Mentari yang Berkalang Tanah

 Wajah perempuan itu seperti berkalang tanah. Tubuhnya kurus, setengah bungkuk. Dari Bunda, aku mendengar banyak cerita tentang kesalehannya. Juga, tentang penderitaan dan perjuangannya. Tak bisa kulukiskan semuanya di sini, dan dimana pun juga tentunya.

Hanya saja, pernah kudengar Bunda berkata bahwa Ibu Fadlun itu sepertinya dicipta Allah khusus untuk mengabdi anak-anaknya: Ibrahim, aku dan Maimunah.  

Sebagai bocah, aku tidak bisa bersimpati atau berempati untuknya. Semua cerita itu kuanggap  angin lalu, masuk telinga kanan keluar teilnga kiri. Malah, aku agak takut pada wajah pucat kecoklatan dan tubuh kurus setengah bungkuknya. Setiap kali dia mendekat, aku menjauh. Dia mendekat lagi, aku menjauh lagi.

Dan begitulah ceritanya aku dan Ibu Fadlun di TK Islamiyyah puluhan lalu.  

Sampailah suatu ketika, entah kapan persisnya dan entah kenapa, aku seperti dibetot oleh sorot matanya yang lembut dan wajah pucatnya yang kuyu. Lalu, polos saja tapi lantang mengalir dari mulutku, “Bu! Ibu! Ibu Fadlun sakit ya?”  

“Tidak. Kenapa?” tanyanya sembari mendekatkan wajahnya ke wajahku.  

Ndak, cuma mau tahu, Ibu sakit atau tidak. Begitu aja?” 

“Terima kasih. Alhamdulillah, Ibu sehat-sehat saja.”  

Syahdan, berubahlah wajah pucat kecoklatan itu menjadi terang-benderang bak mentari di siang bolong. Aku pun riang memandangi perubahan itu. Aku yang masih bocah hanya suka dengan keterang-benderangan wajah yang biasanya pucat kecoklatan itu. Lain tidak.

Sedapat mungkin kuulangi terus pertanyaan demi pertanyaan polos seperti tadi. Dan tiap-tiap kali terjadi perubahan wajah, hatiku senang seperti mendapat segundang permen Sugus.  

Sampai-sampai, di tengah-tengah pelajaran pun aku curi kesempatan untuk mengubah wajahnya. Dan selalu saja aku berhasil. Hasil yang gilang-gemilang pula yang kudapati. Duhai, nikmatnya!  

Lama-kelamaan, tidak pernah lagi aku melihat wajahnya di hadapanku kecuali sudah terlebih dahulu berpendar. Padahal, aku sendiri selalu dan makin siap dengan berbagai “pertanyaan” untuk mengubahnya – yang telah kupelajari dan kucatat dari Bunda. Dasar mentari, saban pertanyaan kuajukan, wajah itu bisa menyinarkan cahaya yang lebih cemerlang lagi. Benar-benar menakjubkan!  

Suatu kali, di waktu istirahat, aku datang ke kantornya untuk mengajukan pertanyaan yang baru kupelajari dari Bunda: “Bu, Musa boleh main ke rumah Ibu nanti sore?”  

“Pasti, pasti! Tapi, Musa harus minta izin dulu ke Umi.”  

Sore hari itu pun Ibu Fadlun datang bertandang ke rumah. Setelah ramah tamah sejenak, dia pamit untuk mengajakku ke rumahnya. Bunda mengangguk. Dan, seperti biasa: “Musa, jangan nakal ya!”  

Kemudian, digandeng aku menuju rumahnya. Rumah yang besar dengan pelataran yang lebar, warisan leluhur yang sudah berumur entah berapa puluh tahun. Di situ tinggal sejumlah keluarga, entah berapa banyak. Yang jelas, aku puas bermain sampai menjelang magrib.

Sampai di rumah, Bunda bersepakat untuk mengizinkan aku bermain di rumah Bu Fadlun dua kali dalam sepekan: Rabu dan Sabtu. Kutunggui selalu tibanya Rabu dan Sabtu itu.  

Tapi, duuuh…hari itu pun akhirnya tiba…  

Pulang dari sekolah, aku bergegas ke dapur untuk menjumpai Bunda dan bertanya, “Kenapa sekolah libur,Mi? Ibu fadlun juga ndak hadir hari ini? Bunda tidak langsung menjawab.

Sekali lagi aku tanya, “Ada apa?”  

Hhm, hhm, lalu Bunda bersuara parau, “Ibu Fadlun meninggal dunia. Dia pergi dari dunia ini. Dia telah mati. Namun, sinarnya akan tetap ada menyertai Musa dan kita sekeluarga.”  

Hari itu juga aku dan Bunda pergi melawat ke rumahnya. Dan benar, mentari itu kini telah terbaring kaku, berkalang tanah. Ibu Fadlun meninggal dunia dalam keadaan hamil muda.

Setelah hari itu, tidak perlu lagi pertanyaan-pertanyaan kupersiapkan, karena semua sudah terjawab. Kini tidak ada lagi seorang Ibu Fadlun yang bertubuh kurus, setengah bungkuk. Tapi, di dalam hatiku, cahayanya takkan pernah padam untuk selamanya.  

Selamat jalan Bu Fadlun sang mentari. Selamat berjumpa dengan Mentari di atas Mentari, Cahaya di atas Cahaya.  

4 thoughts on “Mentari yang Berkalang Tanah

  1. binTi hussein says:

    hehehehe, kalo menurut saya bukan musa kecil yang baik hati disini keliatan nya vi,

    tapi alm. Ibu Fadhlun yang hebat, karena dengan ke tulusannya dia bisa menarik “musa kecil yg baik hati” tadi🙂
    bukan tidak mungkin kalau Ibu F ikut andil dalam proses yang bisa mencetak musa menjadi musa kecil yang baik hati, dan musa (g kecil lg) yang baik hati…hehehehe..
    Dengan nulis cerita ini, sudah cukup membuktikan seberapa besar efek mentari yang ada buat ustdz Musa.
    Karena mentari tak akan pernah berenti bersinar walaupun hari beranjak malam, mentari lah yang membantu bulan untuk memberikan sinar bagi kegelapan malam…

    yuukk mari kita kirim Fatehah buat Ibu F…

    ^__^

  2. musakazhim says:

    Terima kasih buat komentar Mbak2 semua….kalo suatu saat harus buat cerita tntg Ibu Fadlun, terpaksa komentar2 yg sangat menarik ini saya masukin. Jadi dari sekrang udah minta izin neh!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s