Pesantren Mbah Nisful Maut

Di suatu daerah di Jawa Timur, ada seorang filosof tua bernama Mbah Nisful Maut. Murid-muridnya lebih suka menyebutnya dengan Mbah Nisfu.

Tubuhnya besar dan mantap. Wajahnya bundar seperti balon yang diikat berewok lebat setengah putih. Dalam keadaan apapun, Mbah selalu berbusana hitam-hitam dengan sorban merah mencolok dan kain biru tua tersampir di pundak.

Hari ini adalah pembukaan tahun ajaran baru di pesantren Mbah Nisfu. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Mbah Nisfu biasanya memberikan sejenis stadium generale.

Semua murid dikumpulkan di aula pesantren. Alunan qasidah dilantunkan oleh murid-murid senior Mbah Nisfu, yakni Kang Tarkul Mal dan Mas Husnu Zon, untuk memulai perhelatan.

Sebelum memberikan wejangan, seperti lazimnya, Mbah Nisfu meminta semua muridnya berdiri dengan posisi kaki merentang lebar. Posisi tangan kanan di kepala dan tangan kiri melilit perut.

Semuanya kemudian disuruh memastikan posisi itu sekali lagi.

Tak ada yang bisa benar-benar atau berani menafsirkan makna posisi aneh itu. Tapi begitulah perintah Mbah Nisfu.

Suasana hening…dan syahdu. Lamat-lamat terdengar isak tangis di mana-mana. Murid-murid baru itu ada yang ngeri, ada yang kagum, ada yang terbawa aura yang memancar dari kehadiran Mbah Nisfu.

Mas Husnu Zon lantas diminta memajang foto Mbah Nisful Maut yang berukuran sangat besar di depan hadirin.

Murid-muridnya tambah larut dalam suasana.

Dari atas kursi besar yang diletakkan di atas panggung, Mbah Nisfu mengisyaratkan agar pembacaan qasidah dihentikan.

“Ketahuilah, wahai murid-muridku…” katanya dengan suara bariton memecah keheningan.

“Saya diberi nama Nisful Maut oleh ayahanda karena alasan yang jelas. Saya lahir ke dunia ini dalam keadaan Nisful Maut (artinya: setengah mati),” katanya sambil mengangkat tangannya yang sebesar gaban dan jari jemari seukuran pisang emas.

“Di antara jutaan sel yang berebut kehidupan, akhirnya saya terpilih lahir ke dunia ini. Di dunia ini, saya juga diapit oleh kematian. Kita tak pernah tahu kapan datangnya ajal, tapi kita tahu bahwa ajal itu tak pernah terlalu jauh dari kita,” serunya. Hadirin semakin menundukkan kepala, seperti pada ingin menjadi laron atau makhluk kecil lain.

“Sakit dan sehat saling berhimpitan. Senang dan susah saling berdempetan. Makan sedikit, tidak puas; makan banyak, perut sakit. Mobil jelek tidak nyaman; mobil mewah, kepikiranan terus. Rumah bobrok, bocor-bocor; rumah bagus, takut kemalingan. Lantas, untuk apa kita memikirkan sesuatu yang tidak dalam kendali kita.”

Suara tangisan mulai makin terdengar di berbagai titik aula megah itu.

“Pikirkan dan kerjakan apa yang bisa; jangan mencoba-coba yang tidak bisa. Hanya orang bodoh yang mencari kemustahilan.”

Mbah Nisfu menarik nafas panjang, membuat tubuhnya semakin mekar dan kekar. “Di pesantren ini kalian akan diajar untuk hidup serius. Bila perlu kalian akan digembleng untuk hidup berdisiplin dan rajin. Di luar pagar pesantren ini sudah terlalu banyak orang tertawa tanpa sebab. Hiburan sudah tidak lagi bisa menghibur orang. Semakin banyak hiburan, ternyata semakin sedikit orang yang terhibur. Di sini, kalian akan diajar banyak menangis agar sedikit hiburan sudah bisa membahagiakan.”

Murid-murid baru itupun tak mampu lagi membendung cucuran air mata, tentu dengan alasan yang berbeda-beda.

Mbah Nisfu memang tidak suka banyak bicara. Biasanya malah cuma terdiri dari satu dua patah kata. Bukan karena Mbah Nisfu tidak berilmu, melainkan karena dia merasa sedikit bermakna lebih manjur daripada banyak mubazir.

Demikianlah suasana pembukaan tahun ajaran baru di Pesantren Mbah Nisful Maut.

 

 

8 thoughts on “Pesantren Mbah Nisful Maut

  1. musakazhim says:

    Mau tauuu aja ya. Ini Mbah terlalu sangar buat kita-kita yang suka nge-blog, agak ekstrem untuk kita-kita yang sudah kenal komputer.
    He, he, he.
    Tapi Mbah untung sudah setuju masuk blog ini…

  2. musakazhim says:

    Wah, it’s getting too serious. khawatir Mbah marah. Jang terlalu menyidik, Mbah punya ilmu blocking, of course dilakukan secara mistis:-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s