IsLib, Indomie Campur Madu (Jilid 2)

Tri Santoso

Jika benar teman anda itu menulis buku “Cak Nur bukan Islam Liberal” berarti dia tidak mengerti Cak Nur, karena Cak Nur lah orang pertama yang memperkenalkan Islam Liberal di Indonesia. Lihat sub judul makalahnya di tahun 70an tentang “Perlunya Kelompok Pembaharu yang Liberal”. Jika dia tidak suka dengan JIL atau islib yang ada sekarang, itu hak dia. Tapi dia tidak bisa mengelabui orang dengan mengatakan bahwa Cak Nur bukan islam liberal. Saya kira orang-orang mengagumi Cak Nur justru karena keliberalannya. Ternasuk saya.

MK

Kalau memang dia tidak mengerti tentang Cak Nur, tentu dia tidak akan menulis buku khusus tentang Cak Nur. Dan tentu dia tidak akan dapat gelar master (S2) di Lieden dengan tesis yang juga berhubungan dengan Cak Nur. Sebaiknya Anda baca buku itu dulu sebelum “menghakimi”.

Saya rasa dia tidak sedang bicara suka atau tidak suka. Masalahnya sudah melampaui tahap itu. Rasanya lebih bijak kalau kita tunggu hasil risetnya, baru kemudian kita (saya dan Anda, dan semua yang lain) memberikan penilaian. Begitulah cara yang ilmiah.

Tri Santoso

Saya sering bertemu orang-orang JIL di surabaya dan mereka tidak seperti yang dikesankan sebagai menghina islam atau nabi atau hal-hal yang sakral. Itu tidak benar. Dengan caranya sendiri, mereka ingin memuliakan Islam; mereka menganjurkan Islam yang damai dan toleran; kalau mereka terkadang keras dan sarkastik saya bisa memahami karena mereka adalah anak-anak muda, dan lagi “musuh” yang mereka hadapi adalah orang-orang galak yang siap berjihad.

MK

Itu kesan Anda. Tapi kesan banyak orang lain tidak seperti itu. Mereka terlihat senang dengan sinisisme dan sarkasme saat berbicara tentan al-Qur’an dan Nabi yang disucikan oleh orang Islam. Musuh yang mereka hadapi tampaknya juga mendapatkan momentum karena perilaku mereka yang seperti ini. Anda tahu bahwa gerakan puritan di kalangan kampus jauh lebih mendapatkan dukungan moral dari kalangan mahasiswa daripada gerakan IsLib? Hampir semua organisasi mereka kuasai. Alasannya tidak lain karena perilaku dan retorika sinis dan sarkastis dari para aktivis JIL. Dengan kata lain, “jihad” musuh-musuh JIL itu mendapatkan “landasan agama” karena ulah-ulah seperti ini.

Kalau Anda bilang bahwa dengan caranya sendiri kalangan JIL ingin memuliakan Islam, semoga hal ini benar. Tapi, ternyata metode2 seperti itu tidak dipahami oleh kebanyakan orang sebagai pemuliaan, melainkan sebagai penghinaan. Dan dalam mencapai tujuan2 yang benar dan luhur, metode bersifat integral dengan tujuan, karena metode menentukan keseluruhan akhir dari tujuan.

Tri Santoso

Masalah puasa dan tidak puasa dibulan ramadan saya kira tidak relevan untuk diangkat karena itu persoalan pribadi, bukan masalah sosial. Saya akan tersinggung kalau diperintah shalat, misalnya, karena itu soal privasi saya. Mau salat atau tidak itu urusan saya. begitu juga puasa. Saya dan teman-teman JIL juga tidak pernah mempersoalkan orang-orang Syiah itu mau salat JUmat atau tidak.

MK

Tidak puasa di bulan Ramadhan itu sekadar contoh. Anda tersinggung kalau disuruh shalat, berarti Anda harus tersinggung pada Penyuruh shalat, yakni Allah dan al-Qur’an. Memang itu privasi Anda. Sikap membanggakan perbuatan tidak berpuasa di bulan Ramadhan di ruang dan forum publik itulah yang saya persoalkan. Karena sikap seperti itu sudah bukan lagi berkenaan dengan pilihan pribadi (privasi), tapi sudah menyinggung pilihan pihak lain. Ini bertentangan dengan prinsip toleransi yang konon ingin dibangun oleh JIL di tengah masyarakat.

Kalau ada orang Syiah yang berbangga karena tidak melakukan shalat Jum’at, maka pasti saya juga akan menentangnya. Apalagi jika hal itu terekspose di ruang dan forum publik.

Tri Santoso

Meski tidak setuju seluruhnya dengan pandangan JIL atau Islam lberal, tapi saya sangat menghargai mereka karena mereka tidak mengejek orang lain (kecuali terhadap kelompok radikal pembajak agama).Tapi pemikir dan filsuf sperti anda dengan mudah “mengkafirkan” kelompok liberal seperti perilaku kaum Wahabi yang anda kritikin.

MK

Wah, Anda telah menuduh saya melakukan sesuatu yang tidak pernah saya lakukan: “mengkafirkan” kelompok Islam yang lain. Jika saya kenal Anda dan bertemu muka dengan Anda, maka saya akan tuntut Anda di hadapan hukum. Anda telah menimpakan tuduhan berat yang tidak pernah saya lakukan kepada saya. Coba Anda buktikan, kapan dan di bagian omongan atau tulisan saya yang mana ada indikasi (sekecil apapun) bahwa saya “mengkafirkan” kelompok IsLib? Jangan terlalu panas dalam menanggapi tulisan saya, karena “panas” itu akan membakar Anda sendiri, dan bisa membawa Anda ke perbuatan lain yang merugikan Anda sendiri.

Azzanee

Ya rancu, karena dalam tulisan tersebut, anda menyalahkan “liberalisme”, bukan menyalahkan “JIL” secara spesifik, dan anda secara tegas menyatakan bahwa : Islam dan liberalisme tidak mungkin berdampingan.

MK

Islam dan liberalisme tidak bisa berdampingan, karena keduanya berasal dari pandangan-dunia yang berbeda. Bukan hanya secara lahiriah berbeda, tapi DNA keduanya juga berbeda.

Azzanee

Pernyataan anda inilah yg saya pertanyakan. Apakah menurut anda islam menentang liberalisme? Ini masalah prinsip bung.. Maaf kalau pertanyaan ini saya ulang2, karena anda tidak pernah memberikan jawaban secara tegas.

MK

Islam menentang liberalisme, karena liberalisme menurut New Columbia Encyclopedia adalah “falsafah atau gerakan yang bertujuan utama pada kebebasan-kebebasab individual.” Liberalisme itu singkatnya adalah indivualisme yang diperlembut dan diperluas. Dari definisi sederhana ini saja terlihat jelas perbedaannya dengan Islam, lantaran Islam itu berorientasi pada kesempurnaan manusia secara keseluruhan, baik sebagai makhluk individual maupun makhluk sosial. Akibatnya, sebagian kebebasan (dan kecenderungan) individualnya harus diseimbangankan dengan kepentingan-kepentingan umum. Harus saya tambahkan bahwa kepentingan-kepentingan umum itu juga termasuk kepentingan-kepentingan lingkungan hidup.

Azzanee

Secara pribadi, saya setuju dengan komentar bung Tri Santoso mengenai prinsip2 liberalisme yg juga terkandung dalam ajaran islam. dari bung Tri :

“Meski tidak setuju seluruhnya dengan pandangan JIL atau Islam lberal, tapi saya sangat menghargai mereka karena mereka tidak mengejek orang lain (kecuali terhadap kelompok radikal pembajak agama).Tapi pemikir dan filsuf sperti anda dengan mudah “mengkafirkan” kelompok liberal seperti perilaku kaum Wahabi yang anda kritikin.”

MK

Kalau Anda juga setuju dengan tuduhan keji bahwa saya “mengkafirkan” kelompok IsLib, berarti Anda dan Tri telah sama-sama berlaku tidak adil kepada saya. Saya percaya bahwa ketidakadilan Anda berdua kepada saya itu hanya akan merugikan Anda berdua. Saya ingat dengan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib: “Keburukan (terutama ketidakadilan) akan merugikan pelakunya sendiri.”

Azzanee

Setuju ….. memangnya ada apa dengan “perbedaan”? Bukankah hikmah dari perbedaan adalah agar manusia saling bertoleransi? Agar saling mengingatkan (tapi bukan dengan menghujat). Perbedaan ada dimana2 bung. Menurut saya, ketidakmampuan umat muslim dalam menerima perbedaan (dalam agamanya sendiri) adalah hambatan utama bagi bersatunya umat muslim.

MK

Perbedaan adalah realitas yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat. Saya setuju dengan pandangan bahwa ketidakmampuan umat muslim dalam menerima perbedaan (dalam agamanya sendiri) adalah hambatan utama bagi bersatunya umat muslim. Tapi tampaknya pandangan baik ini telah Anda langgar sendiri dengan menyatakan tuduhan tidak berdasar pada saya, bahwa saya telah “mengkafirkan” kelompok IsLib. Mana toleransi dan upaya saling mengingatkan yang hendak Anda junjung itu?

Azzanee

PS : Walaupun sebagian adalah lebih kecil dari keseluruhan, apakah sebagian harus dihujat? Sementara itu, keseluruhan juga belum tentu selalu menjadi pihak yang benar. Siapa yg menentukan sebagian adalah benar atau salah? Anda atau Tuhan?
MK

Bagian dan keseluruhan itu di sini bermakna begini: Islam Liberal adalah keseluruhan dan JIL adalah bagiannya. Jadi, hukum atau kesimpulan yang dikenakan pada keseluruhan (Islam Liberal) secara logis berimplikasi pada bagiannya (JIL).

Yang menentukan benar dan salah dalam konteks ilmiah adalah akal, fakta, dan prinsip-prinsip logika. Saya, Anda, dan juga siapa saja di sini berhak memberikan penilaian benar-salah menurut prinsip-prinsip yang telah diakui kebenarannya. Dan salah satu prinsip yang diakui kebenarannya adalah “keseluruhan lebih besar daripada bagian dan demikian pula sebaliknya”.

Benar-salah menurut Tuhan (hukum dan kebenaran Ilahi) berlaku kelak saat kita semua berhadapan dengan-Nya di kehidupan setelah mati. Di sanalah baru ada benar dan salah menurut Tuhan yang nilainya bersifat hakiki dan mutlak. Jadi, sabar dulu, tak lama lagi kita akan menemukan kebenaran hakiki dan mutlak itu setelah kita mati. Sedangkan di sini, di dunia ini, termasuk di blog ini, yang menentukan benar-salah itu fakta, akal manusia dan prinsip-prinsip yang telah diakui kebenarannya. Semua kita punya hak yang sama menentukan kebenaran itu berdasarkan hal2 tersebut. Maka itu, jangan gunakan kata2 “Anda atau Tuhan” dalam kasus kita, karena Tuhan telah memberi kita semua sarana yang paling sempurna untuk mencari kebenaran.

Azzanee

Anda merasa paling benar, anda boleh ‘mengingatkan’ bung, tapi ada cara2 lain yang lebih “santun” daripada sekedar menghakimi.

MK

Saya tidak merasa paling benar. Tapi, saya berusaha berpegang pada fakta, akal dan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan yang merupakan sarana-sarana menemukan kebenaran. Saya juga mencoba untuk tidak menghakimi. Masalah “santun” yang Anda sebutkan itu, saya berusaha kuat untuk lebih santun. Tapi, saya minta Anda berusaha terlebih dahulu untuk tidak menunduh sembarangan, apalagi dengan tuduhan yang spektakuler seperti yang telah Anda dan Santoso lakukan.

Advertisements

16 thoughts on “IsLib, Indomie Campur Madu (Jilid 2)

  1. Ema Rachman says:

    bravo ustad….bisa terlihat dengan jelas siapa yang berpegang pada prinsip kebenaran yang hakiki ….juga jelas sekali mereka sangat lemah akalnya!!! sangking lemahnya dengan mudah menuduh saja, tanpa bercermin siapa mereka sebenarnya!! Secara ilmu psikology dapat terbaca kok, orang kalo udah kepepet pelariannya dengan menuduh, menghakimi karena dia tahu persis dirinya lemah dan tak mampu….ketika mereka menyerang antum dengan menuduh, terlihat mereka sesungguhnya sedang mengakui kesalahannya….tapi mau jaim…capek deh. Semoga kita semua diberikan keSABARan dalam menghadapi kasus2 seperti ini…Al Haq ma Ali wa Ali mal Haq

    Terima kasih, Bu Ema. Hadis “Al Haq ma Ali wa Ali ma’al Haq” sangat menambah kekuatan dan kesabaran saya.

  2. azzanee says:

    “Kalau Anda juga setuju dengan tuduhan keji bahwa saya “mengkafirkan” kelompok IsLib, berarti Anda dan Tri telah sama-sama berlaku tidak adil kepada saya. Saya percaya bahwa ketidakadilan Anda berdua kepada saya itu hanya akan merugikan Anda berdua. Saya ingat dengan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib: “Keburukan (terutama ketidakadilan) akan merugikan pelakunya sendiri.””
    ——————————————–
    kata “mengkafirkan” yg ditulis oleh bung tri dalam tanda petik bung, mungkin maksudnya bukan mengkafirkan dalam arti yang sebenarnya, tapi hanya sebagai kiasan. bukankah anda juga senang dengan kalimat2 kiasan? menurut saya, maksud bung tri menggunakan kata “mengkafirkan”, konteksnya adalah “menyalahkan” atau “menghakimi”. yg jelas, menghakimi / mengklaim bahwa islam dan liberalisme tidak akan pernah berdampingan, serta klaim bahwa golongan islam-liberal adalah golongan yang “keluar jalur”.

    walaupun anda tidak merasa menghakimi, seperti itulah yg terlihat. subjektifitas dan sinisisme yg (sepertinya) anda tuangkan dalam tulisan anda, menunjukkan demikian pula. walaupun mungkin anda tidak bermaksud sinis, seperti itulah yang terlihat.

    naah.. jawaban ttg liberalisme baru anda jawab skrg.. jelas kan, ternyata pemahaman masyarakat indonesia ttg liberalisme berbeda2. mengenai prinsip2 liberalisme, saya memang sepaham dengan bung tri, bahwa lberalisme-lah yang membawa perlindungan thd HAM, emansipasi wanita, dan demokrasi. menurut pemahaman saya, prinsip2 liberalisme tsb tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

    liberalisme juga menjamin kebebasan individu, kebebasan untuk berpendapat, berpolitik, mendapatkan akses informasi, dan pendidikan. itulah prinsip2 liberalisme yg saya pahami, sehingga saya mempertanyakan pernyataan anda bahwa islam ‘berseberangan’ dgn liberalisme.
    ———————————
    “Tapi tampaknya pandangan baik ini telah Anda langgar sendiri dengan menyatakan tuduhan tidak berdasar pada saya, bahwa saya telah “mengkafirkan” kelompok IsLib. Mana toleransi dan upaya saling mengingatkan yang hendak Anda junjung itu?
    ———————————
    sekali lagi bung, “mengkafirkan” disini dalam tanda petik. lagipula, saya tidak pernah menuduh bahwa : anda menganggap orang2 islam-liberal itu sebagai kafir. namun, tulisan anda mencerminkan bahwa orang2 islam-liberal itu sebagai orang2 yg “keluar jalur”.

    quote yg saya ambil dr bung tri adalah untuk memperkuat pandangan saya bahwa : JIL tidak selalu benar dan tidak selalu salah. tulisan anda, menegaskan bahwa islam dan liberalisme tidak akan pernah berdampingan. secara implisit, anda mengatakan bahwa golongan/kelompok islam-liberal adalah kelompok/golongan yg “salah”.

    sementara itu di sisi lain, saya menganggap bahwa islam dan liberalisme tidak berseberangan. menurut pemahaman saya, prinsip2 liberalisme tidak bertentangan dengan islam.

    karena itulah, dari pertama, saya menanyakan mengenai “pemahaman anda mengenai liberalisme”. dari sini akan jelas terlihat bahwa (seperti yg sudah saya katakan) pemahaman liberalisme masyarakat Indonesia berbeda2. begitu pula dengan pemahaman thd kitab suci, beda kepala, bisa beda penafsiran. apa salahnya dengan perbedaan? untuk mengingatkan golongan yg anda anggap ‘salah’, menurut saya tidak perlu dengan bersikap sinis bung. saya pun tidak perduli anda termasuk golongan mana, syiah, sunni, dll. menurut saya, umat Islam ya umat Islam, tata cara solat bisa berbeda2, begitu pula penafsiran berbagai kelompok/aliran. yang saya sesalkan hanyalah tulisan anda yg (menurut saya) subjektif dan bernada sinis (walaupun mungkin tidak bermaksud sinis).

    bukankah anda setuju dengan pandangan bahwa ketidakmampuan umat muslim dalam menerima perbedaan (dalam agamanya sendiri) adalah hambatan utama bagi bersatunya umat muslim? lalu, mengapa tidak kita mulai untuk menerima perbedaan ini? dengan tidak saling menghakimi atau sinis thd satu sama lain, dengan “agree to disagree”.

    sebagai penutup,
    menurut saya, pembicaraan ttg islam dan liberalisme mungkin tidak akan pernah usai, karena masing2 pihak memiliki pemahaman yang berbeda ttg liberalisme. tapi, anggaplah komentar saya ini sebagai masukan untuk tulisan2 anda yang akan datang.
    apabila anda bisa ‘mengingatkan’ orang lain dengan tulisan yang lebih “halus”, mengapa tidak?

    Sekian sampai disini, terima kasih.

  3. Afifah says:

    Ck ck ck,,, ko bisa berfikir bahwa penafsiran agama apalagi Kitab Suci bisa ditafsirkan menurut kepala masing-masing, kalo anda katakan beda kepala beda penafsiran, lalu dimana letak legitimasi Kitab SUCI?? lalu semua orang bisa seenaknya menafsirkan Kitab Suci demi kepentingan individu atau golongan sendiri! aneeeh super aneh!!

    masalah liberalisme yang dikatakan menjamin kebebasan individu, kebebasan untuk berpendapat, berpolitik, mendapatkan akses informasi, dan pendidikan -> rasanya tanpa embel2 liberalisme, demokrasi yang dianut negara jg mengusung dan menjamin kebebasan ini ya tentunya dengan aturan2 bukan semaunya, kalau mau melabelkan kebebasan tersebut dengan Liberalisme, Tidak usah sandingkan dengan nama ISLAM!

  4. Salam,

    Ketika sekelompok orang yang masih mengaku Islam mengingkari hukum-hukum Tuhan (secara sadar dan sengaja) yang sudah sangat jelas dan Qoth’i termaktub dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW maka itu adalah jalan menuju kekafiran terhadap Islam dan Tuhan Allah SWT.

    Kafir artinya tertutup (covered), sebagai lawan kata dari “menerima/berserah diri (Aslam/Islam/Taslim)” kepada Kehendak Ilahi (Al-Qur’an, dan Kitab-kitab suci para Nabi Allah lainnya). Maka keislaman seseorang tidak cukup hanya dengan pengakuan beragama Islam saja plus KTPnya, tanpa disertai keimanan dan sikap berserah diri pada kehendak dan aturan Tuhan Allah SWT. Sudah sangat jelas bahwa term Islam itu terkait dengan penyerahan diri ego manusiawi kepada CintaNya (iman) dan hkepada ukum syariat Tuhan.

    Jadi apalah namanya sikap mereka yang ingkar dan melecehkan secara sinis anarkis-liberal terhadap tatanan suci Prinsip-prinsip Dasar Islam seperti perintah Shalat, Puasa, Haji, dan memuliakan Nilai-nilai Qur’ani. Lalu menganggap bahwa al-Qur’an perlu diedit lagi, atau al-Qur’an cuma sekedar sejarah Arab Kuno yang tak perlu diimplementasikan saat ini karena sudah ketinggalan zaman katanya. Atau yang menganggap bahwa hukum-hukum syariat Islam itu tidak penting dan yang paling penting adalah Maqosid al-Syar’iyah, tapi tidak jelas metodologi mendefinisikan apa itu Maqosid al-Syar’iyah. Ini hanya sekedar justifikasi untuk sikap pengingkaran yang berusaha membebaskan diri (liberalisasi) dari keterikatan/komitment terhadap nilai-nilai dan hukum Ilahiyah.

    Mau jadi Kafir atau mau Muslim-Mukminin, itu silahkan saja. Itu tanggung jawab pribadi masing-masing dihadapan Allah SWT. Allah memberi kebebasan penuh kepada manusia, mau taat Islam atau mau kafir/ingkar dan menentangNya. Silahkan, tapi semua pilihan kita ada konsekuensinya di dunia dan akhirat. Karena kita manusia sudah diberi freewill dan dilengkapi dengan potensi akal dan nurani untuk memahami dan mencerap kebenaran ajaran-Nya.

    Jadi jelas bahwa keislaman dan kekafiran tidak bisa bergadengan tangan atau berada dalam satu pribadi utuh. Kalau pun dipaksakan damai secara liberal antara keberislaman dan kekafiran liberal maka itu munafiq namanya. Namun secara sosiologis, mengajak orang Muslim untuk menjadi Kafir/Liberal adalah pelanggaran terhadap norma-norma sosial masyarakt Muslim Indonesia, yang akan berakibat sanksi sosial juga.

    Wallahu ‘alam bi shawab.

  5. Ternyata yang membawa paham liberalisme di sini mempunyai definisi sendiri tentang liberalisme itu dan bukan yang telah dibakukan. Kalau liberalisme yang baku itu dari New Columbia Encyclopedia adalah “falsafah atau gerakan yang bertujuan utama pada kebebasan-kebebasab individual.” Saudara Tri entah definisi dari mana menyatakan liberalisme yang dapat “sesuai” dengan Islam.
    Definisi liberalisme-nya atas dasar apa dan kesepakatan siapa?
    ‘Ala kuli hal, ahsantum Ustad….Memang kalau mau jujur secara akal, Liberalisme gak bisa nyambung sama sekali sama Islam, karena pandangan dunia yang memang sudah beda.

  6. awam says:

    wa kak kak kak…….
    Seruuu…., kayak anak kecil lagi bertengkar uey. apalagi pas bilang, siapa yang bilang saya menuduh kafir?saya tuntut di depan hukum.Kepanasan pak ustad? emang gitulah semua kaum radikal,mudah tersulut.Miyak kalee ye…
    Kalo saya mah bukan islam liberal, kristen liberal, budha liberal,atau apapun nama agama yang ada disana. tapi toh saya pikir sah-sah saja Islib memakai nama Islam disana. karena nama Islam itu belum dipatenkan kan…?Kalo ga boleh pake nama Islam emang loe punya surat dari Tuhan sono yang mengijinkan anda memonopoli kata Islam, betul-betul ga rasional.
    Untuk komentar Ema Rachmi, itu namanya bukan terpojok mba. tapi dewasa, karena yang diajak diskusi udah kepanasan, jadi sepertinya percuma saja mengajak diskusi orang-orang yang tidak berpijak pada rasionalitas.
    Kalo Islam versi anda tidak mendukung Liberalisme, ya ga pa-pa.
    tapi ya ga usah ngelarang-ngelarang orang pake nama Islam Liberal, lha wong anda tidak dilarang pake nama Islam.Cuma sebagai bahan instropeksi diri:Kenapa Islam mengalami kemunduran?karena 1. tidak rasional sehingga mudah tersulut,ketika orang lain pada kerja, orang islam pada demo karena hatinya terbakar oleh sesuatu yang harusnya tidak perlu ditanggapi jika memang itu tidak benar (mis:fitna,kartun nabi). Harga dirinya sok ketinggian,padahal lihat saja negara ini yang mati-matian mempertahankan harga diri, yang akhirnya betul-betul jadi ga punya harga diri benar.buang-buang energi bung!!lebih baik kerja, ya tho?
    2. Suka romantisme
    Hey, wake up man?anda sekarang berada di abad 21, bukan jaman onta.Dulu mungkin kita jaya,tapi sekarang kere. ga kenyang perut rakyat hanya mikirin masa jaya dulu.karena tdk hanya kita saja yang memiliki kejayaan masa lampau.
    3. Suka kekerasan
    ya itulah akibat ga rasional.terutama kaum radikal, dikit-dikit angkat senjata, dikit-dikit bakar. ya ga pa2 sih
    ga mengakui, karena itu kan oknum ya kan pak?capek dech…

  7. musakazhim says:

    Sebelum segalanya, saya tercengang dengan kehebatan Anda dalam hal “memberi nama”. Tak salah lagi, anda adalah “awam”. Dan karena itu, wajar kalo anda pake bahasa yg juga “awam”, penalaran yg “awam” dan penyimpulan yang sangat “awam”.

    Saya usul anda bekerja sebagai instruktur kursus “belajar memberi nama”—setidaknya itu sesuai dengan ajakan anda untuk bekerja. Saya rasa banyak orang yg kesulitan mendaftar sebagai murid anda. Tentu ada banyak orang tak secanggih anda dalam memilih nama. Misalnya, mereka yg mengira Islam mendukung liberalisme, tentu mereka salah dan tak sejeli anda dalam memilih nama.

    Nah, karena anda sendiri sudah sedemikian terus terang dalam menunjukkan “keawaman”, rasanya kurang etis kalo saya harus merayakannya lebih jauh dengan menunjukkan kesalahan2 berpikir anda. Bahkan mungkin saya bisa menganiaya anda dengan mengajak anda terlibat diskusi ilmiah…bukankah anda sendiri belum apa-apa sudah “kecapekan” dan takut kehilangan kesempatan bekerja.

    Bagaimanapun, izinkan saya berkhidmat kepada anda dengan mendukung anda bekerja sebagai juru pemberi nama. Bukankah “kerja” yg anda inginkan dari saya dan “orang Islam, sekalipun tentu “kerja” itu anda pahami secara “awam”.

    Sebagai bagian dari penerapan ajakan Allah untuk “berpaling” dan “memberi salam damai” kepada “orang bodoh”, maka saya hanya bisa menyampaikan ini: PIIIS MAN!

    (Oh ya, kalo capek…tidur atau istirahat dulu, jangan langsung bekerja apalagi yg terkait dengan tulis-menulis dan berpikir, bisa tambah capek dan akhirnya sakit lho!)

  8. musakazhim says:

    PS. Soal tuntutan hukum, saya bebaskan anda dari segala kemungkinan tuntutan seperti itu, karena agama Islam mengajarkan saya untuk membebaskan orang dengan sifat seperti anda dari jeratan hukum.

  9. Frodo says:

    Dear …

    Awam memang “gelar” KARET. Dihukumi gak bisa, diajak ngomong gak mungkin, diajak diskusi milih “kerja”, diajak kerja bilang “capek”.

    Yang bisa dilakukan buat awam, yaa di awamin ajahhh .. Tad’.

  10. Bunda Ancha says:

    Hem perdebatan dua kubu yg ndak berimbang neh, yah udahin aja soalnya semakin jauh semakin keliatan ketidak konsistenan salah satu kubu, barangkali pembaca lainpun melihatnya demikian.

    Oh yah jangan buat bunda jadi semakin geli nih, illustrasi: sebagai bunda sedikit bisa memahami yang mana nanda yang kurang belajar, atau mungkin kelewat belajar yah…?

    Salam dari bunda

  11. Khairun Fajri says:

    Saya rasa, tidak ada masalah kok dengan rasionalisme dan akal dalam keberagamaan. Bahkan saya yakin, sedari awal Allah pun telah mengkalamkan Tauhid dan Keadilan Sosial dengan Akal sebagai perangkat baca..

    Bagi anda yang begitu percaya bahwa pendekatan keberagamaan tidak boleh memakai akal, saya menantang, coba anda tunjukkan bukti kongkrit untuk itu?? Saya yakin, anda hanya akan menemukan absurditas dari awal hingga akhir..

    Justru saya mau kembali bertanya kepada anda, dititik manakah agama itu tidak memerlukan perangkat akal ????

    Memahami Allah pun harus dengan akal ..
    Memahami kalimat-kalimat tuhan dalam quran harus dengan akal..
    Bahkan memahami haditspun kita perlu pertimbangan akal..

    Apakah anda mengira, observasi Ibrahim atas ketuhanan bukan proses akal ??
    Apakah anda mengira proses menafsir Quran bukan prosesi akal??
    Apakah kritik sanad dan matan dalam hadits tidak perlu pertimbangan akal??
    Bukankah di SEMUA mazhab fikih terdapat sebuah prosesi akal didalamnya??

    Bukankah Ijma adalah proses akal yang disepakati orang banyak?
    Bukankah Qiyas adalah proses akal berupa analogi?
    Bukankah Ushul Fikih Ja’fari mencantumkan akal?
    Bukankah penetapan Mashalihul Mursalah wajib pula memakai akal?
    Bagaimana pula menemukan Maqashid AsyShariah tanpa akal?

    Dengan demikian, anda salah total jika menyatakan bahwa akal dalam agama adalah sama dan sebangun dengan kesesatan!!

    Anda juga konyol sekali jika berfikir bahwa agama akan menjadi nisbi bila terpercik manifestasi akal..seolah-olah tidak akan ada lagi kepastian jika memakai akal sebagai sarana..Tidakkah anda berfikir bahwa akal itu sendiri begitu luar biasanya sehingga sebetulnya ia dapat saling kritik dan mencari ekuilibriumnya sendiri sepanjang ia dibebaskan..

    Pendapat yang diklaim baik pada saat ini toh dapat dibatalkan dengan pendapat yang lebih maju dan maslahat di masa depan khan?? Dan tidak ada masalah untuk itu kok selama ia berada dalam kerangka kerja fondasi keimanan yang tegas dan tak akan mungkin ragu..

    Bila anda bertanya-tanya tentang kepastian, maka cukuplah kita mengatakan;
    1) Kerangka hukum moral didalam Quran itu sangat jelas dan jernih. Hukum Moral inilah sumber kepastian itu!!. Dan kerangka kerja yang jelas dan jernih tersebut, tidak dibingkai dalam redaksional yang spesifik toh, jadi sekalipun gambaran moral tersebut begitu tegas, aplikasi tehnisnya dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan dan lingkungan yang berubah.

    2) Beberapa perintah yang definitif dan tegas adalah batas akhir dari prosesi akal kita.Saya mengakuinya.Tapi, toh jenis redaksional ayat yang seperti ini sangat sedikit khan? Jadi, sebagian besar perintah Tuhan itu sebetulnya adalah gambaran moral dan bukanlah perintah yang spesifik ..

    3) Akidah yang lurus..Bukankah Allah yang satu dan Nabi yang sama dapat menjadi sumber kepastian kita? Bukankah Quran yang otentik ini adalah kejelasan dan kepastian buat kita semua?

    So, saya rasa gak ada masalah kok dengan proses -proses akal..JIL, saya rasa menyadari juga hal-hal seperti ini. Tidak semua hal-hal yang menjadi sentral isue JIL dapat saya setujui ( Ketidak setujuan saya ini , termasuk di dalamnya adalah ketidak setujuan saya atas keberanian mereka menolak sesuatu yang menurut saya Qathi).Tapi menolak JIL secara keseluruhan dan mematikan potensi akal kita untuk perangkat memahami perintah Tuhan hanya karena anda tidak setuju dengan beberapa pendapat JIL, saya rasa terlalu jauh dan sama sekali tak mendatangkan menfaat.

    Bukan apa-apa, karena toh tidak ada kok pendapat seorang manusia yang dapat disetujui secara keseluruhan baik dari JIL atau bukan JIL!! Ingatlah, semua pendapat-selama ia masih diklaim sebagai pendapat-bisa diperlakukan dengan mekanisme ambil dan buang secara kreatif. Dengan Quran sebagai Furqon.

    Bukankah diantara kita ada Kitab Allah?? Tali-tali menuju Allah??

  12. Fathi Attamimi says:

    Allah telah mengkalamkan Tauhid dan Syariat dengan Nash sebagai perangkat baca terlebih dahulu, baru kemudian bila tidak ditemukan dalam seluruh kandungan Nash, maka akallah yang akan berfungsi sebagai perangkat terakhir mencari tau apa kehendak Allah.
    Memahami Allah adalah sepenuhnya dengan Nash, karena hanya dengan itulah kita dapat memahami secara sempurna bagaimana Allah melalui petunjuk2 – Nya Sendiri. bahkan pertanyaan adalah terlarang dalam memahami Allah (baca Kaidah Ushul)
    Proses Nabi Ibrahim mencari Tuhan dengan akalnya adalah proses yang jelas2 disalahkan oleh Allah dan tidak boleh lagi digunakan setelah Syariat Islam terakhir diturunkan, jadi kasus Ibrahim adalah batal secara hukum syariat
    Memahami Al Qur’an dengan akal adalah jalan paling terakhir ketika segala cara untuk mendapatkan nash yang bisa menafsirkannya sudah habis, dan itupun masih akan selalu membuka perdebatan
    Intinya Nash adalah didahulukan dari akal dalam proses memahami isi Syariat Islam
    Pernyataan yang dimaksud sebenarnya adalah berbunyi : “akal yang didahulukan daripada Nash dalam usaha memahami agama Islam adalah sama dan sebangun dengan kesesatan !”
    Relativitas kebaikan yang anda ajukan tidak berlaku dalam syariat Islam, sesuatu hal yang dihukumi baik dalam Islam zaman Nabi Muhammad adalah akan tetap baik sampai kapanpun, dimanapun, bagaimanapun dan untuk siapapun, karena membuka pintu relativitas kebaikan bagi syariat Islam adalah sama dan sebangun dengan membuka pintu kesesatan dalam menjalankan ajaran Islam dan menodai kesucian pedoman utama kebaikan dalam Islam itu sendiri (yaitu AlQur’an dan As Sunnah). relativitas kebaikan hanya bisa diterapkan untuk semua hal selain syariat Islam
    Banyaknya Perintah Allah anda gambarkan sebagai perintah moral yang tidak tegas dan spesifik adalah naif, itu menunjukkan bahwa anda hanya mengerti halaman luar pembahasan2 ayat dan hadits, coba anda uji dengan batu keimanan, niscaya anda akan dapatkan bahwa ayat mutasyabihat telah ditetapkan makna, maksud dan kandungannya oleh para Ulama.
    Saya tau anda akan menyerang para Ulama karena merekalah yang menetapkan makna, maksud dan kandungan ayat2 mutasyabihat, karena memang selalu begitulah sikap para peragu terhadap Agama ini, tapi bila memang tidak berhak, maka siapa lagi yang berhak?
    Bila kita memang meyakini bahwa diantara kita ada kitab Allah, maka kenapa tidak kita telaah dan gunakan untuk menghakimi perbedaan pendapat diantara kita? bukan dengan menggunakan akal untuk melemahkan Nash baik yang Qath’i maupun bukan

  13. Assalaamualaikum dan salam hormat.

    Jika semua dari kita memahami al-Quran dan Sunnah mengikuti acuannya sendiri, kita semua tidak akan bingung memahami Islam itu.

    Islam mempunyai sistematikanya sendiri yang cukup teratur yang diwarisi dari Junjungan Nabi Sallallahu alaihi wasallam dan Sahabat, kemudian diperincikan lagi oleh Imam-Imam Mujtahid.

    Kepada Azzanee dan yang lain yang sefaham, perbezaan pendapat yang dimaksudkan Islam bukanlah perkara yang jelas qat’ie seperti iktiqad ketuhanan tetapi hanyalah perbezaan furu’ ibadah yakni perkara yang sunat yang diperselisihkan. Juga termasuk perbezaan itu kepada perrkara kehidupan keduniaan yang baru muncul mengikut zaman.

    ALLah Taala jelas menyatakan wajib mentaati Islam secara syumul. Firman ALLah Taala bermaksud “Wahai orang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan. Dan janganlah kamu menuruti jejak langkah Syaitahan kerana Syaithan adalah musuh yang nyata”.

    Jelas ayat itu menyatakan bahawa mentaati Islam secara seluruhnya adalah tanda orang beriman. Dan tidak dikira beriman jika mengambil dan menolak beberapa cebis Islam kerana hawa nafsu. Menolak dan mencerai Islam adalah anjuran Syaithan.

    Islam membolehkan liberal tetapi hanya dalam beberapa hal seperti teknik dakwah. Berdakwah dihekendaki menggunakan cara yang sesuai. Maksud dengan hikmah itu ialah teknik yang sesuai.

    Namun Islam amat keras dalam menangani tantangan kafirin dan dalam membenteras maksiat. Menasihati jangan melakukan maksiat adalah berterusan tatapi jika masih juga melakukan, maka Islam membenarkan kekerasan untuk mencegah. Sabda Nabi bermaksud “Jika kamu melihat kepada kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu, atau dengan perkataanmu, atau dengan hati. Sesungguhnya dengan hati itu selemah-lemah iman”

    Jelas Islam mempunyai sistematikanya tersendiri yang harus semua pehak yang mengaku Muslim menurutinya. Sesungguhnya kata-kata “Penolakan liberalism akan menyebabkan Islam akan sentiasa berrpecah dan tidak aman” adalah kata-kata yang sentiasa terbuka untuk dicabar.

    Siapakah yang akan mencabar kata-kata itu? Yah, al-Quran dan Sunnah sendiri akan mencabarnya.

    Salam hormat

    Shahil
    http://wordpress.com

  14. ustadzi..pola berfikir ‘bagian lebih kecil dari keseluruhan’, ijma’ naqidaian muhal’ dan sebab akibat’ adalah penggiringan pola berfikir yang telah diajarkan aristo,,?, dan itu adalah bagian argumen menuju diskusi. dikatakan bahwa untuk diskusi tidak harus ada titik temu kebenaran?, tapi upaya untuk menerima kebenaran dengan berupaya berfikir diluar kotak, melihat kebenaran dari beberapa sisi dan kemungkinan. sorry diselah jam kerja so krg konsen, tapi jujur dialog diatas mengglitik untuk aq tulis demikian. thanks. ditunggu koment nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s