Dari Teks ke Teks

Hari Kamis tanggal 29 November lalu, Islamic College for Advanced Studies menyelenggarakan seminar bertema “Membincangkan Metodologi Studi Islam”. Kakak saya, Ibrahim Al-Habsyi, sedianya berbicara dalam forum itu, tapi berhalangan hadir. Dia meminta saya menjadi pembicara pengganti, dengan makalah yang sudah dipersiapkannya. Pembicara lainnya adalah Dr. Abdul Moqsith Ghazali. Moderator menjulukinya sebagai kyai JIL.

Setelah uraian singkat mengenai tema pembicaraan, moderator meminta saya memulai. Paparan saya sederhana saja: studi Islam itu bisa ditinjau secara teoretis dan juga secara praktis. Tinjauan teoretis bisa dibagi menjadi ushul dan furu’, dan masing-masingnya memiliki metodologi, kurikulum, silabus, materi, pengembangan, dan sebagainya yang berbeda-beda. Aspek praktisnya berkenaan dengan pelaksanaan dan para individu yang terlibat di dalam studi Islam. Saya usulkan agar kedua aspek ini secara jelas dibedakan, mengingat seringnya orang memberikan kritik pada aspek praktis kemudian tanpa bukti melecehkan aspek teoretis. Selanjutnya, saya mengutip pandangan Murtadha Muthahhari tentang ilmu2 Islam beserta kilasan contoh berkenaan dengan kepelikan definisi ilmu Islam atau studi Islam. Karena seminar memang tidak untuk menghasilkan solusi atau rekomendasi, melainkan sekadar presentasi, uraian yang dipersingkat.

Abdul Moqsith membawa makalah yang lebih spesifik dan rinci berkenaan dengan ushul fiqh beserta sejumlah pekuliaritasnya. Uraiannya yang berporos pada ushul fiqh mazhab Ahlus Sunnah terdedah secara cukup menawan. Retorikanya berdendang memukai hadirin yang terhanyut dalam tepuk tangan dan gelak tawa.

Tapi, di luar segala kesuksesan itu, ada sejumlah penampilannya yang menggelitik. Misalnya, dia memulai presentasinya dengan mengutip sejumlah teks Arab, dimulai dengan kata qâla (berkata…). Mulai perkataan Abu Hamid Al-Ghazali sampai Abdul Moqsith Gazhali sendiri dijejernya dalam kalimat-kalimat bahasa Arab yang kemudian diterjemahkannya. Abdul Moqsith Gazhali sendiri menyitir perkataan Abu Bakar saat Baginda Rasul meninggal, dengan redaksi yang telah diubahnya: “Barang siapa yang menyembah teks, sesungguhnya teks telah mati. Barangsiapa menyembah makna, sesungguhnya makna hidup selama-lamanya.”

Perkataannya ihwal “teks mati” dan “makna tidak mati” mengusik pikiran saya. Sekalipun semua teks itu tidak berbicara, tapi nilai tiap-tiap teks itu tidak sama. Teks al-Qur’an dan teks yang berasal dari Abu Zaid (wama adraka ma Abu Zaid) jelas tidak setara dan sederajat. Stabilitas, kredibilitas, reliabilitas dan sakralitas teks al-Qur’an terbukti secara rasional dan historis tidak tertandingi.

Al-Qur’an telah melampaui ribuan tahun masa ujian, tinjauan, bedahan, kritik tajam, persekongkolan, upaya-upaya manipulasi, interpolasi/ekstrapolasi, adulterasi dan sebagainya yang tidak pernah berhasil menggoyang kekudusannya. Kalau ada sedikit saja peluang untuk mengurangi kehormatan dan kekudusannya, tentu saja para penindas sepanjang zaman, di dunia Islam maupun di tingkat global, sudah pasti akan melakukannya. Baik untuk tujuan melanggengkan kekuasaannya atau mencerabut potensi umat Islam sampai akar-akarnya. Tapi, bukti rasional dan empiris menunjukkan bahwa tantangan al-Qur’an pada siapa pun untuk menandinginya belum pernah terjawab.

Upaya menyetarakan nilai teks pada derajat yang sama hanya dengan alasan bahwa “teks mati dan tidak bisa berbicara” sama dengan mengatakan bahwa Kijang Innova dan S 500 sederajat. Pabrik Mercedes Benz di Jerman sana bisa mencak-mencak jika ada pengamat otomotif yang mengeluarkan opini semacam itu. Innova dan S 500 memang sama-sama mobil, tapi maqam dan derajatnya berbeda sekali. Teks “yang mati” juga begitu. Apalagi, nuansa perbedaan di antara tingkat teks itu jauh lebih delicate dan intricate dibanding nuansa perbedaan di antara deretan mobil. Pandangan ini tentu saja berpijak pada asumsi-asumsi filosofis.

Namun, jika kita mau berangkat lebih jauh dan memasuki wilayah irfan (mistisisme), maka jelas teks al-Qur’an itu tidak mati, bahkan hidup dan menghidupkan. Tapi, itu sudah masalah lain yang butuh penjelasan lebih panjang dan rumit yang saya sendiri pun belum bisa memaknai lebih dari sekadar teori.

Barang tentu, secara dialektis, saya juga bisa mengatakan bahwa di luar teks itu ada apa. Kalau jawabnya adalah makna, maka makna tanpa teks itu juga tidak terkatakan dan terkomunikasikan. Lantas, pakai apa kita mau berkomunikasi dan berhubungan di luar teks? Dan ini mengantarkan kita pada keniscayaan teks, dalam paradigma rasional, bukan mistikal yang mengandaikan terwujudnya medium di luar itu.

Sayang sekali, Abdul Moqsith Gazhali dan sejumlah aktivis JIL lain melakukan kesalahan tidak perlu itu berulang-ulang. Akibatnya, timbul kecurigaan bahwa mereka bukannya tidak sadar, tapi memang mendesakkan agenda untuk meerendahkan teks al-Qur’an yang disucikan oleh umat Islam sepanjang zaman. Akankah ini bersifat produktif? Untuk tidak mengatakan destruktif, retorika seperti ini bisa menjadi bumerang bagi agenda tersurat JIL yang ingin merasionalisasikan pemahaman agama.

Contoh lain yang juga sempat menendang urat syaraf saya adalah saat Kyai Moqsith menyebutkan bahwa Baginda Nabi tidak berbicara secara akademis. Nabi bukanlah ilmuwan. Boleh jadi tujuan pemerian ini ingin meninggikan Nabi. Tapi, supaya tidak negatif, seharusnya Kyai Moqsith menggantu kalimat “bukan” di situ dengan “lebih”. Hanya dengan sedikit perubahan seperti ini, saya yakin pesan akan tersampaikan secara lebih tepat.

Walhasil, terlepas dari pilihan kata dan diksinya yang aneh itu, saya mencoba memahami keinginan terdalam seorang Moqsith Gazhali. Harapan saya bahwa tujuan-tujuannya tidak merusak, tapi membuang yang sudah rusak dari tubuh umat Islam. Begitu pula harapan saya kepada semua aktivis JIL lain, terutama marja’ mereka, Ulil Abar Abdalla. Karena, umat Islam itu sudah cukup terpojok, terpinggir, tertikam, tertindas. Jadi yang paling perlu adalah membangunkan, memberdayakan, memperkuat sendi-sendinya dan memberinya injeksi kehormatan dan kemuliaan pada semua ruang dan level kehidupannya.

5 thoughts on “Dari Teks ke Teks

  1. fahmi alkaf says:

    Salam,
    Mestinya harus disadari (oleh JIL)juga bahwa ada perbedaan mendasar antara agama dan ilmu pengetahuan. Bukankah adalah hak prerogative kenabian; siapa nabinya, bagaimana kitabnya itu tidak harus di musyawarahkan dulu, dalam hal ini nampaknya JIL ingin melepaskan hak prerogatif tersebut lewat dalih kebebasan rasional, seolah-olah Nabi hanya mengawal turunnya teks dimasanya saja, selanjutnya teks tersebut bisa diperlakukan seperti teks-teks ilmiah yang lain, bisa di interpretasikan sekehendaknya sesuai dengan rasionalitas bahkan terhadap hal-hal yang bersifat sakral dan emosional sekalipun, ini bisa menimbulkan kebablasan intelektual yang menerabas batas-batas kesakralan yang dari jaman diturunkanya nabi pertama Adam s/d Muhammad selalu konsisten, karena tradisi Tuhan dalam hal nubuwwah tidak pernah berubah.Ini yang tidak disadari atau sengaja dilupakan oleh golongan JIL (bukan JINanutal).

  2. zaid says:

    Pada dasarnya, bahasan JIL senantiasa berangkat dari rapuhnya pondasi filsafat materialisme mereka sendiri. Apa-apa yang dikategorikan sebagai sakral, ma’nawi, ruhani, nilai-nilai,…… terlanjur dikategorikan secara konotatif berada diluar ruang-ruang material mereka.
    Gitu dechh…kalo epistimologinya lompat-lompat. Mau kelihatan logis, jadi BOKIS. He…he…

    Wajar ajahhh,….setiap tulisan dan “GonCangaN” yang mereka bikin, bakalan jadi penentu SKS mereka buat kuliah lagi di AmRik yaaa.

    Kok mau Kuliah musti GonCjaNg-G’AnjinG. Yang pinter dikit fislsafatnya.

    Salam Ust….

  3. am safwan says:

    salam
    sy menangkap kegelisahan yang luar seorang Musa KAshim, sedikit tanggapan, tampaknya teman2 JIL memang tidak mendedah argumentasi dalam sebuah defenisi yang jelas. MEnurut saya, kalo teman2 yang sering dikritisi JIL adalah kaum tekstualis_skripituralis (normatif) saat yang sama teman2 JIL pun berrada pada sudut normatif yang lain yaitu historisitas. jadi saya melihat, teman2 JIL pun sangat normatif memahami teks. saya kebetulan pernah panel dengan mas Ulil di Jogja dalam sebuah seminar bersama anggota majelis Tarjih Muhammadiyah. sy fokus mengkritisi tulisan beliau di kompas yg menghebohkan dulu. sy menemukan 72 kerancuan epistemologis gagasan Ulil tsb.,tidak kurang dan bahkan lebih banyak lagi kerancuan itu misalnya saya temukan dalam gagasan mas Hamid Basyaib yang pernah mengatakan bahwa Imam Ja’far Shadiq adalah yang pertama melakukan sekularisasi politik. Bukankah ini juga sebuah pembacaan yang simplistis atas sebuah teks sejarah.

    HERMENEUTIKA versusu Ushul Figh adalah inti dari persoalan kelemahan metodologi teman2 JIL. tapi kita akan senang terus secara terbuka untuk membuka dialog yang terbuka dan jujur.
    tapi sy ngeri, dengan ungkapan Ulil saat sy panel dengan beliau di Jogja; setelah lama argumentasi sy; akhirnya Ulil terjebak dengan mengatakan: orang2 syiah itu pandai bicara tapi sesungguhnya menjebak.
    Subhanallah, sy kaget, kok bisa orang yang mengaku liberal, ketika mungkin tersudut, diapun masuk kepasda penyerangan sebuah keyakinan bukan pada argumentasi.

    Memang JIL juga normatif.
    Tapi insya…kita semua sedang merancang sebuah peran intelektual. yang penting mas Ulil/JIL jangan ngmomong begitu dong kalo syiah pandai bicara tapi menjebak.menggelikan memang.

    ust. MUsa Kashim pasti punya banyak uraian rinci kritisme terhadap model JIL, mungkin antum bisa lebih fokus untuk merinci sehingga banyak orang yang tidak cukup mendalam interaksi intelektualnya antum bisa tidak salah kaprah,karena kecenderungan emosional tulisan di atas.

    Bravo buat semua.
    Kaki Gunung Kaliurang
    RausyanFikr
    wallahu’alam

  4. bebas_aja says:

    Bebas aja lah… wacana kan memintarkan manusia, jangan kaku kayak orang-orang kuno. Allah juga ada kok di dunia internet ini. Gw ngak setuju kalo JIL di bilang sesat sama MUI, apa emang cuman MUI yang berhak masuk surga ?. MUI yang paling benar ?, Semakin menyeramkan saja Surga kalo isinya MUI. Gw lebih setuju MUI di bubarkan saja biar surga tidak terkontaminasi oleh orang-orang yang merasa memiliki Hukum Allah, menjaganya, bahkan memfatwa. Emang Allah nya kemana ya ?? kok sampe harus MUI yang berprilaku seperti TUHAN !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s