Miskin itu Nikmat

Saya baru nonton film “There Will Be Blood”. Sebuah film noir tentang pengusaha minyak yang berakhir dengan kesedihan, kesendirian dan hidup dalam mabuk-mabukan. Kecanduannya pada harta telah merusak semua sisi positif dari limpahan hartanya. Daniel Plainview (diperankan secara mengagumkan oleh Daniel Day-Lewis) kehilangan semua yang dia cintai: keluarganya, adiknya dan terakhir anaknya. Sebagai sebuah tontonan, film ini layak mendapatkan lima bintang.

Tapi film itu lebih banyak lagi bintangnya kalau kita renungi makna yang terselip di belakangnya. Setelah kelelahan nonton, saya teringat beberapa orang kawan yang untuk ukuran orang Indonesia tergolong sangat kaya. Ada yang sampai punya uang kontan ratusan milyar. Hidup mereka juga sangat lelah, penuh derita dan tercekam ketakutan. Mereka selalu takut pada kemiskinan yang sebenarnya telah memberi segala motivasi mereka untuk maju, mereka takut pada kekurangan yang sebetulnya telah mencambuk mereka untuk bergerak. Pendeknya, mereka takut pada kehidupan! Kalau sudah begitu, hidup tentu tidak lagi jadi nikmat.

They have too many things to lose, so they are actually lost in those “too many things”. Mereka menjadi tidak punya apa-apa tanpa harta.

Hampir setiap kali saya bertemu dengan mereka, selalu saja yang mereka ceritakan adalah “masa-masa bahagia” dalam perjuangan. Selalu saja mereka mengenang kerja keras mencapai kekayaan dan kesuksesan. Tidak pernah mereka membanggakan apa yang telah mereka raih. Karena mereka telah hilang dalam apa yang mereka raih; raihan-raihan itu telah menjadi jauh lebih besar daripada diri mereka sendiri, sehingga mereka sudah tidak lagi bisa memisahkan diri mereka dari semua raihan itu.

Selain para orang kaya baru, sepertinya orang yang telah lama berharta justru lebih menikmati masa-masa hidupnya yang penuh derita, kekurangan dan perjuangan.Hari-hari saya bergaul dengan mereka hanya berisi cerita mencari sesuap nasi, kelaparan di jalan, cucuran airmata di halte, anak-anak atau keluarga sakit tanpa bisa berobat, istri kurus mengurus rumah, menunggu orang di kantor selama berjam-jam tanpa hasil dan sebagainya. Intinya, mereka selalu mengenang masa-masa indah pencarian dan perjuangan itu.

Sepertinya ada kerinduan mendalam terhadap suasana itu. Tapi ketakutan dan kecemasan telah membuat mereka tak mau mewujudkan kerinduan tersebut.

Sekali waktu, saya diundang oleh salah seorang kaya untuk datang ke rumahnya. Saat saya tiba, ternyata dia telah pergi. Saya sms untuk mengabarkan bahwa saya telah di rumahnya. Dia meminta saya menunggu. Setengah jam tidak datang, saya kabur. Sore harinya, dia menelpon dan menanyakan mengapa saya tidak santai menunggu di rumahnya. Toh semua tersedia di sana. Kemudian, di telpon itu juga, dia ceritakan bagaimana dulu dia harus menunggu orang untuk suatu keperluan sampai tidur di emperan rumah orang yang bersangkutan. Saya hanya diam.

Saya rasa keadaan yang sama juga menimpa para selebriti. Setelah lelah mendapatkan ketenaran, nyatanya mereka lebih senang sendiri bersama teman-teman ketimbang dirubung fans dari segala arah. Mereka lebih tenang hidup tanpa kamera dan make-up atau sejenisnya. Saya rasa banyak cerita seperti ini.

Nah, sampai sini, saya juga jadi teringat dengan doa Nabi Muhammad yang menurut sebagian orang tidak terlalu valid. Beliau berujar, “Ya Allah, hidupkan aku sebagai miskin dan bersama orang-orang miskin, lalu bangkitkan aku dengan mereka.” Mungkin, jika ditinjau dari perspektif di atas, doa itu jadi punya makna. Karena harta yang tidak tersalur, ketenaran yang tidak berguna dan ilmu yang tidak diamalkan dan sejenisnya hanya akan menjadi beban yang tidak tertahankan.

Coba tanyakan kepada orang yang punya uang banyak, kapan saat yang paling dia senangi. Besar kemungkinan dia akan menjawab saat dia tidak memikirkan uang. Artinya, saat dia menjadi diri sendiri, tidak ada hubungan dengan uang. Dan inilah makna nikmatnya kemiskinan.Saya jadi sadar betapa nikmat jadi orang yang berjuang dan biasa-biasa saja dibanding menjadi hartawan yang tersiksa oleh harta, selebriti yang terkungkung oleh media dan orang pandai yang tertipu oleh ilmunya.

Tapi, mungkin juga, makna doa di atas lebih dalam daripada ini. Mungkin juga, Nabi ingin senantiasa menjadi miskin di hadapan Allah, sehingga tak ada selain-Nya di dalam hati dan di dalam hidupnya. Bagi orang miskin yang menghayati kemiskinannya, tiada sandaran dan harapan selain Allah. Akibatnya, dia selalu dekat dengan Allah, tidak dengan barang-barang, harta, ilmu, ketenaran atau apa saja selain-Nya.

5 thoughts on “Miskin itu Nikmat

  1. Dulu sekali, temenku pernah cerita, dia lagi ngobrol ama supirnya, tibatiba lewat di samping mobilnya, truk gedhe pabrik rokok. Supir nyeletuk, ‘pak, padahal yg punya pabrik rokok, ama saya, samasama makan nasi sepiring ya.’

  2. Taufik MUrdono says:

    I couldn’t agree more on what you had written. Most & mature rich people will never expose themself on what they have. You will be even surprise on how they leave, it is not like what we have been seeing on TV. They are much more simple, you would be even more surprise how much cash they are carrying on their wallet.

    Based on my observation between Middle Class people & Upper class, you won’t know the difference in term of apperance.
    But in term of how they live is very much like heaven & Earth.

    It is also interesting to know the difference between Professional & Biz Owner.
    Most of Very highly paid Proffesionals are living in High Sociaty arena , where Biz Owner probably spending most of their quality time at home or Golf Course.

    Poor People doesn’t mean that They have no knowledge. When Poor people who has so much knowledge, they could become very powerful also could potentialy rule the Country & become True leader. It was the fact that Imam Khomeni was the one . And yet After He became the Leader of Iran, He never changed His life style and He never did.

  3. Membaca artikel yang sangat riil ini, saya jadi teringat dengan sebuah cerita di daerah saya. Ada seorang kaya yang baru saja “kemalingan” habis-habisan karena malingnya bawa truck. Begitu pulang dari kerja suami istri yang kaya ini kaget luar biasa, karena rumahnya benar-benar bersih.

    kemudian dia datang ke salah satu orang tua yang ada di daerah saya namanya Mbah S. Dan minta tolong agar barang-barangnya bisa kembali.

    Mbah S mengatakan bahwa dia tidak bisa menolong apapun, sebaiknya diikhlaskan saja. Namun jika tidak keberatan Mbah S mau mengajarkan suatu ilmu agar orang tersebut tidak akan pernah kehilangan lagi. Mbah S mengatakan bahwa “lelakunya” berat, jadi harus siap. Dan ternyata suami istri tersebut siap melakukan apapun agar dia tidak akan pernah kehilangan lagi.

    Akhirnya Mbah S mau mengajaran ilmu itu. Kata Mbah S, ilmu itu adalah : “SADARLAH, JANGAN PERNAH MERASA PUNYA”. Karena hakikatnya kita memang tidak punya apa-apa. NYawa yang ada di badan kita sendiripun juga bukan punya kita.

    Sejak saat itu, suami istri tersebut tidak pernah kehilangan lagi. Karena memang tidak pernah memiliki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s