Dor! Kata-kata keluar…

Hidup! Kau bak wanita tua yang bermandikan air mata kekasihnya. Kau borehi tubuhmu dengan darah korban-korbanmu. Busanamu adalah hari-hari putih yang bergaris–gariskan kegelapan malam-malam khayal. Orang yang mencintaimu tak pernah mau kau kawini.

 

Hidup ialah seorang perayu,

Yang menggoda kita dengan

kecantikannya yang sayu.

Tapi, orang yang tahu muslihatnya,

akan menghindari bujukannya

 

“Nasib” selalu memindahkan kami dari satu tahap ke tahap lain. Ia tak ubahnya raja yang berhasil mendobrak ka’bah gerak kami. Dan kami—pion-pion yang dipontang-pantingkan—merinding sembari meyimak suara sayu-sayup orkestra Wagnerian yang gahar. Kami hanya dapat menatap dari kejauhan slapstick borjuisme, materialisme, hedonisme, feodalisme, vandalisme, fanatisme dan rasialisme yang menjajakan banyak rintangan dan halangan. Tapi kau boleh menyebut semua itu tantangan.

Sebenarnya nasib adalah kata-kata kosong, tak bermakna, tak bernuansa. Nasib adalah tempat pelarian para pembohong. Ia hanyalah legitimasi para cendekiawan yang doyan uang para penguasa dan pengusaha.

Oh Tuhanku! Dimanakah kiranya kami dapat memperoleh nampan perikemanusiaan? Belas-kasih, kasih-sayang, perhatian, dan kecupan bibir-bibir kering yang berlingan darah kini tinggal perumpaan yang tak dapat kami saksikan.

 

Semuanya telah berubah!

Belas-kasih berubah jadi tamparan kekosongan.

Kasih-sayang telah bermakna ganda: kegusaran dan kemanjaan.

Keprihatinan diperkosa oleh kelezatan dan kemewahan.

Kami dahaga akan kecupan bibir ayah dan bunda

Yang terguyur oleh darah perjuangan melawan ketidakadilan

Kami butuh perkenan Tuhan Yang Maha Bijaksana,

Agar dapat mengarungi hidup yang sesak dengan tipu-muslihat Ali Baba

 

Keindahan kini bertengger di singgasana kemewahan. Keindahan wanita identik dengan dansa ria. Ia ibarat kotak pandora alam material yang berisi Cleopatra, Claudia, Madonna, dan Cynthia. Keindahan sejati nan akhlaki kini tercoreng berahi nan duniawi.

Harga-diri bercapkan materi. Tak ada materi tentu mampus harga diri. Tak ada materi, kubur saja kesucian itu dengan tanganmu sendiri.

 

Oh cinta! Di manakah kau berteduh? Semalam aku bermimpi tentang – apa yang mereka biasa sebut – cinta. Sudikah kiranya kalian mendengarkannya? Atau, setidaknya setelah aku bercerita, sudikah kalian menyebut mimpiku dengan nama cinta? Aku bermimpi ketika kami sedang asyik duduk-duduk di tabula rasa yang sunyi, tersingkaplah beribu betis bidadari. Mereka menangis malu dan pergi tersipu-sipu.

Gambar betis bidadari pun kami sapukan di kanvas jiwa kami. Lama sekali kami menatapi gambar itu. Tiba-tiba, gambar itu pun bergerak-gerak dan mengisyaratkan kehidupan.

Oh sahabat-sahabatku! serunya dengan suara yang amat lembut.

Lewatkulah semua yang pahit jadi manis!

Lewatkulah semua tembaga jadi emas!

Lewatkulah semua endapan jadi anggur murni!

Lewatkulah semua derita jadi pelipur abadi!

Lewatkulah semua yang mati jadi hidup lagi!

Lewatkulah semua raja rela jadi hamba kembali!

 

Tuhan adalah Wujud segala maujud. Semua mengenal-Nya, meski tak semua menyapa-Nya. Akal adalah pelita untuk menyusuri jalan-Nya. Hati adalah jaring untuk menangkap-Nya. Cinta adalah kapak untuk menggali-nya. Aku tak pernah tahu apakah Dia bersamaku, ataukah aku bersama-Nya.

Berkenanlah Kau, Tuhan, hadir dalam sirkuit kalbu kami.

Ali sang manusia agung mengatakan, “Dia (Allah) takkan tercapai oleh penglihatan mata, tetapi oleh mata hati yang penuh dengan hakikat keimanan. Ia dekat dari segalanya tanpa sentuhan, ah tanpa jarak, berbicara tanpa harus berpikir sebelumnya, berkehendak tanpa perlu berencana, berbuat tanpa memerlukan tangan, lembut tapi tidak bersembunyi, besar tapi tidak teraih, melihat tapi tidak bersifat inderawi, maha penyayang tapi tidak bersifat lunak. Wajah-wajah merunduk dihadapan keagungan-Nya. Jiwa-jiwa bergetar karena ketakutan terhadap-Nya”

 

Ya Allah! Dengarkan munajatku yang sepenuh hati ini. Dengarkan jua oleh kalian semua.

 

Ya Rabb! Tak kupedulikan tertawaan atau tangisan orang tentangku, bahkan Kau suruh aku lupakan keakuanku. Ya Rabb! Ingin rasanya kuseruput gumpalan awan di angkasa, tapi kata orang tua, “Kau mimpi buruk, Nak!”

 

Ya Man Ilayhi syakawtu ahwali! Kupejamkan mata supaya jiwaku sublim. Setelah kupikir-pikir, kupejamkan mataku karena kantuk menyerangku. Ya Man du’ya fayastajib! Kutengok kiri-kanan. Kau yang kupandang, tapi kemudian kumenangis sejadi-jadinya, karena penglihatanku yang pertama dipersalahkan oleh penglihatanku yang kedua, yang memandang kanan kiriku penuh dengan nuansa egoku sendiri.

 

Ya Man la ya’rifuhu illa Huwa!

 

Takhayulku! Takhayulku seakan menyapa keindahan-Mu di alam khayali. Nyatanya tidak. Aku hanya melihat diriku sendiri yang amat menyesakkan dan menyumpekkan.

 

Ya Tuhan! Lepaskan aku dari keterpurukan diriku sendiri.

 

Wala kayfa Huwa! Allah, Allah! Aku sok mengerti tentang-Mu, padahal hanya kecongkakan yang memberitahuku tentang-Mu.

 

Illa Huwa. Sucikan hatiku, ya Tuhan!

Kabulkan permohonanku, Ya Tuhan, pejamkan mataku, tulikan telingaku, hentikan nafasku.

Aku merasa puas manakala hanya bersama-Mu.

Aku tiada. Engkau ada.

 

Mungkinkah aku mendekati-Mu? Mungkinkah?

Duhai Muhammad! Kau telah mengajarkan cara berjalan di bumi, saat ini, kami memintamu mengajarkan cara mencium kedua telapak kakimu. Kami terbengkalai tak mengerti bahwa kau adalah sumber Cinta Ilahi.

Oh, Ya Sin! Kami tak pernah mencicipi cinta, karenanya cicipkan ia pada kami. Kami tak pernah mengenalmu sebenarnya, karenanya berkenanlah engkau kiranya menjulurkan tanganmu yang teramat istimewa pada kami.

Rindu kami, Ya Rasul, ingin mengais-ngais ujung pakaianmu.

Ya Rasul! Tuhan tidak sudi mendengar ocehan kami tanpa menyebut nama-namamu yang berjuntai-juntai di petala-petala langit dan bumi. Ya Allah! Muhammadkan hamba. Ya Muhammad! Prajuritkan hamba.

Wahai Muhammad! Kini engkau telah menghilang dari pandangan. Kemanakah kami harus mencarimu? Di alam ini kami hanya menyaksikan bianglalamu. Di langit nun jauh di atas, hanya ada gemuruh suaramu.

Kini siapkah yang akan menyelamatkan kami dari azab Tuhanmu?

Kepada tali apa kami harus bergantung kalau kau putuskan talimu?

Malang nian daku kelak ketika bersimpuh di Mahsyar nanti.

Oooh Ali! Izinkah si nista ini mendekati berkas-berkas cahayamu. Izinkan kami bersimpuh di jejak-jejak kakimu di Badar, Uhud, Hunain, Khaybar, dan Shiffin. Tak tahu apa yang pernah, sedang, dan hendak kami katakan tentang dirimu, wahai jungjunganku! Tersebar sudah semua nilai kesempurnaan padamu. Tapi, mengapa kami tetap tak mau menirumu?

Memang, terlalu mustahil buat kami untuk dapat menjadimu! Namun, izinkanlah kami erat-erat memegangi ujung sandalmu.

Cinta kepada Ali termasuk dalam iman,” sabda Rasul Nabi kami. Cinta kepadamu adalah ungkapan cinta pada jiwa yang selaras—cinta kepada insan kamil, kepada puncak kemanusiaan yang telah disebut-sebut oleh Allah dan Rasul-Nya.

Ini bukan kultus, tuan-tuan. Ini juga bukan fanatik individu. Ini adalah gejala di atas semua itu. Ini adalah emosi cinta yang membara, membakar semua tudung bahas.

Mereka yang benar-benar mencintaimu sedang menyiratkan pujian pada diri mereka sendiri. Mereka ingin menunjukkan bahwa kami menyaksikan keindahan luar biasa—jiwa yang kukuh, keselarasan yang sempurna. Kami menyaksikan perwujudan kemahaindahan Allah.

Dengan mengenalmu, kami mengembangkan dan mendidik diri sendiri. Kekuatan cinta dapat menggerakkan pecinta ke arah kekasihnya. Kalau kekasihnya adalah pemabuk, pemadat, pencuri, koruptor, penipu, diktator, dan yang semacam mereka, maka peicinta pun akan menjadi seperti mereka. Namun, jika kekasihnya adalah Imam Ali, oh… sedikit demi sedikit dia akan mempunyai kebijaksanaan, keadilan, keberanian, ketabahan, dan sifat-sifat sempurna lain yang beliau miliki dengan kadar yang mampu ditampungnya.

 

Advertisements

One thought on “Dor! Kata-kata keluar…

  1. Ema Rachman says:

    sooo tauchy!! Congratulations…it made me cry….Ya Allah…jadikanlah aku pengikut Ali as, walau sangat berat , baru sebatas mencintainya….Allahumma inni ataqarrabu ilaika biwilayati Ali ibn Abi Thalib! Shalawat ala Muhammad wa aali Muhammad…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s