Budaya Indonesia: Sebuah Otokritik (1)

budaya-indo.jpg

Mari kita memulai bahasan ini dengan menyimak kembali dialog anak yang terdidik gaya Barat di S.T.O.V.I.A. (Sekolah Dokter Pribumi) dengan ibunya sebagaimana terekam dalam Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer.

“Sekarang, ya sekarang ini dengan uang saku sepuluh gulden, makan tanggungan asrama, seorang pemuda sudah bisa bikin tingkah semau dan sepuasnya. Bisa mencicil sepeda yang sebagus-bagusnya, atau mengirimkan lima gulden untuk membantu keluarga, atau menyekolahkan adiknya, atau kawin dan mendirikan rumah tangga sederhana, bahkan tanpa itu pun orang sudah dapat memikat calon-calon istri…Siswa Sekolah Dokter. Jabatan sudah melotot menantikan, dan rumah dengan perabotnya. Tak perlu bermagang! Calon orang sepandai-pandainya. Belajarnya saja setengah lusin tahun! Delapan kalau dengan dua tahun klas persiapan. Tidak setiap orang sanggup lulus, terburu tua dalam pelajaran. Hanya orang pilihan bisa melewatkan waktu selama itu. De-la-pan ta-hun!

Tak urung tak kurang-kurang siswa telah kehabisan modal sebelum tutup bulan. Dan bergentayangan mereka (kadang-kadang termasuk juga aku) ke Waterloo Plein (sekarang Lapangan Banteng) pada Sabtu sore untuk mendengarkan musik perunggu Batalyon, dan dengan mata liar menaksir nyai-nyai yang berjalan-jalan menuntun anak kecilnya.

Semua siswa Sekolah Dokter punya pengetahuan-dasar tentang watak para gundik ini: mudah dibujuk, mudah menuangkan isi pundi-pundi, mudah membuka jalan untuk dibujuk, mudah mengundang ke rumah kala tuannya tak ada, orang-orang kesepian di tengah-tengah peradaban yang bukan peradabannya. Mereka membutuhkan usikan pemuda sebangsa, sebagaimana mereka membutuhkan sambal dan lalap.

Dan orang pun membual tentang pengalamannya masing-masing dengan nyai ini atau nyai itu, dan apa-apa yang mereka dapatkan.

Cerita-cerita yang membikin aku mengelus dada. Serba kebalikan dari peringatan Bunda: Jangan percaya pada perempuan, bukan istrimu, yang mau menerima pemberianmu. Dan sekarang, di lingkungan hidupku, pria-pria gagah, berseakan terpelajar, bebas, beruang-saku sepuluh gulden, justru memburu pemberian nyai-nyai! Mungkinkah Bunda memasukkan mereka pada golongan lelaki yang tidak bisa dipercaya? Bunda bilang: perempuan seperti itu pada dasarnya pelacur. Dan lelaki semacam itu mungkin memang pelacur.

Hormatku pada Bunda semakin meninggi. Aku tak tahu apakah Bunda pernah menghadapi ujian dan tetap berkokoh pada kata-katanya. Dan hormatku pada nyai yang seorang itu juga semakin meninggi¾dia yang tetap tegak berdiri di tengah-tengah ujian yang berdentaman menghantam.”

“…Dan teman-teman pada berjual-beli cinta dengan para gundik! Mungkin mereka hanya bermain-main dan mendapatkan kesenangan dan uang sekaligus. Tapi perbuatannya sudah sungguh-sungguh, sekali pun hatinya tidak.”

“…Ya, semua membikin hati semakin sunyi, seakan tak ada persinggungan mesra dengan lingkungan.

Kalau keluar dari halaman sekolah pada Sabtu sore, orang akan lihat orang-orang tua menghafalkan tampang kami. Penduduk Kampung Ketapang, Kwitang, kampung Abang Puasa, pembunuh Nyai Dasima. Mereka pemburu menantu calon dokter! Maka juga Kwitang jadi daerah perburuan para siswa. Bukan hanya karena banyaknya orang yang ingin jadi mertua calon dokter, bukan hanya karena gadis-gadisnya, juga bukan hanya karena di sini semua menghormati para eleve. Ada alasan pokok: setiap siswa membutuhkan satu keluarga. Di sana ia dapat melepas pakaian kebangsaan berganti pakaian Eropa, jadi sinyo. Dengan pakaian Eropa orang dapat bebas bergentayangan, beridentitas netral apalagi dalam mencari nyai-nyai.

Datang lagi pada keluarga itu, masuk dalam pakaian kebangsaan semula dan kembali balik ke asrama.

Semua orang kampung Kwitang, kenal adat para siswa ini. Dan keluarga-keluarga itu bersaing, gigih berebut kesempatan menjamu. Dengan layanan dari anak gadis masing-masing yang telah di ambang masa kawin. Adat pingitan porak-poranda kena terjang Sekolah Dokter.”

“…Kemudian:

“Tidak kusangka, Nak.”

“Apa yang tak disangka, Bunda?”

“Dengan sukarela kau sudah jadi Jawa lagi begini?”

“Ampuni sahaya, Bunda, bukan karena sukarela, karena aturan sekolah, Bunda. Putramu sekarang harus bercakar ayam seperti ini.”

“Dari nada suaramu ada kudengar kau semakin tak suka jadi Jawa, Nak.”

“Apa memang begitu penting jadi Jawa, Bunda?”

Belum lagi selesai bicara segera aku jatuhkan diri ke lantai melihat Bunda mengucurkan airmata dan pandangnya dibuang ke langit melalui jendela. Aku cium kakinya dan memohon ampunnya untuk kesekian kali.

Beruntung Ibu Badrun tak mengerti bahasa Jawa.

“Sekarang aku mengerti mengapa hidupmu begitu tidak berbahagia, Nak. Kesalahanmu sendiri, tingkahmu sendiri, didikan Belanda sudah lupakan asal. Kau tidak senang dalam pakaianmu itu, kau tidak senang pada ibumu karena dia bukan Belanda.”

“Ampun, Bunda,“ kucegah ia meneruskan ucapannya.

“Kau tidak senang pada air yang kau minum dan nasi yang kau makan.”

“Ampun, Bunda, ampun, ampun.”

“Barangkali kau pun tidak suka pada kelahiranmu sendiri?”

Bunda tak dapat dicegah bicara. Kata-katanya mencekam menggigilkan syaraf sampai ke ujung-ujung.

“Asal kau tahu, itu kau yang kuhadapi sekarang. Sekarang ini, asal kau tahu, itu yang membikin kau jadi anakku yang sengsara seperti ini. Ah, anakku, kan sudah berkali-kali kukatakan: belajarlah berterimakasih, belajarlah bersyukur, anakku. Kau, kau berlatihlah mulai sekarang, Nak, berterimakasihlah, bersyukur pada segala yang ada padamu, yang kau dapatkan dan kau dapat berikan, impian takkan habis-habisnya. Belajarlah berterimakasih, bersyukur, sedang kiamat masih jauh.”

Suaranya yang lemah-lembut menderu menyambar-nyambar, lebih perkasa dari petirnya para dewa, lebih ampuh dari mantra semua dukun, suara dari seorang ibu yang mencinta.

“Kalau kau sudah dengar semua kataku, bangunlah, kalau tidak, tetaplah bersujud di bawah kakiku, biar aku ulangi.”

“Sahaya, sudah dengar semua, Bunda, setiap patah ¾ takkan terlupakan.”

“Bangunlah.”

Aku berdiri, dan masih juga matanya memandang terheran-heran dengan mulut setengah terbuka.

“Engkau sudah mulai berkumis…,” katanya tiba-tiba.

“Sudahkah sahaya Bunda ampuni?”

“Seorang ibu selalu mengampuni anaknya, biar pun anak itu seperti kau, yang baru pandai membangunkan kesengsaraan untuk dirinya sendiri. Aku datang terpanggil oleh kesengsaraanmu, Nak. Surat-suratku tak ada yang kau balas selama ini. Orang tak mau menceritakan isi suratkabar lagi padaku. Mereka sudah belajar melupakan kau, darah yang sudah diikat oleh para hakim, katanya. Tapi darah itu darahku sendiri. Pergi ke Surabaya aku dilarang ayahandamu. Aku pergi juga, Nak, tak mengindahkan murkanya. Akulah yang melahirkan kau, bukan orang lain. Alamat-alamat dulu sudah tiada lagi. Sedang alamatmu yang lama tidak bisa memberikan sesuatu jawaban.”

“Ampuni sahaya, Bunda.”

“Kau selalu kuampuni tanpa kau pinta pun, Nak. Kau selamanya membutuhkan ampun.”

“Bunda, ah, Bundaku sendiri…”

“Begini dekat aku, Nak, kau terus juga memanggil-manggil. Di kejauhan kau tak pernah dengarkan pekikanku.”

“Ampun, Bunda.”

“Orang bilang, rumah bagus dan mewah di Wonokromo itu sudah bukan rumah pemilik lama lagi. Dengan pertolongan seorang kenalan baru kudapatkan alamat di Wonocolo. Aku pergi ke sana. Ia tinggal di rumah bambu. Aku menginap di sana. Aku tak temukan menantu. Aku dengar dia sudah pergi. Ah, Nak, tidakkah kau merasa hina sebagai suami ditinggalkan seorang istri begitu saja? Aku, yang setua ini, menangis di depannya. Begitu rendahkah harga anakku sebagai menantu? Kau sudah mulai berkumis sekarang. Mengapa matamu sebak? Waktu kecil kau tak secengeng sekarang.”

Aku sadari diri sedang tersedan-sedan dan mata basah. Aku seka mataku dengan setangan.

“Kau, kau, kau tak pernah memberitakan sewajarnya apa yang sudah terjadi…”

Lebih baik aku diam-diam saja mengendapkan segala haruan yang menyayat-nyayat ini. Betapa banyak kesalahanku pada wanita mulia ini.

Ia berhenti bicara waktu Ibu Badrun datang menyuguhkan minum. Perubahan suasana itu melegakan. Dan sekarang aku bertindak sebagai penterjemah. Percakapan antar-wanita, membosankan.

“… Pada kesempatan lain ia berkata begini:

“Engkau tidak segesit dulu lagi, Nak. Kau banyak melamun, tak dengarkan kata-kataku. Carilah istri, seorang gadis Jawa sejati, biar ada yang meringankan penderitaanmu. Jangan pikirkan yang sudah-sudah. Apa kau kira tidak bakal laku? Ingat kau pada ceritaku waktu kau jadi pengantin dulu?”

“Ingat, ingat betul, Bunda.”

“Pulanglah kau nanti kalau liburan, pilihlah gadis mana saja yang kau sukai.” Ia berhenti bicara, khusus hanya untuk dapat berkecap-kecap dan meracik sirih. ”Apa kau kira hanya Belanda dan turunannya saja yang patut jadi istrimu?”

“Tidak, Bunda.”

“Jadi kau pulang pada liburan mendatang? Atau aku jemput?”

“Tidak perlu dijemput, Bunda. Sahaya akan usahakan.”

“Jangan sekali-kali kau kawin tanpa sepengetahuanku. Jangan hinakan Bundamu ini. Apakah Bunda pernah melarang kau selama ini?”

“Tidak pernah, Bunda.”

“Mengapa pergi ke Betawi pun kau tak bilang? Jangan bilang ampun, aku selalu ampuni kau. Aku tahu kau tidak berbahagia. Kau selalu memikirkan dirimu sendiri, seperti halnya orang-orang Belanda gurumu.”

Dan sekarang pertanyaan yang lebih berat dari ujian sekolah manapun yang pernah aku tempuh:

“Tidakkah kau menyayangi Bundamu ini?”

“Tak ada orang lain yang lebih sahaya sayangi, Bunda.”

“Kau bicara dengan bibirmu atau hatimu?”

“Dua-duanya, Bunda.”

“Mengapa kau selalu berusaha keras untuk menjadi bukan anak Bunda?”

Suaranya yang lemah-lembut dan kecintaannya yang begitu mendalam mengancam acuan-acuan Eropa yang sudah mulai berbentuk dalam diriku. Memang aku sudah merasa jadi anak yatim-piatu zaman modern, tidak punya kepentingan mutlak, dalam pengertian kuno, tentang ikatan darah. Aku telah tinggalkan Jawa Timur untuk menjadi pribadi. Sekarang cinta dan kasih-sayang Bunda berdiri di hadapanku sebagai hakim yang tak kenal banding.

“Mengapa kau diam saja, Nak? Kau tak lagi bisa bicara dengan hatimu. Kau sudah jadi Belanda hitam berpakaian Jawa. Kalau itu sudah jadi maumu, jadilah. Bunda takkan melarang. Tapi apa harus aku perbuat agar dapat menyayangimu?”

“Ah, Bunda, kasih-sayang tak pernah bersyarat. Bunda tetap akan menyayangi sahaya seperti dulu, seperti sekarang dan seperti selamanya, dan restuilah sahaya dalam mengejar cita-cita sahaya.”

“Bicaralah terus. Kau sudah mulai bicara sekarang. Dahulu kau punya banyak cerita, sampai-sampai kau jadi pujangga. Sekarang kau begitu layu. Bicaralah, Nak. Sampaikan semua pada Bundamu ini, biar kudapat kembali merasa sebagai seorang ibu yang patut untuk anaknya. Jangan pertimbangkan aku suka atau tidak. Aku tahu duniamu sudah begitu jauhnya dari dunia Bunda. Mungkin, biarpun hanya sayup-sayup, Bunda dapat mengerti maksudmu.”

“Sahaya pernah beritakan pada Bunda tentang Revolusi Prancis.”

“Aku masih ingat. Kalau manusia sama-sama haknya, seperti ceritamu, mana lagi hak seorang ibu terhadap anak?”

“Haknya adalah menyayangi, Bunda, membesarkan dan mendidiknya.”

“Tidak lebih dari itu?”

Kasih-sayang yang bertindak sebagai jaksa dan hakim sekaligus ini! Apa mesti jawabku?

“Kasihan, kau, Nak, tersiksa benar karena pertanyaan Bunda. Lihat, Bunda tak menuntut apa-apa darimu. Asal Bunda dapat melihat kau berbahagia, rasanya lebih berbahagia lagi. Melihat kau kuyu menderita begitu, Bunda lebih menanggung lagi. Jadilah apa saja sesukamu. Jadi Belanda pun Bunda tak berkeberatan.”

“Ampun, Bunda, jangan itu diulang pada sahaya,” aku menjeritkan permohonan dengan suara menghiba-hiba. “Bunda telah sekolahkan sahaya untuk tetap jadi Jawa yang berpengetahuan dan berilmu Eropa. Memang dua-duanya mengubah manusia, Bunda.”

“Bunda mengerti, Nak, mengubah untuk menjadi lebih baik. Bukan sebaliknya.”

“Restu Bunda, restu Bunda.”

“Tetapi kau jangan begitu menderita.”

“Sahaya tidak menderita.”

“Apakah kau kira aku tak mengenal anak-anakku? Aku kenal kau sejak dalam kandungan. Aku kenal suaramu sejak tangisanmu yang pertama. Tanpa menerima surat-suratmu, tanpa melihat wajahmu, dari tempat jauh, hati seorang ibu sudah dapat meraba, Nak. Betapa banyak yang telah kau deritakan untuk menjadi apa yang kau kehendaki sendiri. Bahkan membagi penderitaan pun pada Bundamu ini kau enggan. Orang Eropa memang mau pikul sendiri dirinya sendiri. Apa itu perlu, sedang kau masih mempunyai seorang Bunda?”

“Katakanlah sesuatu pada sahaya, Bunda,” pintaku.

“Kau sudah dijalari penyakit Eropa, Nak, penyakit untuk mendapatkan segala-galanya buat dirinya sendiri seperti ceritamu sendiri.”

“Bunda!”

“Itu penyakit Eropa. Kan lebih baik kau belajar mengingat orang lain juga? Kan sudah kukatakan, belajar bersyukur, berterimakasih? Jangan, jangan bicara dulu. Dulu kau sendiri pernah bercerita, buat orang Eropa, terimakasih adalah bunga bibir. Tak ada hati yang mengucapkan. Engkau telah jadi seperti itu, Nak. Aku takkan lupakan cerita-ceritamu itu. Yang pandai ingin lebih pandai, yang kaya berusaha lebih kaya. Tak ada yang berterimakasih dalam hati. Hidup diburu-buru untuk menjadi yang lebih. Kan kau sendiri yang dulu bercerita pada Bunda? Mereka semua orang menderita; keinginan, cita-cita sendiri, jadi raksasa raja diraja. Masih ingat?”

“Ingat, Bunda.”

“Apa guna ajaran Revolusi Prancis kemudian?” Suaranya tetap lemah-lembut seperti dulu, seperti sejak pertama kali aku dapat mengingatnya. ”Kau bilang untuk pembebasan manusia dari beban yang dibikin oleh manusia lainnya. Kan kau masih ingat, Nak? Itu bukan cara-cara Jawa. Orang Jawa melakukan segala karena sekedar hanya menjalani. Perintah-perintah datang dari Tuhan, dari Dewa, dari Raja. Setelah menjalankan perintah orang merasa berbahagia menjadi dirinya sendiri sampai datang perintah lagi. Maka dia bersyukur, mengenal terimakasih. Dia tidak diburu-buru raksasa dalam dirinya sendiri.”

“Bunda, banyak sudah yang sahaya dapatkan dalam belajar selama ini. sahaya menjadi tahu, hidup ternyata tidaklah sederhana.”

“Guru mana yang bilang seperti itu, anakku? Dahulu, nenek-moyangmu selalu mengajarkan, tidak ada yang lebih sederhana daripada hidup: lahir, makan-minum, tumbuh, beranak-pinak dan berbuat kebajikan.”

“Tapi ada kekuatan besar penelan kebajikan tapi enggan terbagi.”

“Guru-guru nenek-moyangmu juga sudah tahu itu, Nak. Mereka menamainya buto (raksasa). Banyak buto; buto ijo, buto terong, buto glundung. Dan mereka tak pernah menang melawan para satria nenek-moyangmu.”

“Sekarang ini mereka terus-menerus menang.”

“Itu di tangan dalang yang salah.”

“Bunda, sahaya akan jadi dalang yang tidak salah itu.”

“Anakku sudah jadi pujangga, sekarang hendak jadi dalang pula. Setelah itu kau hendak jadi apa lagi? Jadi dokter pun kau bakalnya terlaksana. Betapa banyak yang hendak kau capai. Betapa banyak kesengsaraan hendak kau undang buat membikin dirimu jadi lebih kuyu kehilangan kegembiraan. Mana lagi bakal tersisa buat orang lain, buat para dewa dan Allah? Nenek-moyangmu mengajar dan diajar sederhana. Guru-gurumu mengajar tentang ketidakterbatasan manusia seperti ceritamu sendiri. Nenek-moyangmu sangat pandai berterimakasih, sekalipun tidak mengucapkan dengan bibirnya. Kau diajar mengucapkan entah berapa kali sehari, tapi hatimu bisu.”

“Bunda tidak suka sahaya jadi dalang.”

“Biarpun Bunda tak suka, guru-gurumu telah pimpin kau ke tujuan-tujuan tak terbilang, ke jarak-jarak tanpa batas. Waktu kecil kau suka, malah tergila-gila pada cerita-cerita wayang, sudah dewasa begini kau lupa pada semua. Terserah bagaimana kau mau. Tapi jangan begitu menderita, karena penderitaan adalah hukuman.”

Betapa jauhnya dunia antara anak dan ibu ini. Ini bukan lagi jarak sejarah. Apa pula namanya?

“Hukuman, anakku, bagian setiap orang yang tidak dapat menempatkan diri secara tepat dalam tata kehidupan. Kalau bintang dia bintang beralih, kalau hutan dia hutan larangan, kalau batu dia batu ginjal, kalau gigi dia gigi gingsul. Ah, kau sudah bosan mendengarkan kata-kata Bundamu. Beristirahatlah, kau, beristirahat dan nikmati istirahatmu.”

Memang aku telah terlalu lelah mendengarkan gelombang wejangan dan ujian berbobot satu ton itu, datang lagi dan datang lagi.

“Kau tahu, Nak,” ia masih menambahi lagi, “kukatakan ini padamu setelah begini dewasa kau sekarang, bukan anakku sewaktu bocah dalam pangkuan. Sebentar lagi kau pun akan memangku anakmu sendiri. Kalau kau terus juga begitu, anak-anakmu akan hadapi kau, dan kau sudah takkan mengenal mereka sebagai anakmu, kecuali hanya namanya….”

Ternyata ia masih juga belum puas, masih menambahi:

“Jangan begitu percaya pada Revolusi Prancis. Apa katamu semboyannya dulu? Persamaan, Persaudaraan, Kebebasan? Kalau itu semua benar, Nak, di mana kemudian tempatnya orang Belanda di Jawa ini?….”

Tergolek di dalam kamar, sedang di lantai, di atas tikar, anak-anak pungut Ibu Badrun telah nyenyak tidurnya dalam kukuban asap obat nyamuk, aku mengucap syukur telah mempunyai seorang ibu yang begitu gagah dalam hati dan pikirannya. Dia wanita Jawa yang memiliki semacam kebijaksanaan tersendiri. Dan justru wanita semacam dia aku takkan berani meminang. Maafkan aku, Bunda. Aku punya jalan lain dan pilihan lain. Akan kutulis surat panjang dalam Jawa pada Bunda. Lisan aku takkan mampu. Kau benar, Bunda, kau telah berhadapan dengan putramu yang sudah tak kau kenal lagi kecuali hanya namanya…

Bukan hukuman, Bunda, bukan. Bukan.” [1]


[1] Pramoedya, Jejak Langkah, Hasta Mitra, 1985, hal. 44-56.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s