Mbah Nisful Maut dan PT. Hampir Sukses

Saya punya seorang teman yang unik (atau jangan-jangan semua teman saya unik ya?).

 

Tiap hari menjelang sore, dia datang ke rumah. Dan tiap hari setidaknya 2-3 bisnis bernilai milyaran dia ceritakan ke saya. Entah apa yang dalam pikirannya, tapi dia selalu asyik mempresentasikan bisnis-bisnisnya ke saya.

Padahal, dia tahu bahwa saya bukan pebisnis, apalagi pebisnis sukses.

Mungkin dia suka bicara dengan orang yang menurut dia tidak tahu bisnis, jadi segalanya bisa tampak masuk akal.


Jadi, setiap hari dia datang dan duduk di meja teras depan rumah, sambil mengoceh urusan bisnis bernilai milyaran tersebut. Terkadang saya merasa ga enak sama tetangga depan rumah. Saya khawatir juga dia pikir saya ini milyarder atau…gila!

Suatu kali, setelah berkali-kali datang membawa berbagai cerita membumbung tinggi itu, saya memberanikan tanya, “Bisnis getah agatis yang ente cerita kemarin gmana kelanjutannya?”

“Iya, masih nunggu kontak dari teman. Kalau dia setuju, udahlah ente duduk di rumah, nulis buku, ngajar, dll…ana yang biayain hidup ente sekeluarga. Mobil, rumah, dll dari ana. Tenang!”

Dan seperti biasa, setelah deretan kalimat panjang berapi-api itu, sebuah permintaan meluncur, “Kopi ada?”

“Oh ya…tunggu ya.” saya masuk ke rumah dan minta pembantu buat kopi.

Setelah kopi dan beberapa gorengan tersaji, muncul kalimat meyakinkan yang tiap kali dia utarakan ini, “Nah, sekarang ana lagi urusin bisnis lain nih…Kalo ini udah 100%!”

“Apa?”

“Jadi, ada perusahaan asing di bangka belitung yang memproduksi limbah setiap hari sekian ratus ribu ton. Limbah itu ternyata ada yang mau beli! Nih orangnya sekarang ana telpon…”

Dia pun terlibat pembicaraan serius dengan seseorang di telpon. Teriakan dan isyarat tangan yang terus bergerak-gerak menunjukkan bahwa ini memang urusan milyaran. “Udah. Santai aja. Ini udah 100%!”

Entah apa dia pikir saya lupa bahwa dia selalu bilang “100%” saban hari dia menceritakan bisnisnya.

Tapi itu baru sebagian kecil keanehan. Yang lebih memusingkan adalah keberaniannya untuk menganggap saya lupa tentang semua bisnis milyaran yang dia ceritakan dengan segala adegan gebrak meja untuk meyakinkan. Memang gebrakan meja itu tidak terlalu keras, tapi sering juga membuat anak saya keluar untuk memuaskan penasarannya.

Setelah paling kurang 15 kali meeting serupa, saya mulai mengendus hal-hil-hul. Saya tidak perlu ceritakan apa saja yang menurut saya aneh-aneh itu.

Saya pun terjebak dalam dilema ini: kalau saya kasi tahu bahwa dia ini mengkhayal, saya khwatir dia kehilangan motivasi dan down; kalau tidak, meeting ini bisa jadi rutinitas yang menjemukan.

Saya bawa dia ke Mbah Nisful Maut—yang kebetulan datang ke Jakarta—untuk suatu konsultasi. Setelah mengamati orang itu sejenak,dan mengamati saya agak lebih lama, Mbah Nisfu mengusulkan kita buat PT. Hampir Sukses.

Mbah yang sangat lucu tapi cerdas dan berjiwa besar itu mengusulkan saya belajar kesabaran dari orang ini. Dia bilang, setiap orang pasti diuji Allah, dan ujian saya adalah orang ini.

Saya hanya mengangguk-angguk.

Lalu Mbah bilang: “Semua orang, selama masih hidup di dunia, mereka belum bisa sukses. Kelak, setelah dia mati dalam keadaan yang baik, barulah dia disebut sukses. Jadi, PT. Hampir Sukses pemegang sahamnya milyaran orang yang masih hidup dan berjuang meraih akhir kisah yang baik untuk hidupnya.”

Saya kembali mengangguk-angguk, dalam kekaguman pada kebijaksanaan Mbah Nisfu.

 

Ada yang mau ikut patungan bikin PT. Hampir Sukses….??

4 thoughts on “Mbah Nisful Maut dan PT. Hampir Sukses

  1. musakazhim says:

    Menghibur di situ, menyebur di sini…enak ya!! Kebayang ga kalo dia telpon biasanya dengan miscal dul, lewat sms atau pinjam telpon dari sahibul bait….dan tdk jarag memaksa….Nikmatnya kesabaran!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s