Jawaban SCTV atas Kompas

Sebuah artikel “Tajam Tepercaya” ditulis Salomo Simanungkalit di Kompas*(8/2). Dia mengkritik penggunaan kata bentukan “Terpercaya” yang melekat pada slogan sebuah televisi. Salomo malu-malu menggunakan seluruh slogan televisi tersebut. Dia tak menyertakan kata “Aktual” yang mendahului dua kata sebelumnya. Namun, jelas betul, Salomo tengah menyasar Liputan 6 sebagai objek kritiknya.

Dalam artikelnya di rubrik bahasa halaman 15 itu, Salomo jelas-jelas menggunakan kalimat sedikit “menghasut” pembacanya seperti, “Hanya oleh karena satu hal  (maksudnya: kata terpercaya), saya berat pinggul menonton tayangan sebuah stasiun televisi”. Kalimat pembuka ini ditutup dengan “Jika mulai besok atau minggu depan slogan tajam tepercaya menggantikan tajam terpercaya, rasanya saya mulai mau menekan tombol memilih saluran stasiun televisi itu”.

Saya mafhum belaka arah kalimat dari Salomo itu. Namun, soal ini tak penting benar dipanjang-lebarkan. Hanya saja, soal cara dia “mendakwa” kata “terpercaya” sebagai salah dan karenanya harus dienyahkan sulit sekali diterima. Litbang Liputan 6 pun, ingin menjawab apa dasar dan *asbabun nuzul* sehingga kata “terpercaya” digunakan sebagai slogan Liputan 6. Kami beranggapan, *Kompas* adalah koran yang *fair* dan satria untuk memberi tempat kepada “siapa yang dikritik” untuk menjawab materi dan substansi
kritik.

Sebuah tulisan jawaban dari Liputan 6 ditulis Iskandar Siahaan, Kepala Litbang Liputan 6 dilayangkan ke *Kompas*. Kami menjawab kritik dengan kepala dingin tentu saja. Dikemukakan bagaimana pembentukan kata “Terpercaya” itu berdasarkan sejumlah referensi bahasa dari ahlinya.

Sayang, Salomo—yang ternyata menggawangi rubrik bahasa *Kompas*—menolak
memuat tanggapan dari Liputan 6. Dalihnya, rubrik itu menjadi semacam “rubrik pribadinya” yang disediakan oleh *Kompas*. Dari korespondensi via surat elektronik dengan Iskandar Siahaan, Salomo mengatakan dirinya (Salomo) sering tidak senapas dengan *Kompas*. Dan, ia sendiri kerap mengkritik bahasa *Kompas*! Dari logika ini, *Kompas* memaklumkan Salomo sebagai “jaksa” dalam perkara bahasa, untuk *Kompas* dan media apa pun yang menurutnya salah menggunakan bahasa yang baik dan benar.

Dalam perkara “Tajam Tepercaya” yang ditulisnya, Salomo bahkan tak cukup menjadi “jaksa” namun juga “hakim”. Sang penentu salah-benar hal-ihwal bahasa!!! Si tertuduh tak sedikit pun diberi hak untuk bersuara.

Dengan logika waras semestinya ruang perdebatan dibuka dengan memuat tulisan jawaban dari Liputan 6. Dengan cara itu, pembaca (dan publik luas) bisa menilai, ikut urun rembug dan “memutuskan” bagaimana posisi mereka sehubungan kata “Tepercaya” dan “Terpercaya”. Maaf…yang ini ditolak Salomo. Padahal media berkewajiban memberi kesempatan hak jawab kepada pihak-pihak yang merasa dirugikan akibat pemberitaan atau artikel di media bersangkutan. Pasal 5 ayat 2 UU 40/1999 tentang Pers menyatakan, “pers wajib melayani Hak Jawab”.

Sungguh sangat disayangkan *Kompas* tak melaksanakan amanat UU Pers tersebut.

*Moh Samsul Arifin*

Jalan Asia Afrika Lot 19 Senayan City Jakarta

**

Advertisements

4 thoughts on “Jawaban SCTV atas Kompas

  1. iskandar siahaan says:

    Andai Kompas memuat hak jawab, juga hak koreksi, kami itu sebenarnya saya ingin melanjutkan debat itu di luar rubrik “Bahasa” yang diasuh Salomo Simanungkalit. Kami, di Liputan 6 SCTV, termasuk saya, adalah tipikal orang yang suka berdebat. Debat, seperti tercermin di sidang-sidang redaksi ketika memilih atau menolak sebuah item berita untuk ditayangkan, adalah “nyawa” Liputan 6 SCTV. Kami berdebat berangkat dari sebuah asumsi bahwa sesuatu yang didiskursuskan akan melahirkan keputusan yang lebih baik dan membuat semua orang merasa terlibat. Karena itu, tak seorang pun kami biarkan merasa diri paling benar. Setiap orang haruslah merasa bahwa dia bisa saja salah!
    Karena Salomo berangkat dari asumsi yang berbeda — bahwa dia yang paling benar karena dia sendiri yang menentukan layak tidaknya sebuah tulisan di rubrik itu muncul — saya merasa tidak perlu dan tidak akan produktif berdebat dengannya. Dia telah bertindak sebagai “jaksa” sekaligus “hakim”. Karena itu, maaf, saya telah kehilangan selera untuk berdebat dengannya — kecuali ia mengubah sikapnya.
    Saya ingin “menyempurnakan” bagian tertentu dari tulisan yang dibuat Sdr. Moh. Samsul Arifin. Salomo tidak persis mengatakan rubrik “Bahasa” itu sebagai rubrik pribadinhya. Dia hanya mengatakan, tulisan di rubrik itu adalah suara penulisnya. Bukan suara “Kompas”. Betul Salomo mengatakan bahwa dia pun kadang berbeda atau mengkritik cara Kompas berbahasa Indonesia.
    Celakanya, jika tulisan di rubrik itu ditulis sendiri oleh Salomo kemudian ditanggapi oleh orang lain, tapi dia sendiri pula yang menilai apakah tulisan itu layak atau tidak dimuat, menjadi pertanyaan apakah mungkin dia bisa obytif.
    Itulah yang sedang diperankan oleh Salomo. Dan, saya beranggapan tidak akan produktif berdebat dengan orang seperti dia. Tuah saja bisa kita gugat, masak Salomo tidak! Kalau dia bilang argumen kami lemah, siapa yang menilai bahwa argumen dia juga lemah? Dia sendiri. Ah, sendiri, sendiri, lagi.

    Iskandar Siahaan-Kepala Litbang Liputan 6 SCTV.

  2. musakazhim says:

    Bung Iskandar yang baik hati, terima kasih atas kunjungan Anda.

    Menurut saya, seorang ilmuwan atau pengamat, apalagi yang berani berbicara di ruang publik dan media massa, harus punya keberanian berdebat dengan cara-cara yang santun. Dia harus siap menerima perbedaan pandangan dengan tegar dan besar hati. Jika tidak, sudah sepantasnya dia tidak tampil di depan umum dan menyalahkan pandangan pihak lain.
    Bagaimanapun juga, saya salut dengan tim redaksi Liputan6 SCTV yang telah memulai ruang diskusi kebahasaan secara ilmiah dan berani.
    Tabik!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s