Kontrak Sosial

social-con.gif

> Argumen Pendukung

> Beberapa Keunggulan

> Beberapa Kelemahan

J. Rachels: “But what if things are arranged so that one group of people within the society is not accorded the rights enjoyed by others?”


· Andai saja kita buang semua tiang tradisional moralitas. Misalnya, pertama, kita mengumpamakan bahwa Tuhan tidak mengeluarkan perintah2 atau tidak mengganjar kebaikan; kedua, tidak ada yang disebut dengan ‘kebenaran2 moral’ (moral facts) yang tertanam dalam watak-dasar manusia; ketiga, kita menyangkal adanya altruisme universal yang tertanam dalam sifat-dasar manusia—maka kita melihat manusia pada dasarnya termotivasi oleh kepentingan2 pribadinya sendiri. Kalau kita sudah tidak bisa memohon kepada Tuhan, kebenaran2 moral atau altruisme alamiah tidak ada, adakah hal yang bisa menjadi landasan moralitas?

· Thomas Hobbes mencoba menunjukkan bahwa moralitas tidak bergantung pada ketiga hal di atas. Sebaliknya, moralitas sebaiknya dipahami sebagai solusi masalah praktis yang muncul bagi manusia2 yang memiliki kepentingan2 pribadi (self-interested human beings). Masing-masing dari kita ingin hidup sebaik mungkin; tapi tidak seorang pun dari kita bisa berkembang kecuali kita memiliki ketertiban atau tatanan sosial yang damai dan kooperatif. Jadi, aturan2 moral adalah aturan2 yang niscaya adanya bilamana kita mau mendapatkan keuntungan2 atau manfaat2 hidup bermasyarakat. Maksudnya, Tuhan, altruisme atau ‘kebenaran2 moral’ bukanlah kunci untuk memahami moralitas.

· Hobbes memulai dengan bertanya bagaimana jika tidak ada aturan2 sosial atau mekanisme yang sudah lazim diterima untuk menegakkan aturan2 tersebut. Dalam situasi ini, tiap2 orang bebas berbuat semaunya. Hobbes menyebut situasi ini sebagai keadaan alam semesta (the state of nature). Lalu, apakah yang akan terjadi? Bagi Hobbes, keadaannya akan menakutkan. Mengapa demikian? Jawab Hobbes, masalahnya bukan karena manusia itu jelek, melainkan karena empat fakta dasar menyangkut kondisi kehidupan manusia: (1). Kesamaan kebutuhan; (2). Kelangkaan; (3). Kesamaan esensial dalam kekuatan/kemampuan manusia; (4). Altruisme yang terbatas (Even if people are not wholly selfish, they nevertheless care very much about themselves; and you cannot simply assume that whenever your vital interest conflict with their vital interests, they will step aside).

· Hobbes tidak menganggap bahwa semua itu tidak mungkin terjadi, atau murni spekulasi. Dia menunjukkan sejumlah data terkait dengan apa yang terjadi pada yang benar2 terjadi saat sebuah pemerintahan runtuh, seperti saat terjadi huru-hara sipil. Jelas bahwa untuk mengindari keadaan alamiah itu, mesti ditemukan sebuah cara untuk membuat orang2 saling bekerjasama/berkooperasi. Agar hal seperti itu bisa terjadi, perlu ada dua syarat: (1). Mesti ada jaminan bahwa masyarakat tidak saling menyakiti—masyarakat mesti bisa bekerja tanpa rasa takut akan serangan, pencurian, dan pengkhianatan; (2). Masyarakat harus mampu saling mengandalkan untuk dapat menjaga kesepakatan2 di antara mereka. Namun, agar semua itu bisa terjadi, pemerintahan harus ditegakkan; karena hanya pemerintahan, beserta segenap sistem hukum, kepolisian, dan pengadilan, yang bisa memastikan masyarakat hidup dengan sesedikit mungkin rasa takut akan serangan dan bahwa masyarakat bisa tetap menjaga daya tawarnya satu sama lain. Jadi, untuk bisa lolos dari the state of nature, masyarakat harus sepakat dengan penegakan sejumlah aturan untuk mengelola hubungan2 di antara mereka, dan mereka juga harus sepakat mendirikan sebuah agensi—negara—yang memiliki kekuasaan untuk menegakkan aturan2 tersebut. Kesepakatan ini, dimana setiap warga negara adalah pihak yang terkait, dia sebut sebagai kontrak sosial.

· Tokoh lain yang juga banyak berbicara tentang kontrak sosial adalah Jean-Jacques Rousseau, bahkan dia menulis sebuah buku dengan judul serupa.

· Cara lain untuk membuktikan keharusan kontrak sosial adalah apa yang disebut dengan Dilema Tahanan. Yakni: (a) situasi di mana kepentingan semua orang akan dipengaruhi bukan saja oleh apa yang mereka lakukan, melainkan juga apa yang dilakukan oleh orang lain; (b) situasi di mana, secara paradoksikal, masing-masing orang akan berakhir lebih buruk bila mereka secara individual mencari kepentingan2 sendiri ketimbang bila mereka secara bersamaan melakukan apa yang tidak Cuma menyangkut kepentingan individual mereka sendiri.

· Argumen2 kontra: (1). Kontrak sosial adalah teori moral yang menentang segala bentuk pembangkangan sipil, revolusi dan sebagainya. Bahkan, ia mendorong terciptanya sebuah status quo yang makin lama makin menguat. (2). Bagaimana bila ternyata, kontrak sosial itu telah disusun sedemikian sehingga menguntungkan pihak tertentu, dan terus-menerus merugikan pihak lain dalam satu masyarakat yang sama? Dalam keadaan ini, keluar dari kontrak sosial yang ada menjadi pilihan logis dan alamiah sebagai ungkapan protes.

· Kasus Konstitusi Lebanon yang membagi jatah kursi kekuasaan berdasarkan pada komposisi sekte dan etnik.

· Argumen penentang lain ialah bahwa teori kontrak sosial cenderung mengabaikan kelompok yang terbelakang, tertindas atau kelas bawah yang tidak mengerti apa yang baik/mengentungkan atau buruk/merugikan mereka. Demikian pula halnya dengan binatang2 dan lingkungan hidup lainnya. Padahal, pengabaian terhadap kedua hal itu akan mendorong pada kerusakan kehidupan manusia secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s