The Necessary Deletion

near-death-experience-1.jpg

Hari ini, aku harus kembali mendelete nomor telpon seorang teman yang sepekan lalu pergi meninggalkan dunia fana ini untuk selam-lamanya. Banyak kenangan telah dia tanamkan dalam ingatanku. Semua itu bakal terus kukenang. Tapi sebuah perpisahan tak terelakkan ini tetap saja terasa berat di hati.

Dalam hidup yang singkat ini, tindakan menyayat seperti itu bukan pertama kali yang harus kulakukan. Dan sepertinya juga bukan yang terakhir. Dalam masa hidup 10 x 3 + 2 ini, sedikitnya sudah 10 kali sayatan batin seperih ini mesti kuderita.

Itulah suatu perpisahan atau pemisahan yang harus terjadi. Ada Dzat Maha Kuasa yang secara sepihak dan semuanya memutuskan semua hubungan itu. Tapi, pengalaman mengiris hati dan langkah yang membutuhkan segunung keberanian ini pastinya juga dialami oleh banyak orang lain.

Kini, aku mulai membayangkan bahwa suatu saat nanti, keluarga, karib-kerabat dan teman-temanku juga akan melakukan hal yang sama. Dan bayangan itu menyemburkan aliran dingin ke sekujur tubuhku, yang mungkin merupakan dampak kekhawatiran atau ketakutan pada keniscayaan.

Setiap kali hari seperti ini datang dan aku harus melakukan hal-hal itu, hatiku berdebar-debar. Aku hanya bisa membayangkan kesendiriannya, dan kesendirian yang kelak juga pasti akan meliputiku. Aku hanya bisa membayangkan sebagian besar teman dan keluarganya dengan berat hati harus melakukan hal yang sama: menghapus nomor-nomor telpon pribadinya; menghapus alamat emailnya; menghapus satu demi satu jalur hubungan dengannya dan menghapus segala rencana kerja yang melibatkannya. Dan aku juga mulai membayangkan hal serupa yang bakal menimpaku kelak.

Aku jadi teringat nasihat guruku, Sayyid Kamal Haydari, ketika dia berbicara tentang persiapan menuju kematian. Katanya, jika seseorang menjalin ikatan terlalu kuat dengan orang-orang atau benda-benda di dunia sehingga ikatan itu berubah menjadi terungku yang mengurungnya, maka kematian akan menjadi amat sangat sulit baginya. Namun, katanya lagi, jika kita pelan-pelan berusaha melonggarkan ikatan itu, tanpa harus memutuskannya, maka segalanya akan menjadi lebih mudah. Jika kita sedikit lebih “tega”, maka kita harus sering-sering membayangkan pemutusan itu dan secara halus merobek terungku yang mengurung kita, sehingga when the moment of truth comes, maka ruh kita akan melayang dengan lebih ringan dari tubuh dan semua ikatan jasmani yang melingkupinya.

Selamat tinggal kawan, semoga pemisahan ini menjadi awal kehidupan yang jauh lebih menyenangkan bagimu di ufuk yang tanpa batas itu…

 

2 thoughts on “The Necessary Deletion

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s