Para Penulis Perempuan

johngregorydunnejdidi.jpg

Entah sudah berapa kali saya membaca tulisan Joan Didion, The Year of Magical Thinking. Tapi, rasanya masih saja ada sesuatu yang memuat saya terkesima. Buku ini ditulis dengan kekuatan emosi yang luarbiasa. Dan ternyata ini sudah yang ke sekian kali saya menemukan bahwa para penulis perempuan itu jauh lebih dahsyat dalam mengekspresikan kekuatan emosi ketimbang laki-laki.

No offence, but that’s what i just found out! Sampai-sampai, saya sempat berpikir bahwa perempuan dapat menjadi penulis yang lebih baik dari laki-laki. Tapi, ego saya buru-buru menyingkirkan pikiran yang menyesakkan dada ini:-)

Ini juga yang menyebabkan saya terheran-heran bukan kepalang bila bertemu perempuan yang berupaya mati-hidup-mati-lagi untuk menghindari pemanfaatan emosi yang positif, tapi malah mati-hidup-mati-lagi untuk berlogika dan berilmiah-ilmiahan dalam menulis atau berkarya. Padahal, jika mereka menyadari kekuatan emosi dan memanfaatkannya secara positif, tanpa terjebak pada penggunaan emosi liar di luar kendali, lantas mengartikulasikannya dalam wadah bahasa yang sederhana, bakal lahir sebuah karya yang dahsyat.

Contohlah Joan Didion. Karyanya tidak bisa dikatakan murni emosional, tapi senantiasa hangat dan bahkan membara dengan emosi cinta dan kasih sayang yang mendalam. Kalau saja ada para penulis Muslimah yang siap mengorbankan prestasi keilmiahannya dan menyadari kekuatan ekspresi emosinya dalam menulis, tentu saja dengan disiplin spiritual yang tetap terjaga, lantas mereka menulis kembali sejarah para Nabi dan manusia-manusia suci, mungkin khazanah sastra Islam akan jauh lebih kaya.

Ayo Muslimah yang berbakat, menulislah dengan hati. Mumpung di sini ada saya yang siap dan keranjingan baca!!!

4 thoughts on “Para Penulis Perempuan

  1. Ema rachman says:

    salam ustad…. kemaren saya hadir di kajiannya ust Haidar Bagir,dan menceritakan keinginan saya sudah lama sekali’membuat’ buku untuk anak2 se dunia ( universal) tentang figur2 teladan dari keluarga Rasul saaw yang di netralkan , maksudnya tidak terkesan ‘ only for muslim’kids’, jadi anak2 agama apapun dapat membacanya tanpa ada unsur membaca buku agama… karena kan sebetulnya’kebaikan’ itu adalah nilai yang universal. Jadi setiap anak dapat mengetahui siapa Fatimah az-Azahra as , siapa Husein bin Ali as dsb…dengan banyak gambar dan menampilkan sifat2 keteladanan mereka…Seperti kita dulu baca buku biografi Gandhi ( tanpa berpikir ke agama Hindu)siapapun ingin tahu figur itu…
    Apakah antum tertarik dan bisa bantu saya….

  2. wah jadi termotivasi nih, karena woman are more sensitive perhaps , mereka kadang bisa menulis beyond apa yang mereka bisa fikirkan, bahkan bisa terlalu dramatis😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s