“Wartawan Aljazeera” dari Bedali

hamudi.jpg

 

Namanya Muhammad, panggilannya Hamudi. Ponakan saya dari kakak tertua ini punya banyak keunikan. Ayah saya dulu sangat terhibur dengan segala rupa ulahnya.

Orang ini bisa dibilang “limited edition”. Segala tingkah ulahnya seperti bebek yang kehilangan itik-itiknya.

Bulan lalu dia datang ke Jakarta. Beberapa temannya mengajaknya jalan-jalan ke Citos. Di Citos waktu itu ada Edwin, pelawak beken itu.

Untuk menghangatkan suasana, teman-temannya menyuruh Hamudi menemui Edwin dengan berlagak sebagai wartawan jaringan televisi Aljazeera.

Maka mulailah dia berjalan tegap seperti hendak memukul Edwin. Dari kejauhan, Edwin tampak seperti orang kebingungan.

Syahdan, tanpa ragu-ragu sedikit pun, Hamudi mendekati Edwin.

Hamudi: “Assalamu’alaykum!” dengan suara setengah berteriak, seolah-olah Hamudi baru minum obat pengeras suara.

Edwin tergeragap, seperti orang habis ditendang kuda.

Hamudi: “Ahlan wa sahlan!”

Edwin semakin bingung.

Hamudi; “Bekher, bekher ya…”

Edwin mulai mencium gelagat tidak enak, dan meringis malu.

Hamudi mulai mengulas senyum tanda persahabatan.

Teman-teman Hamudi juga langsung mendekat, semua menahan tawa yang menendang dada.

“Ana mau foto bareng ente,” kata Hamudi tanpa sedikitpun mengubah gaya dan suara yang gagah itu.

“Dari mana?”

“Jawa Timur.”

Edwin dengan ramah menerima ajakan itu, dan langsung siap berpose.

Jeprat, jepret, teman-temannya silih berganti mengambil gambar mereka berdua.

Hamudi: “Insya Allah kita ketemu lagi ya…”

“Oh ya, ya, Mas,” sahut Edwin yang tampak seperti orang baru bertemu dengan UFO di pagi hari sebelum minum kopi.

“Ana doain ente sukses…”

“Terima kasih, terima kasih…”

Belum sampai tiga meter, teman-temannya sudah tak tahan lagi dan langsung ngakak sampai terkencing-kencing.

Sekiranya peristiwa tadi melibatkan orang yang tidak punya keunikan seperti Hamudi, mungkin Edwin sudah melayangkan makian atau pukulan. Tapi inilah salah satu kelebihan ponakan saya yang satu ini. Dia punya sejenis kelebihan yang tidak diketahui orang.

 

Sekiranya dia bertemu dengan Dr. Howard Gardner (penemu “multiple intelligences”) atau David Cooperrider (perancang strategi pengembangan organisasi “appreciative inquiry”), mungkin cerita hidupnya sudah lain.

One thought on ““Wartawan Aljazeera” dari Bedali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s