Renungan tentang Soeharto

Soeharto, mantan presiden RI selama 32 tahun itu akhirnya mengalami nasib yang sama dengan semua manusia lain di muka bumi Allah ini: mati.

Lalu, bagaimana kita harus menyikapinya? Apakah kita harus memaafkannya, atau tidak?

Sebagian orang, terutama yang hari-hari ini muncul di media massa, merasa kita sebagai bangsa harus memaafkannya. Dia sudah mati, membawa semua amal (baik atau buruk) kepada Sang Maha Kuasa. Allah yang akan memberinya pahala atau hukuman.

Tapi, ada satu hal yang terlupakan dalam soal pemaafan mantan presiden kita itu. Yakni, untuk urusan dan kesalahan apa almarhum harus kita maafkan? Apakah dia sudah terbukti melakukan suatu kesalahan atau dosa? Apakah dia pernah meminta maaf atas suatu kesalahan spesifik yang telah dia lakukan, sehingga kita perlu memaafkannya.

Demikianlah pertanyaan yang menyumbat pikiran saya dua hari belakangan ini.

Menurut logika agama, Allah yang Maha Pemaaf itu saja tidak memberikan maaf atau ampunan pada orang yang tidak mengakui kesalahannya secara spesifik, bukan secara umum. Setahu saya, saat kita meminta maaf, kita harus secara berani mengakui kepada-Nya apa-apa saja kesalahan dan dosa yang telah kita lakukan. Tujuan pengakuan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan secara spesifik itu adalah untuk menumbuhkan kejeraan dan rasa malu dalam diri kita. Dua perasaan itulah yang pada gilirannya akan mencegah kita untuk mengulang setiap dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan.

Nah, kalau ada orang, siapa saja, termasuk mantan-mantan presiden, tidak pernah atau belum menyatakan permintaan maaf atas suatu kesalahan spesifik yang telah dilakukannya, untuk apa kita memaafkannya? Atau, lebih tepatnya, untuk kesalahan jenis apa kita harus memaafkannya?

Mungkinkah kita memaafkan orang yang tidak melakukan kesalahan dan dosa? Apakah ada kewajiban meminta maaf bagi orang yang tidak melakukan kesalahan dan dosa?

Sebagai bangsa, kita harus banyak belajar tentang logika, tentang hukum sebab-akibat. Ringkasnya: kita harus tahu untuk apa kita melakukan sesuatu (pemberian maaf, misalnya). Pemahaman ini penting agar kita bisa hidup di alam raya ini sesuai dengan hukum-hukum pasti yang mengaturnya.

Nah, dalam kasus mantan presiden Soeharto, jika dia tidak punya kesalahan apa-apa yang secara spesifik telah dia lakukan, lantas untuk apa semua ajakan untuk memaafkannya itu didengung-dengungkan? Bukankah yang harusnya kita lakukan jika memang dia tidak pernah melakukan suatu kesalahan adalah memberinya penghargaan dan pemuliaan yang lebih pantas dia dapat ketimbang pemberian maaf.

Oleh sebab itu, logika saya mendukung terus berjalannya proses hukum yang adil, sehingga pada akhirnya kita bisa mengetahui dengan jelas apakah dia bersalah atau tidak. Bila dia tidak bersalah, maka kita tidak perlu memaafkannya. Bila dia terbukti bersalah, barulah pada saat itu kita bisa memilih memberinya maaf atau tidak. Jika kita memberinya maaf, kita harus memperbaiki kesalahan (atau kesalahan2nya). Misalnya, dengan cara mencoba mengembalikan uang rakyat yang diambilnya.

Renungkanlah…

12 thoughts on “Renungan tentang Soeharto

  1. Ketika melihat tayangan terus menerus dari berbagai stasiun televisi mengenai pemberitaan mangkatnya Soeharto, saya melihat betapa porsi pemberitaan dari teve-teve tersebut lebih didominasi oleh ajakan permintaan maaf. Agar menyentuh hati masyarakat Indonesia, maka dimunculkan tayangan-tayangan memesonakan ketika era Soeharto memerintah: nestapa dia ketika kecil, karier militernya, sampai bagaimana dia begitu perhatian terhadap petani dan nelayan. Ilustrasi musik yang sangat njawani (!) memperkukuh kesan bahwa kekuasaan era Soeharto sangat Jawa-sentris. Sungguh pencitraan yang (bisa) berhasil jika orang tidak mempertanyakan bagaimana pendapat orang Aceh waktu DOM diberlakukan, bagaimana tahanan eks-PKI yang tak pernah diadili tapi tetap dipenjara, bagaimana aktivis Muslim harus sembunyi2 untuk menyebarkan Islam (saya, dan mungkin temen2 lain, pernah merasakan bagaimana beraktivitas di organisasi seperti PII harus sangat memperhatikan apakah lokasi training pengkaderan PII dekat dengan markas militer ataukah tidak), dan semua hal yang masih tertutupi.
    Jadi, selayaknya pemberian maaf dapat kita berikan ketika kasus-kasus yang melibatkan Soeharto, langsung maupun tidak, diadili dulu secara hukum. Ringkasnya: dimaafkan ya, tetapi proses hukum dijalani juga dong.

  2. Afifah says:

    Ust Musa, sebagai muslim yang baik dan manusia yang berbudi, kita dianjurkan membicarakan yang baik ketika seseorang meninggal dunia dan berhusnuszon atas kebaikannya yang memang secara jujur lebih baik dalam hal stabilitas dan ekonomi.

    Apakah kita meminta maaf hanya jika mengetahui/sadar? manusia berbuat salah melebihi dari yang ia sadari, jadi memang sepatutnya jika seseorang meminta maaf baik dia mengetahui, tidak mengetahui ataupun pura2 tidak tahu.😀

    Dan memberi maaf juga tidak berarti merelakan semua, itu artinya membiarkan kezaliman, Maka dari itu, saya juga termasuk yang menuntut diberlakukannya Hukum. Afwan, cm mencoba bersikap proporsional🙂

    antara maaf dan hukum, itu beda area🙂
    Maaf itu lebih baik, keadilan jg wajib.
    wallahu a’lam
    hehehe….

  3. musakazhim says:

    Memberi maaf kepada yang tidak bersalah kan termasuk perbuatan sia-sia. Untuk apa gitu lho…
    Nah, kalau orang itu bersalah, ya harus jelas dulu salahnya apa, supaya permintaan dan pemberian maaf yang berlangsung berjalan sesuai sasaran. Misalnya, apa tdk bisa orang yang telah memfitnah kita dan meminta maaf kita maafkan dengan syarat dia mengklarifikasi fitnahnya. Bukankah Allah yang Maha Pemaaf saja memberi syarat atas pengampunan dosa: tidak mengulangi kesalahan.

  4. Ema Rachman says:

    Iya dia mengaku salah saja tidak, walaupun sudah ada tuntutan2 untuk diadili, masih tetep ngaku tidak bersalah malah telah berjasa? dan mau dijadikan ‘hero’??? Logika saya juga ga nangkep….sepertinya kita yang tidak setuju yang ‘aneh’…negeri ini memang ajaib??? Pembangunan negeri tolok ukurnya hanya pada pembangunan Mal2 dan tempat2 hiburan….sampe ngutang2 demi terlaksananya tempat2 yang membuat bangsa ini konsumtif dan ‘lalai’…memang itu skenario ‘setan besar’…tapi orang2 yang mendukungnyalah yang jadi hero ??? Logika saya juga ga sampe untuk bisa memaafkan dia dan kroni2nya yang jelas itu dosa kolektif yang telah banyak merugikan rakyat ( yang sebagian tidak sadar bahwa mereka adalah ‘korban’ atau si mustadafin) . Persoalannya yang itu tadi…mengakui kesalahan aja tidak boro2 mengakui malah tidak merasa bersalah???? itu yang paling parah!!!!

  5. menurut saya, justru kalo kita memang benar2 menghargai jasa pak harto, maka memaafkannya adalah dengan menjalankan proses hukum yang adil atas dirinya. dengan demikian kita tahu apa kesalahannya dan bagaimana cara memaafkannya lebih lanjut.
    Ustad sy juga ingin tanya, apakah memang ketika kita mohon ampun kepada Allah, kita juga harus mengungkapkan jenis kesalahan kita apa? Sehingga tidak cukup kita hanya mengatakan yang singkatnya adalah: “ya Allah, ampunilah segala kezaliman yang telah saya lakukan.”
    Terimakasih

  6. musakazhim says:

    Menurut saya, menyatakan kesalahan secara spesifik adalah sebentuk perlawanan terhadap kelupaan yang sering menimpa kita. Jadi, meminta maaf atas dosa kita kepada Allah harus dengan keberanian untuk menghadapi, mengakui dan merinci kesalahan2 kita, satu demi satu, agar timbul rasa malu dan sesal yg mendalam. Dengan begitu, kita dapat terus mengingat kesalahan kt, dan berupaya untuk menghindarinya di masa datang.

  7. Exactly sir.
    saya setuju dengan statment yang bapak berikan tentang logika Agama. yaitu tentang sifat Tuhan yang Mahamemaafkan.
    Tentang Soeharto, seperti yang telah saya tuliskan pada blog saudara bapak, pengadilan terhadap Soeharto harus tetap diangkat, yaitu peradilan perdata. kalau pidana, masalahnya soeharto telah tiada.
    saya pribadi memaafkannya kalau sudah dikembalikan hak-hak rakyat yang sudah diambilnya.

  8. Afifah says:

    la ya kan orangnya udah meninggal😕
    gimana dia mo merinci kesalahannya ?😀
    maksudnya masyarakat indo memaafkan ya seperti kita semua ketika ada yang meninggal dunia memaafkan apa2 yang kurang berkenan, tapi tetap
    ketika ada utang/hukum wajib dituntaskan.

    Gitu looh maksudnya pa musa, *peace yaa* :D:D

  9. MK says:

    Afifah yg Pemaaf,

    Coba kembali perhatikan logika saya. Saat kita memberi maaf, di kepala kan tentu ada asumsi kesalahan bagi yang kita maafkan. Nah, kesalahan itu harus spesifik, supaya bentuk pembrian maafnya juga jelas. Umpama umpiminya, kalau di berbohong pada kita lalu dia meminta maaf, maka kita bisa minta dia untuk meluruskan kebohongannya. Dng demikian, pelaku kesalahan telah membayar kesalahannya.
    Nah, kalo dia sudah mati gmana? Tergantung pada kesalahan apa yg dia lakukan. Dari situ kan nanti ketahuan remedy apa yang bisa dilakukan sebagai syarat pemberian maaf.
    Peace and justice (&)

  10. musakazhim says:

    Untuk Pembelajar:

    Memang bagus memaafkan yang bersalah. Tapi yg lebih bagus lagi kalau yang bersalah meremedy/membayar kesalahannya.

  11. bintangtimur says:

    Mantan Presiden Soeharto akhirnya mangkat juga ke haribaan Tuhan Yang Maha Kuasa, Minggu, 27 Januari 2008. Segala sakit yang dideritanya di dunia dapat hilang juga dari tubuh tuanya yang berminggu-minggu sebelumnya diberi beban yang berat berkepanjangan. Ada sedikit kelegaan dalam diri saya ketika mendengar berita kematian beliau, dengan tidak mengurangi rasa hormat saya pada mendiang. Ketika awal Januari lalu beliau dirawat di RS Pusat Pertamina, dan itu berlangsung hingga beberapa Minggu, rasa iba menggelayuti pikiran saya. Sampai sebegitunya Tuhan mencoba beliau. Orang yang pernah membangun fisik negeri, namun gagal membangun jiwa negara yang dicintainya ini. Beliau orang besar dan telah berjasa bagi bangsanya. Dan sekali lagi beliau akhirnya terlepas dari beban dan penderitaan penyakit ditubuhnya. Segala puji bagi Tuhan sekalian alam.

    Minggu kedua dirawatnya Pak Harto, dengan sepenuh hati saya berdoa pada Tuhan untuk Soeharto. Semoga Tuhan cepat memberikan kemudahan bagi beliau. Kemudahan sembuh atau kemudahan menyelesaikan tugasnya sebagai manusia di dunia ini. “Beliau telah terlalu menderita dengan ini oh Tuhan.” Kata di akhir doaku. Selain itu, berita kondisi Pak Harto pun juga menjadi media jalan lain yang nampak dimanfaatkan oleh beberapa politikus. “Ini menambah penderitaan Pak Harto. Kasihan negeri ini, kasihan juga Pak Harto! Media masa begitu gencar menampilkan pemberitaan tentang beliau waktu itu. “Apa tidak ada berita lain yang menarik dan bermanfaat? Maafkanlah dosa-dosa beliau wahai saudara-saudaraku, agar beliau mendapat kemudahan.” Gumanku waktu itu.

    Namun ketika membaca rubrik Cari Angin koran Tempo, tulisan Putu Setia waktu itu menyadarkanku. Benarkah Pak Harto membutuhkan maaf yang beliau saja tidak pernah memintanya dari kita, dan jangan-jangan Pak Harto juga merasa tidak merasa bersalah dengan segala apa yang diperbuatnya. Aku pikir Putu Setia pun benar adanya. Kita memberi maaf pada orang yang tidak meminta. Dermawan sekali kita. Kalau di Islam pasti kita sudah dikategorikan hamba-hamba pilihan Tuhan, ketika didzalimipun masih membuka pintu maaf. Luar biasa memang kita ini. Menjadi bangsa pemaaf, ataukah pelupa? Kadang sulit dibedakan memang, tapi itulah kita.

    Tetapi sekali lagi ketika melihat berita-berita tentang sakitnya Pak Harto menjadi lahan strategis untuk para politikus cari muka, dan teringat kata-kata Abdul Hadi W.M sayapun tersadar pula bahwa mendoakan agar beliau segera diberi kemudahan memang tetap harus dilakukan. Apalagi jika melihat bahwa Presiden SBY (Susilo Bambang Yudoyono) juga dibuat sibuk dengan momen ini, menyiapkan ini dan itu. Padahal rakyat menunggu kebijakan-kebijakan beliau agar mereka dapat segera lepas dari himpitan masalah di negeri ini. Harga pangan yang melonjaklah, harga kedelai yang melejit, harga pupuk yang mencekik leher petani, dan masih banyak lagi persoalan yang mesti dapat diatasi Pak SBY, yang karena sakitnya Pak Harto sedikit mengabaikan tugasnya itu.

    Hari itupun tiba, suasana cukup mereda aku pikir. Meski sekarang hampir seluruh media disibukkan meliput berita kepergian Pak Harto. Dan secara pasti negeri inipun sibuk dengan upacara pelepasan beliau, dan sebagai Presiden tentu hari-hari ini Pak SBY juga akan dibuat sibuk dengan prosesi itu. Dan berita baiknya paling tidak beberapa hari ke depan Pak SBY dapat kembali lagi bekerja secara optimal. Semoga segalanya berjalan dengan baik.

    Maha suci Tuhan yang selalu memberi jalan terbaik bagi hamba-Nya. Selamat Jalan Orang Besar……! Selamat jalan! Semoga dosa-dosamu diampuni dan amal baikmu diterima Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang!

  12. absoen says:

    ah gitu aja kok repot! Bangsa ini (indonesia) kan udah terkenal sebagai bangsa ambigue alias abu-abu alias plin-plan alias saru geremeng, jadi why not keep the good name? jadi kalo emang bangsa ini mau sekali-sekali kompak, boleh juga kita sekali ini kompak untuk maafin mas To, nah ntar lagi setelah 1 atao 2 tahun kita hujat lagi dia secara kompak juga. Jadi sebagai bangsa kita gak kehilangan titel kita dan juga sekaligus bisa nunjukin kita bisa kompak, asiiik kan???
    Happy dizzy days….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s