibar di kalangan ahli teologi Kristen itu belajar filsafat Yunani dari terjemahan-terjemahan para pakar Muslim. Tapi, tak apalah…saya akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang Anda munculkan secara ilmiah dan logis.

1. Tiga ayat pertama yang Anda jadikan dasar argumentasi berasal dari surah al-Maidah. Jika saja Anda sedikit mengenali surah ini, Anda bakal tahu bahwa konteks keseluruhan surah ini berbicara tentang penyimpangan, pembangkangan, pengingkaran dan kekufuran umat-umat terdahulu. Ayat-ayat dalam surah ini menuturkan rincian peristiwa penyimpangan, pembangkangan, pengingkaran dan kekufuran umat-umat tersebut. Termasuk di antaranya ayat 43, 47 dan 68 yang Anda gunakan sebagai pijakan argumentasi. Anda bisa diumpamakan seseorang yang mencoba membunuh musuh di belakang dengan menusukkan belati di perut sendiri. Semua ayat yang Anda gunakan sebagai dasar argumentasi Anda sebenarnya justru menjadi bumerang. Bagaimana tidak? Dengan ayat-ayat itu, Anda mencoba membuktikan bahwa (1) Nabi Muhammad diminta mengikuti umat terdahulu; (2) Al-Qur’an tidak mengungkapkan penyimpangan umat terdahulu; (3) Al-Qur’an tidak menyatakan penyimpangan Taurat dan Injil. Padahal, konteks keseluruhan surah ini justru menegasikan semua yang hendak Anda afirmasikan. What a pity? Saya akan mencoba menerangkan tiap-tiap ayat yang Anda angkat, untuk kemudian kita serahkan kepada pembaca untuk menentukan kesimpulan mereka masing-masing.

2. “Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat dan Injil.” (S.5 Al-Maaidah 68). Menurut dugaan Anda, ayat ini merupakan afirmasi Al-Qur’an bahwa ajaran-ajaran Taurat dan Injil itu berlaku seperti Al-Qur’an. Akibatnya, menurut Anda, Al-Qur’an sama saja dengan Taurat dan Injil. Atau lebih dari itu, Taurat dan Injil lebih unggul daripada Al-Qur’an. Sayang, dugaan Anda itu terlalu jauh dari teks dan konteks ayat di atas. Coba sekali lagi renungkan mengapa Allah membuka ayat itu dengan seruan “Hai Ahli Kitab!”? Bukankah seruan ini untuk membatasi kandungan? Jika saya berseru, “Hai penduduk Jakarta…!”, apakah seruan itu mencakup orang-orang yang tinggal di Papua atau Sabang? Jelas tidak, atau minimal seruan itu tidak berbicara tentang penduduk Papua dan Sabang. Jika kita sepakati hal ini, maka kita bisa dengan logis dan tanpa beban memahami firman “kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat dan Injil”.

Izinkan saya berekspresi secara lebih sederhana dan lugas: seruan Al-Qur’an untuk menegakkan ajaran-ajaran Taurat dan Injil di atas hanya berlaku untuk Ahli Kitab! Dan ini memunculkan konteks penurunan keseluruhan surah Al-Maidah, yakni sorotan tajam Al-Qur’an menyangkut keingkaran dan kekufuran umat Yahudi dan Nasrani terhadap kitab suci mereka masing-masing. Lebih dari itu, dalam lanjutan ayat di atas yang—entah sengaja atau tidak—Anda potong, terdapat ayat yang berbunyi “Dan Al-Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” Nah, dengan mengutip lanjutan ayat 68 surah al-Maidah itu, jadi terang benderanglah kabut yang menutupi pemahaman Anda.

Jadi, ayat di atas tidak perlu diubah dalam bentuk “Hai Ahli Alkitab kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Al-Qur’an dari pada Taurat dan Injil (yang sudah dibetulkan itu)”. Karena, seruan Allah dalam ayat ini ditujukan agar Ahli Kitab kembali kepada Taurat, Injil (yang sudah begitu jauh mereka tinggalkan, seperti yang kini dapat dengan kasat mata kita temukan di dunia Barat) dan Al-Qur’an yang Allah turunkan sebagai wahyu yang menyempurnakan dan mengoreksi (bagian-bagian dari wahyu sebelumnya yang sudah didistorsi).

3. “Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik” (S.5 Al-Maaidah 47). Lagi-lagi Anda menarik teks ke konteks yang jauh panggang dari api. Seorang yang membaca surah al-Maidah secara keseluruhan tidak akan terdisorientasi seperti Anda, melainkan memahaminya sebagai teguran keras Allah kepada para pengikut Injil yang melenceng dari kitab suci mereka. Ayat ini menegaskan penyelewengan mereka. Tapi, sialnya, Anda memahami ayat ini seolah-olah Al-Qur’an menyuruh semua orang untuk mengikuti ajaran Injil. Apakah ada penyimpangan konteks lebih dari ini? Dengan sedikit memahami bagian “Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik” Anda akan memahami bahwa ayat ini menyuruh semua manusia untuk mengikuti apa yang diturunkan Allah. Di zaman sebelum Al-Qur’an, Injil menjadi wahyu kitab suci yang sepatutnya menjadi pegangan para pengikutnya. Mereka yang tidak mengikutinya divonis sebagai fasik atau menyeleweng. Demikian pula di zaman setelah wahyu Al-Qur’an diturunkan, siapa saja yang tidak mau mengikutinya dihukumi sebagai orang yang fasik.

4. “Dan bagaimana mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah…” (S.5 Al-Maaidah 43). Ayat ini diawali dengan pertanyaan retoris yang bertujuan mengungkapkan negasi. Maksudnya, ayat ini hendak membongkar muslihat kaum Yahudi yang pura-pura menyatakan beriman dan mau mengangkat Nabi Muhammad sebagai hakim mereka, padahal “kemudian mereka berpaling sesudah itu”. Salah satu tujuan muslihat ini adalah sejenis perang urat saraf untuk menyedihkan Nabi dan mengacaukan umat Muslim. Seolah-olah ada di antara orang Muslim yang murtad kembali dan tidak percaya kepada keputusan Nabi. Pemuatan trik ini di satu sisi bertujuan untuk membongkar kedok kaum Yahudi, dan di sisi lain bertujuan untuk menenangkan hati Nabi. Pada ayat 41, “Hai Rasul, janganlah orang-orang yang bergegas dalam kekafiran itu membuatmu sedih…”, Al-Qur’an dengan jelas menunjukkan konteks ayat 43 ini. Demikian pula penggalan akhir ayat 43 ini, yakni kalimat “Dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman”, kembali mempertegas konteks pembongkaran trik kaum Yahudi yang hendak berpura-pura beriman lalu ingkar. Allah ingin menenangkan sekaligus memberitahu Nabi akan tipuan licik ini.

Di sini saya sendiri ingin menyatakan keheranan pada Sdr. Budi yang menjadikan ayat ini sebagai bukti pengakuan Al-Qur’an pada Taurat (dan Injil). Sekiranya Al-Qur’an mengakui Taurat, maka pengakuan itu harus dibatasi pada eksistensi Taurat sebagai wahyu Allah, bukan sebagai wahyu Allah yang terjaga seperti Al-Qur’an. Yang lebih mengherankan lagi, Sdr. Budi menjadikan pengakuan itu sebagai landasan untuk menggugurkan keabsahan wahyu Al-Qur’an. Padahal, pertama, pengakuan Al-Qur’an akan hal tersebut tidak ada dalam ayat ini. Dan jikapun ada di dalam ayat lain, maka pengakuan itu tidak bisa dijadikan dasar pembenaran Al-Qur’an terhadapa keseluruhan Taurat dan Injil. Dalam logika, pengakuan atas kebenaran sebagian tidak bisa dijadikan dasar untuk mengambil kesimpulan universal. Perhatikan kejelian kalimat “padahal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya (ada/terkandung) hukum Allah” dalam ayat di atas. Kalimat ini memberikan pengakuan akan adanya hukum Allah dalam Taurat (dan juga Injil), tapi pengakuan itu bersifat partikular. Yakni, ada beberapa hukum Allah di dalamnya, tapi banyak lagi distorsi dan kebohongan yang telah disusupkan ke dalamnya. Dan fakta ini dijelaskan secara panjang lebar pada surah Al-Maidah yang Anda baca sepenggal-sepenggal ini pada ayat 12-19, juga pada surah An-Nisa 46-51.

Nah, sekarang bagaimana Anda akan menggunakan ayat ini untuk mendukung argumen Anda? Terlalu jauh jika Anda menjadikan ayat ini sebagai bukti bahwa Taurat atau Injil tidak mengandung distorsi. Jarak konteks ayat ini dan kesimpulan yang hendak Anda ambil sejauh Bumi dan Pluto, atau lebih jauh dari itu.

5. Andaikata Allah telah mengirimkan Muhammad untuk membatalkan agama Musa dan Al-Masih, inipun tidak sesuai dengan Al-Qur’an yang berkata: “Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu” (S.10 Yunus 94). Lagi-lagi saya gagal memahami mengapa Anda menggunakan ayat ini untuk mengambil kesimpulan soal tiadanya bukti pembatalan Al-Qur’an atas kitab-kitab sebelumnya. Mungkin Anda termasuk pendekar yang punya jurus mabuk. Yang jelas, saya tak sampai akal mengapa Anda menjadikan ayat di atas sebagai bukti akan kebenaran Taurat atau Injil. Padahal, dengan tegas, ayat di atas hendak menunjukkan bahwa fenomena penurunan ayat itu sudah ada sebelum periode kenabian Muhammad. Dan jika Muhammad atau siapa saja meragukan tentang hal ini, tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Lebih lagi, ayat di atas jelas-jelas diawali dengan jika kamu…, yang menunjukkan bahwa proposisi itu bersifat kondisional; bilamana presedennya tidak terwujud (keraguan), antesedennya (dalam hal ini pertanyaan kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu) juga tidak terwujud. Oleh karena itu, sekalipun turun untuk Nabi Muhammad, tapi ayat ini tidak ditujukan kepada beliau melainkan kepada orang yang ragu.

Soal lainnya, saya ingin menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak memakai istilah “pembatalan”, tapi memakai istilah tashdiq yang memiliki makna “koreksi”. Istilah tashdiq mengandung makna yang jauh lebih indah, matang, mendalam dan menyeluruh ketimbang makna “pembatalan”. Salah satu maksud penggunaan istilah ini ialah untuk menegaskan kesinambungan pesan Ilahi dan peran profetik. Namun, semua ayat dalam kaitan ini tidak bisa dijadikan bukti kebatilan atau kekurangan Al-Qur’an. Justru ayat-ayat itu adalah bukti kebenaran dan kekomprehensifan Al-Qur’an sebagai wahyu pamungkas yang turun untuk umat manusia sampai hari kiamat. Untuk tujuan itu pula, sebagai langkah awal, setiap pengikut agama sebelum Islam bisa merujuk pada kitab-kitab mereka berkenaan dengan kenabian kemudian mengamati Muhammad dalam perspektif para pembawa pesan langit tersebut. Bila mereka menemukan keganjilan atau bukti kepalsuan Muhammad, mereka bisa mengemukakannya secara gamblang. Bila tidak, dan memang begitulah adanya, maka sebagai konsekuensi logis pengamatan mereka itu mereka harus mengikuti Nabi Muhammad dan Al-Qur’an seperti halnya mereka mengikuti nabi-nabi dan kitab-kitab sebelumnya. Selain kata tashdiq atau mushaddiq, Al-Qur’an juga memerikan dirinya sebagai tafshil. Maksudnya, bukan hanya mengoreksi penyimpangan2 yang terjadi dalam kitab-kitab wahyu terdahulu, Al-Qur’an juga menguraikan lebih lanjut ajaran2 dan hukum2 yang sudah diturunkan sebelumnya. Singkatnya, Al-Qur’an menyempurnakan dan menuntaskan proses pewahyuan Ilahi untuk umat manusia.

6. “Dan kami tidak mengutus sebelum kamu kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (S.16 An-Nahl 43). Lagi-lagi Anda melepaskan ayat ini dari konteksnya. Ayat ini merupakan jawaban Al-Qur’an kepada sekelompok orang kafir yang menyatakan bahwa seorang Nabi itu harus bersifat adikodrati atau dari jenis malaikat. Allah menjawab “Dan kami tidak mengutus sebelum kamu kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka”. Perintah “maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” dalam ayat ini bersifat jamak, sehingga jelas ditujukan untuk para kafir bukan untuk Nabi. Karena itu, pemuatan pendapat Al-Suyuthi pengarang tafsir Al-Jalalain bahwa, “Orang yang mempunyai pengetahuan” itu adalah ahli-ahli Taurat dan Injil sudah tepat. Tapi yang tidak tepat adalah anggapan Anda bahwa perintah ini juga berlaku untuk rasul Muhammad.

7. “Dan sesungguhnya wahyu ini benar-benar diturunkan oleh Allah, diturunkan oleh roh suci ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang dari antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas dan sesungguhnya ayat-ayat itu benar-benar dalam kitab-kitab orang yang terdahulu” (S.26 Asy-Syu’araa 192-196). Maksud ayat ini adalah bahwa para nabi terdahulu sebelum Muhammad telah menyebutkan tentang kenabian Muhammad dan tentang Al-Qur’an yang diturunkan untuk beliau. Hanya sofisme dan pemutarbalikan fakta yang bisa mengantarkan kita untuk berpendapat bahwa ayat ini menunjukkan bahwa di dalam Taurat dan Injil ada semuanya yang ada dalam Al-Qur’an tentang ajaran-ajarannya, keputusan-keputusan dan ajaran-ajaran rohani sehingga Al-Qur’an tidak dapat membatalkan Taurat dan Injil karena Taurat dan Injil adalah hukum Allah. Apalagi, Al-Qur’an tidak pernah berbicara tentang pembatalan atau dikontinuitas, melainkan justru berbicara tentang kontinuitas, evolusi dan penyempurnaan.

8. Anda mencoba memainkan kartu nasikh mansukh dalam Al-Qur’an. Anda menyeret pembahasan semakin jauh, tanpa tujuan yang jelas. Secara garis besar, dalam kaitan dengan ayat2 yang berkenaan dengan hukum, telah terjadi pembatalan. Tapi, pembatalan atau yang teknisnya disebut dengan nashk itu bukan bukti kekurangan, tapi bukti keunggulan penerapan hukum dalam Islam. Itulah makna dari ayat “Adapun tiap-tiap ayat yang kami batalkan atau buang Kami membawa yang lebih baik. Ketahuilah Allah itu Mahakuasa atas segala sesuatu.” (S.2 Al-Baqarah 106). Simak kalimat “Kami membawa yang lebih baik”. Pada tempatnya kelak saya akan berbicara tentang keunggulan proses penetapan dan penerapan hukum Islam dibandingkan dengan semua agama lain dengan menggunakan ayat ini.

8. Kemudian Anda membawa-bawa ayat “Dan kami tidak mengutus sebelum kamu seseorang rasulpun dan tidak pula seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimaksudkan oleh setan itu dan Allah menguatkan ayat-ayatnya” (S.22 Al-Hajj 52). Mungkin Anda mengira bahwa ayat ini menunjukkan kelemahan Nabi Muhammad. Padahal, selain ayat itu telah menafikan anggapan kelemahan itu dalam bagian “Allah menghilangkan apa yang dimaksudkan oleh setan itu dan Allah menguatkan ayat-ayatNya”, ayat ini juga secara tegas berbicara tentang nabi dan rasul sebelum Muhammad.

9. Haji Rahmat Allah Al-Hindi dalam bukunya “Idhhar Al-Haqq” berkata, “Pendapat yang mengatakan bahwa Taurat telah dibatalkan oleh Zabur dan Zabur telah dibatalkan oleh Injil dan Injil oleh Al-Qur’an tidak mempunyai dasar apapun baik dalam Al-Qur’an maupun dalam Hadist.” Sudah saya jelaskan bahwa Islam tidak berbicara tentang pembatalan yang terkesan peyoratif, tapi pelurusan dan penyempurnaan.

 

2 thoughts on “Tanggapan2 untuk Natan Budi

  1. Ibrahim Abu Dasteghib says:

    Salam,

    Allohumma sholli ala Muhammad wa ali Muhammad.
    Ok, Ustad, sebuah pemberdayaan pola pikir yang harus dan perlu untuk orang-orang yang tidak terbiasa menggunakan kaidah-kaidah akal yang logis dalam beragama.

    Syukron.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s