Nasib Wanita Hamil, Lansia, Penyadang Cacat dalam Gerbong Kereta

 

Saya ketemu teman baru dikantor, nama dia sebut saja Ira. Ira sudah menikah dan memilki anak satu orang. Ira, suami dan anak tinggal di Bogor. Ira sebelum menikah memang sudah tinggal di Bogor dan kerja di Jakarta.
lra lalui BogorJakartaBogor setiap hari dari mulai belum menikah sampai anaknya berumur tiga tahun.

Dari situasi Jakarta yang padat penduduk dan masih tingginya macet di mana – mana. Sehingga transpotasi yang cepat dan gak macet serta murah adalah pilihan yang selalu dicari orang. Maka kereta api adalah satu – satunya angkutan umum yang menjadi pilihan.

Tapi ternyata walau kereta api terbebas macet bukan berarti tidak ada masalah. Jumlah gerbong yang tidak mampu menampung penumpang membuat para penumpang harus berdesak – desak sampai sangat padat sekali. Bahkan sudah tidak bisa dikatakan layak lagi, karena sudah sangat padat sekali penumpangnya.

Ironisnya walau padat begitu ternyata tidak ada satu gerbong pun yang disediakan untuk perempuan hamil, perempuan dengan anak kecil (menggendong bayi ), lansia dan penyandang cacat.
Sebenarnya ada gerbong yang diperuntukan untuk tiga kelompok rentan tersebut. Tapi masalah kebijakan itu tidak sama sekali dijalankan baik untuk kereta ekonomi maupun AC.

Sehingga tidak heran kalau setiap hari akan menjadi “tontonan” seorang perempuan hamil, lansia, penyadang cacat yang harus tergopoh – gopoh dengan sesaknya orang dalam gerbong.
Untung ada orang yang mau memberikan kursinya, tapi itu sangat sedikit kalaupun ada akan sulit memberikan karena terlalu sesak gerbong.
Orang – orang yang tidak hamil saja harus berjuang dengan sesaknya gerbong itu dan setiap hari harus bermandi dengan keringat.
Apalagi dengan orang hamil, lansia dan orang penyadang cacat gak bisa saya lukiskan dalam tulisan ini lagi.

Termasuk dengan teman ku Ira, dia harus melakukan perjalanan dari Bogor ke JakartaBogor (sekitar 120 menit) dengan situasi sesak sekali. Dan dari pengalaman teman ku (Ira) hampir setiap hari harus berdiri dalam gerbong kereta tersebut. walau kadang ada orang yang menawarkan tempat duduknya untuk Ira yang sedang hamil.
Padahal kita tahu bahwa menurut kesehatan, perempuan hamil kalau berdiri lebih 1 jam akan mempengaruhi asupan oksigen bagi janin apalagi bagi hamil muda.

Yang menjadi pertanyaan mengapa pihak PJKA tidak tegas menerapkan gerbong khusus buat perempuan hamil, lansia dan penyandang cacat? padahal sudah ada gerbong itu, tapi penumpang lain gak peduli. Mestinya pihak PJKA tegas dan mendidik penumpang untuk bisa menghargai kelompok yang butuh perlakuan khusus tersebut.

Dengan cara dijaga ketat gerbong tersebut pada saat penumpang akan masuk yang sesauai dengan peruntuhannya. Sepertinya ketatnya pihak PJKA mengawasi setiap karcis pada penumpang.

Mengapa pihak Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Menteri Kesehatan dan Menteri Perhubungan tidak melihat ini sebagai hal yang serius untuk bisa ditangani secepatnya. Apakah akan menunggu sampai ada perempuan hamil mati dalam kereta karena keguguran ?? Mesti ketiga menteri tersebut merasakan naik kereta ekonomi BGor – Jkata – Bgor dalam keadaan berdiri.

Dan mengapa tidak menambah gerbong kereta lagi untuk keamanan dan kenyamanan semuanya?

Asal jangan sampai ada pendapat dari pemerintah dengan mengatakan makanya jangan kerja bagi perempuan hamil..duduk dan diam di rumah…

Ya itulah obrolan yang saya dapat dari teman saya (Ira ), sampai teman saya trauma untuk hamil kalau harus naik kereta. Akhirnya teman ku ambil keputusan untuk cari kerja di Bogor (tapi itu bukan jawaban buat semua perempuan hamil, lansia dan penyadang cacat)

Mungkin itu lah, bagi teman – teman yang mungkin ada relasi dekat dengan pihak PJKA dan Menteri Perhubungan, Menteri PP, Menteri Kesehatan. Mohon disampaikan situasi dan fakta ini untuk ditindaklanjutin.

Wasalam Terhadap Buruknya Pelayanan Transportasi di Indonesia Bagi perempuan hamil, Lansia dan Penyadang Cacat.

Hartoyo

2 thoughts on “Nasib Wanita Hamil, Lansia, Penyadang Cacat dalam Gerbong Kereta

  1. Afifah says:

    Bener banget, oya terutama saya juga sangat prihatin dengan mental kita yang kadang tega banget atau pura2ga ngeliat wanita hamil, orgtua yang berdiri, malahan kita dengan enaknya nyerobot bangku kosong untuk diri sendiri daripada memikirkan orang yang lbh butuh,

    Ini selalu terjadi dimana2, ga cm dikereta. Padahal dinegri2 maju yang katanya individualis, mereka sangat malu kalo ada yg orang tua yang berdiri, atau orang hamil yang kesusahan berdiri.

    truuus (Sekalian curhat ya :D), di angkot nih jg, uda hampir 6-4 , tapi ga ada yg mo ngalah geser, padahal liat orang yg baru masuk uda tua, bawa bawaan banyak, maunya mikirin diri sendiri krn tkt susah turun
    tapi liat orang susah begitu ga peduli barang cm sedikit geser.

    Ck ck ck….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s