Etika Kantian

Elizabeth Anscombe: “ His rule about universalizable maxims is useless without stipulations as to what shall count as a relevant description of an action with a view to constructing a maxim about it.”

· Immanuel Kant adalah salah seorang filosof Barat yang pikiran-pikirannya paling bisa dikembangkan di masa mendatang. Mungkin Kant adalah satu-satunya filosof yang percaya bahwa moralitas adalah masalah mengikuti aturan2 moral yang mutlak— aturan2 yang tidak menerima pengecualian, aturan2 yang harus diikuti, apapun hasilnya. Susah membayangkan bagaimana pandangan seperti itu bisa dipegang kecuali, mungkin, bila kita percaya bahwa aturan2 semacam itu adalah perintah2 Tuhan yang tidak bersyarat. Tapi, Kant tidak berpijak pada pertimbangan2 teologis; dia hanya berpijak pada argumen2 rasional, dengan beranggapan bahwa nalar (reason) menuntut kita untuk tidak berbohong. Menarik kiranya untuk kita lihat bagaimana dia sampai pada kesimpulan seperti itu.

· Kant mengamati bahwa kata ‘semestinya/seharunya’ (ought) sering digunakan untuk konteks non-moral. Misalnya, (a). Jika kau mau menjadi penulis novel, kau harus baca karya2 Pramudya Ananta Toer; (b). Jika kau mau pergi ke Australia, kau harus mengerti bahasa Inggris. Banyak perbuatan kita yang ditentukan oleh ‘perkara2 harus’ seperti itu. Kant menyebut semua itu sebagai ‘imperatif hipotetis’, karena semua itu menentukan apa yang harus kita perbuat kalau saja kita punya keinginan2 yang sejalan dengannya. Daya ikat semua perintah ‘keharusan’ di atas bergantung pada apakah kita punya keinginan2 yang sejalan dengannya atau tidak. Hanya dengan menghindari keinginan2 itu, kita telah terlepas dari kewajiban dalam semua perintah ‘semestinya/seharunya’ di atas.

· Sebaliknya, bagi Kant, kewajiban2 moral tidak bergantung pada atau terkait dengan keinginan2 khusus/partikular kita. Bentuk kewajiban2 moral bukanlah ‘Jika kau ingin hal ini, kau sebaiknya melakukan hal itu’, melainkan berbentuk ‘imperatif2 kategoris’. Jadi, bentuknya adalah: ‘Kau harus melakukan begini dan begitu, titik’.

· Kant berpendapat bahwa, sebagaimana ‘keharusan2’ hipotetis dimungkinkan karena kita memiliki keinginan2, demikian pula ‘keharusan2’ kategoris dimungkinkan karena kita memiliki nalar. ‘Keharusan2’ kategoris mengikat para pelaku rasional hanya karena mereka rasional. Bagaimana bisa begitu? Karena, kata Kant, keharusan2 kategoris diturunkan dari sebuah prinsip yang pasti diterima oleh setiap pribadi rasional. Dia menyebut prinsipnya ini dengan Imperatif Kategoris.

· Di buku Groundwork of the Metaphysics of Morals, Kant mengungkapkan Imperatif Kategoris itu sebagai berikut: ‘Bertindaklah mengikuti maksim yang dengannya kau bisa bertindak, pada saat yang sama kau ingin ia menjadi hukum universal’ (Act only according to that maxim by which you can at the same time will that it should become a universal law). Prinsip ini meringkaskan prosedur untuk memutuskan apakah suatu tindakan itu secara moral diperbolehkan. Saat kau berpikir untuk melakukan tindakan tertentu, kau mesti bertanya aturan apakah yang akan kau ikuti jika kau harus mengambil tindakan tersebut. (Inilah aturan yang akan menjadi ‘maksim’ bagi tindakan tersebut.) Kemudian kau mesti bertanya apakah kau ingin aturan itu diikuti oleh setiap orang pada setiap waktu. (Itulah yang akan menjadi ‘hukum universal’ dalam pengertian yang relevan.

· Berperilaku moral, dengan demikian, berarti memandu tingkah laku seseorang dengan ‘hukum2 universal’—yakni, aturan2 yang berlaku, tanpa kecuali, di semua keadaan.

· Salah satu argumen yang menolak ide aturan2 moral mutlak ialah kemungkinan munculnya kasus-kasus konflik. Andaikan ada kepercayaan bahwa salah mutlak untuk berbuat A dalam keadaan apapun dan juga salah mutlak melakukan B dalam keadaan apapun. Lantas bagaimana dengan situasi orang yang dihadapkan pada pilihan antara melakukan A atau B, tanpa ada alternatif lain? Jenis kasus konflik seperti ini menunjukkan bahwa kepercayaan akan aturan2 moral absolut tidak bisa dipertahankan secara logis.

· Gagasan inti Kant adalah sebagai berikut: penilaian moral mesti didukung oleh alasan-alasan yang benar—bila ia benar kau harus melakukan A, maka pasti ada alasan mengapa kau harus (atau harus tidak) melakukan A. Alasan moral itu, kalau memang sahih, maka ia harus mengikat semua orang di setiap saat. Inilah tuntutan konsistensi; dan Kant benar saat menyatakan bahwa tidak ada manusia rasional yang dapat menyangkalnya.

· Di buku yang sama, Kant mereformulasi Imperatif Kategoris sebagai berikut: ‘Bertindaklah sedemikian sehingga kau memperlakukan kemanusiaan, baik dalam pribadimu sendiri atau orang lain, senantiasa sebagai tujuan dan tidak semata-mata sebagai sarana’ (Act so that you treat humanity, whether in your own person or in that of another, always as an end and never as a means only). Namun, reformulasi dari Imperatif Kategoris di atas ini tampaknya memiliki makna berbeda dengan yang pertama, lantaran reformulasi ini menunjukkan keyakinan Kant akan harkat dan martabat manusia yang intrinsik.

· Kant percaya pada qishash atau retributivisme (an eye for an eye), sementara kaum Utilitarian menolaknya. Dalam bidang moral, banyak negara Eropa yang memakai Utilitarianisme ketimbang Kantianisme. Oleh karena itu, mereka percaya pada pemasyarakatan atau koreksi untuk kaum kriminal, bukan pembalasan atas mereka.

3 thoughts on “Etika Kantian

  1. Susah membayangkan bagaimana pandangan seperti itu bisa dipegang kecuali, mungkin, bila kita percaya bahwa aturan2 semacam itu adalah perintah2 Tuhan yang tidak bersyarat.

    Tidak perlu menunggu perintah Tuhan yang tidak bersyarat. Malahan, yang bersyarat pun absolut.
    Di awal-awal pasal ini, telah isyaratkan bahwa salah satu eksistensi dan contoh yang jelas dari keniscayaan relatif adalah keniscayaan aksidental antara sebab dan akibatnya. Walhasil, tindakan pilihan (sengaja) seseorang, ketika kita komparasikan dengan dampak-dampak yang muncul darinya, kita akan menemukan hubungan keniscayaan relative di antara keduanya. Keniscayaan ini bisa kita ungkapkan ke dalam bentuk statemen moral, di mana perbuatan tersebut terkait erat dengan keharusan, lalu kita menyatakan “Untuk mencapai kedekatan diri pada Tuhan, harus melakukan serangkaian tindakan sengaja”. Atau misalnya “harus berkata jujur”. Statemen ini menjelaskan suatu keniscayaan yang terdapat di antara berbicara jujur dan kedekatan diri pada Tuhan, sebagai tujuan sejati manusia. Hal ini persis dengan apa yang kita gunakan dalam bidang-bidang sains (Mishbah Yazdi, Meniru Tuhan, 53-57). Kami memandang bahwa semua nilai moral adalah absolut dan tidak mengikuti insting dan kesepakatan sejumlah individu. Kesimpulannya, (berdasarkan pada hukum kausalitas yang tak terkecualikan) proposisi-proposi moral dalam bentuk yang kita identifikasi syarat-syarat subjeknya, adalah absolut (194-200) (inilah ajaran Kant dengan sedikit revisi).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s