Apa Pilihanmu?

freedom.jpg

Kalau dihadapkan pada dua pilihan ini, manakan yang lebih Anda pilih?

Pertama, hidup di negeri yang memberikan kebebasan total. Prinsip utama negeri itu adalah kebebasan individu. Tidak boleh ada apapun yang mencoreng kebebasan. Apapun yang dilakukan oleh negera itu bertujuan menjaga berjalannya kebebasan di tengah masyarakat. Sekiranya ada hambatan (misalnya, undang2 atau ajaran) yang terkesan mengurangi pelampiasan kebebasan, maka seluruh komponen masyarakat akan bareng2 turun tangan dan menyingkirkannya. Pokoknya, negeri itu bercita2 agar Anda dan semua orang lain di sekitar Anda bebas berbuat apa saja.

Kegiatan ekonomi dalam negeri itu laksana pertandingan tinju kelas berat. Selain masalah nasib mujur, Anda harus berdarah-darah untuk mendapatkan beberapa lembar uang. Terkadang juga Anda harus melakukan hal2 yg tidak Anda sukai, seperti menyingkirkan teman sendiri, melukai hati kekasih, mengingkari janji, berbohong, melakukan korupsi, menyogok, mendurhakai orangtua dan sebagainya.

Proses politik di negeri itu juga berhubungan erat dengan seberapa tebal kantong Anda. Jika ada sekelompok pengusaha kaya di belakang Anda, peluang Anda untuk menang lebih besar. Dengan duit Anda bisa memainkan bola kebebasan seperti Kaka menggiring bola di lapangan hijau. Dengan mudah Anda bisa melesakkan bola ke gawang yang Anda tuju.

Di negeri itu kalangan miskin harus berjuang menerjang sengitnya kompetisi dan pasar bebas yang melelahkan, sementara kalangan berduit menerapkan bagi hasil yang menyenangkan. Semboyan utamanya adalah MONEY TALKS, BULLSHIT WALKS.

Untuk membuat urusan lebih rumit, di negeri itu ada perangkat-perangkat hukum yang tidak bekerja kecuali ada pelicin. Jika Anda terkena suatu musibah, maka Anda harus berhadapan dengan petugas yang mengeluhkan bahwa rokoknya hampir habis, tinta printer di kantornya tidak ada, AC di ruang kerjanya tidak dingin, anaknya mau sekolah tapi belum beli tas dan sebagainya dan sebagainya. Setelah suatu penyidikan, Anda masih harus menunggu kasus itu masuk lembaga peradilan. Di sana, orang-orang yang bekerja juga bakal meminta uang untuk rokok, transportasi, telekomunikas, biaya pengadilan dan sebagainya. Orang tidak berduit jangan harap bisa dengan mudah keluar dari kemelut perkara hukum sebagai pemenang.

Lebih dari itu, masyarakat di negeri ini hidup dalam kecemasan akan datangnya masa-masa ketika dia harus berurusan dengan aparat hukum. Sekalipun di mana-mana orang meneriakkan “SUPREMASI HUKUM”, tapi mereka sebenarnya tetap ingin “SUPREMASI DUIT”. Di mana-mana orang menuntut “PENEGAKAN HUKUM”, tapi di hati mereka yang sebenarnya ada harapan agar status quo berjalan seperti apa adanya asalkan kepentingan2nya tidak terusik.

Inilah negeri yang menjadi surga individualisme dan egoisme. Selamat datang para pencari kebebasan di negeri orang2 berduit. Di sinilah impian2 terjauh dan fantasi2 terliar bisa digapai. Tapi, Anda harus hidup menumpuk duit atau bergaul dengan para penumpuk duit. Tanpa D-U-I-T, Anda hanya akan jadi pil koplo orang2 berduit.

Di negeri ini, semua orang harus mengasah ketajaman berbohong, keahlian bersilat lidah, membaca tren pasar dan trik2 pemasaran dan sebangsa dan setanah airnya. MONEY TALKS, BULLSHIT WALKS. Energi bangsa di negeri ini tercurah untuk satu tujuan: mencari duit. Jelas ada banyak cara untuk membuat masalah usang itu terlihat semakin menantang. Ada sederet istilah keren seperti pembangunan, pengentasan kemiskinan dan sebagainya yang tiap tahun bisa diwacanakan dan diproduksi.

Pilihan kedua, Anda hidup di negeri yang lebih mengekang. Banyak larangan dan hambatan untuk mengikuti keinginan dan menggapai khayalan. Di luar rumah, kegiatan Anda selalu terhalau oleh seabrek aturan, norma, undang2 dan semacamnya. Tidak ada pamer ketiak dan paha di layar-layar televisi. Tidak ada remaja berpose menampilkan bagian2 tubuh yang menggoda lawan jenis di majalah dan koran. Banyak godaan “menyenangkan” terhapuskan.

Media massa lebih sering berisi orang2 tua berjenggot putih panjang ketimbang gadis-gadis molek blasteran Timur-Barat. Sesekali ada wanita2 terbungkus kain hitam membaca berita atau memandu acara. Kaum remaja hanya menikmati masa pacaran dengan berjalan2 di taman, tapi tak ada sentuhan; hanya ada tatapan sebentar dari jarak kejauhan. Selain anak2, binatang, tanaman, bunga dan pemandangan2 alam, hampir tak ada objek yang merangsang daya kelelakian. Mobil2 dan gedung2 pada umumnya berwarna redup, dengan arsitektur kuno yang membosankan.

Di negeri itu, semua orang dituntut untuk taat hukum. Tak ada yang boleh melanggar hukum dengan cara apapun. Tak ada yang bisa lolos hukum dengan koneksi atau sogokan, lantaran ada cambuk2 suci yang datang dari langit dengan garang. Teks-teks itu tidak bisu, ada sejumlah orang yang menjadi juru bicara. Tapi mereka juga paling tertekan oleh semua larangan dan paling “menderita” akibat pemberlakuan hukum yang ada. Hanya dengan tertangkap basah melanggar kesopanan-super-ketat di depan umum, mereka bisa kehilangan kredibilitas. Lalu dibuang layaknya pempes yang sudah penuh kotoran.

Para penegak hukum itu juga hidup sederhana. Mereka bekerja keras meraih kesenangan yang tak tersedia di dunia ini. Setidaknya begitulah mereka berupaya untuk tampil di depan umum. Mereka mencari apa yang disebut dengan kesenangan akhirat. Dan untuk itu, mereka menerapkan disiplin dan kesopan-santunan tinggi. Hampir tidak pernah kita melihat mereka tertawa, bercanda, menyanyi riang di tengah kerumunan orang. Mereka hanya tersenyum2 kecil, seperti orang yang sedang menahan kesakitan akibat disilpin hidup yang harus mereka jaga. Kita pasti lebih sering melihat mereka berkerut, berteriak memperingatkan musuh2 atau memelas menasihati umat. Mereka lebih sering tampak menangis daripada tertawa. Tapi tangisan itu lama kelamaan membawa sensasi manis tersendiri buat mereka.

Salah seorang dari mereka hidup sedemikian disiplin sehingga makan dan minumnya berlangsun sepanjang hidupnya pada waktu yang sama. Bila salah seorang anaknya menyajikan teh beberapa menit lebih awal, dia akan bilang, “Waktu minum teh belum tiba. Biarkan aku bermain-main dengan cucu2ku dulu.” Mereka seperti manusia2 dari Planet Disiplin nun jauh di luar angkasa sana.

Di negeri itu, orang2 berharta akan menjadi sorotan publik. Mereka dicurigai, dan mereka ditolak. Mereka hidup sepi, terasing dalam villa2 di perbukitan bersalju. Di sana, mereka tak punya kuasa untuk mengendalikan apa2, hanya punya uang untuk berbelanja sampai bangkrut sendiri. Mereka menjadi benalu kapitalisme di tengah2 masyarakat.

Negeri ini sepi dari segala kemewahan dan hiruk-pikuk nafsu. Kesenangan2 yang ada di negeri sebelah, di sini berganti dengan sederet kesenangan jenis lain. Orang senang berziarah ke kuburan, meratapi kematian para imam suci, dan sesekali merayakan kelahiran mereka. Orang-orang hidup dalam tekanan ekonomi yang tinggi, tapi tak pernah gagal menaati sang pemimpin. Ada aura ketakutan (atau keterkekangan) yang menyelimuti semua orang. Ada kekuasaan lebih tinggi yang datang mengancam. Ada banyak hal yang membuat manusia tertunduk takut, malu berbuat, tercegah dari pelampiasan syahwat yang melanggar batas.

Kini Anda bebas memilih, di negeri mana Anda ingin tinggal. Anda juga bebas untuk menyempurnakan pola hidup mana yang Anda inginkan. Dan lebih penting lagi, Anda bebas untuk merenungkan negeri mana yang lebih baik buat Anda, keluarga dan orang2 yang Anda cintai. Selamat merenungkan!

14 thoughts on “Apa Pilihanmu?

  1. Taufan says:

    Saya rasa tidak ada negara seperti yang anda gambarkan Pak Uztad, yang pertama yang pasti bukan Amerika, soalnya walaupun orang miskin tetap dapat jatah makan, disana ketahanan pangan memang bagus, sehingga seorang harus dituntut untuk enterpreneur, jangan takut bersaing dan mandiri, toh kalo jatuh miskin tetap bisa makan. Kesenjangan justru sedikit, karena lebih banyak firma kecil mandiri, tapi untuk urusan tutup-menutup aurat, jangan ditanya…ya mestinya ngawur banget.
    Untuk urusan sogok-menyogok dan money talks, malah negara pertama mirip dengan negara kita, tapi juga bukan negara kita soalnya negara kita tidak menganut sistem kebebasan individu.

    Sedangkan negara yang kedua tentu juga bukan negara Arab, soalnya orang arab money talk juga. Kalo ga money talk ga akan masuk OPEC, pelitnya juga minta ampun. Nah kalo ga masuk OPEC, yang mahal naik Hajinya.
    Kedua contoh negara seperti ini tidak akan pernah eksis, jadi percuma kita menentukan pilihan. Sekarang lebih baik tanya sama TKW, kalo mau pilih negara buat kerja, negara yang mana?

  2. Mending hidup di Indonesia deh…
    Bisa kumpul2 dengan ustadz, sambil diskusi. Serta adu argumen dengan wahabi yang jumud dan islib yang logikanya ngga’ nyambung. Walau godaan kanan-kiri…….
    I Love Indonesia

  3. musakazhim says:

    Fan, takut ah kalo pake vonis ada-tiada gitu, ditambah tidak pernah eksis-pernah eksis. Kayaknya nih aktivis yang kebanyakan waktu. Coool aja, Fan.

    Untuk Najwa: aku cinta Indonesia! Ga ada negeri seperti ini, dan tidak akan berkurang cintaku padanya.

  4. Ema Rachman says:

    hidup ini adalah pilihan….tergantung apa yang kita raih?? kalo mau nyantai ya…silahkan, tapi kalo liat orang2 yang pengen tinggal di negeri yang akan ‘datang ‘dan janjiNYA udah pasti BENAR ya balik lagi itu pilihan ….kenapa harus membuang waktu…hidup itu singkat, yang abadi kataNYA lebih asyik….
    lagian kebebasan itu justru yang semu, liat aja Formula one balapan mobil itu kalo engga ada batasan2nya mobilnya pada berlarian ga karu2an, oleh karena itu justru untuk berlomba ya harus di’batasi’ supaya sampai ke tujuan dengan baik dan benar. Intinya untuk sampe ke satu tujuan yang harus ada batasan alias aturan…dalam setiap permaianan aja ada aturannya kok….

  5. saya tebak, yang pertama adalah indonesia, yang kedua adalah Iran.
    saya piki, lebih enak tinggal di Indonesia. inilah tempat Ibu pertiwi kita. tempat kita lahir da belajar untuk hidup. tiidak selalu orang yang tinggal di negeri yg beriman seperti yg sdr musa sebutkan bisa membuat org pasti masuk surga. dan hidupo di negeri yg ancur pun tidak menjamin seseorang masuk neraka. allah tidak pernah membedakan umatnya berdasarkan di mana mereka tinggal. tinggal di mekkah/madinah pun kalau berbuat maksiat ya tetap saja masuk nerak.
    lagipula, kalau orang berkualitas seperti musa lebih dibutuhkan negeri yg carut marut ini agar bisa menuju masa depan lebih baik.
    tak ada gunanya mengejek negeri ini lebih jauh lagi. tak ada gunanya. abah sdr dekat dengan abah saya. makanya saya ingin sekali lebih dekat dgn saudara dan bertukar pikiran agar kualitas berpikir kita sama2 bertambah. saya telah membaca buku sdr tentang iran : perang dunia III di dunia mata. terlihat sekali dari tulisan sdr, sdr adalah Intelektual muda yg sangat cerdas. ana berharap kapan2 bisa bertemu saudara

  6. musakazhim says:

    Mau tauuu aja! Yg jelas Indonesia adalah pilihanku, till death do us part! Aku cinta Indonesia, meskipun ga selalu cinta rupiah….

  7. Taufan says:

    Lha ya itulah Pak Ustad, saya cinta Indonesia dan tidak bisa saya bayangkan jika saya harus hidup di kedua negara tadi, karena bagaimanapun di negara kita banyak lho keunggulannya…hehe

  8. musakazhim says:

    Wah, kalau untuk membayangkan saja tdk bisa, berarti Anda punya masalah dengan daya khayal:-) Saya tdk sedang bicara Indonesia, Mas. Ini sekadar pengandaian saja. Memang agak sulit memberikan pengandaian kpd orang yang tdk punya daya untk membayangkan.

    Help, help, help…

  9. Taufan says:

    Daya khayal saya memang dibawah rata-rata pak Ustad, tapi disetiap sistem harus ada 2 komponen, yang berdaya khayal tinggi, yang biasanya menjadi spekulan, dan yang berdaya khayal rendah, untuk menjaga sang spekulan supaya tidak kebablasan, hehehe
    tapi ada juga saat-saat daya khayal saya tinggi, jadi mohon bimbingannya…wassallam

  10. musakazhim says:

    Ga usah jauh2 ke spekulan segala, Fan. Trus ada sistem-komponen, tinggi-rendah, dll. Pusing pusing amat, si amat aja ga sepusing itu. Santai ajalah.

  11. Taufan says:

    Berarti saya sedang berdaya khayal tinggi ya🙂
    Oke, kalau disuruh memilih saya akan memilih negara yang pertama, dengan catatan saya tidak menjadi rakyat kecil di negara pertama tersebut.

  12. letitia says:

    kalau setiap tahun hidup 1 bulan di negeri pertama & 5 bulan di negeri kedua, lalu 1 bulan lagi di negeri pertama & 5 bulan lagi di negeri kedua … boleh juga-lah rasanya … mmm … pikir-2 dulu lagi deh!
    ato … 1 bulan di negeri pertama, lalu 7 bulan di negeri kedua, yang 4 bulan dijalani di negeri-negeri lain-lainnya … negeri A … negeri B … negeri C … negeri D … masing-2 1 bulan … :)) … seperti yang dijalani sekarang saja ???
    ini bukan masalah cinta negeri atau tak cinta negeri lho …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s