Bukan Istri Pilihan—TV One

tvone.jpg 

 

Pada 19 Maret kemarin, tepatnya pukul 16.00, saya harus melalui ujian baru: disorot oleh beberapa kamera televisi. Mulanya saya merasa berat dan tegang. Saya khawatir mempermalukan diri sendiri. Maklumlah, ini kan kali pertama saya masuk teve. Setelah jemputan datang, saya langsung mengorder doa ke bunda supaya tidak sampai tampil terlampau bizarre. 

Seperti semua “hal pertama” yang pernah kita lakukan, kali pertama masuk teve rupanya tidak bisa begitu saja dianggap enteng. Apalagi pada kali ini pula saya harus berbicara menjelaskan konsep Spiritual DNA. Uuuh…serius bener sih! Atau mungkin saya punya kekurangan di sini. Entahlah.  

Yang jelas, darah naik-turun sepanjang jalan menuju lokasi shooting. Pikiran-pikiran kartun pun berlompatan riang di kepala, membuat saya geli sendiri.  

Akhirnya saya pasrah…terserahlah kalau memang saya nanti tampil mempermalukan diri. Syukur-syukur itu malah bisa membuat orang terhibur. Kikikikik…  

Nah, saat saya pasrah, segalanya mendadak jadi plong. Sama sekali tidak ada beban. Untuk kesekian kalinya dalam hidup, saya kembali merasakan dahsyatnya “efek kepasrahan”. Jelas sudah bahwa kepasrahan itu adalah eliksir, obat mujarab untuk segala penyakit jiwa kita.  

Setelah ngobrol2 sejenak dengan produser dan sutradara yang mengundang saya ke acara karena senang dengan isi buku saya (alhamdulillah), pembawa acara (Ustad Wijayanto) dan bintang tamu (Ratna Listy), akhirnya kita kelar merumuskan sejenis skenario acara. Tapi saya justru kembali dirubung kebingungan, mengingat skenario itu jauh dari yang perkirakan. Dan lebih lucunya lagi, judulnya adalah “Bukan Istri Pilihan”.  

Meski lumayan geli dengan keseluruhan skenario, tapi saya pikir2 lagi, saya sudah bulat dengan prinsip what the hack. Kalau saya pakai prinsip what can go wrong will go wrong, pastilah saya akan semakin kikuk, bakalan seperti ikan telantar sendirian di gurun pasir. Jadi, untuk saat2 itu, nalar kritis saya peti-eskan sejenak, dan saya biarkan tim kreatif yang jelas-jelas lebih mengerti dunia pertelevisian mengambil alih nalar kritis saya. Nanti, setelah pengambilan gambar selesai, barulah saya akan memakai kembali nalar kritis dan tertawa sendiri sepuasnya. 

Tepat Jam J, seluruh kamera menyala dan 3, 2, 1… 

Adegan pertama, ibu-ibu pengajian ribut ngomong masing-masing, lalu sang ustad berjalan masuk ruangan, berbasa-basi sejenak dan bertanya apa yang diobrolkan. Mbak Ratna Listy menceritakan bahwa ada perempuan yang hadir di ruangan itu merasa bahwa dia tidak “disenangi” oleh mertua. Perempuan dimaksud pun selintas menuturkan perasaannya, dan jadilah dia “bukan istri pilihan”. Sambungan dengan judul pun kini sudah didapat.  

Lalu ustad menjelaskan perspektifnya seputar tema “Bukan Istri Pilihan” dan mengkritik ide “bibit-bebet-bobot”. Di tengah-tengah uraian, sang ustad yang sudah terampil memainkan kata pun menyebut Spiritual DNA. Intro yang sangat tidak koheren untuk ukuran akademisi, tapi siapa pula akademisi yang mau menonton acara ini. Dan jelas mereka bukan target pasar para pengiklan. Iya… mereka suruh terus makan bangku kuliah, minum tinta paper, dan sejenisnya.   

Adegan kedua, sang ustad melanjutkan penjelasannya beberapa saat, dan kembali bertanya ke bintang tamu. Mbak Ratna Listy sendiri bilang bahwa dia bersyukur rumah tangganya berjalan lancar-lancar aja, sehingga dia masuk sebagai “istri pilihan”. Ustad “membasahi lumpur” perbincangan dengan kutipan-kutipan ayat al-Qur’an yang terjemahannya dibacakan oleh Mbak Ratna. Penggalan adegan yang cocok dengan selera sebagian terbesar pemirsa tv, yang oleh para peneliti disebut sebagai silent majority. 

Sebelum pengambilan gambar adegan ketiga, saya sudah duduk di ruangan. Ustad Wijayanto memperkenalkan saya sebagai pakar Spiritual DNA. “Nah, bagaimana masalah ini menurut kajian spiritual DNA?” Saya jawab sederhana, “Menurut Spiritual DNA, manusia adalah makhluk sempurna, tidak punya cacat bawaan. Masalahnya dia sering lari dari Spiritual DNA atau fitrahnya, dan melenceng dari kesempurnaan awal yang telah tertanam dalam dirinya.”

Sang ustad mengambil alih penjelasan, dalam bahasa yang lebih sesuai untuk konsumsi televisi. Bintang tamu kembali nimbrung, dan scene ketiga berakhir. 

Adegan keempat, sang ustad mempersilahkan penanya lain yang ditujukan pada saya, tentang bagaimana cara mengolah Spiritual DNA itu dengan baik agar kita bisa menjadi manusia sempurna. Saya jawab, “Dia hanya perlu berhenti dan berpikir sebentar, lalu menemukan dirinya kembali. Jelas ini lebih mudah daripada mencari motivasi untuk melakukan perubahan, karena sebenarnya proses ini adalah kembali ke rumah sendiri.” 

Mendengar catch word “kembali ke rumah sendiri”, sang Ustad tampak girang. Dia lalu menegaskan bahwa supaya seseorang itu bisa menjadi istri pilihan dia hanya perlu kembali menjadi dirinya sendiri dan menemukan fitrahnya. “Betul, Pak Musa?” 

Saya mengangguk, “Betul, Ustad!” 

Setelah pengambilan gambar kelar, saya diberi tahu oleh–sepertinya produser acara–bahwa saya masih terlihat grogi dan tidak tegas menatap kamera. Dan lucunya, saya ternyata lupa memakai kopiah yang sebetulnya sudah saya bawa jauh-jauh dari rumah. 

Syukurnya, acara berjalan sesuai selera paa penonton televisi, bahkan tanpa pakai take ulang dan langsung bungkus. Pikiran2 kartun yang sebelumnya tumbuh subur tidak ada yang sampai terwujud, berkat sedikit—sangat sedikit—kepasrahan yang saya pegangi saat itu. 

Alhamdulillah, ternyata ujian kecil ini berlalu dengan mulus, dan terasa menyenangkan. Sekarang tinggal tunggu tanggal mainnya di TV One…heheheheh.   

9 thoughts on “Bukan Istri Pilihan—TV One

  1. musakazhim says:

    Tanggal tayang belum fix, tapi sekitar semingguan lagi. Demam dan kedinginan di panggung🙂

    Mabruk alayna wa alaykum!

  2. abubakr saleh says:

    yassalam, ustad sudah mulai di perhitungkan nih, telat mereka… seharusnya dari dulu ustad sudah harus masuk tv untuk membimbing umat yang dah mulai ngawur ini.
    mabruk ustad yaa,, pokoknya ustad kalo udah fix tanggal tayangnya kapan, di kabari yaaa,

    ana g mau ketinggalan buat nonton.

  3. musakazhim says:

    Maaf, teman2 semua, episode “Bukan Istri Pilihan” ternyata sudah tayang pekan lalu. Saya sendiri lupa dikasi tau. Jadi, mohon maaf ya.

  4. Amin says:

    Maaf sebelum nya Pa UStad…
    Ini benar2 berita yg tidak bohong.
    Ustad Wijayanto itu sekarang ini sedang mengejar seorang perempuan di jakarta, Beberapakali dia mengajak perempauan itu untuk ikut dia dalam dia memberikan ceramah di acara pengajian yang dia meberikan cermah.
    APA PANTAS SEOARANG USTAD SEPERTI ITU?!….
    Berdua dengan wanita yg bukan istri nya pada malam hari….
    Saya tidak bohong … Dan saya punya bukti yg kuat tentang ustad ini.
    Ada beberapa foto yg bisa saya perlihat kan pada saat ustad sedang berdua dengan wanita itu di dalam mobil.

    Wasalam ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s